Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
104


__ADS_3

Suasana rumah menjadi ramai dan ceria. Mereka berkumpul di ruang keluarga menyambut kedatangan Senja. Bahkan Pak Mamat pun ikut nimbrung bersama mereka. Senda gurau bergantian terlontar dari mulut Bu Fitri, Nathan, Senja dan lebih sering dari mulut Pak Mamat dan Bi Sumi. Hanya Virni yang tampak hanya sesekali ikut tertawa dan menyibukkan dirinya di dapur.


" Silahkan diminum." Virni menyuguhkan teh hangat mereka dan capuccino untuk Nathan.


" Terima kasih."


" Duduklah, Vir. Aku lihat sejak tadi kamu sibuk di dapur." Ujar Senja menepuk sofa di sampingnya.


" Iya. Masakan belum semuanya matang." Ujar Virni beralasan.


" Biar Bibi yang lanjutkan, Neng." Sahut Bi Sumi dan ingin bangun dari duduknya.


" Biar saya saja. Gak papa kok." Virni mencegah Bi Sumi.


Melihat Nathan menyeruput capuccinonya. Virni menyunggingkan senyum liciknya dan langsung kembali menuju dapur.


' Dor Dor Dor'


Semua tersentak mendengar suara pintu di ketuk dengan sangat kencang. Nathan segera bangun dan menghampiri pintu itu. Begitupun yang lain melihat ke arah Nathan.


" Mana Virni?" Bentak seorang pria yang mempunyai brewok tebal di wajahnya.


" Siapa kamu?" Tanya Nathan tak kalah tegas dengan pria itu.


Pria yang terlihat marah besar langsung mencengkram kerah baju Nathan dan mendorong Nathan. Matanya melotot tajam mencari sosok wanita yang dia cari. Begitu dia melihat sosok Virni yang berdiri mematung di dapur. Pria itu langsung merangsek masuk menuju Virni berdiri. Tak dipedulikannya beberapa pasang mata menatap pria itu tak suka.


Nathan yang merasa pria itu tidak sopan di rumahnya menarik kerah belakang pria itu.


" Segera keluar dari rumah saya." Bentak Nathan tajam.


" Kembalikan istri saya!" Bentaknya juga tak suka dan melayangkan pukulannya hingga menghantam wajah Nathan dengan telak.


Nathan berbalik menyerang dan dalam waktu singkat dia dapat membalikkan serangan.


" Aargghhh!" teriak pria itu marah bagai kesetanan. Dia mendorong tubuh Nathan hingga Nathan terjatuh. Dan seketika itu juga dia yang kalap ingin kembali menghantam Nathan langsung di cegah Virni.


" Jangan, Do." Ujar Virni menahan tangan pria yang ternyata adalah Edo. Suaminya.


" Kenapa? Kamu menyukainya?" Tanyanya marah dan langsung menarik keras rambut Virni.


" Aw.. Sakit." Keluh Virni berusaha menahan tangan Edo.


" Lepaskan Virni." Bentak Nathan tegas dan memelintir tangan Edo hingga Edo terpaksa melepaskan Virni. Virni langsung berlari ke arah Senja dan yang lainnya di ruang keluarga.


" Jangan menyakiti perempuan. Pergi dari sini atau aku akan melaporkanmu ke polisi." Ancam Nathan kesal dan menghempaskan Edo keluar rumah.


" Aku akan membuat perhitungan dengan kalian!" Ancam Edo dan segera pergi dengan keadaan marah.

__ADS_1


Nathan menarik nafas panjangnya dan ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres luka memarnya. Nathan ikut duduk di ruang keluarga. Senja dan Bu Fitri menenangkan Virni yang terlihat kembali terguncang.


" Biar saya bantu, Nak." Ujar Bi Sumi.


" Biar saya aja, Bi." Nathan menolak dengan sopan. Sesekali dia meringis merasakan perih pada lukanya.


" Sebaiknya kamu laporkan suamimu ke polisi." Ujar Nathan tegas.


" Aku takut, Nathan."


" Apa yang kamu takuti. Harusnya sejak dulu kamu laporkan dia ke polisi. Lelaki seperti itu tidak pantas di kasih hati." Ucap Nathan marah yang memang sangat membenci lelaki yang berbuat kasar pada wanita. Sejak kecil orang tuanya selalu menanamkan kepada Nathan agar menghormati dan melindungi perempuan.


" Bagaimana jika aku kalah dipersidangan. Itu akan jauh lebih buruk lagi untukku." Ucap Virni takut.


" Jika kamu mau. Kami akan membantu." Ujar Nathan.


" Apa yang dikatakan Nathan ada benarnya. Aku setuju jika kamu melaporkan hal ini pada polisi." Senja ikut membujuk Virni.


Virni tetap menggeleng. Tak terbayangkan dimatanya apa yang akan Edo lakukan terhadapnya jika dia tidak berhasil memenjarakan Edo.


Nathan dan Senja hanya menarik nafas dalam. Mereka tidak bisa memaksa Virni untuk melaporkan suaminya.


" Nanti sore aku akan ke pernikahan Reza." Ujar Nathan pada Senja.


" Iya. Sampaikan salamku untuk Reza." Ujar Senja menanggapi.


" Apa kamu mau istirahat?" Tanya Nathan melihat wajah Senja mulai lelah.


Nathan segera menggendong Senja menuju kamar mereka. Virni kembali melirik tajam. Tak suka melihat perlakuan manis Nathan pada Senja. Iri sekali rasanya Virni melihat hal itu. Hal yang tidak pernah dilakukan Edo. Selama ini bukan perlakuan manis yang dia dapat. Tetapi selalu saja hinaan demi hinaan datang kepadanya. Edo yang dulu sangat berbeda. Sebelum menikah. Edo adalah orang yang sangat lembut dan baik. Entah kenapa setelah mereka menikah. Edo menjadi kasar dan beringas. Tak ada lagi kata- kata lembut. Kata pujian pun tak pernah tercetus dari bibir Edo.


" Apa lukamu masih sakit?" Tanya Senja sambil menatap sendu wajah Nathan yang sedikit lebam.


" Sedikit."


" Kasihan Virni, bagaimana jika dia datang lagi?"


Nathan menarik nafas dalam dan membelai lembut rambut Senja yang tergerai. " Jangan khawatir sayang. Aku akan selalu melindungi kalian." Ujar Nathan.


Senja tersenyum dan mengecup singkat bibir Nathan.


" Jangan memancingku." Nathan memperingati Senja yang tertawa melihat reaksi suaminya.


" Kamu merindukan aku?"


" Selalu." Bisik Nathan di telinga Senja hingga membuat istrinya bergidik dan menciumi ceruk leher Senja.


" Sayang." Senja mencoba menghentikan Nathan yang mulai bergerilya pada tubuhnya.

__ADS_1


Nathan melemparkan senyumnya dan kembali mengecup singkat bibir Senja mengakhiri aksinya pada tubuh istrinya.


" Aku harus bersiap sekarang." Bisik Nathan.


" Mau apa?" Tanya Senja sedikit takut karena Dokter masih melarang mereka melakukan hubungan suami istri.


" Ke pernikahan Reza." Jawab Nathan dan masuk ke dalam kamar mandi.


" Oh.. Aku kira.."


" Itu pasti akan aku lakukan jika kandunganmu sudah baik- baik saja. Bersiaplah." Goda Nathan dan tersenyum puas melihat wajah Senja yang merona dan masuk ke dalam kamar mandi.


Nathan selalu berhasil menggoda Senja dengan senyum nakalnya dan tatapan genitnya.


" Kamu mau kemana sayang?" Tanya Nathan kepada Senja yang sudah duduk di atas kursi rodanya.


" Aku mau melihat Virni." Ujar Senja.


" Baiklah." Nathan membukakan pintu kamarnya untuk Senja. Dia tidak ingin mengantar Senja keluar kamar karena tubuhnya hanya terbalut sehelai handuk yang hanya menutupi pinggang hingga lututnya saja.


" Jangan terlalu wangi, sayang." Senja berpesan. Dia tidak ingin suaminya dilirik wanita lain.


Nathan hanya tersenyum. Setelah beberapa menit. Nathan sudah rapi dengan setelah baju formalnya karena acara yang dibuat Reza memang sangat formal. Nathan mencari keberadaan istrinya yang tidak terlihat di ruang keluarga. Dan dengan ragu, dia membuka kamar Virni. Benar saja Senja berada di sana. Membantu merias wajah Virni.


" Sayang. Aku berangkat dulu."


" Tunggu Nathan. Virni sebentar lagi siap." Ujar Senja.


Nathan menautkan alisnya dan menatap Senja penuh tanya.


" Virni akan menemani kamu." Ujar Senja memperjelas maksudnya.


" Biar aku sendiri saja." Nathan menolak.


" Nathan. Kasihan Virni. Kejadian tadi pasti membuat Virni terpukul."


" Apa kamu berharap aku yang akan menghibur sahabatmu?" Tanya Nathan menatap Senja tak percaya.


Senja mengangguk. Nathan kembali berdecak sebal dengan sikap istrinya.


" Aku tidak mau." Nathan kembali menolak.


" Aku mohon Nathan. Siapa tahu Virni akan kembali terhibur."


" Kamu yang memintanya, Senja." Ujar Nathan kesal dan menghampiri Virni.


Senja tersenyum namun kemudian senyum Senja menghilang ketika Nathan mendaratkan bibirnya pada bibir Virni. Seketika air mata jatuh di pelupuk mata Senja. Tak menyangka dengan apa yang dilakukan Nathan. Sesak sekali rasanya melihat hal itu.

__ADS_1


" Apa kamu cukup terhibur?" Tanya Nathan dengan wajah dingin pada Virni yang terpaku.


Tanpa mengucapkan kata apapun. Nathan berjalan keluar dari kamar Virni meninggalkan Senja yang terdiam dan menangis.


__ADS_2