Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
100


__ADS_3

Senja berjalan tertatih keluar kamar sambil memegangi perutnya. Peluh membasahi wajahnya karena sejak pagi tadi perutnya terasa sakit. Semakin siang entah kenapa sakitnya terus bertambah. Bu Fitri dan Virni yang sedang sibuk di dapur membuat kue langsung menghampiri Senja yang meringis kesakitan.


" Kamu kenapa, Nak?" Tanya Bu Fitri cemas.


" Perut aku sakit, Bu." Ujar Senja lirih.


Virni memapah Senja untuk duduk di kursi. Senja duduk dan merasakan kram diperutnya semakin menjadi.


" Kita ke rumah sakit aja. Aku khawatir dengan kandunganmu, Senja." Usul Virni dan disetujui oleh Bu Fitri.


Dengan sigap Virni langsung mengambil tas dan ponselnya. Serta langsung memapah Senja menuju mobil. Bu Fitri ikut mendampingi mereka.


" Sakit sekali, Vir." Senja mencengkram kuat tangan Virni.


" Sabar Senja. Aku lupa. Aku tidak punya nomor ponsel suamimu." Ucap Virni yang berniat untuk memberikan kabar pada Nathan.


" Saya ada, Non." Sahut supir Senja.


" Saya minta, Pak."


Supir Senja langsung menyebutkan nomor ponsel Nathan. Virni langsung melakukan panggilan telepon. Beberapa saat teleponnya tak kunjung dijawab. Hingga pada akhirnya dijawab juga oleh Nathan.


" Halo."


Virni tertegun mendengar suara Nathan yang sangat lembut didengarnya.


" Halo." Nathan sedikit mengeraskan suaranya karena tak kunjung mendapat sahutan dari si penelepon.


" Ah, iya." Virni gelagapan. Bisa- bisanya dia terpesona hanya dengan suara disaat genting seperti ini. " Nathan. Ini aku Virni."


" Ada apa?" Tanyanya dingin.


" Aku dan ibumu sedang membawa Senja ke rumah sakit. Dia mengeluhkan sakit pada perutnya. Aku khawatir dengan kandungannya." Virni menjelaskan.


" Terima kasih. Nanti aku akan segera menyusul." Ucap Nathan dan langsung mematikan sambungan telepon itu.


Nathan segera beralih pada para pemegang saham yang menatapnya penuh tanya. Menunggu setiap kebijakan yang akan diambil Nathan selanjutnya.


Nathan menarik nafas panjang. Pikirannya langsung tertuju pada keadaan Senja. Tak lagi fokus dengan pekerjaannya. " Rapat kita lanjutkan dilain waktu." Ujar Nathan ingin mengakhiri rapat mereka.

__ADS_1


" Loh. Bukankah anda seharusnya memberitahu kami kebijakan yang akan anda ambil selanjutnya. Saham kita anjlok karena ketidak hadiran anda sebagai pemimpin terlalu lama." Protes seorang pria dengan wajah tegas.


" Saya tidak hadir karena saat itu saya terbaring di rumah sakit. Anda juga tahu hal itu, Bukan? Sekarang anda bisa cek. Berapa saham kita dalam minggu ini. Apakah sudah kembali merangkak naik atau turun?" Nathan tak kalah tegas.


" Tetapi kebijakan apa yang akan anda ambil sebagai pimpinan? Kami harus segera mengetahuinya." Desak yang lain pada Nathan.


Nathan menarik nafas dalam dan mau tidak mau dia melanjutkan kembali rapat dengan mereka. Setelah satu jam berkutat dengan rapat pemegang saham. Nathan langsung berjalan cepat mendahului rekan bisnisnya.


" Ada apa, Pak Nathan? Anda buru- buru sekali."


" Saya harus ke rumah sakit." Ucap Nathan sambil dengan setengah berlari menuju lift. Sampainya disana. Dia langsung menekan semua tombol lift untuk turun.


Nathan segera berlari menuju parkiran mobil dan langsung menancap gas menuju rumah sakit yang disebutkan Virni. Beruntung hari ini jalanan hanya dalam kondisi ramai lancar. Memudahkan Nathan menembus jalanan. Sesampainya di sana. Nathan langsung menuju ruang perawatan Senja.


" Sayang." Nathan langsung menghampiri istrinya dan mengecup kening Senja.


Senja hanya tersenyum. " Aku tidak apa- apa sayang."


" Apa kata dokter?"


" Kandungan Senja lemah. Jadi dia harus dirawat beberapa hari." Virni menjawab.


" Apa masih ada yang sakit?" Tanya Nathan sambil terus mengelus punggung tangan Senja dengan ibu jarinya. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Senja.


" Sudah lebih baik." Jawab Senja lemah.


" Maafkan aku. Karena aku kamu mengalami kejadian yang buruk kemarin." Nathan menundukkan kepalanya karena rasa penyesalannya.


" Itu bukan salahmu."


" Aku akan menjemput Gio." Ucap Virni.


" Biar ibu saja." Sahut Bu Fitri. " Ibu mau sekalian pulang. Badan ibu rasanya tidak enak jika berlama- lama di rumah sakit."


Nathan hanya tersenyum dan menghampiri ibunya. Mencium punggung tangan ibunya.


Nathan kembali duduk di samping ranjang Senja. Matanya tak lepas menatap istrinya.


" Untung ada Virni. Dia yang dengan sigap membawaku ke rumah sakit."

__ADS_1


Nathan menoleh sekilas pada Virni. " Terima kasih." Ucap Nathan datar.


" Iya. Aku pernah keguguran. Dan aku tau bagaimana rasanya. Itulah yang aku takutkan tadi."


" Istirahatlah." Ujar Nathan pada Senja dan mengecup kembali kening Senja.


Senja yang memang sudah mulai mengantuk karena pengaruh obat. Langsung terlelap. Nathan memandangi wajah Senja. Penyesalan kembali bergelayut di hatinya. Seharusnya Senja tidak mengalami hal ini. Nathan mengelus lembut pucuk kepala Senja.


" Makan dulu, Nath." Virni memberikan makanan yang baru saja dibelinya di kantin rumah sakit.


" Terima kasih." Nathan menerima bungkusan itu dan duduk pada sofa yang berada di sudut ruangan. Virni ikut duduk di sebelah Nathan.


" Dia akan baik- baik saja. Dokter sudah menanganinya. Jika terlambat sedikit saja. Kemungkinan kandungan Senja tidak bisa diselamatkan." Virni menjelaskan tentang keadaan Senja.


Nathan menarik nafas dalam. " Terima kasih sudah menolong Senja." Ujar Nathan lembut. Hatinya sedikit melunak pada Virni. Mungkin selama ini hanya pikirannya saja yang salah jika Virni akan mengganggu rumah tangganya.


" Iya."


Nathan dan Virni santap siang bersama. Virni memandang Nathan sekilas sambil mengulaskan senyum bahagia. Berkali- kali Virni mencoba menepis perasaan yang mulai tumbuh untuk suami sahabatnya. Tetapi berkali- kali itu juga telah gagal setiap kali melihat wajah Nathan. Perasaan yang tumbuh semakin berkembang dan merekah. Rasa kecewa dan sakit hati pada suaminya terdahulu membuatnya mudah mengagumi sosok Nathan yang begitu lembut memperlakukan istrinya.


Tanpa terasa air mata Virni mengalir ketika kenangan pahitnya saat di pukuli, di bentak bahkan dituduh selingkuh oleh suaminya kembali terngiang di pelupuk matanya. Virni buru- buru menyeka air matanya ketika Nathan menoleh ke arahnya.


" Kenapa kamu menangis?" Nathan menatap Virni sekilas.


" Gak apa- apa." Ujar Virni.


" Jika bercerita bisa melegakan. Cerita saja."


Virni menarik nafas panjang. " Aku teringat perlakuan suamiku dulu. Kenangan indah terjadi hanya beberapa bulan pada awal pernikahan kami. Selanjutnya, bertahun- tahun aku menjalani kehidupan seperti di neraka. Siksaan juga cemoohan darinya menjadi santapanku setiap hari." Virni menunduk sedih. Tubuhnya berguncang karena tangisnya sudah pecah.


Nathan menatap Virni prihatin. Dia memberikan sapu tangannya pada Virni yang terlihat wajahnya basah karena air mata.


" Sabarlah. Mungkin itu cara tuhan menghadiahkan surga terindah untukmu."


" Aku tidak sanggup lagi, Nathan." Virni menjatuhkan kepalanya pada Nathan yang memang duduk di sampingnya.


Nathan menggeser kepala Virni perlahan. " Maaf." Ujar Nathan merasa sungkan karena Virni tetap menyandarkan kepalanya kembali.


" Aku butuh sandaran, Nathan. Biarkan begini sebentar saja." Virni memohon. Saat ini dia memang butuh sandaran. Virni terlalu rapuh untuk berdiri sendiri.

__ADS_1


Nathan menarik nafas dalam dan hanya membiarkan Virni menangis dalam pada bahunya.


__ADS_2