Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
146


__ADS_3

" Selamat sore, dengan NATH Group ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang resepsionis saat Amel menelepon perusahaan Nathan.


" Bisa bicara dengan Pak Nathan?" Tanya Amel. sengaja dia menanyakan Nathan terlebih dahulu untuk memastikan ucapan Nathan.


" Maaf. Ini dengan siapa?"


" Amel."


" Baik ibu Amel. Tapi saya mohon maaf karena Pak Nathan sedang tidak di tempat."


" Jika wakilnya bisa? Ini sangat penting." Ujar Amel.


" Biar saya tanyakan terlebih dahulu ya, Bu." Ucapnya.


Amel masih menunggu konfirmasi dari resepsionis itu. Nada tunggu terdengar dari sambungan telepon itu.


" Halo." Kini suaranya berubah jadi lelaki.


" Halo." Amel menyahut.


" Hal apa yang sangat penting sampai kamu mau bicara dengan saya?"


" Maaf. Saya bicara dengan siapa? Informasi ini sangat rahasia." Ujar Amel berhati- hati.


" Brama."


Amel menutup mic ponselnya dan menanyakan prihal Brama pada Nathan. Nathan menganggukkan kepalanya. Brama dapat dipercaya.


" Begini pak. Saat ini saya sedang bersama Nathan." Ucap Amel. Entah kenapa jantungnya berdegup cepat. Merasakan ada yang mengintai mereka.


" Apa?!" Brama tak percaya. " Bisa kita video call?" Brama ingin memastikan.


" Ya." Amel menyebutkan nomor ponselnya dan panggilan telepon pun terputus.


" Kamu yakin dia bisa dipercaya?" Tanya Amel memastikan.


" Ya."


Ponsel Amel bergetar dan segera dia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.


" Astaga, Nathan. Kami stress mencari kamu." Ujar Brama mendahului Amel ataupun Nathan begitu dia melihat wajah Nathan.


" Aku baru saja berhasil melarikan diri dari Wulan dan anak buahnya." Jawab Nathan.


" Senja pasti sangat senang." Ujar Brama. " Berikan alamatmu. Biar aku jemput. Aku akan beri kejutan untuk istrimu." Ucap Brama senang.


" Ya."


" Baiklah. Aku berangkat sekarang juga." Ucap Brama dan langsung bergegas meninggalkan kantor padahal jam masih menunjukkan pukul tiga sore.

__ADS_1


Amel segera mengirimkan lokasi dan juga alamat jelasnya. Antisipasi jika tiba- tiba hilang sinyal.


' BRAK'


Dua orang yang kemarin datang mencari Nathan menerobos begitu saja dengan mendobrak pintu rumah Pak Somad. Sontak saja mereka yang sejak tadi fokus dengan ponsel Amel sangat terkejut dengan kehadiran mereka.


" Rupanya benar dugaan gue!" Ucap Bimo sambil memelintirkan ujung kumis tipisnya.


" Sikat Bim." Sahut Deki dan segera menyergap Nathan.


' Tung' Kepala Deki langsung di hajar pakai sapu oleh Andi yang baru saja muncul dari pintu belakang.


" Si*lan!" Ucap Deki marah dan malah beralih mengejar Andi.


Bimo menarik tangan Nathan dengan sigap Nathan menepis tangan Bimo


' Buk'


Bimo tak luput dari timpukan karung beras yang isinya masih hampir setengahnya dari Pak Somad.


" Lari, Nath." Perintah Pak Somad.


" Deki! Tangkap dia jangan sampe lolos lagi!" Seru Bimo marah yang kesulitan mengejar Nathan karena di hadang oleh Pak Somad, Bu Somad serta Amel.


Deki yang melihat Nathan berlari ke arah pintu belakang. Langsung mengejar Nathan kembali.


' Bruk'


" Aw. Aw. Aw." Bimo hanya bisa berteriak kesakitan karena mendapatkan serangan bertubi- tubi dari keluarga Pak Somad. Dan tanpa di duga. Pak Somad jago bela diri juga.


" Arrgghh!" Teriak Bimo sangat murka dan merasa tidak sanggup melawan ketiga orang ini. Bimo ngacir lari keluar rumah Pak Somad dan mengendarai motornya menjauh dari sana mencari jejak Nathan dan Deki.


" Nathan, Pak." Ucap Amel dengan nafas tersengal.


" Hayu." Pak Somad ikut menyusul mereka.


Pak Somad dan Amel menyusuri jalan yang mulai memasuki perkebunan milik warga. Hingga terdengar dari jauh suara orang berkelahi. Pak Somad dan Amel segera menghampiri sumber suara itu. Dan benar saja. Terlihat Nathan sedang berkelahi dengan Deki.


" Nathan! Awas!" Teriak Amel panik ketika melihat Bimo muncul begitu saja dengan balok kayu di tangannya. Dan melayangkan balok tersebut kebagian bahu Nathan dengan keras hingga membuat Nathan tersungkur. Deki dan Bimo tak ingin melewatkan kesempatan tersebut dan langsung menyergap tubuh Nathan dan mendudukkan di sepeda motor. Diapit oleh mereka. Pak Somad dan Amel yang melihat kejadian itu. Segera berlari untuk menyelamatkan Nathan. Namun sia- sia. Mereka sudah lebih dahulu pergi meninggalkan tempat itu.


Amel dan Pak Somad mengatur nafas mereka. menatap Nathan yang sudah jauh dibawa pergi oleh Deki dan Bimo.


" Bagaimana ini, Pak?" Ucap Amel merasa kasihan dengan Nathan.


" Gak taulah. Nanti kita cari nya barengan aja sama keluarganya."


" Amel telepon sekarang aja kali ya, Pak."


" Iya."

__ADS_1


Amel dan Pak Somad segera berjalan cepat menuju rumah mereka.


*****


' Bruk'


Tubuh Nathan di letakkan begitu saja di atas kasur yang pernah dia tempati dulu. Terlihat Wulan tersenyum puas melihat lelakinya sudah kembali padanya. Wulan mendekati Nathan yang masih terkulai tak sadarkan diri. Dan memperhatikan wajahnya.


" Kamu milikku sayang." Gumam Wulan dan mendekati wajahnya pada wajah Nathan dan perlahan mendaratkan bibirnya pada bibir Nathan. Mel*matnya dan menyesal bibir itu. Walaupun Nathan tak membalas dan tidak sadar. Wulan tampak sangat menikmati setiap tubuh Nathan.


" Emmhh." Nathan mulai tersadar saat Wulan mencumbu dada bidang Nathan. Kedua mata Nathan terbelalak kaget karena mendapati tubuh Wulan berada di atas tubuhnya dan tampak sangat menikmati menyentuh tubuhnya. Nathan segera mendorong tubuh Wulan.


" Menjauh dariku!" Bentak Nathan tak suka.


" Kita tuntaskan sayang." Ucap Wulan dengan suara menggoda.


" Jangan harap!" Ucap Nathan kesal dan segera mengambil kaosnya yang tergeletak begitu saja di lantai.


" Baiklah kalo begitu. Sepertinya untuk saat ini kamu belum siap." Ujar Wulan dan dengan santainya keluar dari kamar Nathan.


Nathan mengusap wajahnya kasar. Kenapa dia bisa kembali ke sini lagi. Padahal sebentar lagi dia akan bertemu dengan keluarganya. Nathan yang merasa haus. Mengambil minuman botol yang ada di meja samping kasurnya dan meneguknya hingga habis setengahnya. Nathan kembali menatap keluar jendela yang hanya terhampar pepohonan di tengah kegelapan.


" Kenapa rasanya jadi panas sekali." Gumam Nathan yang merasakan gejolak yang tak tertahankan. Tubuhnya terasa sangat panas dan ada suatu hasrat yang harus dia lepaskan. Nathan berusaha keras mengendalikan rasa itu. " Br*ngsek! dia campurin apa diminuman ini." Gumam Nathan merutuki kebodohannya.


" Argghh.." Nathan merasa tubuhnya sangat panas hingga mengibaskan bajunya.


" Hai, Nath." Sapa Wulan dengan pakaian serba minim masuk ke dalam kamarnya.


Melihat Wulan dengan penampilan seperti itu. Membuat hasrat Nathan semakin ingin dilepaskan. Nathan berjalan mendekati Wulan yang masih berdiri di dekat pintu. Wulan sudah mengembangkan senyum lebarnya ketika melihat minuman yang ia campur dengan obat perangsang berdosis tinggi telah habis setengahnya. Sudah bisa dipastikan. Nathan saat ini sangat berhasrat tinggi. Wulan telah siap menyambut Nathan dengan tubuhnya. Namun bukan pelukan atau cumbuan yang dia dapat. Nathan mendorong tubuh Wulan agar keluar dari kamarnya.


" Nathan." Panggil Wulan kesal dan mendorong pintu kamar Nathan yang tidak bisa di kunci dari dalam. Tetapi Nathan menahan dengan tubuhnya.


" Aku tau apa yang kamu masukkan. Jangan harap aku akan menyentuhmu." Ucap Nathan dari dalam masih dengan mengganjal pintu dengan tubuhnya.


" Jangan Ngaco kamu!" Omel Wulan lagi dan menghentakkan kakinya kesal.


Nathan bernafas lega karena sepertinya Wulan sudah menjauh dari kamarnya. Nathan kembali mengibaskan kaosnya. Semakin lama. Hasrat yang berusaha dia tahan semakin kuat.


' Brak.'


Nathan yang memang masih berdiri di pintu terlempar begitu saja ketika Bimo tiba- tiba saja mendorong keras pintu itu.


Wulan kembali tersenyum penuh kemenangan melihat mangsanya sudah tak berdaya.


" Lihat aku, Nath." Nathan memejamkan matanya dan selalu mengalihkan wajahnya.


" Kamu buat aku kesal Nathan!" Teriak Wulan dan mendaratkan bibirnya pada bibir Nathan secara kasar.


Nathan yang awalnya masih bisa bertahan tak merespon sentuhan dari Wulan. Lambat laun menyerah juga. Dan terbuai dengan sentuhan Wulan pada tubuhnya. Obat perangsang itu mengalahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2