
Nabila menatap dirinya yang sudah terbalut dengan gaun pengantin berwarna putih dengan wajah yang sudah di make up natural. Nabila menatap tangannya yang sudah berhias inai berwarna putih. Hatinya kembali goyah ketika tak sengaja dirinya melihat sebuah foto yang belum di hapusnya dari ponselnya.
Pak Danny yang baru saja hendak menjemput Nabila menuju pelaminan untuk acara akad nikah menatap wajah cantik cucunya yang sendu. Wajahnya tertunduk lesu seperti sedang menahan tangis.
Pak Danny mendekati Nabila dengan perlahan dan memegang bahu Nabila dengan lembut. Sebentar lagi tugasnya akan selesai mengantarkan Nabila pada lelaki yang akan menjadi suaminya. Nabila menatap wajah Pak Danny nanar.
" Ada apa sayang?" Tanya Pak Danny lembut.
Nabila tidak menjawab hanya terpaku pada layar ponselnya yang terus menyala dan menampakkan sebuah potret. Pak Danny menarik nafasnya dalam. " Apa kamu mau membatalkan pernikahan ini?"
Nabila menggeleng.
" Kuatkan hatimu. Kamu pasti bisa melupakan lelaki itu." Ujar Pak Danny mencoba membuat Nabila tegar.
" Apa aku bisa mencintai suamiku pada akhirnya?" Nabila tampak ragu.
" Pasti bisa. Di meja akad nanti. Kamu bukan hanya dihadapkan oleh calon suamimu. Tetapi juga lelaki itu."
Nabila menarik nafas. Ya. Dia tahu jika Randy meminta Nathan menjadi saksi nikahnya. Entah kenapa hari ini hanya dengan melihat fotonya saja. Hatinya kembali terusik.
" Apa kamu siap?" Tanya Pak Danny merangkul Nabila erat.
Nabila menarik nafas dalam kemudian dia mengangguk. Pak Danny segera membawa Nabila menuju meja akad nikah. Penghulu beserta tamu undangan telah menunggu.
" Hei, Nath. Cantik sekali bukan calon istriku." Randy berbisik pada Nathan.
" Masih lebih cantik istriku." Ledek Nathan.
Randy manyun.
" Calon pengantin jangan manyun." Bisik Nathan lagi.
__ADS_1
Nabila berjalan menuju meja akad nikah dengan di gandeng oleh Pak Danny. Semua tamu undangan terpana melihat kecantikan Nabila yang tersembunyi. Selama ini mereka hanya melihat Nabila yang bermakeup tipis serta dengan gaya tomboinya.
Nabila berjalan dengan wajah sedikit tertunduk. Tak berani dia mengangkat wajahnya menyapu semua wajah yang hadir. Apa lagi dia takut menatap wajah Nathan yang kini tengah mengusik relung jiwanya.
Nabila duduk di sebelah Randy. Acara ijab kabul baru akan dimulai. Tetapi tanpa bisa terbendung. Air mata Nabila jatuh begitu saja. Segera Nabila menyekanya cepat. Tak ingin air matanya merusak riasan wajahnya.
" Apa kamu yakin akan melanjutkan pernikahan ini?" Tanya Randy yang melihat ada keraguan dalam diri Nabila. Nabila hanya menjawab dengan anggukan.
Akhirnya Randy mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan langsung disambut dengan kata ' SAH' Dari para saksi dan tamu undangan.
Randy menyunggingkan senyum dengan senang duduk bersama Nabila di pelaminan. Senja yang baru saja datang. Kelahirannya yang tinggal menghitung hari membuatnya sedikit kepayahan jika harus berangkat dari pagi. Senja datang bersama dengan Gio dan Bu Fitri. Nathan yang melihat kedatangan istrinya langsung menyambutnya dan menemani Senja dan Bu Fitri menuju pelaminan untuk memberikan selamat.
" Kamu cantik sekali." Puji Senja yang kagum dengan penampilan Nabila yang anggun dan elegan.
" Kamu juga cantik."
" Selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah." Harap Senja.
" Jaga Randy baik- baik, Nabila. Dia sahabatku." Ujar Nathan dengan nada candanya.
Nabila tak mampu lagi menahan gejolak yang ada dalam dadanya. Nabila menarik Nathan ke dalam pelukannya dan menangis sesenggukan dalam pelukan Nathan. Nathan yang terkejut tak bergeming. Senja ikut tercengang melihat hal itu. Randy yang mengetahui betul suasana hati Nabila sedang tidak baik- baik saja menepuk pelan punggung wanita yang kini sah menjadi istrinya. Nathan melirik kepada Randy dengan tatapan tanya. Randy hanya mengisyaratkan agar Nathan membalas pelukan Nabila saat ini. Randy berharap agar hal itu mampu menenangkan hati Nabila yang tengah gundah.
" Jangan menangis lagi Nabila." Ujar Nathan lembut. Agar Nabila menghentikan tangisannya juga berusaha melerai tubuh Nabila.
Tak ada jawaban dari Nabila dia masih menangis namun tangisnya sedikit mereda.
" Jangan seperti ini. Para tamu menatap kita." Bisik Nathan agar Nabila mau melepaskan pelukannya. Karena Nathan sudah merasa cukup lama Nabila memeluk dirinya.
Perlahan Nabila mulai melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya dengan tisu secara perlahan. Randy segera merangkul istrinya mencoba menguatkan sang istri agar ikhlas melepaskan orang yang dicintainya.
******
__ADS_1
Senja duduk termenung bersandar pada headboard memikirkan kejadian saat Nabila memeluk Nathan begitu erat. Sedalam itukah Nabila mencintai suaminya selama ini. Kenapa dia merelakan Nathan ketika dia bisa saja menjamahnya.
Senja menyeka sudut matanya yang basah. Nathan yang baru saja masuk ke kamar langsung menghampiri istrinya ketika melihat Senja menyeka air matanya. Nathan menatap Senja dengan tatapan teduh dan menenangkan.
" Ada apa sayang?" Nathan mengelus lembut pipi Senja dengan lembut.
" Tidak ada." Senja tertunduk dan kembali menitikkan air mata.
" Aku dan Nabila hanya bersahabat. Jangan kamu khawatirkan itu. Nabila bukan perempuan yang banyak aku kenal." Ujar Nathan.
Senja menarik nafasnya dalam dan menatap nanar wajah suaminya. " Apa kamu tahu? Jika Nabila sangat persis seperti dirimu." Ujar Senja seolah ada belati yang menyayat hatinya.
" Tanpa kita sadari. Aku dan kamu menyakiti Ayuna dan Randy." Senja kembali tertunduk dan telapak tangannya menutupi wajahnya. Tangis Senja pecah.
" Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf pada Ayuna. Rasa bersalah ini semakin menggelayut di hatiku."
Nathan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. " Itu semua salahku." Ujar Nathan sambil menepuk lembut punggung istrinya.
" Apakah Randy akan baik- baik saja setelah mengetahui hal itu?" Senja melerai pelukan suaminya.
" Dia akan baik- baik saja."
" Apa kamu tahu jika sebenarnya Nabila mencintai kamu?" Tanya Senja penasaran.
Nathan hanya mengangguk tanpa menatap wajah istrinya.
" Nabila pernah katakan hal itu. Tetapi dia tidak ada niat ingin memilikiku. Aku bersyukur akan hal itu. Jika itu dia lakukan. Aku tidak bisa berbuat apa- apa karena luasnya kekuasaan keluarga Nabila."
" Dia orang yang baik, Nathan."
" Iya. Berkali- kali dia membantuku."
__ADS_1
" Semoga Randy bisa menggantikanmu di hatinya."