Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
117


__ADS_3

Randy hanya duduk terdiam di dalam ruangan Nathan. Tatapan matanya menerawang jauh pikirannya terasa penuh. Hampir satu bulan dia menjadi suami Nabila. Tetapi masih saja belum mendapatkan cinta dari istrinya. Nathan yang baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya. Segera merapikan dokumen dan menghampiri sahabatnya yang tengah duduk termenung di sofa.


Nathan menarik nafas dalam dan duduk di hadapan Randy yang belum menyadari dirinya. Randy masih asik berkutat dengan pikirannya sendiri.


" Apa mau terus bengong?" Tegur Nathan pada Randy yang terdiam.


Randy menarik nafas dalam. " Aku harus apa lagi, Nath?" Keluh Randy.


" Maksudnya?"


" Yaa.. Hampir satu bulan aku dan Nabila menikah. Tapi dia sama sekali ga mau aku sentuh."


" Apa pernikahan semata hanya untuk hal itu?" Nathan menatap Randy tajam. Randy menggeleng. " Walaupun ada hak kita untuk tubuh istri. Tetapi pemilik mutlak tubuh itu adalah istri kita sendiri, Ran. Jangan sampai dia mau menyerahkan tubuhnya pada kita dengan terpaksa. Itu zalim, Ran. Biarkan Nabila terbiasa dengan hatinya dulu. Terus beri dia kenyamanan. Jangan sekali- kali memaksa."


" Tapi, Nath."


" Apa lagi? kami udah gak tahan?" Tatapan Nathan langsung berubah marah.


" Gak juga."


" Tapi apa?"


" Aku pengen kasih dia kesempatan buat memastikan hatinya kembali." Ucap Randy.


" Maksud mu?"


" Temui istriku, Nath. Tapi jangan sengaja buat dia nyaman."


Nathan menyunggingkan senyum tipis mendengar ucapan Randy. " Kalo Nabila masih memiliki rasa yang sama?"


" Perlahan aku akan mundur."


Nathan menggebrak meja yang ada di hadapannya. " Pernikahanmu baru seumur jagung! Jangan pernah main- main, Randy!" Bentak Nathan dengan nada mengancam.


" Aku selalu cemburu, Nath. Ketika lihat dia terkadang termenung. Aku tau siapa yang dia lamunin saat itu. Aku pikir aku bisa membesarkan hatiku. Tapi ternyata gak semudah itu Nathan Ferdinand!"


" Aku ikuti mau mu. Aku harap kamu gak pernah nyesel!" Ucap Nathan sambil menunjuk ke arah Randy dengan marah.


Nathan segera berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Sengaja dia langsung menghubungi Nabila di hadapan Randy sambil menatap Randy tajam.


" Ada apa, Nath?" Tanya Nabila.


" Kamu dimana?"


" Masih di kantor."

__ADS_1


" Oke. Aku ke sana sekarang. Tunggu di ruanganmu ya. Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Nathan tatapan matanya tak lepas dari Randy yang tiba- tiba menatapnya dengan gelisah.


" Jangan macem- macem sama istriku Nath." Ujar Randy gugup setelah Nathan menutup panggilan teleponnya.


" Aku akan memastikan yang kau minta. Tapi jangan melarangku untuk melakukan apapun itu!" Ucap Nathan kesal dan segera berlalu dari hadapan Randy.


Randy yang menyadari Nathan tak lagi tenang. Langsung berlari mengejar Nathan yang sudah berada di dalam lift menuju parkiran. Berkali- kali Randy menekan tombol lift dan akhirnya pintu lift terbuka.


" Nath " Panggil Randy pada Nathan yang sudah berada di dalam mobilnya.


" Nathan." Randy menggedor kaca mobil Nathan. Namun Nathan tetap cuek dan melajukan kendaraannya.


" Si*l!" Rutuk Randy dan segera berlari menuju mobilnya yang terparkir jauh dari mobil Nathan.


Nathan telah sampai lebih dahulu dari Randy. Sengaja dia berbuat seperti itu pada Randy agar sahabatnya itu bisa memikirkan dulu apa yang akan dia ucapkan. Nathan memasuki ruangan Nabila dan terlihat Nabila masih duduk di depan laptopnya.


" Masih sibuk?" Tanya Nathan pada Nabila yang tersenyum ke arahnya.


" Sebentar lagi. Silahkan duduk saja."


Nathan duduk pada kursi di depan meja Nabila dan menundukkan kepalanya memainkan ponselnya. Tak ingin dia menatap lama- lama istri sahabatnya.


" Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Nabila masih sibuk dengan pekerjaannya.


Nabila hanya tersenyum dan kembali fokus pada pekerjaannya. Setelah sepuluh menit. Nabila selesai dan duduk di kursi samping Nathan.


" Apa yang mau kamu bicarakan?" Nabila mengulang pertanyaannya.


" Apa pendapatmu tentang aku?" Tanya Nathan masih menatap layar ponselnya.


" Masih sama. Baik, tampan dan sekarang terlihat kebapakan." Ujar Nabila dengan tawa kecilnya.


Nathan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dan menatap Nabila lekat. Kedua manik mata itu saling bertemu dan Nabila langsung mengalihkan pandangannya ketika hatinya tak lagi bisa dikendalikan.


" Apa yang bisa aku lakukan untuk pergi dari hatimu?" Tanya Nathan dengan nada serius.


" Tidak ada."


" Randy sahabatku, Nabila. Aku tidak ingin dia merasa tersaingi karena aku masih di sana."


" Aku tau. Tapi sampai saat ini aku belajar menerima dia."


" Lalu?"


Nabila tertunduk. " Aku ingin sekali mencintai suamiku, Nath. Tetapi entah kenapa setiap menatap wajah Randy selalu terbayang wajahmu." Ucap Nabila.

__ADS_1


" Aku tau, Randy pasti cerita tentang hubungan kita. Aku tau pasti dia kecewa. Tapi apa dayaku. Aku hanya tidak ingin melakukan hal itu padanya tetapi hatiku memikirkan orang lain." Ungkap Nabila dengan tangisnya.


Nathan menarik nafas dalam. " Sebenarnya aku tidak patut ikut campur dalam rumah tangga kalian. Tapi aku pernah ada di posisi yang sama denganmu, Nabila. Menikah dengan Ayuna sementara aku masih mencintai mantan pacarku. Sulit memang melupakan. Tetapi jangan melupakan kewajiban. Kamu tau. Ketika kita menjalani kewajiban kita dengan memberikan hak pada pasangan kita. Lambat laun. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya." Ujar Nathan.


Nabila mengangkat wajahnya.


" Aku yakin. Kamu pasti bisa, Nabila. Kamu adalah perempuan hebat dan perempuan baik yang aku kenal." Nathan melemparkan senyumnya.


Nabila langsung memeluk Nathan erat. " Terima kasih, Nath."


' BRAK'


Nabila dan Nathan langsung menoleh ke arah pintu dan terlihat Randy yang menatap mereka tajam.


Randy berjalan menghampiri Nathan dan menarik kerah baju Nathan. Sebuah pukulan keras mendarat telak di pipi Nathan. Randy mengulangnya lagi dan mendaratkan pada tempat yang sama.


Nabila langsung berusaha melerai Randy dari tubuh Nathan.


" Lepaskan Randy!" Teriak Nabila.


Randy langsung menghempaskan tubuh Nathan.


" Kenapa kamu membelanya? Kamu merasa terganggu.."


" RANDY!" Bentak Nathan dengan suara yang menggelegar.


Sangat jarang Nathan membentak orang lain dengan suara selantang dan semarah itu.


" Kamu keluar dulu, Nabila. Ini urusanku dengan suamimu." Ucap Nathan dengan wajah marah.


Nabila yang bingung hanya menurut dan segera keluar dari ruangannya.


Nathan balik mencengkeram kerah baju Randy dan mendorongnya ke sudut ruangan. Randy yang sudah jatuh mentalnya karena bentakan Nathan hanya bisa diam dan pasrah.


" Apa kamu pikir aku dan istrimu sedang bercumbu?" Nathan merapatkan dirinya menahan emosi yang mulai merajai dirinya.


" Aku dan Nabila tidak sedangkal itu!" Nathan melepaskan cengkeramannya. " Jaga ucapanmu. Jangan sampai istrimu semakin menjauh karena ucapanmu!" Bentak Nathan lagi.


"Aku melihat kalian pelukan."


Nathan menyunggingkan sebelah bibirnya.


" Kenapa kamu tersenyum?"


" Kamu akan tahu hal itu dengan segera." Nathan menepuk pelan bahu Nathan dan segera keluar dari ruangan Nabila.

__ADS_1


__ADS_2