
Nathan memeriksa laporan yang diberikan Silvi pagi ini. Setelah libur satu hari kemarin karena sakit membuat pekerjaan Nathan sangat menumpuk. Ada banyak tender yang ia tangani. Belum berkas laporan perusahaan. Nathan sedikit menguap panjang mungkin karena efek obat yang ia minum tadi pagi mulai bekerja.
" Silvi, tolong bawakan saya kopi." Pinta Nathan pada Silvi melalu telepon yang ada di meja kerjanya.
Lima menit kemudian Silvi membawakan secangkir kopi susu. Nathan sangat dilarang keras minum kopi hitam karena penyakit asam lambungnya yang sudah mulai akut.
" Terima kasih Silvi." Ucap Nathan tanpa melihat ke arah Silvi.
" Sama- sama, Pak. Saya kembali ke meja saya." Silvi pamit.
Nathan menyeruput kopi itu. Disesapnya aroma kopi itu dalam- dalam. Sudah lama juga dia tidak minum kopi di kantor.
" Selamat siang, Pak Nathan." Sapa Friska ketika masuk ke ruangan Nathan begitu saja.
Nathan mengernyitkan keningnya bingung. " Apa kita ada janji hari ini?"
" Tidak ada." Jawab Friska dengan nada manja.
" Lalu ada apa anda ke kantor saya?"
Friska tersenyum menggoda dan duduk di kursi yang ada di depan meja Nathan. Dia silangkan kakinya hingga paha mulusnya terekspos begitu saja.
" Saya mau minta bantuan anda." Friska berkata dengan nada centil.
Nathan hanya menatap Friska menunggu wanita itu bicara apa maksud kedatangannya.
" Begini, Pak Nathan. Saya kan punya seorang putra. Saya pun seorang single mother. Saya mau kasih dia kejutan."
" Lalu?"
" Saya harap Bapak mau menemani anak saya makan malam bersama nanti malam. Saya yakin dia pasti merindukan sosok ayahnya yang pergi entah kemana."
Nathan menarik nafasnya dalam dan sedikit menegakkan tubuhnya. " Saya tidak bisa. Lagipula saya bukan ayahnya ataupun bukan calon ayahnya." Tolak Nathan dengan nada sopan.
Sejenak Friska kemudian memutar otaknya mencari alasan lain agar Nathan menerima ajakannya.
" Tapi saya hanya mau menyenangkan putra saya. Sekali ini saja." Friska kali ini dengan wajah dan nada memohon.
" Maaf. Saya tidak bisa." Nathan tetap menolak.
" Saya akan meminta izin Senja. Bagaimana?" Friska terus memaksa.
" Tidak pantas jika saya makan malam bersama dengan anda. Sementara saya sudah beristri. Sekalipun istri saya mengizinkan. Saya akan tetap menolak." Nathan tetap dengan pendiriannya.
Friska sedikit mendengus kesal dan kecewa. Akhirnya Friska yang kehabisan akal langsung undur diri. Balik kanan meninggalkan ruangan Nathan.
Nathan hanya sedikit menggelengkan kepalanya bingung melihat sikap Friska yang seperti itu.
*****
__ADS_1
Gio berlari kesenangan menyusuri mall. Sudah sangat lama sekali dia tidak di ajak bermain di mall seperti hari ini. Senja terus memperhatikan anaknya yang terus saja berjalan mendahuluinya. Terkadang sedikit berlari.
" Jangan begitu Gio." Ucap Senja ketika melihat Gio mau pegang- pegang patung manekin.
" Kita ke area permainan yah, Ma." Ajak Gio antusias.
Senja tersenyum dan mengangguk. Gio langsung saja melesat berlari menuju eskalator menuju lantai atas. Senja ikut setengah berlari mengejar Gio.
' Buk'.
Senja terjatuh karena menabrak seseorang.
" Maaf, Ka. Saya gak sengaja." Ucap pria itu dan membantu Senja.
" Gak papa Mas. Saya yang salah. Saya tadi buru- buru." Senja merapikan bajunya dan menepuk- nepuk celananya takut ada kotoran yang menempel.
" Senja ya?"
Senja segera menatap ke sumber suara. Matanya seketika membulat. " Riza." Seru Senja senang.
" Apa kabar?"
" Baik. Kamu sendiri?"
" Baik juga." Jawab Riza. " Sama siapa kesini?"
" Entah ya bulan apa ini bisa ketemu teman sekolah lagi." Ujar Senja senang.
" Oh ya? Kamu sudah ketemu siapa aja?"
" Ya biasalah geng ceriwis dulu masa sekolah." Ucap Senja.
" Ayo, Ma." Ajak Gio tak sabar.
" Iya sayang." Sahut Senja dan tersenyum pada Gio. " Aku duluan ya. Maaf tadi nabrak kamu." Senja mohon pamit.
" Boleh minta nomor ponselmu?" Riza segera menyerahkan ponselnya.
Senja tersenyum " Maaf, Za. Aku sudah menikah. Tidak baik jika aku berkomunikasi dengan pria lain." Tolak Senja halus dan meninggalkan Riza yang masih terpaku karena lagi- lagi dia ditolak Senja. Bahkan hanya untuk berkomunikasi.
Senja menghampiri Gio dan langsung menggandeng putranya. Sejak tadi mengejar Gio membuatnya sedikit lelah. Gio tetap asik saja mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru mall. Matanya berbinar senang.
" Mama ada Om Reza." Ucap Gio dan menunjuk ke arah seorang lelaki yang sangat dikenalnya.
" Oh iya."
" Samperin yuk Ma." Ajak Gio langsung saja menarik tangan Senja.
" Jangan sayang. Kayanya Om Reza lagi sama temannya." Tolak Senja menahan tangannya.
__ADS_1
Namun Gio melepaskan genggamannya begitu saja pada tangan Senja dan berlari menghampiri Reza yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di mall itu untuk beristirahat.
Terlihat Gio agak terkejut mendapati Gio menghampiri dirinya namun kemudian dia memeluk dan menggendong Gio. Wanita yang ada di sebelahnya hanya tersenyum ramah.
" Gio. Mama udah bilang jangan lari- lari." Ucap Senja pada Gio yang masih berada di gendongan Reza. " Maaf ya. Anakku memang suka merepotkan." Senja melemparkan senyum ke arah Reza dan teman wanitanya.
" Gak masalah kok. Aku juga kangen sama Gio." Reza kembali menciumi pipi Gio.
" Ayo jajan. Om Reza traktir." Ucap Reza dan menurunkan Gio dari gendongannya.
" Asikk." seru Gio senang dan berlari menuju stand milkshake.
" Hai." Sapa Senja sedikit canggung pada teman wanita Reza.
" Hai. Aku April." Wanita itu memperkenalkan diri.
" Senja." Senja menjabat tangan wanita itu.
" Iya aku tahu." Ucapnya ramah. " Reza banyak cerita tentang kamu. Aku bisa tahu kamu itu Senja dari mata Reza memandang kamu." Ujar April dengan wajah sendunya.
Senja hanya tersenyum menanggapi ucapan April.
" Suami kamu kemana?" Tanya April.
" Dia masih di kantor."
" Oh begitu."
" Kamu pacarnya Reza?" Tanya Senja sedikit sungkan.
" Aku calon istrinya. Kami di jodohkan." Jawab April membuat Senja hanya mengangguk tanpa berkomentar.
" Reza lelaki yang baik. Semoga kelak hatinya terukir nama kamu." Harap Senja.
" Terima kasih."
" Mama.. Ini buat mama dan ini buat tante." Ujar Gio senang dan memberikan milkshake tersebut pada Senja dan April. " Ini aku loh yang pilihin rasanya." Ujar Gio bangga dan kembali menyeruput minuman yang ada di tangannya.
" Gio pintar." Ucap Reza membanggakan. " Oh iya Senja. Mumpung kita bertemu. Ajaklah Nathan. Kita makan malam bersama. Bagaimana?" Usul Reza.
Senja sedikit berpikir. " Aku coba hubungi dia ya. Takutnya masih banyak kerjaan." Ujar Senja dan segera mengambil ponselnya dari dalam tas.
" Sayang. Hari ini kamu lembur gak?" Tanya Senja ketika Nathan menjawab panggilan teleponnya.
" Engga. Ini aku udah siap- siap mau pulang. Ada apa?"
" Aku ke mall sama Gio gak sengaja ketemu Reza dengan calon istrinya. Mereka mengajak kita makan malam bersama. Bagaimana?" Tanya Senja menjelaskan terlebih dahulu situasinya.
" Ehmm. Oke. Aku langsung ke sana ya. Kirimkan lokasinya." Jawab Nathan dan segera menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1