
Senja mengaduk minumannya mengusir rasa bosan yang dibuat Dona menunggu. Sudah lima belas menit dia duduk di cafe ini. Tetapi sosok Dona belum muncul juga. Kebiasaan lamanya memang suka telat seperti ini. Padahal dia yang mengajak Senja untuk ketemuan.
" Maaf Senja. Tadi mendadak anakku mau ikut. Jadi bujuk mereka dulu biar mau ditinggal." Ujar Dona yang barus saja duduk di kursi di depan Senja.
" Gak apa- apa. Kamu ajak juga gak masalah kok."
" Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Dona. Senja menggeleng.
" Kita pesan makanan. Aku yang traktir." Ujar Dona dan meminta menu pada waiters.
" Ada apa kamu mengajak aku bertemu?"
" Apa tidak boleh kalau hanya sekadar ngobrol?"
" Boleh." Senja tersenyum. Sikap Dona yang cuek dari zaman sekolah tidak berubah sama sekali.
" Kamu tidak ikut Rayya dan Prilly menjenguk anak Friska?" Tanya Senja.
Dona menggeleng cepat. " Masih malas ketemu Friska. Kamu tahu. Beberapa hari lalu dia datang ke rumahku dan minta maaf. Aneh banget." Ucap Dona.
" Bagus dong."
" Apanya yang bagus, Senja?" Keluh Dona kesal. " Aku sangat tahu bagaimana sifat Friska. Tidak mungkin dia mau minta maaf dengan sukarela tanpa ada maksud apapun." Sergah Dona dan mengambil kentang goreng mencocolnya dengan saus dan melahapnya.
" Mungkin dia sudah berubah."
" Ishh... Cape ya ngobrol sama orang yang terlalu baik kaya kamu."
Senja tertawa kecil. " Aku harus apa? Gak baik prasangka buruk."
" Bukan berprasangka. Ini fakta!" Bela Dona kesal. " Suamimu masih belum aman Senja. Sebaiknya kamu lapor polisi saja jika dia macam- macam." Saran Dona yang sangat geram dengan tingkah Friska.
Senja menghela nafas berat dan raut wajahnya berubah murung. Pikirannya kembali lagi saat Gio diculik dan Friska memaksa Nathan untuk menikahinya.
" Apa sudah terjadi sesuatu?" Dona bertanya pelan.
Senja mengangguk. " Seminggu yang sudah sepertinya. Friska menculik anakku dan memaksa suamiku untuk menikah dengannya sebagai tebusannya." Ujar Senja dengan wajah sedih.
" Lalu?"
" Beruntung teman suamiku datang tepat waktu. Pernikahan itu batal." Lanjut Senja dan menyeruput sisa minuman yang ada di hadapannya.
" Keterlaluan." Dona tampak semakin geram. " Kamu tidak lapor polisi?"
" Suamiku masih memikirkan nasib anak Friska jika dia di penjara. Kasihan mereka."
" Tapi dia tidak kasihan dengan kalian!"
" Aku hanya berharap jika Friska sadar kalau perbuatannya itu salah." Ujar Senja dengan wajah sendunya.
Dona berdecak kesal. " Friska sudah keterlaluan. Jika dia masih mengganggu suamimu. Aku akan menghajarnya."
Senja hanya tersenyum melihat temannya begitu peduli dengan dirinya. Padahal saat sekolah. Dia dan Dona tidak sedekat ini. Karena Dona sangat dekat dengan Friska.
Dona dan Senja menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Tiba-tiba Dona memicingkan matanya menatap pintu masuk.
" Ada apa?"
" Itu Riza kan?" Ujar Dona menunjuk ke arah pria yang duduk tak jauh dari meja mereka.
Senja perlahan menoleh." Iya." Sahut Senja yang juga mengenali sosok tersebut.
" Riza!" Panggil Dona tiba- tiba. Riza pun langsung menoleh ke arah Dona dan menghampiri Dona.
" Apa kabar?" Tanya Riza pada Dona. " Loh. Senja. Aku kira kamu sama Friska." Ujar Riza yang sedikit terkejut karena Senja ada bersama Dona.
Senja hanya tersenyum canggung. Dia masih ingat betul bagaimana lelaki ini masih berusaha mendekatinya.
" Dimana Nathan?"
__ADS_1
" Dia masih di kantor." Jawab Senja singkat.
" Senja aku minta maaf. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Ujar Riza pada Senja. Dona hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka.
" Iya. Gak masalah."
" Nathan itu teman yang baik. Walaupun aku hanya mengenalnya waktu magang. Tapi dia banyak membantuku waktu itu. Aku tidak akan mengambil sesuatu apapun milik Nathan." Ujar Riza menjelaskan.
" Baguslah." Sahut Senja masih dengan wajah cuek.
" Baiklah. Aku tidak bisa gabung lama. Aku ada janji dengan klien." Ujar Riza dan menyalami Senja dan Dona bergantian kembali ke tempat duduknya.
Dona yang sejak tadi menahan rasa penasarannya. Langsung saja mencecar Senja dengan banyak pertanyaan.
" Jadi kami udah pernah ketemu dengan Riza?" Tanya Dona sedikit berbisik. Senja hanya mengangguk.
" Kapan?"
Senja menarik nafasnya dalam dan menyeruput minumannya. " Beberapa hari setelah kita ketemuan lalu entah bagaimana dia bisa tau rumahku." Ujar Senja.
" Kenapa kamu gak cerita?"
" Yaa karena memang gak penting." Ucap Senja asal.
Dona mendenguskan nafasnya dan terlihat seperti orang yang sedang berpikir.
" Kira- kira Riza sudah punya pasangan belum ya?"
Senja mengangkat bahunya tanda tidak tahu. " Ada apa?"
" Bagaimana kalau kita jodohkan dia dengan Friska?" Dona mengutarakan idenya.
" Aku gak ikutan." Senja mengangkat kedua tangannya. Dia hanya tidak mau masalahnya dengan Friska semakin keruh karena menjodohkannya dengan Riza.
" Ayolah, Senja." Bujuk Dona.
" Aku tidak mau hubunganku dengan Friska semakin buruk." Ujar Senja dengan wajah sendunya.
Senja hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak beberapa lama kemudian. Klien yang ditunggu Riza datang juga mengharuskan Dona untuk kembali ke tempat duduknya.
" Kalian bicara apa? Kenapa lama sekali."
" Ada deh.." Ujar Dona dengan tersenyum lucu sambil memainkan alisnya naik turun.
" Cabut yuk." Ucap Dona pada Senja.
Senja ikut saja apa yang Dona inginkan. Sudah terlalu lama juga mereka mengobrol. Kasihan ibu dan Gio di rumah.
*****
Nathan melihat sebuah pesan masuk pada ponselnya.
Maaf aku mengganggu Nathan. Tapi bisakah kamu ke rumahku? Anggi ingin bertemu.
Nathan hanya menarik nafasnya panjang dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tanpa membalasnya.
Nathan memijat pelipisnya pelan. Ingin rasanya dia terlepas dari Friska. Tapi bagaimana caranya. Dia tidak nyaman dengan keadaan ini karena terus saja wanita itu mengganggu rumah tangganya. Nathan hanya tidak ingin istrinya merasa cemas dan sedih.
'Drrrttt..'
Nathan kembali melihat nama Friska tertera pada layar ponselnya. Dengan menarik nafas berat Nathan menjawab panggilan telepon itu.
" Hai, Nath." Sapa Friska lebih dulu dengan suara riang.
" Ada apa?"
" Ayolah. Jangan seperti itu. Semakin kamu menjauh. Semakin ingin aku mendapatkanmu." Ucap Friska dengan nada menggoda.
Nathan menarik nafas dalam. Malas rasanya bicara dengan wanita itu. " Aku tidak punya banyak waktu. Bicaralah."
__ADS_1
" Bukan aku yang mau bicara. Tetapi Anggi." Ucap Friska dan langsung memberikan ponselnya pada Anggi.
" Halo, Om."
" Iya. Ada apa Anggi? Bagaimana keadaanmu?"
" Sudah jauh lebih baik." Jawab Anggi sopan. " Aku boleh minta sesuatu?"
" Apakah kamu mau Om menjengukmu?" Tanya Nathan mendahului ucapan Anggi.
" Iya."
" Akan Om usahakan. Tapi Om tidak janji ya." Ujar Nathan.
" Iya, Om. Maaf Anggi sudah mengganggu."
" Tidak masalah Anggi. Om harus pergi dulu bertemu klien. Sudah dulu ya." Nathan menutup panggilan teleponnya dan menarik nafas dalam.
Dia sandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya dan mengetuk- ngetuk pelan ponselnya pada meja kerja. Nathan segera menghubungi Senja. Entah kenapa berat rasanya harus membuat Anggi kecewa. Seorang anak kecil dengan hati yang lembut. Baru sekali Nathan bertemu anak itu. Tetapi sudah ada rasa sayang untuknya.
" Senja. Bisakah kamu menemaniku ke suatu tempat?" Tanya Nathan langsung ketika Senja menjawab panggilan teleponnya.
" Kemana?"
" Ke rumah Friska. Sebelumnya aku akan menceritakan sesuatu padamu." Ujar Nathan tidak ingin istrinya merasa curiga.
" Baiklah. Aku akan segera ke kantor."
Satu jam kemudian.
Senja mengetuk pintu ruangan Nathan dan segera masuk ketika mendengar Nathan menyuruhnya masuk. Karena saat itu Nathan sedang bicara dengan staffnya.
Ketika Senja masuk. Karyawan Nathan segera keluar membawa map biru ditangannya. Nathan langsung bangkit dan menyambut istrinya dengan kecupan mesra pada keningnya.
" Kamu cantik sekali sayang." Puji Nathan dengan berbisik membuat Wajah Senja merona.
Entah kenapa Senja masih saja tersipu malu jika mendengar pujian dari Nathan. Padahal hal itu sudah sering dilakukan suaminya setiap hari. Pujian manis selalu terlontar dari mulutnya dengan nada mesra dan lembut.
" Apa kamu mau menggodaku di kantor?" Nathan mulai menggoda istrinya yang masih tertunduk malu.
" Sudahlah, Nathan. Jangan membuatku malu."
" Aku suamimu. Kenapa harus malu." Nathan semakin merapatkan tubuhnya pada Senja yang duduk di ujung sofa.
" Nathan." Senja mengangkat wajahnya dan menatap suaminya yang dengan senyum menggoda.
Nathan yang gemas dengan tingkah istrinya yang malu- malu kucing langsung menyerangnya dengan c*uman pada bibir Senja dan bermain sedikit lama di sana. Senja hanya memejamkan matanya dan mengikuti kecupan lembut Nathan menikmati setiap kelembutan yang diberikan suaminya.
" Aku selalu merindukanmu, Sayang." Ucap Nathan ketika dia melepaskan bibirnya dari Senja dan menyeka bibir Senja yang basah karenanya.
" Jangan pernah berpaling dariku."
Nathan tersenyum dan menatap Senja dengan penuh cinta. " Tidak akan."
Senja merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena ulah Nathan. " Apa yang mau kamu bicarakan?"
Nathan menarik nafas dalam. " Sebelumnya aku mau minta maaf karena aku tidak bicarakan hal ini padamu." Senja menatap Nathan menunggu kelanjutan dari suaminya.
" Aku yang menolong anak Friska saat kecelakaan." Senja memicingkan matanya masih menunggu Nathan menceritakan semuanya. " Aku tidak tau jika dia ternyata anak Friska. Aku hanya menolongnya saat tertabrak motor saat itu."
" Lalu?"
" Tadi dia meneleponku dan memintaku menjenguknya. Jujur saja Senja. Aku tidak tega jika harus membuatnya kecewa." Ujar Nathan.
" Dan memilih aku yang harus kecewa?"
" Bukan seperti itu. Jika kamu keberatan. Aku tidak akan menjenguknya."
Senja tersenyum melihat kepanikan pada wajah suaminya. " Aku senang sayang. Karena kamu mempunyai hati yang lembut. Aku akan menemani kamu." Ujar Senja dan mengecup lembut kening Nathan.
__ADS_1
Nathan tersenyum. Istrinya mengerjainya.