Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
88


__ADS_3

Rayya dan Prilly duduk dihadapan Friska yang mengenakan baju tahanan. Tidak ada make up yang merias wajahnya ataupun baju branded yang selalu dia pakai. Friska terlihat lusuh. Rayya dan Prilly menatap Friska iba.


" Apa kalian akan menghinaku?" Sergah Friska kesal ketika melihat kedua temannya itu seperti sedang memperhatikan penampilan Friska yang lusuh.


" Bukan begitu Friska." Jawab Prilly. " Bagaimana keadaanmu?"


" Buruk!" Jawab Friska ketus. " Senja benar- benar menghancurkan hidupku." Maki Friska.


" Bukankah aku dengar kamu yang menik*m suami Senja?!" Rayya tidak bisa menutupi lagi rasa penasarannya.


" Siapa yang bilang seperti itu?" Tanya Friska dengan nada tinggi membuat Rayya dan Prilly sedikit bergidik.


" Berita diluar sana tentangmu sangat ramai diperbincangkan." Timpal Prilly cepat.


" Apa yang media katakan?" Selidik Friska.


" Banyak saksi yang melihat kamu menik*m suami Senja dengan pisau. Tapi kenapa kamu melakukan itu Friska?"


" Apa media juga tidak memberitahukan motifnya?" Friska penasaran.


Rayya dan Prilly menggeleng. " Keluarga Senja tidak memberikan klarifikasi apapun. Chat kami pun tidak dibalas jika menanyakan seputar kasus kalian."


Friska menyunggingkan senyum liciknya. Ternyata Senja sangat menutupi kasusnya. Ini akan menguntungkan Friska. Kedua temannya itu sangat mudah terhasut.


" Suami Senja ingin melecehkanku. Sudah berulang kali terjadi." Raut wajah Friska berubah menjadi sedih. " Aku merasa harga diriku sangat terinjak. Saat itu Senja mengetahui hal itu hanya diam saja membiarkan suaminya melecehkanku. Itu yang membuatku benar- benar marah dan gelap mata." Ucap Friska dengan air mata dan tangis palsunya.


Prilly dan Rayya semakin memandang iba pada Friska. Mereka mengelus lembut punggung Friska seolah memberikan kekuatan pada Friska.


" Kami akan membantumu Friska." Ujar Rayya dengan tatapan sendu. Tak menyangka jika Friska mengalami hal yang sangat tragis.


" Seharusnya suami Senja juga ikut mendekam di penjara." Omel Rayya kesal.


" Iya. Dia yang melecehkan. Tetapi kamu yang mendekam. Semua itu adalah kesalahannya." Umpat Prilly tak kalah kesal dengan Rayya.


Sepulangnya mereka menjenguk Friska di penjara. Rayya dan Prilly segera menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Dona. Mereka sangat tahu jika belakangan ini Senja memang sangat dekat dengan Dona. Maka dari itu mereka mencari tahu keberadaan Senja dari Dona yang ternyata juga sedang bersama Senja.


' Tok Tok Tok'


Senja membukakan pintu ruangan Nathan.


" Prilly, Rayya." Seru Senja senang melihat kedua temannya berada di hadapannya.


Namun berbeda dengan Prilly dan Rayya. Mereka langsung saja menjambak rambut Senja dan menghempaskan tubuh Senja hingga tersungkur ke lantai.


" Aw." Jerit Senja kesakitan karena perutnya terbentur ujung sofa.

__ADS_1


" Senja!"


Senja segera menoleh ke sumber suara yang sudah sangat dia rindukan. Nathan siuman.


" Jangan sakiti, Senja." Ucap Nathan lemah.


" Kamu baru bangun? Seharusnya kamu yang mendekam di penjara!" Maki Rayya dan menghampiri Nathan hingga wajahnya sejajar dengan mereka.


Betapa terkejutnya Prilly ketika melihat wajah Nathan. Dia yang baru pertama kali bertemu dengan Nathan. Baru mengetahui jika pria yang pernah menolong Friska saat di restoran itu adalah suami Senja.


" Kenapa kamu?" Tanya Rayya kesal melihat Prilly tertegun.


" Apa dia suamimu?" Tanya Prilly pada Senja yang masih duduk di lantai sambil meringis memegang perutnya.


Senja mengangguk.


" Senja?!" Dona terkejut melihat Senja duduk di lantai sambil menahan sakit.


" Apa yang kalian lakukan?!" Tanya Dona marah. Dia yang baru saja dari toilet sangat terkejut melihat keadaan Senja.


Prilly dan Rayya saling beradu pandang dan tampak rasa penyesalan di wajah mereka.


" Bantu aku!" Perintah Dona agar Rayya membantunya memapah Senja menuju poli kandungan.


Dona dan Rayya sangat cemas dengan keadaan kandungan Senja yang masih sangat kecil. Dokter sedang melakukan USG pada kandungan Senja.


" Alhamdulillah. Kandungannya baik- baik saja."


" Alhamdulillah." Ucap ketiganya mengucap syukur.


" Nyerinya karena benturan saja. Lain kali lebih berhati- hati ya." Saran dokter itu.


" Iya, Dok." Senja menurut.


Setelah mengambil obat yang telah diresepkan oleh dokter itu di bagian farmasi. Senja, Dona serta Rayya kembali ke ruangan Nathan. Di sana terlihat Nathan yang sudah di lepas alat bantu pernapasannya dan ada Prilly yang duduk di sofa dengan tertunduk.


" Senja. Apa kamu baik- baik saja?" Tanya Prilly cemas.


" Iya."


" Maafkan kami Senja. Kami terlalu mudah di bohongi Friska." Sesal Rayya.


"Memangnya Friska bilang apa pada kalian?" Tanya Dona ketus.


Rayya dan Prilly menceritakan apa yang diucapkan Friska tadi.

__ADS_1


" Masih bisa dia memutar balikkan fakta." Ujar Dona kesal.


" Iya. Makanya aku langsung merasa bersalah ketika aku melihat siapa suami Senja. Pria yang sangat dikagumi Friska semenjak pertemuan pertama mereka. Detik itu juga aku merasa tidak mungkin jika dia ingin melakukan hal itu pada Friska." Ujar Prilly.


" Syukurlah jika kalian tahu jika perbuatan kalian salah." Ujar Senja dengan senyum.


" Aku harus menemui suamiku dulu." Ujar Senja pada teman- temannya dan menghampiri Nathan yang sejak tadi hanya mendengarkan para wanita itu berbicara.


" Bagaimana keadaanmu?"


" Masih terbaring lemah." Gurau Nathan dengan suara yang masih lemah.


Senja hanya tersenyum menanggapi gurauan suaminya dan mengecup keningnya lembut.


" Aku punya kabar baik untukmu."


" Apa?"


" Aku hamil." Bisik Senja lembut.


Nathan langsung mengulas senyum mendengar kabar yang sangat dinantikannya.


" Terima kasih sayang." Ucap Nathan dan mengecup tangan Senja.


" Kamu harus cepat sembuh agar bisa menjagaku dan anakmu." Ujar Senja dengan raut wajah bahagia.


" Iya."


" Oh iya. kenalkan itu teman- teman sekolahku."


Nathan menatap satu persatu wajah teman- teman istrinya.


" Itu Dona. Prilly dan Rayya." Ucap Nathan sambil menunjuk satu persatu teman Senja yang masih di ingatnya ketika Senja memperlihatkan foto mereka.


" Kamu masih ingat?" senja terlihat kagum dengan ingatan suaminya.


Nathan mengangguk.


" Aku akan mengabari Ibu dan Randy." Ucap Senja senang dan segera mengirimkan pesan pada Randy dan juga Bu Fitri.


" Nathan. Aku dan Rayya minta maaf atas kejadian tadi." Ucap Prilly penuh sesal.


" Jika Senja sudah memaafkan. Aku juga memaafkan. Tetapi jika mendapat suatu kabar. Ada baiknya mencari tahu dulu benar atau tidaknya kabar itu jangan langsung menarik kesimpulan sendiri dan merugikan orang lain."


Prilly hanya mengangguk dan terdiam merenungkan setiap kata yang terlontar dari mulut Nathan. Karena sikap Rayya dan Prilly. Senja hampir menjadi korban. Beruntung Tuhan masih melindungi Senja dan kandungannya. Jika terjadi sesuatu yang buruk. Akan sangat sulit sekali memaafkan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2