Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
147


__ADS_3

Dengan nafas yang tersengal- sengal. Amel mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. Sementara Bu Somad dan Andi masih merapikan barang- barang yang berantakan setelah kekacauan dua lelaki bertubuh gempal itu. Dengan cekatan. Amel menekan panggilan terakhirnya pada Brama. Satu kali panggilan tidak terjawab.


' Ck' Amel berdecak kesal.


" Coba lagi. Mungkin dia masih di jalan." Ujar Pak Somad.


Amel kembali menekan panggilan pada nomor Brama.


" Halo."


" Pak. Ini Amel."


" Iya. Ada apa? Saya masih di perjalanan menuju rumah kamu. Satu setengah jam lagi sepertinya saya baru sampai." Ujar Brama masih tetap fokus menyetir.


" Iya, Pak. Tapi Nathan tadi di bawa kembali sama dua orang laki- laki badannya gede. Kita udah berusaha biar Nathan gak dibawa. Tapi kita gagal." Sesal Amel.


" Apa?!" Brama menghentikan mobilnya tiba-tiba hingga meninggalkan suara berdecit. beruntung jalanan yang dilalui Brama saat ini sepi dari kendaraan.


" Maaf, Pak." Ucap Amel dengan air mata yang dia tahan.


" Yasudah. Saya tetap kesana dan akan menghubungi beberapa teman saya juga polisi." Ucap Brama.


" Baik Pak."


******


Brama akhirnya menghubungi Randy. Dan segera Randy dan Nabila mengerahkan anak buahnya yang berada paling dekat dengan lokasi Nathan langsung meluncur untuk bergabung bersama Brama. Brama masih mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Firasatnya kali ini benar- benar buruk pada Nathan.


Dengan kecepatan kendaraan yang tinggi. Brama sampai dan langsung memarkirkan kendaraannya di halaman rumah Pak Somad juga beberapa motor yang ternyata adalah anak buah Nabila.


Belum juga mengetuk pintu. Pak Somad sudah membuka pintunya dan menyambut Brama dengan senyumnya.


" Ini Brama?" Tanya Pak Somad pada Brama yang masih mengenakan setelan jas hitam.


" Iya, Pak."


" Silahkan masuk."


Brama duduk dan sekilas memperhatikan keadaan rumah Pak Somad yang sangat sederhana.


" Kita langsung saja, Pak. Firasat saya sangat buruk kali ini." Ucap Brama tanpa basa basi.

__ADS_1


" Iya. Sok atuh. Kita cari rumah yang ada di tengah hutan." Ujar Pak Somad


" Tengah hutan?" Brama terkejut.


" Iya. Waktu bapak bertemu Nathan pertama kali dia bilang kabur dari rumah tua di tengah hutan itu. Setau bapak memang ada rumah tua di sana. Tapi sudah tidak layak huni." Ujar Pak Somad.


Brama menarik nafas dalam. " Baiklah kalo begitu bapak bisa mengantar kami?"


" Bisa. Tapi jalurnya tidak muat mobil. Apalagi mobil bagus. Sayang kalo lecet." Ucap Pak Somad. " Kita naik motor bapak." Sahutnya lagi.


*****


Dengan mengendarai sepeda motor. Brama yang berboncengan dengan Pak Somad berjalan memimpin menembus hutan yang gelap.


Sementara itu...


Wulan dan Nathan masih saling mencumbu. Wulan yang tak sabar menanggalkan pakaiannya dan Nathan. Nathan yang berada di bawah kendali obat perangsang yang diberikan Wulan hanya diam dan menikmati apa yang dilakukan Wulan padanya. Hingga saat Wulan yang mulai akan merasakan kejantanan milik Nathan.


" Senja." Gumam Nathan dan tiba- tiba saja membuka matanya lebar- lebar seakan kesadarannya sudah kembali. Dia yang melihat tubuhnya dan Wulan sudah tanpa busana. Langsung mendorong tubuh Wulan yang akan menduduki kejantanan miliknya.


Nathan segera mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan langsung mengunci pintu kamar mandi. Dada Nathan berdegup sangat cepat. Apa yang dia lakukan dengan Wulan. Nathan merasa dirinya menjadi orang paling b*doh sedunia karena kalah melawan hawa nafsunya. Nathan memperhatikan tubuhnya yang bertebaran tanda merah pada dada dan lehernya. Nathan segera mandi di bawah pancuran air dan menggosok seluruh tubuhnya berkali- kali seakan merasa sangat jijik karena di sentuh wanita itu. Tak dipedulikannya Wulan yang menggedor pintu kamar mandi sambil berteriak keras. Beberapa kali Wulan juga merutuki dirinya yang pergi begitu saja di saat hasratnya belum sepenuhnya terpenuhi.


Setelah dirasa cukup bersih. Walaupun sama sekali tidak menghilangkan tanda merah itu pada tubuhnya. Nathan memakai kembali pakaiannya. Tak ada lagi suara teriakan dan makian dari kamar. Sepertinya Wulan sudah pergi dari kamarnya. Nathan membuka sedikit pintunya untuk memastikan keadaan di luar sudah aman.


' Cklek.'


Nathan menoleh ketika pintu kamarnya kembali di buka dan terlihat Wulan masih dengan senyum menggoda.


" Kita tuntaskan permainan kita sayang." Rayunya dengan menyentuh lembut dagu Nathan.


" Aku lelah." Nathan memalingkan wajahnya.


" Kapan kamu akan menyerah, Nathan."


" Tidak akan pernah." Ucap Nathan tegas.


Wulan yang marah langsung melingkarkan tangan kecilnya pada leher Nathan dan mencengkeramnya kuat.


Wulan yang kalah tenaga dengan Nathan. Dengan mudahnya Nathan membalikkan keadaan. Nathan mencengkeram kuat leher Wulan dan menahannya di lantai.


" Aku tidak mau berbuat kasar padamu. Selama ini aku tidak pernah memukulmu bukan berarti aku lemah, Wulan!" Ucap Nathan dengan sorot mata tajam. Tak ada lagi kelembutan yang tersirat di sana.

__ADS_1


Nathan melepaskan cengkeraman tangannya dan membuat Wulan terbatuk- batuk karena dalam beberapa saat dia kesulitan bernafas. Nathan berdiri menatap nyalang ke arah Wulan. Wulan yang menjadi ciut hatinya segera bangkit dan keluar dari kamar Nathan.


" Bimo! Deki!" Teriak Wulan pada dua anak buahnya yang berbadan gempal.


" Ada apa nona?"


" Habisi dia. Dia tidak akan aku dapatkan. Maka tidak akan ada yang boleh mendapatkannya." Ujar Wulan geram.


" Wah. kalo begitu bayaran kita di tambah ya "


" Iya."


.


Bimo dan Deki sontak saja masuk ke dalam kamar Nathan. Nathan yang sepertinya sudah bersiap. Segera bangkit menyambut dua orang itu.


" Udah berani dia!" Ejek Deki meremehkan Nathan.


" Kita tuntaskan kerjaan kita." Ujar Bimo dan membuat Deki maju menyerang Nathan bersamaan dengan Bimo.


Nathan yang pernah berlatih ilmu bela diri. Mampu mengimbangi lawannya yang tidak sepadan. Dua lawan satu. Bimo dan Deki juga menggunakan senjata tajam. Nathan berusaha keras menghindari layangan senjata itu.


.....


" Itu rumah tuanya." Ujar Pak Somad yang baru saja tiba lumayan jauh dari rumah tua itu.


Brama dan Pak Somad turun dari motor mereka. Sengaja dia parkir lumayan jauh agar mereka tidak mengetahui kedatangan Brama.


Perlahan Brama membuka pintu itu dan ternyata tidak terkunci. Brama beserta empat anak buah Nabila. Memasuki rumah itu dengan mengendap- ngendap. Cahaya lampu petromax yang temaram. Membuat penglihatan mereka samar- samar. Terdengar keributan dari kamar atas. Brama, Pak Somad dan dua anak buah Nabila berjalan menuju kamar atas. Sedang dua lainnya menyusuri ruangan yang ada di bawah.


Nathan mulai kewalahan dengan serangan mereka. Rupanya badan besar itu tidak menghalangi kelincahan gerakan mereka. Deki berhasil memukul Nathan menggunakan sikutnya. Nathan terhuyung terlempar ke arah Bimo yang siap menyambutnya dengan sebilah pisau yang sejak tadi dia pegang.


" Emmhh.." Nathan mengerang menahan sakit ketika p* sau itu tertancap manis di perutnya.


Bimo segera menarik keluar dari perut Nathan dan kembali menancapkannya kembali.


' BRAK.'


Brama mendobrak pintu itu dan sontak saja Bimo melempar tubuh Nathan begitu saja ke lantai.


" Nathan!" Seru Brama panik.

__ADS_1


" Tangkap mereka." Ucap Brama geram dan sontak saja. Perkelahian antara anak buah Nabila dengan Bimo dan Deki tak terelakkan.


Brama dan Pak Somad menghampiri Nathan yang meringkuk sambil memegangi perutnya. Begitu tubuh Nathan di balik. Brama begitu terkejut karena tubuh Nathan penuh darah.


__ADS_2