Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
148


__ADS_3

Setelah perkelahian yang cukup sengit. Anak buah Nabila akhirnya mampu meringkus Bimo dan Deki. Dan di kamar bawah juga ditemukan Wulan. Mereka bertiga dikumpulkan di ruang tengah dengan kaki di ikat dan tangan terikat di belakang.


" Berakhir sudah petualanganmu, Wulan. Polisi akan menjemputmu dimana tempat kamu seharusnya." Ucap Brama.


" Kali ini, Nathan pasti m*ti." Ucap Wulan penuh kemenangan.


" Begitu terobsesinya kamu dengan Nathan. Sampai membuatmu lupa jika Nathan sudah punya keluarga." Sahut Brama memandang rendah Wulan.


" Karir yang kamu bangun selama ini. Harus hancur karena obsesimu pada lelaki yang sudah beristri. Mengenaskan!" Ejek Brama lagi.


Pak Somad hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya jika ada wanita yang begitu mengejar lelaki. Pak Somad membantu Brama memapah Nathan yang terluka.


" Kita ke klinik terdekat saja. Kalo buat jahit aja masih bisa." Ucap Pak Somad.


" Saya ikut bapak saja." Ucap Brama.


" Biar saya yang bawa motornya, Pak. Bapak tunjukkan jalan saja." Ujar Brama pada Pak Somad yang sudah bersiap untuk duduk di belakang stang motor.


" Baik atuh."


Anak buah Nabila membantu Nathan untuk naik ke motor. Pak Somad bonceng di belakang yang hanya kebagian sedikit ruangan untuk dia duduk. Pak Somad berpegangan erat pada baju Brama. Sejujurnya saja. Pak Somad takut jatuh dari motor karena Brama mengendarai motornya lumayan cepat. Padahal dia melewati jalanan yang belum terlapisi aspal atau beton.


45 menit berlalu. Mereka sampai pada sebuah klinik kecil. Nathan segera di larikan ke dalam kamar periksa. Sang dokter itu dengan telaten membersihkan luka Nathan dan memeriksa kedalaman lukanya. Beruntung tidak ada organ vital yang terluka. Dokter segera menjahit luka Nathan.


" Ini obat penambah darah ya. Sepertinya dia terlalu banyak mengeluarkan darah. Jika besok masih terlihat lemas. Segera larikan ke rumah sakit untuk melakukan transfusi darah. " Ujar Dokter itu setelah selesai memberi tindakan untuk Nathan.


" Saya boleh titip sebentar teman saya, Dok?" Tanya Brama merasa sungkan.


" Bapak mau kemana?"


" Saya mau mengambil mobil saya. Saya takut jika dia naik motor. Lukanya kembali terbuka." Brama beralasan.


" Oh begitu." Dokter itu tersenyum mengerti. " Silahkan."


" Ayo, Pak. Kita ambil mobil saya dulu." Ajak Brama pada Pak Somad yang masih saja duduk.


" hayu atuh."


*****


Brama memapah Nathan memasuki rumah Pak Somad. Tidak mungkin rasanya jika Brama membawa Nathan dalam keadaan seperti ini. Kondisi Senja sangat tidak memungkinkan.


" Istirahat di sini saja." Pak Somad menunjukkan kamar Andi yang sudah di rapikan Amel sebelum mereka kembali.


" Sakit banget ya?" Tanya Amel seraya wajahnya ikut meringis melihat luka Nathan.


" Amel. Saya titip Nathan ya sementara sampai dia sembuh. Anak buah saya juga akan berjaga dua orang." Ujar Brama.


Brama keluar di ikuti dengan anggota keluarga Pak Somad. Kecuali Andi. Dia menemani Nathan di dalam kamar. Brama duduk di kursi tua ruang tamu Pak Somad.


" Saya tau, pasti Bapak dan keluarga bingung dengan asal usul Nathan." Ucap Brama yang mengerti arti tatapan mereka.


" Nathan adalah pemilik sekaligus pimpinan dari NATH Group. Beberapa waktu lalu, Nathan mengalami insiden yang membuatnya amnesia. Itu sebabnya dia tidak mengingat apapun tentang dirinya atau keluarganya. Yang dia ketahui saat ini adalah informasi dari kami setelah dia siuman." Brama menarik nafas panjang dan meneguk teh hangat yang baru saja dihidangkan Amel.

__ADS_1


" Wanita yang menculik Nathan adalah teman masa sekolahnya. Nathan sama sekali tidak tau jika dia menaruh hati pada Nathan. Hingga entah kenapa dia begitu terobsesi untuk mendapatkan Nathan." Ujar Brama.


" Nathan di culik terus pas Nathan bisa kabur. Nah dia ketemu sama Bapak gitu ya." Sambung Pak Somad.


" Iya. Kami sudah mencarinya selama seminggu lebih namun tidak ada hasil. Hingga kabar dari Amel membuat saya senang." Ujar Brama.


" Apa istri Nathan bernama Senja?" Tanya Amel dengan perasaan yang berat.


" Iya. Kondisi mental Senja saat ini sangat rapuh. Karena memang belum lama ini. Nathan baru saja kehilangan ibunya. Dan Nathan tertimpa musibah. Senja yang belum bisa menerima sepenuhnya Nathan yang amnesia. Harus kembali dihadapkan dengan suaminya yang kembali menghilang." Ujar Brama merasa prihatin dengan keadaan Senja.


" Kasihan Senja." Ujar Bu Somad lirih. " Pasti berat untuk dia menjalani semua ini seorang diri." imbuhnya lagi.


" Ya. Itulah lika liku perjalanan hidup mereka. Nathan memang seorang lelaki yang sukses dan mapan. Sikapnya yang lembut. membuat orang mudah menyayanginya." Brama menambahkan.


Amel menarik nafas dalam. Benar yang dikatakan Brama. Nathan memang sangat mudah untuk dicintai dan disayangi.


" Kamu kenapa, Mel?" Tanya Brama yang melihat wajah Amel yang berubah sendu. Amel hanya menggelengkan kepalanya cepat.


" Jangan jatuh cinta sama Nathan. Usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun." Ucap Brama dengan nada canda.


Wajah Amel seketika memerah menahan malu karena Brama seakan bisa membaca pikirannya.


" Yang benar atuh? Kok mukanya kaya masih seumuran Amel ya, Pak?" Ucap Bu Somad.


" Iya."


Brama tersenyum. Memang Nathan ini. Wajahnya memang berwibawa tapi wajah remajanya masih tak berubah. Entah sudah berapa banyak orang yang tertipu dengan parasnya. " Sudah sangat malam. Saya pamit dulu ya." Ujar Brama.


" Menginap saja. Bapak takut jika nanti keadaan Nathan memburuk." Ucap Pak Somad.


" Jika itu terbaik untuk Nathan. Bapak mah silahkan saja." Ujar Pak Somad.


" Jika kami mau menjenguknya di kota. Apa boleh?" Tanya Amel.


" Iya. Ibu seneng sama Nathan. Dia orangnya baik dan sopan."


" Tentu. Nanti saya berikan kartu nama saya ya. Kalian hubungi saja kapan mau menjenguk Nathan."


" Yasudah. Semuanya sudah jelas. Sebaiknya kamu istirahat saja di kamar Andi. Andi biar tidur sama Amel." Ucap pak Somad mempersilahkan Brama.


" Baik, Pak. Terima kasih."


*****


Pagi- pagi sekali Amel dan Bu Somad sudah bangun untuk menyiapkan sarapan. Amel dan Bu Somad memasak cukup banyak karena hari ini yang makan juga banyak. Ada tambahan Brama dan dua orang yang berjaga di depan rumah.


" Baunya tercium sampai kamar, Bu." Ujar Brama yang baru saja bangun.


" Sudah bangun rupanya."


" Saya numpang mandi ya, Bu."


" Iya. Silahkan."

__ADS_1


" Coba lihat Nathan. Dia sudah bangun atau belum." Perintah Bu Somad pada Amel.


" Iya Bu "


" Amel. Jangan macem- macem!" Bu Somad mengingatkan.


" Iya." Sahut Amel kesal. Ibunya mencurigainya terus setelah peristiwa itu.


Entah kenapa jantung Amel masih saja berdebar jika memikirkan Nathan. Belum juga dia masuk ke kamar ini. Jantung Amel sudah melompat kesana kemari. Perlahan Amel membuka pintu kamar Andi dan terlihat Nathan masih tidur pulas. Amel langsung menutup kembali pintu kamar itu. Tak baik jika Amel terus berada di sana.


" Nathan masih tidur, Bu." Ujar Amel ketika dia kembali ke dapur.


" Yaudah. Biarkan dulu."


.


" Seger ya bu airnya." Puji Brama ketika keluar dari kamar mandi.


" Iya. Airnya masih dari mata air, Bram." Bu Somad menjelaskan.


Brama mengambil ember kecil dan mengisinya dengan air hangat.


" Buat apa atuh?" Tanya Bu Somad heran melihat Brama membawa ember kecil itu.


" Mau membersihkan tubuh Nathan."


" Ohh.. Iya silahkan." Ucap Bu Somad. " Amel. Bantu atuh." tambahnya lagi pada Amel.


" Jangan. Biar saya saja." Brama segera menuju kamar Andi. Menepuk- nepuk bahu Nathan untuk membangunkannya.


" Emmhh.." Nathan hanya melengkuh.


" Aku mau bersihkan badanmu." Ujar Brama dan membuka kaos Nathan meskipun Nathan belum sepenuhnya membuka mata. Mata Brama membesar kala melihat tanda merah yang di berikan pada Nathan di sekujur tubuhnya. Apalagi bagian dada. Tak terhitung jumlahnya.


" Hei. Habis apa saja kamu dengan Wulan?" Tanya Brama penasaran.


Nathan mengucek matanya. " Wulan memberikan obat perangsang pada minumanku, Bram."


" WHAT?!" Brama tercengang tak percaya. "Lalu?"


" Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan. Tapi bagaimana. Wulan selalu menyodorkan tubuhnya padaku. Dan....Yaa begitulah." Ucap Nathan yang tidak ingin mengingat cumbuan panasnya dengan Wulan.


" Gila!" Rutuk Brama. " Kalo Wulan hamil gimana?"


" Gak akan. Aku langsung tersadar ketika dia akan melakukan hal itu." Ucap nathan yakin.


" Syukurlah."


" Iya. Dan kamu tau. Sekarang aku mengingat semuanya." Ucap Nathan senang.


Brama mengembangkan senyum bahagianya dan memeluk Nathan erat. " Kau memang harus cepat sembuh." Ucap Brama sambil menepuk- nepuk punggung Nathan.


" Bram. Sakit."

__ADS_1


" Oohh maaf." Brama langsung melerai pelukannya. Dia lupa jika Nathan sedang terluka saat ini.


__ADS_2