Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
35


__ADS_3

" Aku akan segera melamarmu." Ujar Reza pada Senja saat mereka sedang mengajak Gio bermain di taman.


" Aku belum siap, Za."


" Kenapa Senja? Apa karena Nathan?" Tanya Reza sedikit kesal dengan penolakan Senja untuk yang kesekian kalinya.


" Hubunganku belum selesai dengan Nathan."


" Kamu sengaja melakukan itu, Senja. Kamu tidak mau melepaskannya."


" Aku tidak mau berdebat." Ujar Senja mengakhiri perdebatan mereka dan menghampiri Gio yang asik bermain ayunan.


" Apa istimewanya Nathan sampai banyak wanita yang menginginkannya." Gumam Reza kesal.


Reza menghampiri Senja dan Gio. Senja kembali menghindari Reza. Dia tidak ingin ada perdebatan diantara mereka yang akan menyebabkan pertengkaran. Bagi Senja. Reza sudah seperti saudaranya sendiri. Tak mungkin rasanya dia menjalin hubungan yang lebih.


" Senja." Reza terus mendekati Senja.


" Gio. Kita pulang nak." Ajak Senja mengacuhkan Reza.


Reza hanya berdecak kesal dan kembali mengikuti Senja dan Gio.


" Aku tidak mau mendebatmu. Sebaiknya kamu pulang." Ujar Senja pada Reza yang menarik tangannya.


" Aku sangat mencintaimu Senja. Kamu dan Gio juga butuh sosok lelaki untuk melindungi kalian." Bujuk Reza dengan wajah memelas.


" Jawabanku masih sama." Senja memalingkan wajahnya enggan menatap Reza.


" Sejak kamu diculik. Sampai saat ini. Dia tidak pernah menjengukmu. Apa lagi yang kamu harapkan dari dia."


Senja hanya diam dan tanpa sadar. Air matanya menitik. Sejujurnya. Dia sangat merindukan Nathan. Tetapi dia menghilang seakan ditelan bumi.


" Tiga hari lagi aku akan datang untuk melamarmu. Dan aku harap kamu tidak menolakku."Ujar Reza dan meninggalkan Senja yang masih tidak menatapnya.


Senja menarik nafas panjang. Rasa sesak di dadanya semakin terasa begitu mengingat Nathan. Entah apa yang sudah terjadi padanya selama ini sampai tak memberi kabar apapun.


*****

__ADS_1


Nabila terkejut mendengar laporan dari anak buahnya yang melihat Sintia pergi ke dokter kandungan. Walaupun belum pasti kabar yang dia dapat. Itu sudah menunjukkan satu bukti jika sedang hamil.


" Cari tahu yang pasti. Apa benar dia hamil." Perintah Nabila lagi melalui sambungan telepon.


" Apa ada kabar?" Tanya Nathan yang sejak tadi diam mendengarkan obrolan Nabila dan anak buahnya.


" Iya." Jawab Nabila dengan suara berat.


Nathan hanya menatapnya menunggu kabar yang membuatnya sedikit gugup.


" Anak buahku melihat Sintia pergi ke dokter kandungan. Tapi dia belum tahu pasti apakah dia benar- benar hamil atau tidak."


Nathan menarik nafas panjang. Pikirannya kembali kalut dengan masalahnya.


" Gue yakin kalo Sintia bohong." Randy menenangkan Nathan.


" Bagaimana kalau dia jujur." Nabila penasaran keputusan yang akan diambil Nathan jika Sintia benar- benar hamil.


" Aku akan menikahinya."


" Gue gak setuju!" Tolak Randy keras. Di ikuti dengan Nabila.


" Terus harus gimana? Suruh dia mengugurkan?" Nathan mengusap wajahnya kasar.


" Itu jalan satu- satunya." Sahut Randy cepat disertai anggukan Nabila yang sangat setuju dengan usul Randy.


" Gue gak akan mungkin bunuh darah daging gue sendiri." Nathan terlihat keberatan. Baginya akan sangat berdosa jika dia memaksa Sintia untuk aborsi.


" Kalau kamu menikah dengan Sintia. Artinya dia memenangkan permainan ini Nathan." Nabila tetap menolak keputusan Nathan.


" Mau bagaimana lagi."


" Arrgh!" Randy tampak sangat putus asa dengan keadaan Nathan yang sangat terjepit.


*****


Nabila menghampiri Nathan yang tengah duduk di rumput halaman rumahnya menikmati matahari sore dalam mata terpejam. Tampak sekali Nathan sangat menikmati suasana senja itu. Dalam diam Nabila menatap wajah Nathan yang teduh. Seperti menikmati wajahnya terkena sinar matahari sore. Nabila menarik nafas panjang untuk kembali menyadarkan dirinya bahwa tak mungkin dia mendapatkan hati pria ini.

__ADS_1


" Nabila." Sapa Nathan sedikit terkejut dengan kehadiran Nabila yang menurutnya tiba- tiba.


Nabila tersenyum dan duduk di samping Nathan. " Makanya jangan merem. Jadi gak tau siapa yang datang." Ejek Nabila.


" Udah lama gak menikmati waktu senja begini. Emm.. Besok aku mau menemui Senja."


" Aku antar." Sahut Nabila cepat.


" Tidak perlu. Biar aku sendiri saja."


" Tapi Nath."


" Aku harus menemui Senja sendiri." Nathan langsung memotong kalimat Nabila yang pasti akan memaksa untuk ikut.


" Baiklah."


*****


Ringgo menggelengkan kepalanya ketika melihat keadaan kamar putri semata wayangnya. Semua barang- barang kembali pecah. Perlahan Ringgo memasuki kamar Sintia dan terlihat Sintia duduk di depan meja rias dengan keadaan yang kacau. Rambutnya sangat berantakan.


" Sintia. Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ringgo heran melihat keadaan putrinya yang seperti kehilangan akal sehatnya.


" Aku harus bagaimana lagi agar Nathan mau kembali padaku, Papi?" Rengek Sintia seperti anak kecil.


" Relakan Nathan sayang. Masih banyak pria yang jauh lebih tampan diluar sana." Ringgo mengelus lembut kepala Sintia.


" Aku mau Nathan!" Sintia tiba- tiba berteriak marah dan kembali melempar barang- barang yang ada di atas meja riasnya.


Ringgo yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan keluar kamar Sintia. Ringgo terdiam sejenak dengan mata menatap tajam. Kemarahan sangat terlihat.


" Bawa Nathan kembali. Bagaimanapun caranya!" Perintahnya pada anak buahnya.


" Tapi tuan. Kita akan berhadapan dengan Pak Danny." Anak buahnya terlihat sedikit ngeri membayangkan betapa beringasnya anak buah Danny.


" Aku tidak peduli. Kesehatan mental putriku ada pada pria itu. Bawa dia ke hadapanku secepatnya!" Titahnya lagi kali ini dengan intonasi yang tinggi.


" Baik tuan." Anak buahnya segera membungkuk dan menuruti perintah tuannya.

__ADS_1


Ringgo memegang pelipisnya. Matanya mendelik marah. " Aku akan menghabisimu Nathan!" Geramnya.


__ADS_2