
" Aku tidak tau harus senang atau sedih mengajakmu liburan di sini." Reza duduk di sampingku yang sedang menikmati pemandangan pantai di halaman belakang. Aku hanya diam tak menanggapi.
" Aku tau kamu masih mencintai pria itu. Padahal setelah sekian bulan dan baru satu bulan berlalu aku merasa kamu lebih perhatian padaku. Mulai menyambut cintaku. Tapi sekarang aku melihat masih ada cinta yang besar untuknya." Tutur Reza dengan wajah sendunya. " Apakah aku harus menyerah, Senja?" Tanyanya dengan intonasi yang lebih di tekankan kepadaku.
Aku hanya memalingkan wajahku dan terdiam. Entah harus bilang apa pada Reza yang sudah sangat baik padaku. Pikiranku sekarang sangat kalut.
" Pak Reza." Panggil Silvi memecahkan keheningan antara kami. " Anda diminta menemui Pak Nathan di ruang tengah." Ujarnya lagi dan berlalu meninggalkan kami.
" Aku permisi dulu." Pamit Reza. Dia adalah pria yang sopan dan baik.
*****
" Gio punya sesuatu buat nenek." Ujar Gio saat kami mengunjungi Bu Fitri di kamarnya. Bu Fitri menanggapi dengan tatapan matanya yang tertuju pada Gio. Gio mengeluarkan buku bergambarnya dia menulis ' Cepat sembuh ya, Nek. Gio sayang nenek.'
Bu Fitri menitikkan air mata bahagianya membaca tulisan Gio yang dia hias sedemikian rupa.
" Nenek harus sembuh. Biar bisa main lagi sama Gio." Ungkap Gio lagi dan mencium punggung tangan Bu Fitri.
" Suster. Tolong siapkan ibu. Aku mau mengajaknya keluar." Nathan memasuki kamar Bu Fitri dengan sibuk melihat ponselnya hingga tidak menyadari kehadiranku.
" Baik, Pak." Sahut sang suster itu.
" Papa." Panggil Gio dan menghampiri Nathan.
Nathan baru menoleh ke arah kami dan baru menyadari kehadiran kami. " Sejak kapan kalian di sini?" Tanyanya dengan wajah bingung.
" Sejak tadi." Jawabku.
Nathan menghampiri ibunya. " Bagaimana keadaan ibu hari ini?"
Hanya keluar suara ,aaa eeee aaa eee.. Bu Fitri mencoba untuk menjawab. Wajahnya tampak bahagia dari pada kemarin. Matanya sesekali melirik aku dan Gio.
Nathan hanya tersenyum menanggapi sikap Bu Fitri dan mengecup lembut keningnya. " Ibu harus terapi biar bisa main sama Gio." Ujarnya seolah mengerti apa yang di bicarakan Bu Fitri.
__ADS_1
Terlihat Bu Fitri seperti ingin mengangguk. Dia menangis bahagia melihat Gio.
" Kita tunggu di luar." Ujarnya mengajak keluar karena suster akan membersihkan tubuh Bu Fitri.
Aku dan Gio mengekornya.
" Maaf jika aku akan merepotkanmu." Ujarnya setelah sebelumnya menarik nafas panjang. Aku hanya mengerutkan dahi, tak mengerti maksud ucapannya.
" Aku ingin memintamu untuk menemani Ibu terapi. Baru saat ini aku melihat ada semangat lagi di mata ibuku." Tutur Nathan dengan mata sendunya.
" Akan aku usahakan."
" Pagi, Pak." Sapa Reza pada Nathan. Nathan hanya menganggukkan kepala.
" Reza, Aku bukan ingin menghancurkan hubungan kalian. Tetapi aku ingin meminta tolong Senja untuk menemani ibuku terapi saat tiba di kota nanti. Apa kamu keberatan?" Tanya Nathan pada Reza.
Aku tidak mengerti kenapa Nathan meminta izin Reza untuk hal ini. Apa dia berpikir aku itu kekasih atau istrinya Reza. Reza menatapku sekilas.
" Gak masalah, Pak. Lagi pula Gio akan senang bisa bertemu papanya." Ujarnya lagi. " Oh iya, bagaimana dengan proyek kita?"
" Saya belum bertemu Silvi. Syukurlah jika Bapak setuju. Mulai hari ini kita resmi jadi rekan bisnis." Ucap Reza bahagia dan menjabat tangan Nathan.
*****
Tiga hari kemudian...
Aku memandang toko bajuku yang beberapa hari aku tinggalkan untuk berlibur dan akhirnya aku bisa pulang. Entah kenapa,. Tuhan selalu mengembalikan aku pada masa lalu.
" Senja, Terima kasih ya sudah menemaniku." Reza ingin mengecup pipiku namun aku menjauhkan wajahku. Aku masih belum siap menerima siapapun di hidupku.
" Aku akan mengantarmu jika kamu mau ke rumah Nathan."
" Pulanglah, Za. Kamu juga perlu istirahat." Ucapku mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Aku tidak ingin membicarakan tentang Nathan saat kami berjauhan. Itu akan membuatku tersiksa. Entah bagaimana keadaan mereka dulu ketika aku memutuskan untuk pergi. Kenapa bisa seperti ini. Aku sedih dan hancur melihat Bu Fitri hanya berbaring tidak berdaya. Ingin sekali aku merawatnya tetapi di sisi lain aku ingin melupakan Nathan sepenuhnya dan membuka hati untuk Reza. Dia pria yang baik hati. Aku tidak ingin menyakitinya ataupun mengecewakannya.
*****
Toko sedikit sepi hari ini. Tidak seramai biasanya. Mungkin karena faktor tanggal tua. Jadi banyak orang yang berhemat. Toko pakaianku memang bisa di bilang lumayan besar. Ada dua lantai yang aku jadikan tempat usaha. Aku di bantu tujuh orang karyawan yang mengurus semuanya. Aku bersyukur mendapat karyawan yang jujur.
Aku menaiki taksi untuk menjemput Gio di sekolah. Karena sekolah Gio memang lumayan jauh dari rumah ataupun toko. Sesampainya di sana. Aku melihat ada beberapa ibu- ibu yang sedang berkumpul. Bertukar cerita sembari menunggu anak- anak pulang sekolah. Aku menghampiri mereka. Namun, belum juga aku ada di dekat mereka. Aku mendengar namaku di sebut- sebut. Diam- diam aku jadi mencuri dengar.
" Mam. Taukan mamanya Gio?" Seorang ibu- ibu yang memakai baju merah memulai pembicaraan ibu- ibu yang lain mengangguk.
" Saya denger dia itu janda bukan gadis juga bukan, lho." Sambungnya lagi. Mendengar aku dijadikan bahan gunjingan mereka. Membuat hati ini terkoyak.
" Masa sih, Mam?" Tanya ibu yang berbaju ungu.
" Bukannya yang sering jemput Gio itu papanya ya?" Sahut yang lain.
" Eh, Bukan. Itu mah baru gebetan mamanya aja. Punya anak tapi ga jelas papanya siapa." Ibu berbaju merah memanasi.
" Ih, Gak nyangka deh. Keliatannya perempuan baik- baik ya." Timpal yang lain ikut mencibir.
' Tuhan, kuatkan hatiku.' Ratapku.
" Kita jaga suami kita masing- masing. Jangan sampe kecantol ama perempuan begitu." Ibu berbaju merah semakin mengompori disambut dengan anggukan setuju ibu- ibu yang lain.
" Emangnya mams tau dari mana kalo mama Gio begitu?" Tanya ibu berambut pendek.
" Ya taulah. Saudara saya dulunya tetanggaan sama mama Gio." Jawabnya lagi.
' Oh Tuhan, kenapa ada saja cobaan ini. Apa saudaranya juga tidak menjelaskan kenapa aku bisa hamil. Padahal saat itu, kasusku sangat ramai di lingkungan komplek kami.
Sakit sekali rasanya orang- orang menganggap ku wanita murahan. Apakah aku salah mempunyai anak di luar nikah? Jika bisa memilih. Aku pun tidak menginginkan hal itu.
Tak tahan lagi rasanya. Akhirnya aku keluar dari persembunyianku. Baru saja aku akan melangkah. Tiba- tiba seseorang mendahuluiku. Sengaja dia berhenti di depan ibu- ibu yang menggunjingku tadi.
__ADS_1
Bukan aku saja yang terpaku. Seketika para ibu- ibu itu juga terdiam. Terpesona oleh wajah tampannya. Di tambah lagi dia yang masih memakai setelan jas, semakin membuatnya berwibawa.