Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
141


__ADS_3

Nathan menatap pantulan dirinya pada cermin yang berada di kamar mandi. Dirinya sudah rapih menggunakan setelan kemeja dan jas yang diberikan Senja. Nathan keluar dari kamar mandi dengan satu tarikan nafas panjang. Entah apa yang harus dia katakan pada relasinya. Sedangkan keadaannya yang sebenarnya saja tidak mengingat apapun.


Senja tersenyum melihat suaminya telah rapih dan masih terlihat gagah dengan setelan jas itu. Senja menghampiri Nathan dan merapikan kerah kemeja Nathan yang sedikit tertekuk pada ujungnya.


" Kamu terlihat tampan." Puji Senja.


" Terima kasih." Sahut Nathan datar. "Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, Senja." Nathan sedikit merasa gugup. Karena ini adalah pertemuan yang penting dengan para relasinya.


" Brama akan mengarahkanmu. Percayalah. Mereka akan tetap mendukungmu."


" Sampai saat ini aku tidak mengingat apapun." Sesal Nathan.


" Baru kemarin kamu siuman. Bersabarlah. Dan ingat. Kamu hanya diperbolehkan keluar dari rumah sakit sampai siang. Kamu masih perlu perawatan intensif." Senja mengingatkan.


" Ya."


' Cklek.'


Brama terlihat baru saja memasuki ruangan Nathan untuk menjemputnya. Brama masih tidak mengizinkan Nathan untuk berangkat seorang diri.


***


Kantor Polisi


" Jadi dia masih hidup?!" Pukas Wulan kesal sambil menggebrak meja yang ada di hadapannya ketika mendengar bahwa Nathan masih hidup.


" Ya. Sebaiknya kamu meminta maaf, Wulan." Nasihat Zizi tak tega melihat sepupunya memakai baju tahanan.


" Hubungi Darko. Suruh dia menemui ku di sini." Perintah Wulan dengan tatap mata tajam.


" Untuk apa lagi? Nathan sudah beristri, Lan."


" Halllah.. Tau apa kamu tentang cinta." Cemooh Wulan pada Zizi. " Aku sudah menantinya sepuluh tahun lebih. Dan ini tak pantas aku dapatkan!" Wulan masih tidak terima.


Zizi hanya menarik nafas panjang. Susah memang untuk menasihati Wulan jika keinginannya sudah membara seperti ini.


" Dia tidak bisa aku dapatkan. Maka tidak ada seorang pun yang berhak!" Ucap Wulan penuh penekanan.


Zizi hanya menelan kasar salivanya. Dia tahu betul bagaimana sifat sepupunya itu. Semua yang dia inginkan. Harus dia dapatkan. Tidak ada yang bisa menghalanginya.


" Waktu besuk aku habis. Aku pulang dulu." Ujar Zizi pamit pada Wulan.


" Ya. Ingat. Suruh Darko untuk segera menemuiku!" Titah Wulan lagi.

__ADS_1


" Iya." Zizi hanya mampu mengikuti keinginan sepupunya itu. Walaupun sebenarnya dia tidak ingin.


****


Brama tersenyum lega ketika berada di ruangan Nathan. Pertemuan itu membuahkan hasil yang sangat bagus. Brama sedikit tercengang ketika melihat Nathan dengan fasih menjelaskan semua detail proyek yang sedang perusahaannya kerjakan. Aneh memang. Karena Nathan mampu mengingat semuanya. Sementara untuk mengingat orang- orang disekitarnya dia tidak bisa.


" Bagaimana bisa,Nath? Aku masih tidak percaya jika kamu amnesia." Ujar Brama entah bangga atau bingung dengan kondisi Nathan.


Nathan hanya tersenyum tipis.


" Hai, Nath." Sapa Rani yang baru saja memasuki ruangannya untuk menyapa teman lama sekaligus bosnya.


" Ya." Jawab Nathan singkat.


" Bagaimana keadaanmu?"


" Baik."


" Syukurlah." Rani tersenyum lega. " Apa kamu mengingatku?"


Nathan menautkan kedua alis tebalnya. Berpikir sejenak. Namun akhirnya dia menggeleng. Karena Nathan memang tidak mengingat Rani.


" Aku Rani. Teman sekaligus karyawanmu."


" Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit, Nath." Brama mengingatkan.


" Sebentar. Ada yang harus aku kerjakan." Ujar Nathan dengan mata fokus menatap layar laptop.


merasa diacuhkan Nathan. Rani akhirnya keluar dari ruangan Nathan. Niat hati ingin mengajak Nathan ngobrol. Tetapi dia merasa canggung sendiri karena Nathan malah menyibukkan dirinya didepan laptopnya.


Satu jam sudah Nathan mengerjakan sebuah proposal untuk sebuah proyek yang tertunda. Nathan memijat pelipisnya. Merasakan pening mulai menyerangnya.


" Kamu belum pulih, Nath." Brama terlihat khawatir karena Nathan terlihat masih bertahan mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali meringis dan memijat pelipisnya.


" Sebentar lagi." Bantah Nathan.


" Sudah, Nath." Brama mulai menegaskan kalimatnya.


" Sebentar." Ujar Nathan lagi. Padahal sakit kepalanya mulai terasa lebih sakit dari yang tadi.


" Nathan." Ucap Brama tegas.


" Selesai." Ujar Nathan dan langsung menekan tombol save dan langsung mematikan kembali laptopnya.

__ADS_1


Nathan bangun dari duduknya. Namun tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Sakit kepalanya mulai terasa hebat.


Brama langsung menghampiri Nathan dengan sigap menahan tubuh Nathan agar tidak terjatuh. Brama membimbing Nathan untuk duduk sejenak sampai pusingnya mereda.


" Apa sudah baikan?" Tanya Brama.


Nathan hanya menggeleng pelan. Kepalanya serasa ingin pecah. Beberapa kali Nathan memejamkan matanya menahan rasa sakit.


" Kita harus segera ke rumah sakit." Ujar Brama dan langsung keluar untuk memanggil security untuk membantunya memapah Nathan.


Brama dan Security itu berdampingan memapah tubuh Nathan menuju parkiran mobil. Nathan hanya pasrah karena sakit kepalanya membuat Nathan tidak berdaya.


Beberapa karyawan yang melihat hal itu hanya bisa terpaku dan kemudian berbisik untuk memberikan komentar pada apa yang mereka lihat barusan.


" Ergghh!" Nathan mengerang kesakitan saat di dalam mobil.


Brama tampak kebingungan melihat kondisi Nathan yang merintih sambil memegang kepalanya.


" Silvi. Kamu ikut saja. Jaga Nathan!" Perintah Brama pada Silvi yang terpaku melihat bosnya kesakitan.


" Tapi, Pak.."


" Ayo cepat. tidak ada waktu lagi!" Titah Brama dan membawa Nathan duduk di kursi belakang. Kemudian dia mengitari mobil dan masuk di belakang kemudi. Silvi akhirnya menurut saja duduk di sebelah Nathan.


Silvi memandang Nathan prihatin.


Dengan kecepatan tinggi. Brama melajukan kendaraannya menembus lalu lintas Ibu kota yang selalu padat. Beberapa kali Brama mengklakson mobil di depannya agar memberi jalan. Sesekali Brama menengok pada spion di dalam mobil melihat Nathan mulai tampak tenang dalam pangkuan Silvi. Entah dia pingsan atau tertidur. Silvi sendiri hanya terlihat membelai lembut pucuk kepala Nathan. Sebenarnya Silvi merasa canggung ketika Nathan tiba- tiba saja menjatuhkan dirinya pada pangkuan Silvi. Tetapi saat Silvi menggoyangkan tubuh Nathan. Tak ada respon dari Nathan.


" Pak Nathan sepertinya pingsan, Pak." Ucap Silvi lirih melihat tubuh yang terkulai tak berdaya di pangkuannya.


" Seharusnya aku bisa mengatasi semuanya!" Rutuk Brama kesal pada dirinya sendiri.


' CCkkiiiittt'


Mobil Brama berhenti tepat di depan ruang UGD. Brama bergegas memanggil perawat dan meminta mereka untuk membawa brankar. Dengan sigap perawat dan security membantu memindahkan tubuh Nathan ke atas brankar dan segera membawanya ke ruang UGD untuk ditangani.


Brama langsung menjelaskan keadaan Nathan. Dengan segera pihak rumah sakit memanggil Dokter Samuel untuk menangani Nathan.


" Dok. Tolong Nathan." Pinta Brama dengan wajah panik menyambut kehadiran Dokter Samuel.


" Bapak silahkan tunggu diluar." Ujar Dokter Samuel.


Brama keluar ruangan dan hatinya berdebar. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Berkali- kali Brama mengintip keadaan Nathan yang belum selesai di periksa. Brama terlihat benar- benar sangat panik hingga tak menghiraukan Silvi yang sejak tadi memandangnya penuh tanya. seluruh karyawan di kantor memang tidak ada yang tahu keadaan Nathan yang mengalami amnesia.

__ADS_1


__ADS_2