
Nathan melahap nasi goreng yang telah dihidangkan Senja. Lengkap dengan telur ceplok dan acar juga kerupuknya. Nathan terlihat makan dengan cukup cepat sehingga dia tidak menyadari jika ibu serta istrinya memperhatikan cara makannya yang tidak biasa.
" Pelan- pelan, Sayang." Senja mengingatkan Nathan dengan lembut dan membelai lembut tangan kiri Nathan.
" Maaf, Sayang." Ujar Nathan setelah menelan suapan nasi gorengnya. " Hari ini aku harus ke lokasi proyek. Mungkin nanti aku akan pulang malam. Kamu tidur duluan saja. Aku takut kamu sakit kalo nunggu aku." Ucap Nathan.
" Proyek yang dimana Nath? Kok sampai mau pulang larut." Tanya Bu Fitri karena Nathan sudah tidak terbiasa lagi pulang terlambat.
" Di Bogor, Bu. Ada sedikit masalah. Aku takutnya akan pulang malam karena selesaikan masalah itu dulu. Tapi aku tetap usahakan pulang secepat mungkin." Jawab Nathan dan sekaligus memberikan penjelasan agar tidak ada pertanyaan lagi.
" Kamu pergi sama Silvi?" Tanya Senja saat mereka sedang menuju pintu depan.
" Engga, Sayang. Dia handle kantor pusat. Karena sebenarnya aku ada temu klien hari ini. Tapi masalah yang di Bogor sedikit mendesak." Nathan mengecup kening istrinya.
" Hati- hati. Selalu ada yang menunggumu di rumah." Ujar Senja melepas suaminya berangkat kerja dengan senyum manisnya.
Perjalanan yang tidak terlalu macet jika pagi hari menuju kota hujan itu. Karena banyak dari warga di kota itu menuju ibukota untuk bekerja. Berkali- kali Nathan mempelajari laporan yang dua minggu lalu disetorkan oleh mandor proyek tersebut dan dirinya memang tidak salah membaca laporan. Nathan sangat merasa ada yang janggal jika memang apa yang dibicarakan Randy benar adanya.
Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu kurang lebih dua jam. Sengaja dia tidak menghubungi mandor proyek tersebut untuk pengecekan kali ini. Nathan menarik nafas panjang menahan amarah ketika melihat proyek yang seharusnya sudah mulai berdiri minimal satu lantai di atas tanah.
" Pagi, Pak." Sapa seorang pria bertubuh tegap menghampiri Nathan dengan tergopoh- gopoh dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah.
" Kenapa berbeda dengan hasilnya?" Tanya Nathan dengan mata menatap pria itu tajam sambil memberikan laporan yang pernah diberikan pria itu padanya.
" Maaf, Pak." Ucapnya sambil tertunduk. Wajahnya sudah sangat takut.
" Ada masalah apa sebenarnya?" Nathan menuju kantor kepala mandor tersebut.
" Kita kekurangan pekerja, Pak." Jawabnya masih dengan wajah yang tertunduk.
" Sejak kapan?"
" Sejak..."
" Di laporan yang anda berikan kepada saya pekerja kita berjumlah 35 Orang. Itupun masih banyak yang lembur." Bentak Nathan kali ini dengan emosi yang mulai meledak. Dadanya naik turun berusaha mengatur emosinya.
" Maaf, Pak." Mandor itu semakin menunduk takut.
__ADS_1
" Saya paling tidak suka ada yang mempermainkan kepercayaan saya." Nathan menggertakkan giginya. " Anda tunggu di sini." Perintahnya keras.
Nathan keluar dari kantor itu dan memperhatikan para pekerja bangunan itu sedang mengerjakan masing- masing bagiannya. Tidak ada satupun dari mereka yang bermalas- malasan. Nathan menghampiri seorang pekerja yang terlihat paling gesit kerjanya.
" Maaf saya mengganggu." Ucap Nathan sambil menepuk pelan bahu pria itu yang ingin mengambil karung sak semen.
Pria itu menoleh ke arah Nathan dan langsung mengangguk hormat karena ternyata yang menepuk bahunya adalah bos besarnya. " Ada apa, Pak?" Tanyanya dengan wajah tertunduk. Tak berani menatap wajah Nathan.
Nathan tersenyum melihat sikap pria itu. " Siapa nama kamu?"
" Firman, Pak." Jawabnya masih dengan wajah tertunduk.
" Kumpulkan teman- temanmu. Sementara hentikan semua kegiatan. Saya ingin bicara." Perintah Nathan dengan nada bicara yang sopan. Dia sangat menghargai para pekerjanya apalagi mereka yang bekerja di lapangan.
Nathan menatap barisan pekerja bangunan itu seolah sedang menghitung jumlah mereka. Nathan menarik nafas dan tersenyum agar suasana sedikit lebih santai karena sejak tadi dia perhatikan wajah mereka tegang semua seperti orang yang sedang melakukan ujian akhir.
" Sebenarnya berapa total pekerja di sini?" Tanya Nathan pada salah satu buruh yang berdiri di depannya.
" Tiga puluh, Pak. Tetapi kita di bagi menjadi dua shift. Dan setiap harinya ada beberapa pekerja yang libur." Jawab pria itu dengan suara lantang.
" Untuk kami para asisten tukang upah yang kami dapatkan seratus tiga puluh ribu." Jawab seorang pekerja yang berbadan sedikit lebih kecil dari Firman.
" Untuk tenaga ahli?"
" Kami di bayar pak Dedi sebesar seratus tujuh puluh." Jawab salah seorang pria berbadan kekar tapi badannya tidak terlalu besar.
Nathan mengangguk dan mulai mengerti. Dia menatap lagi para pekerja itu. " Apa upah kalian cukup?"
Hening...
" Jawab saja. Apa upah kalian cukup?" Tanya Nathan sekali lagi mendesak mereka untuk menjawab.
" Sejujurnya saja upah kami dibawah pasaran, Pak. Tapi kami butuh pekerjaan ini untuk keluarga kami." Jawab Firman sambil menatap Nathan.
Nathan tersenyum mendengar jawaban itu.
" Mulai hari ini, upah kalian saya naikkan tiga puluh ribu." Ucap Nathan dan disambut dengan sorak gembira para pekerja. " Firman. Besok saya tunggu kamu di pusat. Mulai besok, dia adalah mandor baru kalian." Ucap Nathan.
__ADS_1
Pria yang bernama Firman itu terkejut karena tidak percaya apa yang dia dengar barusan. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang mandor jika dirinya masih sangat minim pengalaman.
Firman berjalan cepat menghampiri Nathan. Dengan wajah tertunduk dia menghadang jalan bos besarnya itu.
" Ada apa, Firman?"
" Jangan saya, Pak. Saya belum punya pengalaman." Ujarnya merasa takut tidak bisa melaksanakan tanggung jawabnya.
" Saya yakin kamu mampu. Kamu tidak sendiri. Nanti ada yang akan membimbing kamu. Setelah kamu terbiasa baru kamu akan dilepas."
" Tapi, Pak .."
" Jangan kecewakan saya. Dan saya usahakan besok akan saya kirim lagi sepuluh anak buah lagi." Ucap Nathan dan masuk ke dalam kantor kepala mandor menemui Dedi.
Dedi masih menunduk ketika melihat Nathan masuk. Padahal sejak tadi dia memperhatikan saat Nathan berbicara pada para pekerjanya. Tatapan marah selalu dia tujukan pada Nathan.
" Saya tidak akan memperpanjang masalah ini. Mungkin selama ini anda sedang ada kebutuhan yang sangat mendesak." Ujar Nathan sambil menatap Dedi tajam.
" Terima kasih, Pak. Saya berjanji akan berubah."
" Berubah bagaimana?" Tanya Nathan sambil memperhatikan mimik wajah yang ditunjukkan oleh Dedi.
" Saya akan selalu memberikan laporan yang sebenar- benarnya."
" Tidak perlu." Sahut Nathan. " Maaf. Mulai hari ini anda saya berhentikan. Saya tidak akan meminta uang yang anda ambil. Dan saya juga tidak akan memberikan pesangon." Ucap Nathan dengan nada dingin.
" Tapi, Pak. Saya sudah bertahun- tahun bekerja dengan, Bapak." Protes Dedi kali ini dengan suara lantang.
Nathan tersenyum melihat sikap Dedi yang terbakar emosi. " Baiklah saya berikan tapi kembalikan semua uang yang anda ambil dari perusahaan saya." Nathan menatap tajam Dedi membuat pria itu diam seribu bahasa.
" Anda memberikan upah mereka selisih tiga puluh ribu untuk satu orang perharinya. Berapa juta hanya untuk satu orang dalam dua bulan?! Berapa juta juga uang yang sudah saya berikan untuk pembelian bahan bangunan yang saya lihat sekarang sangat jauh dari target!" Dedi kembali diam dan semakin menunduk.
" Pak Dedi." Nathan semakin menatap pria itu tajam. " Jika saya mau. Pesangon anda tidak akan cukup menutupi semua yang sudah anda ambil!" Nathan menarik nafas panjang mengatur emosinya.
" Baik, Pak. Saya akan keluar dari sini. Maafkan saya sudah mengecewakan Bapak." Ujarnya lagi dan dengan terburu- buru keluar dari kantor itu dengan membawa tas.
" Tunggu!" Nathan kembali menghentikan langkah Pak Dedi.
__ADS_1