Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
96


__ADS_3

Senja mengelus punggung Virni yang menangis tersedu- sedu menceritakan permasalahannya dalam rumah tangganya. Virni adalah teman masa kecil Senja. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan kontak Senja. Senja yang awalnya berpikir jika temannya ini hanya ingin datang berkunjung tak menyangka jika dia membawa sebuah koper besar. Tubuhnya penuh lebam. Virni yang memang hanya sebatang kara saat ini tak mempunyai lagi tempat untuk mengadu.


Senja memberikan tisu pada Virni yang menangis sesenggukan. " Kita ke rumah sakit ya. Kita obati lukamu." Bujuk Senja pada Virni yang sejak tadi selalu menolak untuk diperiksakan ke rumah sakit.


" Aku tidak mau masalah ini semakin panjang Senja. Jika dokter itu melaporkan suamiku." Virni kembali memberikan alasan yang sama.


" Baiklah jika kamu tidak mau. Sebentar lagi suamiku pulang. Aku akan meminta izin padanya jika kamu tidur malam ini disini." Ujar Senja. Virni mengangguk setuju.


" Ada masalah apa dengan temanmu Senja?" Tanya Bu Fitri sedikit berbisik pada Senja yang sedang menata makanan di atas meja makan.


" Dia dipukuli suaminya, Bu. Kasihan dia hanya sebatang kara sekarang." Ujar Senja dengan wajah sendu membayangkan nasib buruk yang menimpa Virni.


" Kasihan dia. Tapi sebaiknya jangan terlalu lama dia disini. Tidak pantas rasanya. Takut menjadi fitnah."


" Iya, Bu."


" Tidak biasanya Nathan belum pulang."


" Sepertinya dia lembur, Bu. Ada sedikit masalah di kantor." Jawab Senja lembut.


" Baru beberapa hari masuk kantor. Sudah lembur. Ingatkan dia untuk makan Senja. Jika sibuk. Nathan selalu lupa makan." Bu Fitri menasihati.


" Iya Bu."


*****


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Senja kembali keluar kamarnya melihat sosok Nathan. Namun Nathan belum kembali juga. Entah dia akan pulang dengan apa. Karena hari ini mobil yang selalu dipakainya telah laku terjual. Senja kembali menarik nafas panjang membayangkan kesulitan suaminya. Seharusnya dia sebagai istri mampu menggantikan posisi Nathan ketika dia tidak bisa ke kantor. Tetapi keadaan semakin runyam karena Senja yang tak mengerti apa- apa dimintai tanda tangan oleh Hendra. Orang kepercayaan Nathan dan menjadi wakilnya di kantor malah mengkhianati suaminya. Kerugian yang dialami Nathan saat ini. Sebagian terjadi karena kecerobohannya.


Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Barulah terdengar suara mobil dari depan gerbang dan terlihat Nathan keluar dari mobil itu. Ternyata Nathan memakai mobil inventaris kantornya.


" Assalammu'alaikum." Sapa Nathan dengan wajah lelahnya. Dan sedikit terkejut karena istrinya menyambut kedatangannya dan segera mencium punggung tangan Nathan.


" Kamu sudah makan?" Tanya Senja mengiringi langkah Nathan memasuki kamarnya.


" Sudah. Kenapa kamu belum tidur?" Tanya Nathan sambil membuka kancing kemejanya.


" Aku menunggumu."


Nathan hanya tersenyum menatap istrinya yang mulai bergelayut manja pada bahunya.


" Aku masih bau sayang." Ujar Nathan.

__ADS_1


Senja menghirup dalam- dalam aroma tubuh suaminya. " Masih wangi." Ucap Senja manja dan kembali bergelayut pada bahu Nathan.


" Kenapa sangat manja hari ini. Ada apa sayang?" Nathan menarik gemas hidung Senja.


" Aku ingin saja. Apa tidak boleh?"


" Boleh. Aku mandi dulu." Ujar Nathan dan meninggalkan Senja dengan wajah manyun karena dirinya masih ingin bergelayut manja pada suaminya.


Nathan yang sudah merasa segar. Duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya. Di sampingnya Senja yang bersandar manja pada tubuh Nathan.


" Sayang."


" Hmm."


" Malam ini ada temanku yang menginap. Apa kamu keberatan?" Tanya Senja lembut.


Nathan menatap istrinya. " Siapa?"


" Namanya Virni." Jawab Senja. " Dia teman kecilku. Beberapa hari yang lalu kami sempat berkirim pesan tapi aku tidak menyangka kalau selama ini dia mendapat perlakuan yang tidak baik dari suaminya." Senja bercerita dengan wajah sendu. " Kasihan dia, Nath. Sejak kecil dia yatim piatu. Dan hanya tinggal dengan neneknya saja. Tetapi sudah enam tahun neneknya meninggal dunia. Virni tidak punya tempat berlindung." Ujar Senja lirih.


" ssttt.." Nathan menyeka air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Hatinya kembali tersentuh. " Apapun yang mau kamu lakukan untuk membantu temanmu. Aku akan mendukungmu." Ujar Nathan dan memeluk mesra istrinya. Nathan hanya tidak ingin istrinya memikirkan masalah temannya berlarut- larut.


" Makan dulu sayang." Ujar Senja pada Nathan yang terburu- buru menyeruput sedikit kopinya.


" Sudah tidak sempat sayang. Aku harus keluar kota hari ini. Mungkin akan pulang larut. Kamu tidur duluan saja." Ujar Nathan dan mengecup mesra kening Senja juga mencium punggung tangan ibunya dan tak lupa mencium pucuk kepala Gio.


" Sayang. Ini teman yang aku ceritakan semalam." Ujar Senja pada Nathan yang sudah berjalan cepat menuju pintu.


Nathan segera berbalik badan dan melihat sekilas wanita berambut sebahu itu. Wanita yang sejak tadi tak nampak sama sekali di pandangannya karena terburu- buru. Nathan hanya melemparkan senyum tipisnya dan kembali berlalu.


" Ya begitulah Nathan kalau lagi buru- buru." Ujar Bu Fitri pada Virni.


Virni hanya tersenyum.


" Nasi goreng buatanmu. Sangat enak, Vir. Kenapa tidak dijadikan bisnis saja." Senja mengusulkan.


" Aku masih belum pede Senja." Ujar Virni.


Pikirannya masih tertuju pada sosok Nathan yang tinggi dan tegap. Tampan dan juga berwibawa. Sikapnya yang lembut pada Senja membuatnya iri.


" Apa kita bawakan saja nasi goreng ini untuk suamimu?" Tanya Virni.

__ADS_1


" Tidak perlu. Dia tidak ada di kantor hari ini. Kamu dengar sendirikan tadi. Dia akan keluar kota." Ucap Senja.


Virni hanya tersenyum canggung.


"Suamimu sangat tampan Senja. Kamu beruntung memilikinya." Ujar Virni ketika membantu Senja merapikan meja makan.


" Jangan sampai jatuh cinta ya.." Gurau Senja.


Virni tersenyum kikuk. " Kamu temanku. Tidak akan aku merebut milikmu." Ujar Virni.


" Bagaimana lukamu? Apa sudah lebih baik?"


" Sudah." Virni memperlihatkan luka lebam pada lengannya.


" Syukurlah. Jika sudah sembuh. Aku akan mengantarmu pulang." Ujar Senja.


" Aku tidak mau kembali ke rumah itu, Senja." Tolak Virni.


Senja terdiam mendengar ucapan Virni.


" Aku takut Senja. Aku takut." Ucap Virni dengan suara bergetar.


Senja menghampiri Virni yang mendadak terlihat kacau dan menangis sesenggukan. Senja mengelus lembut punggung Virni. Pikirannya langsung mencari jalan keluar untuk permasalahan Virni dengan suaminya.


" Tenanglah Virni." Senja memberikan segelas air minum untuk Virni.


Setelah Virni tenang. Senja mencoba menghubungi Nathan. Meminta solusi yang terbaik untuk masalah Virni.


" Nathan."


" Ada apa Senja?"


" Apa kamu sudah sampai?" Tanya Senja perlahan takut mengganggu kegiatan Nathan.


" Sebentar lagi. Ada apa?"


" Virni tidak mau aku antar pulang. Dia takut dipukuli lagi oleh suaminya."


Nathan menghela nafas panjang mengerti kemana arah Senja akan berkata. " Jika kamu mau dia tinggal di rumah kita. Aku izinkan." Ucap Nathan sambil menghela nafas berat.


" Terima kasih. Aku janji. Ini akan sementara." Ujar Senja mengerti jika Nathan merasa tidak nyaman ada perempuan lain di rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2