Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
107


__ADS_3

Nathan menarik nafasnya dalam dan kembali mencoba mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Nathan berdiri dan..


" Ada urusan apa kamu kesini?" Tanya Ibu Laras ketus pada Nathan. Menatap mantan menantunya itu tak suka.


" Ma." Nathan ingin mencium punggung tangan Ibu Laras namun segera ditolaknya. Nathan beralih mencium punggung tangan Pak Sofyan dan juga Revan.


" Untuk apa kamu kemari lagi? Bukannya kamu sudah beristri lagi?" Ujar Ibu Laras ketus tanpa melihat wajah Nathan.


Pak Sofyan menepuk- nepuk lembut bahu Nathan. " Bagaimana kabar istrimu?"


" Baik, Pa."


" Ajaklah ke rumah. Papa rindu main catur denganmu." Gurau Pak Sofyan.


" Tidak perlu! Dia juga sudah bukan siapa- siapa kita lagi." Sahut Ibu Laras dengan wajah sinisnya.


" Nathan inikan masih menantu kita, Ma." Pak Sofyan membela Nathan.


" Sudah bukan lagi. Seharusnya aku tidak pernah merestui Ayuna menikah dengannya."


" Ma. Kematian Ayuna sudah takdir Allah. Jangan bicara begitu. Tidak baik." Pak Sofyan mengingatkan istrinya yang masih belum menerima kematian Ayuna.


Ibu Laras tidak menanggapi dan meninggalkan Nathan menuju makam Ayuna.


" Maafkan Mama ya, Nath." Ujar Pak Sofyan dan menyusul istrinya.


" Nomormu masih yang lama?" Tanya Revan berbisik.


" Masih."


" Nanti aku hubungi. Oke." Ujarnya dan ikut menyusul orang tuanya.


Nathan melihat sekilas pada mereka yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Putri mereka yang pernah menjadi istrinya telah terbaring dalam pusara. Harusnya mereka sudah menjadi orang tua yang bahagia sudah menggendong cucu mereka. Tetapi takdir berkata lain.


Nathan menarik nafasnya dalam. Sesak rasanya jika mengingat kejadian buruk itu. Nathan menyandarkan kepalanya pada kursi mobilnya. Berkali- kali dia menarik nafas dalam menahan kesedihannya. Senyum Ayuna kembali terlukis jelas dimatanya. Wanita yang baru sebentar merasakan cintanya. Wanita yang baru sebentar merasakan manisnya karena berhasil menaklukkan hati suaminya yang beku. Penyesalan karena tidak menempatkan Ayuna saat awal pernikahan di dalam hatinya masih bergelayut membebani hati Nathan. Ketika cinta Ayuna berbalas. Ayuna secepat itu pergi meninggalkannya.


" Astagfirullahal'adziim." Berkali- kali Nathan beristigfar dalam hatinya. Setelah hatinya cukup merasa tenang. Nathan kembali melajukan mobilnya menuju restoran yang di berikan Silvi padanya dan juga mengirimkan sebuah email yang berisikan proposal yang diajukan Firma Group.


Nathan membaca sebentar email tersebut dan ketika dia mendapatkan poin pentingnya. Nathan segera meluncur menuju lokasi.


Sesampainya di sana. Nathan berjalan menuju meja nomor 12. Dengan santainya dan kemudian dia sedikit terperangah melihat sosok wanita yang duduk di sana bersama dengan Silvi.


" Maasya Allah.. Vera Soetomo." Seru Nathan senang melihat teman lamanya berada di sana.


Wanita yang dipanggil Vera tersebut melemparkan senyumnya sambil memainkan alisnya.


" Apa kabar?" Tanya Vera mendahului Nathan dan menjabat tangan Nathan.


" Baik. Kamu pemilik Firma Group?" Tanya Nathan dan duduk di kursi sebelah Silvi.

__ADS_1


" Bukan. Aku hanya menjabat sebagai direktur. Aku tidak sekaya kamu." Sanjung Vera pada Nathan.


" Biasa saja. Senang sekali bisa bertemu." Ungkap Nathan senang. " Apa kamu masih bermain tinju?" Ledek Nathan mengingat masa- masa mereka ketika duduk di bangku sekolah dasar.


" Itu masa lalu." Vera tertawa kecil. " Nanti saja kita membahas masa lalu kita. Tidak enak dengan mereka." Ujar Vera.


" Oke."


Vera memberikan proposal dari perusahaan mereka dan Nathan membaca kembali setiap detail poin yang diajukan Vera. Nathan menarik nafas panjang.


" Aku tidak setuju dengan poin ini." Nathan menunjukkan kalimat yang dinilai akan merugikan karyawan.


" Aku rasa itu tidak masalah."


" Sangat masalah untuk perusahaanku. Jika kamu mau bekerja sama. Hapus poin ini atau kamu ubah. Untukku. Karyawan adalah ujung tombak tiap perusahaan. Jika mereka tidak sejahtera. Bagaimana kita bisa menikmati hasilnya dengan nikmat?"


Vera menyunggingkan senyumnya mendengar penjelasan Nathan. " Kamu masih tidak berubah. Selalu memikirkan orang lain." Ujar Vera. " Baiklah akan aku hapus poin ini. Tetapi secara keseluruhan. Kamu sudah setuju bukan?" Tanya Vera menegaskan.


" Iya. Jika sudah merevisinya. Silahkan datang ke kantor." Nathan memberikan kembali proposalnya kepada Vera.


" Kenapa kamu mau bertemu di hari libur seperti ini?" Tanya Nathan.


" Agar bisa bernostalgia denganmu." Jawab Vera. " Aku sangat merindukan masa kecil kita." Ujar Vera.


" Kalian pulanglah. Kami ingin berbincang sebentar." Ujar Vera pada sekretarisnya dan Silvi.


Silvi melihat ke arah Nathan dan Nathan mengisyaratkan hanya dengan anggukan kecil. Nathan beralih melihat Vera.


" Dari gosip. Ada beberapa klienku mengatakan jika pemilik Nath Group itu angkuh, sombong namun sangat tampan. Aku penasaran jadi aku meminta orang menyelidiki siapa pemimpin Nath group ini. Dan... Aku tidak terkejut jika itu kamu." Ujar Vera.


" Aku angkuh dan sombong?" Tanya Nathan tak percaya dengan penilaian orang lain padanya.


" Iya. Dan itu terbukti tadi ketika kamu tidak setuju dengan poinku. Kamu dengan tegas akan menolak bekerja sama."


Nathan tertawa kecil. " Apa aku tampan?"


" Sejak dulu. Jujur saja. Kamu cinta monyetku dulu. Tapi karena kita masih sangat kecil. Jadi aku tidak bicara apapun. Dan lagi pula setelah lulus sekolah dasar. keluargaku pindah ke surabaya." Kenang Vera.


" Apa kabar orang tuamu?"


" Mereka sehat. Mereka di surabaya."


" Kamu ikut suami disini?"


" Tidak. Aku belum menikah." Jawab Vera sambil menatap Nathan dalam.


" Kenapa? Kamu cantik pasti banyak yang naksir kan?!" Ledek Nathan.


Vera hanya tersenyum tipis dan mengaduk minumannya. " Dua kali aku memang hampir menikah. Tetapi selalu kandas. Dia yang ketahuan selingkuh dan yang kedua pergi meninggalkan aku begitu saja ketika semua sudah siap. Sekarang aku malas memikirkan pernikahan." Ungkap Vera yang kecewa dengan masa lalunya."

__ADS_1


" Maaf."


" Tidak masalah." ujar Vera dan sebisa mungkin kembali ceria. " Bagaimana denganmu?"


" Aku sudah beristri dan sekarang kami sedang menanti kelahiran anak kedua kami."


" Senang sekali mendengarnya. Bolehkah aku bertemu keluargamu?"


" Tentu. Ibu pasti senang bertemu denganmu." Ujar Nathan.


" Ayo kita ke rumahmu sekarang."


" Sekarang?!" Nathan tidak percaya.


" Iya. Ayolah." Vera menarik tangan Nathan. " Aku menumpang di mobilmu ya. Hari ini mobilku masuk bengkel saat perjalanan ke sini."


" oke." Nathan mengalah.


Tak butuh waktu lama. Nathan sudah memarkirkan mobilnya di garasi dan turun bersama Vera. Gio yang sedang bermain bola basket langsung berhambur menghampiri Nathan. Memeluk serta mencium punggung tangan Nathan.


" Salim sama tante Vera, sayang." ujar Nathan pada Gio.


" Ini anak pertamamu?"


" Iya." Jawab Nathan dan mengelus lembut pucuk kepala Gio.


" Tampan. Seperti Papanya." Puji Vera dan berjalan beriringan dengan Nathan memasuki rumah mereka.


" Assalammu'alaikum." Sapa Nathan dan mendapat sahutan dari arah dapur dari Senja dan Ibunya serta Bi Sumi.


Senja menatap penuh tanya ke arah Vera. Nathan menghampiri istrinya dan merangkul pinggang Senja. " Ini Vera, temanku saat masih SD." Ujar Nathan.


Senja menyalami.


" Vera anaknya Pak Tomo ya?" Tanya Bu Fitri dengan wajah sumringah pada Vera dan memeluk Vera erat.


" Iya. Ibu apa kabar?"


" Baik. Oalah.. Tambah cantik kamu, nak." Puji Bu Fitri. " Bagaimana kabar ibu dan bapakmu?"


" Baik, Bu."


" Masih ingin menikah sama Nathan?!" Ledek Bu Fitri karena saat kecil dulu ketika ditanya cita- cita dia akan selalu menjawab menikah dengan Nathan.


" Engga. Nathan sudah beristri." Jawab Vera sambil tertunduk malu karena Bu Fitri masih mengingat masa kecilnya.


" Duduklah. Biar ibu siapkan minum."


Nathan, Vera dan Senja duduk bersama di ruang keluarga. Setelah menyuguhkan makanan dan minuman. Bu Fitri ikut bergabung bersama mereka. Senda gurau selalu terlontar dari mereka. Senja yang tidak tahu menahu hanya ikut tertawa dan mendengarkan cerita mereka. Tak terasa hari menjelang sore. Vera segera pamit pulang.

__ADS_1


" Di antar Nathan saja." Usul Bu Fitri.


" Naik taksi saja, Bu." Vera mengecup punggung tangan Bu Fitri dan menjabat tangan Senja dan Nathan bergantian.


__ADS_2