Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
133


__ADS_3

" Hai Nath." Sapa Wulan dengan senyum menggoda ketika Nathan tengah duduk di sebuah restoran menyantap makan siangnya.


Nathan hanya melihat sekilas dan kembali melanjutkan makannya. Wulan hanya berdecak sebal karena sikap cuek Nathan dan duduk di bangku samping Nathan. Dengan cueknya. Wulan menyeruput minuman Nathan yang ada di atas meja.


Lagi- lagi Nathan hanya melihat sekilas dan langsung memanggil waiters untuk memesan kembali minuman yang baru. Nathan tetap melanjutkan makannya tanpa mempedulikan wanita yang ada di sampingnya.


" Apa kamu tidak menganggap ku?" Tanya Wulan kesal.


" Aku sedang makan." Jawab Nathan datar tanpa melihat ke arah Wulan.


" Nathan!" Sergah Wulan marah dan merebut sendok yang sejak tadi dipegang Nathan.


Nathan hanya menarik nafas melihat tingkah wanita itu. " Apa mau kamu?"


" Apa kamu tidak tertarik denganku?"


" Tidak." Jawab Nathan cepat.


" Aku cantik. Aku juga model terkenal."


" Lalu?"


" Apa kamu tidak menyukaiku?" Tanya Wulan terlihat heran melihat Nathan terlihat acuh.


" Tidak." Jawab Nathan cepat. " Satu hal yang perlu kamu tau. Kecantikanmu tidak bisa mengalahkan kecantikan istriku." Jawab Nathan.


Wulan tersenyum meremehkan. " Aku yakin. Istrimu tidak cantik." Ejek Wulan dengan wajah mencemooh.


" Jika dia tidak cantik. Saat ini aku pasti sudah berpaling darinya dan menghampirimu." Jawab Nathan cuek dan dengan santainya mengambil kembali sendok yang tadi direbut Wulan. Kembali melanjutkan menghabiskan makanan yang hanya tersisa beberapa suap saja.


" Kamu terlalu angkuh!"


Nathan tidak menggubris ucapan Wulan.


" Aku akan membuat kamu membayar semua ini!" Ancam Wulan.


Nathan menyeruput minuman yang baru saja sampai di mejanya. Dengan santainya dia menyeka mulutnya dan menatap Wulan sekilas.


" Jika kamu merasa sangat cantik. Carilah lelaki yang belum beristri."


" Apa kamu tidak mengerti jika kamu yang aku inginkan!" Sanggah Wulan cepat. Kedua matanya menatap Nathan tajam.


" Kita sudah tidak lagi muda, Wulan. Umur kita sudah kepala tiga. Setidaknya kamu harus tau mana yang pantas dan mana yang tidak."


" Aku tidak peduli!" Bentak Wulan dengan suara yang dia tahan.


" Istighfar Wulan. Aku sudah punya istri dan dua anak. Apa kamu mau menghancurkan kebahagiaan wanita lain juga menghancurkan hati anak kecil?"


" Asal aku bahagia!"


Nathan melihat jam tangannya. " Aku harus pergi. Silahkan jika kamu masih mau disini." Ujar Nathan santai dan berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


Wulan berdecak kesal melihat Nathan dengan santainya mengabaikan dirinya. Lelaki yang sejak masa sekolah dulu sangat dibuat penasaran. Tak kunjung juga dia dapatkan. Tanpa pikir panjang lagi. Wulan mengikuti langkah Nathan menuju kantornya yang memang tidak jauh dari restoran tempat dia makan.


Nathan masih berjalan santai dan tidak menyadari jika Wulan mengikutinya secara diam- diam.


" Pak. Direktur dari PT Persada sudah menunggu Bapak." Ujar Silvi ketika Nathan melewati meja kerjanya.


" Apa sudah lama?"


" Sekitar lima menit yang lalu, Pak." Jawab Silvi.


" Oke. Terima kasih." Ujar Nathan dan memasuki ruangannya.


Wulan berjalan santai memasuki kantor Nathan. Tak dilihatnya sosok Nathan.


" Maaf. Anda mau bertemu dengan siapa?" Tanya seorang security yang terlihat seperti habis istirahat.


" Nathan."


" Sudah ada janji?"


" Saya pacarnya." Jawab Wulan asal dengan setengah membentak dan menerobos masuk.


" Maaf, Bu. Anda tidak boleh asal masuk!" Security itu berusaha mencegah Wulan.


Wulan yang melihat sebuah pintu yang sepertinya security itu sangat menjaga. Bisa menebak jika itu adalah ruangan Nathan. Wulan semakin bergegas ingin memasuki ruangan itu. Tidak peduli dengan halauan security dan juga sekretarisnya. Hingga kegaduhan sangat terdengar hingga ke dalam ruangan Nathan.


" Ada apa ini?" Tanya Nathan yang baru saja keluar dari ruangannya.


" Hai, sayang." Sapa Wulan terdengar mesra.


Nathan menatap Wulan dingin.


" Ngaku- ngaku!" Omel Silvi pada Wulan.


" Bawa dia keluar." Perintah Nathan pada security itu dan langsung kembali menuju ruangannya.


" Nathan. Kamu lupa dengan apa yang sudah kita lakukan?" Teriak Wulan seperti menggila.


Nathan kembali tidak menggubrisnya. Rani yang sejak tadi memperhatikan kejadian tersebut dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran.


" Hhhhhh.. Masih ada aja perempuan yang halu begitu." Keluh Yanti seorang karyawati berbadan gempal dan berkacamata cukup besar.


" Cinta tak sampai lagi." Sahut karyawati yang lain.


" Begitulah kalo punya muka kelewat ganteng."


" Bos kita itu emang paket lengkap. Impian semua wanita."


Rani kembali tersenyum mendengar celotehan yang bersahut- sahutan dari teman- temannya yang lain. Tak bisa dipungkiri memang. Pesona seorang Nathan yang mampu membuat hanyut siapapun di dekatnya.


*****

__ADS_1


Anton hanya menggelengkan kepalanya tidak menyetujui rencana yang baru saja dijelaskan Wulan padanya. Wulan terus mendesak Anton agar menyetujui rencananya tersebut. Harapannya bisa mendapatkan Nathan ada pada Anton seorang.


" Ayolah. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau." Desak Wulan lagi pada Anton. Wulan bersandar santai sambil menyilangkan kakinya hingga menampilkan dengan jelas paha mulus dan kaki jenjangnya.


" Tapi ini gila. Gimana kalo ketahuan? Nathan bukan orang sembarangan sekarang!"


" Ya aku tau. Dia memang bukan orang sembarangan lagi. Nathan ku sudah berubah menjadi orang yang besar. Sudah sepatutnya aku bersanding dengannya. Sejak sekolah dulu bukankah aku dan dia itu king and queen bukan?"


" Iya. Tapi itu sudah berlalu bertahun- tahun, Wulan. Aku tidak bisa membantu." Anton tetap menolak.


" Apa kamu tidak mau berkencan denganku walau hanya sekali?" Ucap Wulan menggoda.


Kedua netra Anton membesar seolah tergoda dengan kem*lekan tubuh Wulan. Anton menelan salivanya kasar ketika Wulan dengan sengaja menyingkap sedikit bajunya hingga memperlihatkan dua belahan indah itu.


" Bagaimana? Apa kamu tidak ingin merasakan?" Wulan kembali merayu Anton.


Anton kembali menelan kasar salivanya membayangkan bagaimana kem*lekan tubuh Wulan. " Tidak! Aku tidak akan mengkhianati siapapun!" Anton berusaha mempertahankan dirinya agar tidak tergoda.


Wulan berdecak kesal melihat Anton masih teguh dengan pendiriannya. Dengan perasaan marah. Wulan meninggalkan ruangan praktek Anton dan menutup pintunya dengan kasar.


Wulan kembali memikirkan cara untuk mendapatkan mangsanya kembali. Baru saja dia ingin meninggalkan klinik Anton. Wulan dikejutkan dengan mobil Nathan yang baru saja parkir di halaman klinik Anton.


" Pucuk dicinta. Ulam pun tiba." Ujar Wulan dengan senyum penuh kemenangan.


Wulan tak ingin menyia- nyiakan waktunya. Dengan cepat dia turun dari mobil sebelum Nathan turun dari mobilnya.


" Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nathan tak suka ketika melihat Wulan masuk begitu saja ke dalam mobilnya. Sementara dia baru saja akan turun.


Wulan tak menjawab pertanyaan Nathan. Wulan langsung saja menyergap tubuh Nathan dan menc*mbunya secara paksa.


Mobil Nathan menjadi terlihat bergoyang karena c*mbuan paksa Wulan sementara dirinya terus berusaha memberontak. Hingga menarik perhatian satpam yang berjaga.


' Tok Tok Tok'


Satpam itu mengetuk kaca mobil Nathan dan sedikit mengintip dari jendela kacanya.


" Hentikan!" Bentak Nathan cepat dan dengan kasar mendorong tubuh Wulan hingga tubuh Wulan membentur pintu kiri Nathan.


Melihat ada security yang penasaran. Wulan langsung berakting menangis tersedu- sedu. Seolah dia baru saja dil*cehkan oleh Nathan.


" Apa kau gila?!" Omel Nathan dan langsung turun.


" Ada apa ini, Pak?" Tegur satpam yang usianya hampir separuh baya. " Kalo mau enak- enak jangan disini." Ujarnya lagi sambil memvideokan Nathan yang baru saja keluar dari mobil.


Wulan turun dari mobil Nathan dengan wajah yang terlihat kacau. Beberapa bagian bajunya sengaja dia robek diam- diam ketika satpam itu fokus pada Nathan.


" Dia mel*cehkan saya, Pak." Adu Wulan sambil menangis tersedu-sedu.


" Apa kamu sudah gila?!" Omel Nathan lagi. Tak habis pikir dirinya dengan tuduhan Wulan.


" Udah. Ayok. Ikut ke kantor!" satpam itu menarik tangan Nathan.

__ADS_1


Sementara, Wulan terus saja berakting berpura- pura paling teraniaya dengan air mata buayanya.


__ADS_2