Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
72


__ADS_3

Gio berdiri di depan pos satpam, tempat biasa dia menunggu Senja menjemputnya. Di edarkan pandangannya ke penjuru sekolah yang mulai sepi karena satu persatu para murid- murid telah pulang.


Gio tertunduk lesu karena memang sejak tadi dia merasa badannya sedikit demam.


" Kamu Gio ya?" Tanya seorang wanita ketika menghampiri Gio dengan senyumnya.


Gio menatapnya penuh tanya karena merasa tidak pernah bertemu dengannya.


" Tante siapa?" Tanya Gio.


" Saya Tante Friska. Mama kamu tadi minta tolong tante buat jemput kamu." Ujar Friska dengan wajah yang dibuat seramah mungkin.


" Memangnya Mama kemana?"


" Mama kamu lagi ada keperluan ke kantor Papa." Friska meyakinkan.


Friska menunjukkan fotonya dan Senja saat makan bersama di restauran beberapa waktu lalu. Melihat hal itu. Gio percaya dan mengikuti ajakan Friska.


" Gio sakit ya?" Tanya Friska melihat anak itu sedikit pucat.


" Iya. Kepala Gio pusing." Ujar Gio.


" Tante punya obat. Biasa di minum anak tante kalo demam. Gio mau?" Tanya Friska dan menawarkan sebutir obat berwarna oranye.


Gio mengangguk dan mengambil obat tersebut lalu menelannya. Friska menyeringai karena Gio dengan mudahnya menuruti perkataannya.


Di saat itu.


Senja yang sejak tadi sibuk belajar membuat kue tart bersama Bu Fitri, hingga dia tidak menyadari jika seharusnya dia sudah berangkat untuk menjemput Gio. Bu Fitri yang saat itu mengingatkan Senja membuat Senja segera berangkat menuju sekolah Gio diantar supir. Berkali- kali Senja memaki dirinya yang begitu bodoh karena terlalu asik belajar membuat kue.


Senja bergegas turun dari mobilnya ketika sampai di depan gerbang sekolah Gio yang sudah sepi. Senja mengedarkan pandangannya mencari sosok Gio. Namun, tidak ditemukan juga sosok putranya itu.


" Permisi, Pak. Bapak lihat Gio?" Tanya Senja pada satpam yang berada di dalam pos tersebut.


" Tadi dia dijemput wanita, Bu."


" Wanita?" Tanya Senja heran. " Orangnya seperti apa?"


" Cantik, Sepertinya seumuran dengan ibu. Tadi mereka cukup lama mengobrol disana." Satpam itu menunjuk ke arah tempat Gio biasa menunggu Senja.


" Oh begitu. Terima kasih ya, Pak." Ujar Senja dengan hati yang mulai cemas.


Senja langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi telepon rumahnya untuk mengecek keberadaan Gio.

__ADS_1


" Bu, Gio sudah sampai di rumah belum?" Tanya Senja buru- buru ketika Bu Fitri mengangkat panggilan teleponnya.


" Belum, Senja."


Senja langsung menutup panggilan telepon itu. Ditariknya nafas berat dan tetap berusaha tenang. Semoga apa yang ada dipikirannya itu salah. Harap Senja.


Senja segera menghubungi nomor telepon Nathan. " Halo." Sapa Senja terburu- buru karena Nathan baru menjawab panggilan teleponnya yang kedua kalinya.


" Maaf sayang. Aku masih ada klien." Ucap nathan.


" Gio hilang!" Ucap Senja cepat hingga Nathan tidak jadi menutup panggilan teleponnya.


" Apa maksudmu? Jangan bercanda Senja." Ucap Nathan sedikit terkejut.


" Aku gak bercanda." Senja menarik nafas panjangnya berusaha menahan tangisnya yang akan pecah. " Aku telat jemput Gio. Pas aku sampai di sekolah. Dia gak ada. Kata satpam ada yang jemput dia seorang wanita dan seusia denganku." Jelas Senja di iringi dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Nathan menarik nafas panjang tetap berusaha tenang agar dia bisa berpikir jernih.


" Aku pulang sekarang." Ucap Nathan dan memutuskan panggilan teleponnya.


Nathan segera menghampiri kliennya. Dua orang itu masih sibuk membaca setiap detail proposal yang diajukan Nathan pada mereka.


" Maaf, Pak. Saya harus pulang sekarang. Untuk masalah kerjasama kita. Bisa kita lanjutkan pada pertemuan selanjutnya." Ucap Nathan.


" Bukan saya tidak serius. Tetapi baru saja istri saya mengabarkan jika putra saya hilang." Ucap Nathan berusaha bicara dengan tenang.


" Benarkah?" Raut wajah pria itu seketika berubah prihatin. Nathan mengangguk.


" Pulanglah Pak Nathan. Maaf saya sempat kesal. Semoga putra anda segera ketemu." Ucapnya dan menjabat tangan Nathan.


" Terima kasih."


Senja terlihat mondar mandir menunggu kedatangan suaminya. Bu Fitri terduduk lemas di sofa ruang tamu. Entah harus bilang apa. Karena dirinya tidak kalah cemas dengan Senja.


" Apa sudah ada kabar?" Tanya Nathan ketika baru saja memasuki rumahnya.


Senja menggeleng. " Dari rekaman cctv yang ada. Wajahnya tidak terpantau. Gio berdiri di sudut buta cctv." Ucap Senja cemas.


Nathan mengusap kasar wajahnya. Siapa lagi yang berulah dengan keluarganya. Baru saja mereka bisa hidup tenang tanpa gangguan siapapun. Kini harus kembali terusik.


" Kita lapor polisi." Ucap Nathan. Baru saja kakinya akan melangkah keluar. Ponselnya berbunyi dan tertera nama Friska di sana. Nama yang tak pernah muncul sejak beberapa minggu terakhir kini muncul kembali.


" Angkat, Nath. Siapa tahu penting." ujar Bu Fitri ketika Nathan sudah dua kali mereject panggilan tersebut.

__ADS_1


" Selamat siang, Ibu Friska. Ada perlu apa?" Tanya Nathan dengan nada suara dingin.


" Siang, Pak Nathan. Apa kabar anda dan keluarga?" Friska berbasa basi.


" Maaf. Saya tidak ada waktu bicara dengan anda." Ucap Nathan kesal.


" Tunggu jangan di tutup dulu sayang." Ujar Friska yang seperti tahu apa yang akan Nathan lakukan dengan suara menggoda.


" Apa maumu?"


" Tidak ada. Aku hanya bilang jika Gio ada bersamaku." Ucap Friska.


" Jangan bercanda kamu?!" Maki Nathan kesal.


" Aku tidak bercanda sayang. Kasian dia demam. Tapi tenang saja. Sudah aku kasih obat dan sekarang dia sedang tidur dengan lelapnya." Ujarnya lagi. " Apa kamu mau menjenguknya?"


" Apa maumu?" Tanya Nathan dengan merapatkan giginya.


" Hemmm.. Aku mau kamu sayang." Ucap Friska tegas.


" Arrgghh.." Nathan memukul tembok yang ada di depannya membuat Senja dan Bu Fitri tersentak. " Jangan kamu sentuh anakku!" Geram Nathan.


" Aku tidak menyakiti anakmu. Aku hanya ingin kamu." Ucap Friska lagi. " Datanglah satu jam lagi. Aku akan memberikan Gio asal kamu menikahi aku. Tidak masalah harus menjadi yang kedua. Untuk lokasinya akan aku berikan dan satu lagi. Aku tidak akan segan- segan menyentuh anakmu jika kamu melapor polisi!" Ancam Friska.


Nathan terdiam mendengar ucapan Friska.


" Aku akan kabari lagi. Bye sayang." Ucap Friska dengan seringai liciknya.


" Ada apa, Nath? Apa dia yang membawa Gio?" Tanya Senja mengguncang tubuh suaminya yang terpaku.


Nathan mengangguk.


" Kita jemput Gio sekarang." Rengek Senja.


Nathan menarik nafas panjang dan duduk di sofa panjang. Dia hanya diam dan pandangan matanya menatap tajam lurus.


" Nathan. Ayo kita jemput Gio!" Rengek Senja kembali.


" iya Nath. Sebaiknya secepatnya jemput Gio." Sambung Bu Fitri.


Nathan menarik nafasnya dan tatapannya beralih pada Senja. " Hanya aku yang bisa jemput Gio, Senja." Ucap Nathan dengan suara berat.


" Yaudah kalo gitu kamu jemput Gio. Aku tidak bisa hidup tanpa Gio, Nathan."

__ADS_1


" Iya sayang." Nathan memeluk erat istrinya.


__ADS_2