
Setelah hampir dua jam perjalanan. Kami akhirnya sampai di rumah Nathan. Aku menatap bangunan putih itu. Tak ada yang berubah dari bangunan itu dari luar. Aku tidak menyangka jika takdir kembali membawaku ke sini. Sejauh apapun aku melangkah tapi pada akhirnya aku kembali lagi pada titik ini.
" Assalammu'alaikum. Bu. Lihat siapa yang datang?" Seru Nathan dengan suara yang dia buat segembira mungkin.
Aku dan Gio mengekor Nathan dan memasuki kamar Bu Fitri.
" Yah. Udah tidur." Gumam Nathan melihat ibunya telah terlelap di tempat tidurnya.
" Yaudah gak papa. Besok masih bisa." Bisikku lembut.
" Kamu gak papa nginep?" Nathan meyakinkanku.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Kami di antar ke kamar paling depan. Kamar tamu. kamar yang dulu sering aku gunakan jika aku menginap di sini.
" Maaf udah ngerepotin. Nanti biar aku bilang ke Reza."
" Kenapa harus bilang ke Reza?" Tanya ku sedikit bingung. Karena Nathan sangat tidak ingin Reza salah paham dengan hubungan kami.
" Dia calon suami kamu kan?" Nathan jadi sedikit bingung.
" Bukan." Jawabku tegas dan menatap Nathan. Entah kenapa dia menatapku seperti itu. Tatapan yang aku tidak tahu apa artinya itu. Sejujurnya. Aku sangat merindukan Nathan. Ingin rasanya aku memeluknya dan melepaskan semua rasa yang tertahan.
" Beristirahatlah." Ujar Nathan dan segera keluar dari kamar tamu.
" Nathan." Langkah Nathan terhenti dan berdiri di ambang pintu menatapku penuh tanya.
' Aku mencintaimu' Gumamku hanya tertahan di dalam hati. " Terima kasih" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Nathan hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya kembali.
Lima belas menit berlalu. mataku masih belum bisa terpejam. Gio sudah terlelap. Sepertinya hari ini dia sangat lelah bermain.
" NATHAN!" Suara seorang perempuan berteriak kencang memanggil Nathan dari luar. Aku tidak bergegas untuk menghampiri karena aku mendengar suara Nathan yang melangkah menuju pintu depan.
Terdengar suara perdebatan, entah apa yang mereka debatkan. Tapi beberapa menit kemudian suara itu hening. Aku penasaran dan perlahan melangkah keluar kamar.
" Astaga..!" Betapa terkejutnya aku Nathan di pegang oleh dua orang berbadan kekar dan ada Angel sedang berkacak pinggang di hadapan Nathan. Nathan masih terus meronta, tapi apalah daya. Dia kalah jumlah juga tenaga.
__ADS_1
" Bawa dia!" Titah Angel pada dua ajudannya.
" Mau dibawa kemana dia?!" Teriakku menghentikan langkah mereka.
Sontak saja mereka mengalihkan pandangannya ke arahku. Dengan angkuhnya Angel berjalan menghampiriku. " Dia calon suamiku. Terserah mau ku bawa kemana!" Seru Angel dengan nada ketus. Angel mengisyaratkan ajudannya untuk membawa Nathan.
" Bos, berontak mulu nih." Keluh salah seorang ajudannya yang tampak kewalahan dengan perlawanan Nathan.
Tanpa pikir panjang. Angel mengambil vas bunga yang ada di atas meja hias dan memukul kepala Nathan. Seketika Nathan tak berdaya. Kepala Nathan sangat rentan untuk dipukul. Dia pernah terluka parah di kepalanya. Bahkan luka yang kedua mengharuskannya untuk dioperasi.
Mataku terbelalak tidak percaya apa yang dilakukan Angel pada Nathan. Dengan santainya dia berjalan menuju mobilnya. Dan memasukkan Nathan ikut serta kedalam.
Sejenak aku terpaku melihat perlakuan Angel namun detik berikutnya. Deru suara mobil Angel menyadarkanku. Aku segera berlari keluar dan berteriak minta tolong. Sontak saja teriakanku menarik perhatian orang yang sedang berada di sekitar rumah Nathan.
Aku menjelaskan kejadian tadi sesingkatnya. Dan dengan sigap seorang warga langsung berkoordinasi dengan satpam penjaga komplek perumahan itu agar menutup semua portal agar tidak ada kendaraan yang keluar.
Serempak, Aku dan beberapa warga menuju portal utama komplek tersebut dan benar saja. Ajudan Angel tengah bergelut dengan beberapa satpam yang berjaga.
Warga yang datang bersamaku dengan sigap membantu dan dalam waktu cepat mereka berhasil meringkus kedua ajudan Angel dan menyelamatkan Nathan yang terkulai lemas di dalam mobil. Tapi sayang. Angel berhasil kabur.
Aku memandangi wajah tampan ini yang belum sadarkan diri.
" Reza." Gumamku melihat nama Reza tertera di layar ponselku yang berdering.
Sebenarnya masih malas untuk berbicara dengannya mengingat perkataan keluarganya saat makan malam itu. Kecewa akan sikap keluarganya itu sudah pasti. Aku pikir mereka akan menerima Gio. Tetapi tidak. Mereka tetap berpikir Gio adalah anak haram. Kasihan anakku. Dia tidak bersalah. Tetapi dia harus menanggung semuanya.
" Ada apa?" Tanyaku malas berbasa basi dengan Reza.
" Kamu masih marah?" Reza malah balik bertanya membuatku berdecak sebal.
" Cuma mau tanya itu. Aku tutup saja!" Ancamku kesal dengan basa basinya.
" Maafkan keluargaku, Senja. Aku sudah membujuk mereka. Dan mereka mau menerima Gio dan ingin bertemu lagi dengan kalian." Ujar Reza dengan suara memelas di sebrang sana.
" Biar aku pikirkan lagi." Sahutku enggan. Ingin langsung menolak tetapi tak tega rasanya mengingat perjuangan Reza selama ini.
__ADS_1
Dia pria yang baik. Selama ini dia bersikap baik pada Gio. Bahkan Gio juga sangat akrab dengannya yang membuatku kecewa hanyalah sikap keluarganya. Tak seharusnya aku mengacuhkan dia seperti ini.
" Aku mohon Senja." Pinta Reza lagi.
" Baiklah. Ini untuk yang terakhir jika keluargamu masih bersikap sama seperti kemarin." Ujarku tegas. Reza menyetujuinya.
" Besok aku jemput." Ucap Reza.
" Jangan besok. Aku tidak di rumah. Lusa saja."
" Baiklah." Tanpa bertanya keberadaanku. Reza menyetujuinya. Mungkin dia takut aku berubah pikiran jika dia banyak bertanya.
Aku menutup panggilan telepon itu dan menarik nafas panjang. Apakah keputusanku benar. Lalu bagaimana dengan cintaku pada pria yang sekarang ada di hadapanku. Sampai saat ini, hatiku masih miliknya.
Perlahan Nathan mengejapkan matanya. Akhirnya dia sadar. " Erhh.." Erangnya pelan sambil memegang kepalanya.
" Masih sakit banget, Nath?" Tanyaku cemas. Aku takut terjadi sesuatu lagi dengan kepalanya.
Nathan menggeleng. Aku tahu dia berbohong. Kepalanya menggeleng tetapi ekspresi wajahnya menggambarkan jika dia sangat merasa kesakitan.
" Kita ke rumah sakit saja ya." Tawarku yang khawatir dengan keadaannya.
" Besok saja. Kasian ibu dan Gio tidak ada yang menjaga." Tolak Nathan.
" Apa Ibu tahu kejadian tadi?" Tanyanya yang mencemaskan keadaan Bu Fitri.
" Sepertinya tidak. Tadi aku mengecek ibu. Beliau masih tertidur." Jawabku jujur.
Nathan menarik nafas lega. Dia sangat menyayangi ibunya.
" Minum obat dulu Nath. Biar gak sakit lagi." Aku langsung menyiapkan obat yang tadi di berikan dokter dan segera memberikannya pada Nathan.
Nathan segera meminum obat itu. "Terima kasih." Aku hanya tersenyum. " Maaf. Kamu jadi harus merawat aku."
" Gak masalah. Istirahatlah. Ada perlu apa- apa panggil saja aku." Ujarku dan keluar dari kamarnya.
__ADS_1