Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
99


__ADS_3

Setelah hampir tiga puluh menit Nathan menempuh kembali perjalanan. Mereka sampai pada sebuah rumah yang berada di tempat yang cukup terpencil. Nathan menarik nafas dalam karena kemungkinan besar tempat ini belum terjangkau sinyal.


Nathan terus berjalan mengikuti arahan orang yang menodongkan senjata api. Dan berhenti di depan sebuah kamar. Orang tersebut mengetuk pintunya dan langsung membuka pintu itu ketika dipersilahkan masuk.


Kedua netra Nathan membesar karena akhirnya bisa menemukan istrinya. Senja yang melihat sosok Nathan langsung menggelengkan kepalanya dan air mata kembali meluncur dari pelupuk matanya.


Fumiko menyambut kedatangan Nathan hanya dengan menggunakan baju tidur transparan. Membuat Nathan mengalihkan pandangannya.


" Duduklah." Ujar Fumiko ketika anak buahnya sudah kembali berjaga di luar.


Nathan duduk di tepi ranjang dan terus menatap istrinya.


" Kamu tau. Setelah aku berpisah dengan Ringgo. Baru kali ini aku mendapatkan kembali gairahku pada lelaki." Ujar Fumiko merayu Nathan. Tangannya memegang dagu Nathan dan memaksa lelaki itu agar memandang tubuhnya.


" Aku tidak akan menyakiti istrimu. Jika kamu mau menemaniku." Ujar Fumiko lagi.


Nathan yang sejak tadi hanya diam. Menarik nafasnya panjang. " Aku tidak bisa."


Fumiko tersenyum licik. " Istri dan anakmu taruhannya." Ujarnya geram. " Pengawal!" Pekik Fumiko kesal.


Anak buah Fumiko langsung merangsek masuk ke dalam kamar.


" Ikat wanita itu pada tiang." Perintah Fumiko marah.


" Jangan!" cegah Nathan cepat.


" Kamu setuju?!" Tanya Fumiko kembali mendesak Nathan.


Nathan menelan salivanya kasar dan menatap Senja yang terus menggelengkan kepalanya.


" Baiklah." Ucap Nathan.


Fumiko kembali tersenyum penuh kemenangan. Dan segera membuka satu persatu kancing kemeja Nathan.


Senja hanya bisa memejamkan matanya. Enggan melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain.


Dengan rakusnya. Fumiko langsung menciumi setiap lekuk tubuh Nathan. Walaupun Nathan tidak membalas setiap tindakan Fumiko. " Jangan membuatku kesal, Nathan!" Fumiko merasa geram karena dirinya seperti sedang bercumbu dengan patung.


" Aku tidak bisa." Ujar Nathan.


Fumiko yang kesal langsung menghampiri Senja dan menarik kasar rambut Senja.


" Jangan sakiti istriku!" Ucap Natha marah dan langsung menarik tangan Fumiko kasar.


" Lepaskan aku!" Teriaknya lagi. Nathan semakin kencang mencengkeram tangan Fumiko. " Pengawal!" Teriaknya lagi.


Melihat anak buah Fumiko kembali merangsek masuk. Dengan cepat Nathan memelintir tangan Fumiko ke belakang. " Jika kalian maju. Aku patahkan tangannya!" Ancam Nathan.

__ADS_1


Melihat hal itu, Anak buah Fumiko tampak kebingungan.


" B*n*h istrinya!" Perintah Fumiko.


Anak buahnya beralih melihat Senja yang masih terikat pada kursi.


Melihat hal itu. Nathan segera menghampiri Senja dan melepaskan Fumiko. Nathan langsung memasang kuda- kudanya melindungi Senja dengan tangan kosong.


Fumiko yang kesal langsung mengambil alih senjata api dari anak buahnya dan menodongkannya pada Nathan. " Layani aku. Atau kalian aku b*n*h!" Ancam Fumiko lagi.


Nathan tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri. Tangannya sibuk membuka ikatan pada tangan dan membuka sumpal pada mulut Senja.


' Dor'


Sebuah tembakan terlepas begitu saja dan nyaris mengenai paha Nathan jika dia tidak menghindar dengan cepat.


" Tetaplah di belakangku, Senja." Bisik Nathan.


Senja hanya menuruti tanpa mampu berkata apapun.


" Jangan buatku marah!" Pekik Fumiko lagi.


" Tangkap mereka!" Pekiknya lagi dan membuat anak buah Fumiko berhambur menangkap Senja dan Nathan. Senja yang sejak tadi tidak diberikan makan ataupun minum oleh Fumiko membuat tubuhnya lemas. Dengan mudahnya dia tertangkap kembali. Nathan yang selalu berkelit langsung terdiam pasrah ketika senjata api itu tepat berada di kepala Senja.


" Layani aku. Atau peluru itu menembus kepala istrimu." Ujar Fumiko lagi.


Cukup lama bibir mereka saling bertaut. Fumiko yang sudah mencapai puncaknya perlahan membuka ikat pinggang yang melingkar pada celana Nathan.


' BRAK'


Terdengar suara pintu di dobrak dari luar. Fumiko yang sudah tidak tahan berusaha tidak menghiraukan keadaan yang terjadi di luar kamar.


" Lepaskan mereka!" Perintah Nabila sambil mengacungkan sebuah pedang pada tengkuk leher Fumiko yang sejak tadi sibuk dengan Nathan.


" Aku akan menemb*k wanita j*lang itu!" Fumiko berbalik mengancam.


" Wanita yang mana nenek tua?" Tanya Nabila dengan nada meledek.


Fumiko mengalihkan pandangannya dan beralih tempat Senja yang ternyata situasinya berbalik. Anak buah Fumikolah yang kini di todongkan senjata api oleh anak buahnya Nabila.


" Apa belum cukup menikmati daun muda?" Ledek Nabila lagi dan memerintahkan Fumiko untuk berdiri.


Nabila melemparkan sebuah handuk kimono. " Pakailah ini. Tutupi tubuh keriputmu!" Ledek Nabila lagi.


Fumiko hanya bisa menurut dan hanya pasrah ketika anak buah Nabila mengikat tangannya juga para anak buahnya yang dengan mudahnya dapat diringkus.


" Kenapa lama sekali!" protes Nathan.

__ADS_1


" Apa kamu pikir mudah mencari jejak dalam kegelapan?" Nabila tak kalah kesal dengan Nathan dan melemparkan kaos serta kemeja Nathan.


" Pakailah. Sebelum aku berubah pikiran." Guraunya.


Nathan segera memakai bajunya.


" Apa kamu baik- baik saja?" Tanya Nabila pada Senja yang terduduk lemah pada tepi ranjang.


" Aku haus sekali." Ujar Senja.


" Kita ke mobil." Nabila langsung memapah Senja menuju mobilnya.


" Ponselmu." Nabila memberikan ponsel Nathan yang tadi dilempar anak buahnya Fumiko.


" Terima kasih."


" Bagaimana rasanya bercumbu dengan nenek tua?" Tanya Nabila namun lebih terdengar seperti orang yang meledek.


Nathan hanya mencibir. " Apa ada yang sakit?" Tanya Nathan pada Senja.


" Tidak ada."


" Syukurlah. Istirahatlah." Ujar Nathan dan kembali melihat jalanan.


" Kemana mobil yang biasa kamu pakai?" Tanya Nabila.


" Aku jual."


" Kenapa?"


" Biar bisa beli yang baru." Sahut Nathan asal.


Nabila hanya mencibir mendengar ucapan Nathan. Di lihatnya kembali Senja yang mulai terlelap pada kursi si sampingnya.


" Apa kamu tidak berniat mengusir wanita yang mengusik hidup kalian?"


" Tanpa ku jawab. kamu pasti tau jawabannya." Ujar Nathan.


" Ah iya. Untunglah aku masih bisa bersikap waras." Ujar Nabila santai.


Nathan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. " Dimana Randy?"


" Dia sedang tidak enak badan. Aku tidak memberitahunya tentang masalah ini." Jawab Nabila datar.


Nabila terdiam dan hanya memandangi jalanan dari jendela. Pikirannya menerawang jauh. Tak menyangka jika ada saja wanita yang menjatuhkan harga diri mereka hanya untuk mendapatkan kepuasan dari lelaki.


Tak dapat dipungkiri jika sampai detik ini. Nabila masih menyimpan rasa untuk Nathan. Tetapi dia tidak ingin terbuai oleh pesona lelaki ini. Lelaki yang selalu menjunjung tinggi kesetiaannya pada istrinya. Mustahil rasanya untuk dapat memasuki relung hati Nathan.

__ADS_1


__ADS_2