
Senja melambaikan tangannya pada Dona yang baru saja tiba di cafe tempat biasa mereka bertemu. Dona melemparkan senyumnya ketika melihat Senja yang berada di sudut ruangan. Senja yang sudah sangat terbiasa dengan sifat Dona yang suka ngaret kalau janjian hanya menatap sahabatnya itu dengan senyuman.
" Maaf ya.."
" Macet." Sahut Senja mendahului. Mereka tertawa bersama karena selalu saja alasan yang sama yang terlontar dari mulut Dona.
" Baru beberapa bulan gak ketemu. Udah gede aja nih yang diperut." Dona mengelus perut Senja.
" Iyalah. Udah masuk bulan kedelapan." Ujar Senja.
" Seneng dengernya. Semoga lancar sampai persalinan nanti. Sehat ibu dan bayinya."
" Aamiin."
Dona memesan makanan serta minuman untuk mereka. " Aku senang. Kamu dan suami mampu melewati setiap permasalahan yang muncul. Kekuatan cinta kalian sangat teruji Senja." Puji Dona mengawali pembicaraan mereka.
" Aku terlalu beruntung mendapatkan suami yang setia."
" Iya. Andai saja itu orang lain. Mungkin suamimu pasti dengan mudahnya memikat betina yang lain." Sahut Dona disambut gelak tawa Senja mendengar kata betina dari sahabatnya.
" Bisa saja kamu."
" Iyalah. Jujur saja. Saat pertama kali bertemu di restoran hari itu. Aku sempat terpana dengan suamimu. Apalagi sikapnya sangat santun. Tapi ketika aku tau bahwa lelaki itu sudah punya pasangan hidup. Aku tidak lanjutkan perasaan terlarang yang mulai tumbuh itu. Lagipula aku juga sudah punya suami dan anak."
" Syukurlah. Apa kamu ingin bekerja sekarang?" Senja menawarkan.
" Tidak. Sudah merasa nyaman menjaga anak- anak. Hal yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." Ujar Dona dan matanya membulat ketika pelayan menghidangkan makanan mereka.
" Selamat menikmati."
" Terima kasih."
" Ini kesukaanku Senja." Ujar Dona dan langsung menyantap makanannya.
Cafe ini bukan hanya menyediakan aneka minuman dan cemilan saja. Tetapi ada juga makanan berat khas nusantara. Rasa makanannya yang enak dan cukup terjangkau di kantong. Membuat cafe ini selalu ramai pengunjung.
" Kalo kita bisnis restoran seru kali ya." Ujar Dona kemudian memasukkan makanannya kedalam mulut.
" Ide bagus."
" Apanya?" Dona malah tampak bingung dengan ucapan Senja.
" Kita buka restoran bersama."
' Uhuk Uhuk Uhuk'
Dona terbatuk- batuk mendengar ucapan Senja. Padahal dia hanya bergurau tetapi dianggap serius oleh Senja.
__ADS_1
" Apa perlu kita bicarakan hal ini dengan serius?" Senja memainkan alisnya naik turun.
" Biar aku pikirkan dulu."
" Aku juga harus bilang pada suamiku."
*****
Nathan membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
*Pulang dari kantor aku akan mampir ke kantormu.
Sejenak* dia berpikir siapa yang mengirimkan pesan ini karena nomornya belum tersimpan ke dalam kontak ponsel Nathan. Dengan cuek Nathan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Lagi dan lagi Nathan dibuat terkejut dengan orang- orang yang kembali hadir. Nathan sedikit terkejut melihat Virni sedang membantu Senja dan Bu Fitri menata meja makan. Nathan menghampiri ibunya mencium punggung tangan wanita yang melahirkannya dan bergantian Senja yang mencium punggung tangan Nathan.
Nathan yang lelah tidak menghiraukan kehadiran Virni dan dengan cuek berjalan memasuki kamarnya. Nathan membuka pakaiannya.
' Cklek'
Senja menghampiri Nathan dan duduk di tepi ranjang mereka sambil menatap suaminya yang sejak tadi tidak berkata apapun. Senja menarik nafasnya dalam.
" Virni sudan meminta maaf dan menyesal, Nath." Tutur Senja pelan yang melihat Nathan tidak menggubris kehadiran Senja.
" Aku tidak tega. Setelah pergi dari rumah kita. Virni luntang lantung di jalan. Bahkan dia datang dengan pakaian lusuh. Semua barang- barangnya dirampok orang." Senja menjelaskan.
" Aku kasihan padanya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi." Ujar Senja dengan wajah tertunduk.
Nathan ke ruang makan dan mengambil piring juga menyendokkan nasi ke atas piringnya beserta lauknya. Bu Fitri yang melihat itu hanya bisa diam. Suasana hati putranya sedang tidak baik- baik saja.
Setelah mengambil makanan Nathan kembali masuk ke dalam kamar.
" Kamu tidak makan bersama?" Tanya Senja terheran melihat Nathan makan di dalam kamar mereka. Hal yang tidak pernah dia lakukan kecuali ketika sakit.
Nathan tetap cuek dan terus makan tanpa mempedulikan pertanyaan Senja. Senja duduk terus menatap suaminya lekat. Menemani suaminya makan dalam kamar mereka. Ketika selesai. Senja ingin mengambil piring yang di pegang Nathan. Namun Nathan kembali dengan cueknya langsung berjalan keluar dari kamar dan meletakkan piring kotor tersebut pada wastafel dan kembali ke kamarnya.
" Apa kamu marah?" Tanya Senja akhirnya.
Nathan masih diam.
" Jika kamu marah. Aku akan meminta Virni keluar dari rumah kita."
" Kamu tau kenapa aku tidak suka dia berada di sini lagi?" Tanya Nathan akhirnya membuka suaranya.
Senja menggeleng.
" Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Aku takut, fitnah yang besar akan kembali terjadi. Aku dan kamu baik- baik saja, Senja. Dan aku tidak ingin ada perdebatan lagi diantara kita. Aku mau kamu fokus pada kehamilan dan persalinanmu." Ungkap Nathan.
__ADS_1
Senja tersenyum dan menghampiri suaminya yang masih terlihat kesal. Diraihnya tubuh suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan wajah masam. Senja peluk Nathan hingga wajah Nathan menempel pada perut buncit Senja.
" Tidak akan ada apa- apa, sayang. Niatku hanya untuk membantunya. Percayalah." Senja menenangkan.
Entah kenapa perasaan yang tadi gelisah menjadi sedikit lebih tenang ketika Nathan berada di dalam pelukan Senja. Nathan hanya diam tak menjawab. Dia tahu betul apa yang dimaksud istrinya saat ini. Dia akan kembali menerima Virni di rumah mereka.
" Selama ada Virni. Aku akan makan dalam kamar." Ujar Nathan dingin dan berjalan menuju kamar mandi.
Senja hanya menarik nafas dalam dan tersenyum melihat suaminya yang masih kesal. Senja keluar menghampiri Bu Fitri yang menunggunya di meja makan. Senja langsung makan. Sejak tadi perutnya terasa lapar.
" Apa Nathan masih marah padaku?" Tanya Virni dengan wajah cemas.
" Sebentar lagi dia akan baik. Aku tau siapa suamiku." Senja menenangkan Virni.
Nathan yang merasa badannya sudah segar setelah berendam di air hangat. Segera keluar kamar.
" Mau apa kamu?!" Bentak Nathan marah pada Virni yang ada di dalam kamarnya.
Melihat Nathan yang hanya terbalut handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya seketika wajah Virni panas dan pikirannya langsung melayang jauh.
" Hei!" Bentak Nathan lagi ketika Virni hanya diam dan terus menatapnya lekat.
" Mmmaaff. Senja memintaku mengambilkan vitaminnya." Ujar Virni dan langsung mengambil vitamin yang ada di meja rias Senja dan segera berlalu. Wajahnya terasa panas melihat Nathan hanya terbalut handuk.
" Senja!" Teriak Nathan memanggil Senja.
" Cepat hampiri. Tidak biasanya Nathan memanggilmu dengan berteriak." Ujar Bu Fitri pada Senja ketika mereka asik menonton tv bersama.
Senja buru- buru menghampiri Nathan yang memandangnya kesal. Rambutnya yang masih acak- acakan dan basah. Menandakan Nathan baru saja selesai mandi walaupun dia sudah memakai bajunya lengkap.
" Ada apa?" Tanya Senja bingung.
" Jangan pernah meminta siapapun masuk ke dalam kamar kita." Sergah Nathan kesal.
" Kenapa?"
" Kenapa kamu bilang?!" Nathan semakin geram. " Virni masuk ke kamar dan mendapati aku hanya memakai handuk. Kemana pikiranmu. meminta wanita lain masuk ke kamar sementara suamimu berada di dalamnya?!" Ujar Nathan kesal.
" Maafkan aku Nath. Aku pikir kamu sudah tidur. Aku hanya meminta diambilkan vitamin saja." Senja membela diri.
" Aku hanya manusia biasa, Senja." Ujar Nathan kesal dan menekankan kalimat tersebut.
Senja hanya menarik nafasnya dalam. Dia baru menyadari kesalahan yang dia perbuat barusan. Senja hanya menunduk dan diam. Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.
Nathan menarik tubuh Senja perlahan dan memeluknya erat. Di ciumnya kening Senja berkali- kali.
" Maafkan aku menyakitimu, Senja." Ujar Nathan dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
" Aku hanya ingin menolongnya." Ungkap Senja diiringi dengan isak tangisnya.
" Iya aku tau. Maafkan aku jika sikapku membuatmu terluka." Ujar Nathan kembali. Dia selalu melunak ketika melihat air mata istrinya jatuh. Dia akan mengalah untuk hal apapun itu agar tak ada lagi air mata yang jatuh dari mata istrinya.