Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
149


__ADS_3

" Bapak pasti akan kangen sama Nathan atuh. Walaupun cuma sebentar kita ketemu." Ucap Pak Somad setelah mereka selesai sarapan.


" Ini kartu nama saya, Pak." Brama menyodorkan selembar kartu nama pada Pak Somad.


Pak Somad segera membaca yang tertulis di sana. " Jadi kamu teh pengacara?" Pak Somad terkejut. Dia pikir Brama adalah assisten Nathan.


" Iya, Pak." Jawab Brama. " Jika bapak mau bertemu Nathan. Bapak bisa menghubungi saya." Ucap Brama menjelaskan.


" Jika Amel mau kerja di perusahaan saya juga boleh." Sambung Nathan. Membuat Amel terkejut dan melihat ke arah Bapak dan ibunya.


" Jangan atuh. Tak baik anak gadis tinggal sendirian di kota." Ucap Bu Somad cepat.


" Ibu." Amel sedikit merajuk.


" Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih buat Bapak dan keluarga." Ujar Nathan pada Pak Somad. Nathan beralih pada Brama.


" Ini ada sedikit dari Nathan karena telah menerima dia dan menolong dia dengan ikhlas." Brama menyodorkan segepok uang beramplop coklat.


" Bapak ikhlas." Pak Somad menolak.


" Di terima, Pak." Nathan memaksa. " Ayo Bram." Nathan bangkit dan berjalan perlahan menuju mobilnya dengan sigap. Amel membantu memapah Nathan.


" Terima kasih, Mel." Ucap Nathan ketika sudah sampai mobil.


" Iya. Sama- sama." Sahut Amel.


" Ada apa, Mel?" Tanya Nathan pada Amel yang masih saja berdiri hingga dia tidak bisa menutup pintu mobilnya.


" Emmm.. maaf klo permintaan Amel kurang sopan." Amel tampak terlihat ragu.


Nathan mengkerutkan keningnya menunggu ucapan Amel selanjutnya.


" Amel boleh peluk kamu sebentar aja?" Ucap Amel dengan wajah tertunduk. Malu sebenarnya tetapi cinta yang terlanjur tumbuh harus di siram.


Nathan kembali keluar dari mobil dan berdiri tepat di hadapan Amel. " Maaf ya." Ucap Nathan. dan memeluk tubuh Amel dengan erat walaupun hanya sebentar. Membuat Amel tertegun dan menikmati dekapan hangat Nathan.


Pak Somad dan Bu Somad terbelalak karena tiba- tiba saja Nathan memeluk Amel. Permintaan Amel pada Nathan memang tidak terdengar mereka.


Nathan melerai pelukannya dan mengacak lembut pucuk kepala Amel. " Jaga diri kamu baik- baik. Bahagiakan ibu dan bapakmu." Titah Nathan dan kembali memasuki mobilnya.


Amel bergeser dan menutup pintu mobil. Segera Brama melajukan kendaraannya menuju ibu kota. Kembali pada hiruk pikuknya ibu kota. Terlihat dari spion mobil. Keluarga Pak Somad masih melambaikan tangan ke arah mereka. Keluarga sederhana yang Nathan temui pada desa terpencil.


" Aku senang ingatanmu kembali, Nath." Ujar Brama.


" Ya. Aku sangat merindukan anak dan istriku, Bram." Nathan sudah berandai- andai dia akan bertemu dengan keluarga kecilnya.


" Apa kita ke rumah sakit atau ke rumahmu?"


" Ke rumah saja." Ucap Nathan yang sudah tidak sabar bertemu dengan anak dan istrinya.


" Aku akan menjelaskan pada Senja dengan dirimu agar dia tidak salah paham." Ucap Brama yang sedikit khawatir jika Senja menemukan tanda merah yang banyak itu pada tubuh Nathan.


" Terima kasih, Bram."


Setelah beberapa jam. Nathan dan Brama memasuki kawasan komplek perumahan Nathan. Nathan menarik nafas dalam. Menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan.


Brama menghentikan mobilnya dan turun untuk membuka gerbang. Dia tahu jika saat ini Pak Mamat sepertinya masih ambil cuti karena beberapa hari yang lalu istrinya masuk rumah sakit.

__ADS_1


" Pak Mamat kemana?" Tanya Nathan heran melihat sosok itu tak terlihat.


" Masih cuti kayanya. Dua hari yang lalu istrinya masuk rumah sakit." Brama menjelaskan dan kembali mengendarai mobilnya memasuki parkiran rumah Nathan.


Nathan menarik nafas dalam dan turun dari mobilnya. Memandang sebentar bangunan rumah itu yang sudah lebih dari sebulan tidak dia lihat. Brama segera keluar dari mobil dan memapah Nathan memasuki rumahnya.


" Senja." Panggil Brama setengah berteriak. Brama mendudukkan Nathan pada sofa ruang tamu dan mencari sosok Senja.


" Bi. Senja kemana?" Tanya Brama pada Bi Sumi yang sedang sibuk mencuci perabotan yang dia pakai untuk memasak.


" Di kamar." Ucap Bi Sumi dan langsung menuju kamar utama.


Brama menunggu di ruang tamu bersama Nathan. Setelah beberapa menit. Terlihat Senja dengan wajah datarnya menemui Brama. Nathan masih dalam posisi membelakangi Senja.


.


" Ada apa, Bram?" Tanya Senja.


" Lihat siapa yang aku bawa." Ucap Brama riang.


Senja langsung menolehkan pandangannya ke arah Brama tunjuk. Beberapa saat Senja hanya bisa tertegun dan mematung melihat sosok yang dia rindukan selama ini secara tiba- tiba muncul di hadapannya.


" Sayang " Ucap Senja dan langsung berhambur memeluk Nathan beberapa kali bahkan Senja menciumi wajah Nathan. Tak dipedulikannya Brama yang melihat semua yang dia lakukan. Brama yang merasa risih memilih berjalan menuju dapur membiarkan kedua insan itu melepas rindu.


Brama mengambil ponselnya dan segera menghubungi Randy. Benar saja. Randy tak kalah bahagia mendengar kabar Nathan sudah kembali dengan selamat.


Mata Senja meneteskan tangis haru dengan tatapan matanya yang tak lepas dari wajah Nathan.


" Aku sangat merindukanmu." Ucap Senja lirih. " Aku sangat bahagia kamu kembali kepadaku."


" Maaf selalu membuatmu cemas." Ujar Nathan dan hanya bisa membelai lembut pucuk kepala Senja.


" Gio sedang menemani Yusuf di kamar." Ujar Senja dan segera berjalan cepat memanggil anak- anaknya.


Senja menggendong Yusuf sedangkan Gio langsung berhambur memeluk Nathan erat.


" Aw.." Nathan meringis karena Gio tak sengaja menekan luka diperutnya.


" Kamu kenapa?" Tanya Senja.


" Kemarin ada kejadian kecil. Biar aku jelaskan nanti." Sahut Brama cepat.


Gio segera mengendurkan pelukannya. Nathan menciumi pucuk kepala Gio dan Yusuf bergantian.


" Papa kemana aja?" Tanya Gio dengan wajah polosnya.


" Papa kan baru aja pulang sayang." Sahut Senja cepat karena selama ini dia bilang pada anak- anaknya bahwa Nathan sedang mengurus pekerjaannya di luar kota.


" Papa gak akan ninggalin kita lagi kan?" Tanya Gio penuh harap.


" Iya sayang." Nathan tersenyum tulus melihat Gio. Walaupun Gio bukanlah anak kandungnya. Tetapi Nathan sangat menyayangi Gio seperti halnya Yusuf.


" Randy sudah di hubungi, Bram?" Tanya Senja.


" Sudah. Mungkin dia masih diperjalanan."


" Duduklah. Biar aku buatkan cappucino." Ujar Senja mempersilakan.

__ADS_1


Brama dan Nathan kembali duduk di sofa dan belum juga cappucino tersedia. Randy serta Nabila sudah tiba membawa putri mereka.


" Lho. kamu sudah melahirkan, Nab?" Nathan terkejut melihat bayi mungil dalam gendongan Randy.


" Iya. Apa kamu lupa, aku menjenguk mu sebelum pulang ke rumah." Ujar Nabila mengingatkan.


" Oh ya?"


" Ya. Tapi wajar saja kalo kamu gak ingat. Saat itu kamu baru sadar."


Randy duduk di samping Nathan dan Nathan segera memperhatikan wajah Ruby. Begitu cantik dan mungil.


" Ryan mana?"


" Dia di ajak keliling Eropa dengan kakek." Jawab Nabila cepat.


Nathan hanya manggut- manggut bagaikan pelatuk. Senja datang dan menyuguhkan 3 cangkir cappucino, 2 gelas orange juice. Kemudian Senja ikut bergabung bersama mereka.


" Jadi dimana kamu menemukan Nathan?" Tanya Randy penasaran pada Brama.


" Di sebuah desa terpencil. Dan ternyata Nathan disekap Wulan di sebuah rumah tua ditengah hutan." Brama menjelaskan. Randy menoleh pada Nathan. Nathan hanya mengangguk dan membenarkan cerita Brama.


" Apa yang Wulan lakukan di sana?" Nabila penasaran.


" Seperti biasa. Merayuku dan memanfaatkan keadaanku yang amnesia."


" Lalu?" Sambung Senja.


Nathan menundukkan kepalanya. Tak sanggup dia ingin memberitahukan bahwa dia juga sempat bercumbu mesra dengan Wulan karena pengaruh obat.


" Nathan diberi obat perangsang. Wulan sengaja terus mendekati Nathan yang saat itu sedang birahi tinggi." Brama yang bercerita.


Senja menatap Nathan tak percaya. Seketika bayangan Nathan bercumbu mesra bahkan sampai membayangkan jika Nathan dan Wulan melakukan hubungan suami istri. Mata Senja sudah berembun. Air matanya terbendung sempurna menunggu menetes.


" Aku tidak sampai melakukan hubungan yang lebih, Sayang." Ucap Nathan dengan wajah sendu. Tak tega rasanya melihat Senja berwajah sedih.


" Apa saja yang kalian lakukan?" Senja tak percaya.


Nathan mengangkat bajunya dan terlihat banyak tanda merah yang dibuat Wulan di sana begitu juga dengan dua tusukan itu masih terbungkus perban.


Senja ternganga dan menutup mulutnya agar tangisnya tak terdengar. Perih sekali hatinya melihat begitu banyak tanda merah di dada Nathan bahkan ada beberapa di bagian perut.


" Luka ini?"


Nathan hanya tersenyum tipis. " Wulan marah karena aku langsung tersadar tepat sebelum Wulan akan menduduki aku."


" Apa?!" Nabila tak percaya. Ada saja wanita gila yang seperti itu.


" Apapun yang terjadi di sana. Itu adalah diluar kendali Nathan, Senja. Jangan berpikiran buruk." Randy menyahut karena Senja terus saja meneteskan air mata.


" Iya. Yang terpenting sekarang. Kamu sudah kembali." Senja memeluk erat Nathan.


" Senja selalu untuk Nathan, bukan?" Ucap Brama dan disetujui Senja.


" Aku turut bahagia karena kalian akhirnya bisa kembali bersama." Ujar Nabila. " Semoga setelah ini tidak ada lagi orang yang akan mengganggu rumah tangga kalian lagi." Ucap Nabila dan di aminkan semua yang ada di sana.


Nathan menatap lekat Senja dan mendaratkan kecupan hangatnya pada kening Senja.

__ADS_1


________TAMAT_________


__ADS_2