
Senja menangis terisak di dalam pelukan Nathan. Tubuhnya terguncang karena isak tangisnya. Kelalaiannya membuat Senja harus berpisah sementara dengan Gio. Entah apa yang di inginkan Friska.
" Apa dia mengancam, Nath?" Tanya Bu Fitri yang menangkap aneh dari gelagat Nathan.
Nathan mengangguk. " Iya, Bu. Jika aku lapor polisi. Dia akan menyentuh Gio. entah akan dia apakan Gio."
" Oh Tuhan." Ujar Bu Fitri lirih. " Apa yang dia inginkan, Nath?"
" Aku." Jawab Nathan singkat.
" Apa maksudnya?" Senja kini menatap Nathan lekat dengan mata sembabnya.
" Satu jam lagi. Aku harus menikah dengan Friska. Baru dia akan melepaskan Gio." Jawab Nathan tanpa bisa melihat wajah Senja.
Senja menutup mulutnya. Tak percaya jika Friska akan melakukan hal yang sangat jauh sekali.
" Jangan, Nath!" Cegah Senja dengan isak tangisnya.
" Bagaimana dengan Gio?" Nathan kembali mengusap wajahnya.
" Tapi, Nath..."
" Minta bantuan Nabila, Nathan." Usul Bu Fitri.
" Aki tidak enak merepotkan Nabila terus, Bu." nathan merasa sungkan.
' Tok Tok Tok'
Senja segera membuka pintu. Terlihat di sana berdiri dua orang bertubuh besar dan berwajah garang. Senja menelan salivanya kasar.
" Saudara Nathan. Silahkan ikut kami, jika kalian ingin bertemu lagi dengan Gio." Ucap lelaki bertubuh legam dan menghampiri Nathan. Pria berbadan gempal dan berkulit sedikit lebih putih dari yang satunya segera mencengkram lengan Nathan kuat dan menariknya.
" Ponsel saya tertinggal." Ujar Nathan.
" Itu tidak diperlukan!" Ucapnya lagi dengan nada sangat tegas dan menarik lengan Nathan.
Nathan yang hanya memikirkan keselamatan Gio hanya bisa pasrah mengikuti langkah mereka yang membimbingnya memasuki mobil mereka. Senja hanya bisa menangis melihat suaminya di bawa paksa di depan matanya.
" Ikuti Senja." Bisik Bu Fitri pada Senja ketika mobil yang membawa Nathan jalan.
" Pak Budi! Cepat ikuti mobil yang membawa Bapak!" Perintah Senja dengan berteriak dan langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Supir pribadi Senja, Pak Budi segera menuruti perintah tuannya dan dengan cekatan melajukan mobil itu dan membuntuti mobil yang membawa Nathan dari kejauhan.
Dengan perasaan cemas. Senja mencari nomor ponsel Nabila.
" Halo, Nath." Sapa Nabila.
" Ini aku, Senja." Sahut Senja cepat. " Aku butuh bantuanmu." Ucap Senja tanpa basa basi.
" Bantuan apa?"
Senja menjelaskan pada Nabila dan tanpa berpikir panjang, Nabila segera mengerahkan anak buahnya menuju lokasi yang dibagikan Senja. Randy pun ikut serta.
" Ada aja masalah Nathan." Gimana Randy saat mereka sudah dalam perjalanan.
" Entah wanita seperti apa yang bisa berbuat sejauh itu. Apa tidak ada lelaki lain sampai harus merebut milik orang lain dengan paksa!" Omel Nabila dan memukul stir mobilnya.
" Sampai di sana. Akan aku pukul dia!" Nabila semakin geram.
Dengan posisi tangan di ikat di belakang. Nathan di bawa kembali memasuki sebuah villa yang cukup besar. Di sebuah ruangan itu telah di hias bunga- bunga berwarna putih dan tampak ada seorang lelaki memakai sorban di lehernya dan berpeci hitam telah duduk di hadapan Friska yang telah mengenakan kebaya putih dengan rambut telah disanggul.
" Itu calon suami saya. Bisa dimulai ijab kabulnya?" Ucap Friska dengan senyum manisnya menyambut kedatangan Nathan.
Pria bertubuh legam segera membuka ikatan di tangan Nathan dan memaksa Nathan untuk duduk.
" Dia aman sayang. Selesai kita menikah. Aku akan mempertemukan kalian." Ujar Friska santai.
Nathan menatap marah Friska yang terus saja memberikan senyum santainya. Wajahnya tampak sangat sumringah. Berbeda dengan Nathan yang amat menahan emosinya. Putranya jauh lebih penting dari apapun di dunia ini.
" Silahkan penghulu." Ujar Friska tak sabar.
Penghulu itu tampak menelan salivanya. Dan melirik ke kiri dan ke kanan yang berdiri tegap orang- orang berbadan tegap. Dengan tangan sedikit gemetar dia menjabat tangan Nathan untuk mengucapkan ijab kabul.
" Saudara Muhammad Nathan Ferdinand. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Friska Novita binti Mulyadi Rejo. Dengan mas kawin perhiasan emas seberat sepuluh gram di bayar tunai."
" Saya terima nikah dan kawinnya Friska Novita binti Mulyadi dengan...."
" Berhenti!" Teriak Senja menghentikan prosesi akad nikah tersebut.
" Senja." Ucap Nathan dan ingin menghampiri Senja.
" Hentikan dia. Lanjutkan akad kita!" Perintah Friska.
__ADS_1
" Jangan sakiti istriku, Friska." Ucap Nathan kesal ketika melihat lengan Senja dicengkeram kuat oleh anak buah Friska.
" Selesaikan akad kita. Maka anak dan istrimu selamat!" Ancam Friska dengan seringai liciknya.
" Arrghh.!" Nathan berteriak kesal dan dengan terpaksa kembali duduk dan menjabat tangan penghulu itu. Ekor matanya terus melirik Senja yang terus saja menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.
" Dia sangat mengganggu!" Omel Friska yang menyadari jika Nathan terus memperhatikan Senja. Senja langsung di bawa ke ruangan lain oleh orang- orang itu.
" Jangan sakiti Senja!" Teriak Nathan kesal.
" Selama kamu ikuti keinginanku, Senja akan baik- baik saja."
Nathan duduk kembali dan menjabat tangan penghulu itu. Penghulu itu mengucapkan kalimat ijab Kabul dan dengan fasih Nathan menjawab lantang.
Baru saja kalimat sah akan terucap. Tiba- tiba pintu kembali di terobos dan.. " Tidak sah!" Seru Nabila dan Randy yang dengan santainya menenteng balok kayu.
" Kamu menikah lagi dan tidak mengundang kami?!" Ujar Randy santai dan langsung melayangkan balok kayu itu pada anak buah Friska.
Anak buah Friska yang terdiri dari preman bayaran sangat mudah dilumpuhkan oleh Randy dan Nabila cs. Dengan santai Nabila menodongkan balok kayu itu tepat di wajah Friska. " Lepaskan mereka atau kayu ini akan mampir di wajah mulusmu!" Ancam Nabila dengan seringainya.
Friska yang gemetar melihat ke arah Nathan dan hanya diam ketika Nathan berdiri dan mendekati Randy dan Nabila.
" Pergi dari kehidupan mereka. Atau hidupmu tidak akan tenang." Ancam Friska lagi.
" I- I- I- Iya." Jawab Nabila dengan suara terbata- bata dan segera meninggalkan villa tersebut.
" Kirain elang ternyata cuma nyamuk." Ucap Nabila santai.
" Senja." Ucap Nathan dan langsung memeluk Senja erat.
Nabila hanya tersenyum getir melihat hal itu. Randy menyadari hal itu hanya menepuk pelan bahu Nabila.
" Gio." Ujar Senja senang melihat putranya di gendong oleh anak buah Nabila.
" Dia tidur." ucap anak buah Nabila saat menyerahkan Gio pada Senja.
Nathan menghampiri Nabila dan menjabat tangannya.
" Terima kasih. Untuk yang kesekian kalinya aku berhutang budi padamu." Ucap Nathan tulus.
Nabila tersenyum dan memeluk Nathan erat. Dia hanya ingin merasakan ketenangan walau hanya sebentar. Nathan menepuk hanya menepuk lembut bahu Nabila.
__ADS_1
" Aku akan menjaga keluarga kalian." Ujar Nabila dengan suara serak menahan tangis. Nabila segera keluar dari ruangan itu tak ingin Senja melihatnya menangis.
Randy menepuk bahu Nathan dan segera menyusul Nabila.