
Nathan dan Randy memasuki ruang private di sebuah restoran mewah. Nathan hanya berjalan santai memasuki ruangan itu tanpa curiga sama sekali berbeda dengan Randy yang sedikit gugup memasuki ruangan yang sudah ada beberapa pengawal Sintia.
Dengan langkah yang berat. Randy memasuki ruang private di ikuti dengan Nathan. Setelah Nathan masuk Randy terdiam dan berbisik.
" Maafin gue, Nath." Ucap Randy dan menepuk pelan bahu Nathan segera dia meninggalkan ruangan itu.
Nathan baru menyadari bahwa hanya ada Sintia di dalam ruangan itu. Dia langsung mengerti ucapan Randy. Tanpa di persilakan dia duduk di hadapan Sintia.
" Hai, Nathan." Sapa Sintia manja.
" Ada perlu apa?"
" Jangan seperti itu. Aku sudah meminta Randy untuk menyiapkan kencan kita. Biarkan ini jadi intens dan membuat kita nyaman." Ujar Sintia lagi dan meneguk wine yang ada di meja. " Minumlah."
" Aku tidak minum itu." Tolak Nathan.
" Oh ya. Lalu kamu suka apa? Biar aku pesankan."
" Tidak perlu." Tolaknya lagi. Wajah Nathan terlihat tegas dan menolak semua tawaran Sintia.
Semakin Nathan menolak semakin ingin Sintia memilikinya.
" Kamu tahu. Sikapmu ini padaku akan membawa petaka untuk sahabatmu dan keluarganya." Sintia berujar santai tapi dengan ancaman.
" Jangan berharap lebih dariku."
Sintia menatap Nathan marah. Tidak pernah dirinya di tolak seperti itu. Nathan sama sekali tidak tertarik dengannya.
" Aku bisa menghancurkan kamu, Nathan!" Bentak Sintia kesal.
" Silahkan." Nathan masih santai menanggapi. Percuma jika dengan emosi. Buang energi saja.
" Arrgghhh!" Pekik Sintia kesal dan menggebrak keras meja di hadapan mereka.
" Apa yang membuatmu begitu marah? Aku tidak berbuat sesuatu pun." Tanya Nathan dengan nada mengejek.
" Pengawal!" Panggil Sintia marah.
Seketika bodyguard yang sejak tadi hanya berdiri mematung di depan pintu ruangan melesak masuk.
" Ada apa, Nona?"
" Bawa dia!" Pekiknya marah.
Dua bodyguard itu langsung saja menangkap Nathan yang masih duduk santai. " Apa maumu, Sintia?" Tanya Nathan dan meronta.
" Aku mau kamu." Sintia menyeringai tajam.
__ADS_1
" Lepaskan aku."
" Tidak akan. Jika kamu tidak berjanji untuk bertemu lagi denganku. Jangan harap kamu akan bertemu ibumu." Ancam Sintia.
Mendengar kalimat ibumu. Menyadarkan Nathan akan wanita tua yang selalu menunggu kepulangannya. Tak terbayangkan bagaimana jika dia tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Kesehatannya baru mulai pulih. Dia tidak ingin membuat wajah itu kembali bersedih.
" Aku tahu kelemahanmu sayang." Sintia membelai lembut pipi Nathan.
Nathan memalingkan wajahnya menghindari sentuhan Sintia.
" Jangan sentuh ibuku." Nathan menatap tajam Sintia tanpa gentar.
" Aku tidak akan menyentuhnya. Tapi aku tidak akan membiarkanmu melihatnya lagi atau sekadar memberi kabar." Sintia kembali mengancam. " Mau bertemu lagi denganku atau dengan terpaksa aku harus menyentuh ibumu."
" Baiklah." Nathan mengalah. Semua demi ibunya. " Kapan pun kamu mau bertemu. Temuilah aku. Tapi jangan pernah sentuh ibuku."
" Baik sayang. Mulai sekarang. Kamu milikku." Ucapnya lagi dan mengecup lembut bibir Nathan.
Nathan tak membalas dia memalingkan wajahnya menghindari serangan Sintia. Sintia hanya tersenyum. Sangat mudah menundukkan pria ini. Walaupun belum sepenuhnya dia miliki.
" Lepaskan dia." Perintah Sintia pada dua pengawalnya.
" Kita lanjutkan lagi kencan pertama kita sayang." Ujarnya seperti tidak ada yang terjadi.
Nathan hanya diam dan menuruti kemauan Sintia. Makan malam bersamanya. Walaupun sebenarnya dia sangat muak dengan wanita di depannya.
" Biar aku antar." Cegah Sintia yang melihat Nathan akan pulang sendiri.
" Tidak perlu. Aku naik taksi saja."
" Jangan menolakku, Nathan. Aku juga ingin kenalan dengan calon ibu mertuaku." Ujarnya lagi dan segera menggandeng lengan Nathan.
Perlahan Nathan menarik lengannya yang di dekap Sintia tetapi kembali lagi Sintia memeluk lengan itu malah semakin erat. Risih begitu yang dirasakan Nathan saat ini. Wanita ini sangat agresif.
" Ini rumahmu?" Tanya Sintia ketika Nathan memerintahkan berhenti.
" Iya." Ujarnya dan segera turun dari mobil mewah Sintia.
Terlihat Bu Fitri yang sudah sejak tadi menunggunya di teras rumah. Di sunggingkan senyumnya ketika melihat putranya baru saja turun dari mobil. Namun detik berikutnya matanya memicing tak mengerti kenapa putranya datang dengan seorang wanita yang sekarang merangkul mesra lengan putranya.
" Siapa ini, Nak?" Tanya Bu Fitri ketika Nathan menyalami ibunya.
" Sintia." Jawab Nathan malas.
Sintia ikut menyalami Bu Fitri.
" Aku sudah bilang. Jangan menungguku diluar, Bu. Angin malam gak bagus buat kesehatan Ibu." Ujar Nathan lembut dan menggandeng ibunya untuk masuk ke rumah.
__ADS_1
" Ibu khawatir. Randy mana?" Tanya Bu Fitri karena ketika supir kantor Nathan membawa pulang mobil Nathan. Dia mengatakan bosnya pergi dengan Randy.
" Udah pulang duluan." Jawab Nathan asal. Entah dia langsung pulang atau tidak. Nathan tidak ingin memedulikannya. Merasa hari ini dia dijebak sahabatnya sendiri.
" Ibu istirahat ya." Ujar Nathan lagi dan membantu menaikkan kaki ibunya ketempat tidur.
" Wanita itu siapa? Kok mesra sekali sama kamu?" Tanya Bu Fitri merasa ada yang aneh.
" Nanti aku jelasin." Nathan beranjak.
" Jangan menyakiti Senja, Nathan." Nasihat Bu Fitri.
" Iya, Bu." Jawabnya pelan dan keluar dari kamar ibunya.
Terlihat masih ada Sintia berdiri manis menatapnya dengan seringai liciknya. " Siapa Senja?" Tanyanya tak suka.
" Bukan urusanmu. Pulanglah."
" Kamu hanya milikku, Nathan."
" Aku bukan milik siapa- siapa!" Bentak Nathan pelan tatapan matanya mengintimidasi. Sedikit gentar juga Sintia melihat sorot mata tajam Sintia.
" Kamu milikku. Hanya milikku!" Sintia mencoba menutupi rasa takut yang tiba- tiba mencuat karena sorot mata tajam itu.
Nathan menutup kasar pintu rumahnya. Ingin rasanya dia berteriak. Siapa sebenarnya Sintia itu. Wanita yang baru saja dikenalnya. Berusaha masuk ke hidupnya. mengancam keselamatan ibunya. Siapa dia. Siapa keluarganya. Nathan sama sekali tidak tahu apapun tentangnya.
" Randy." Gumam Nathan ingin mencari tahu siapa Sintia itu.
Berkali- kali dia menelepon tapi tidak juga ada jawaban dari Randy. Seolah temannya menghilang ditelan bumi.
" Bu. Aku harus pergi sekarang." Ujar Nathan pamit pada Bu Fitri. Belum sempat Bu Fitri bertanya tujuan Nathan. Anaknya sudah berlari keluar dari rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai di rumah Randy. Nathan mengetuk kencang pintu rumah Randy. Tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah. Rumah itu tampak kosong.
" ****!" Umpat Nathan kesal ketika dia mencoba menghubungi Randy kembali tidak ada jawaban darinya.
Nathan berkacak pinggang dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Tiba- tiba dering ponselnya berbunyi. Dengan segera dia lihat dan nama Sintia tertera di sana.
" Halo." Sapa Nathan malas.
" Jangan marah- marah sayang." Goda Sintia.
" Ada perlu apa lagi?" Tanya Nathan dingin.
" Gak ada. Cuma mau bilang. Jangan repot- repot mencari Randy." Ujar Sintia yang membuat Nathan terdiam seketika.
Dia langsung mengedarkan tatapannya kepenjuru arah mencari sosok yang mengikutinya.
__ADS_1