
Nathan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Friska.
" Kamu masuk duluan saja." Ujar Senja.
" Kenapa?"
" Aku hanya penasaran saja. Kira- kira apa yang akan dilakukan Friska padamu."
" Gak lucu Senja."
" Ayolah. Ikuti saja mauku." Senja memaksa Nathan untuk segera turun dari mobilnya.
Nathan berdecak sebal dengan ide istrinya. Dia sengaja mengajak Senja agar Friska tidak melakukan apapun padanya.
Nathan menekan bel rumah itu dan menunggu di depan pintunya. Tak perlu menunggu lama. Friska membukakan pintunya. Terlihat sekali jika Friska dengan sengaja ingin menggoda Nathan dengan menggunakan dress warna marun yang sangat seksi.
" Syukurlah kamu mau datang." Ujar Friska dan langsung menggandeng tangan Nathan namun segera Nathan menepis tangan Friska.
Senja yang masih melihat dari dalam mobil. Melihat Friska langsung menutup pintunya dengan terburu- buru ketika Nathan sudah masuk ke dalam rumahnya.
" Dimana Anggi?"
" Dia ada di kamarnya. Mau aku panggilkan atau kamu ke kamarnya saja?"
" Kakinya pasti masih sakit. Biar aku ke kamarnya." Ucap Nathan dan sedikit melirik ke arah pintu. Menanti istrinya menyusulnya masuk.
Friska yang seperti melihat kesempatan untuk mencumbu Nathan langsung mendorong Nathan ke tembok.
" Friska!" Bentak Nathan.
" Jangan menolakku. Kita belum bercumbu sayang setelah pernikahan kita." Friska seperti orang yang kehilangan kesadarannya terus saja menciumi dada bidang Nathan yang masih tertutup jas dan kemejanya.
" Wow.." Seru seseorang dan menghentikan aksi Friska yang berusaha membuka kancing kemeja Nathan.
" Senja!" Friska terperanjat. Wajahnya sangat terkejut melihat Senja berdiri di depannya dengan memegang ponsel di tangannya.
" Pernikahan yang mana Friska?"
__ADS_1
Friska terdiam.
" Pernikahan yang kamu paksakan dengan menculik anakku?!" Bentak Senja dan membuat Friska terdiam. Nathan hanya diam mendengarkan ucapan Senja.
Friska menarik sudut bibirnya. Menyunggingkan sebuah senyum licik. " Dia tetap suamiku juga Senja."
" Pernikahan itu tidak sah!"
" Sah atau tidak. Tetapi suamimu sudah mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu dan saksi." Friska masih tetap berargumen.
" Tapi aku sudah menalakmu pada saat Gio di rumah sakit." Sahut Nathan yang geram mendengar ucapan Friska.
" Aku tidak pernah menganggap ucapanmu yang itu sayang."
" Maaf Friska. Aku ke sini untuk menjenguk anakmu. Bukan bermesraan denganmu. Jika kamu masih melakukan ini. Sampaikan saja salamku untuk Anggi. Dan kamu jangan pernah menggangguku lagi." Ujar Nathan dengan nada dingin dan memberikan paper bag yang sejak tadi dia bawa pada Friska.
" Nathan!"
Nathan tidak menggubris panggilan Friska dan dengan santainya menggandeng istrinya keluar dari rumah Friska.
" Aaarrggghh.." Friska menjerit penuh keputus asaan meratapi kegagalannya lagi.
Friska berlari seperti orang kesurupan dan menghampiri Nathan yang baru saja akan memasuki mobilnya. Dengan sekuat tenaganya Friska menghunuskan pisaunya pada Nathan.
Nathan segera balik badan dan melihat Friska kembali menghunuskan pisaunya berkali- kali pada perut Nathan hingga Nathan terluka parah.
Senja yang terkejut melihat kejadian itu dari dalam mobilnya segera keluar dan mendorong Friska.
Senja segera berlari ke depan gerbang rumah Friska berteriak meminta tolong pada warga yang kebetulan lewat.
Dengan cepat warga berkerumun memasuki rumah Friska dan melihat Friska yang sudah gelap mata masih akan menghunuskan kembali pisaunya pada Nathan yang sudah tidak berdaya.
Dengan sigap. Seorang pria yang sepertinya cukup mahir dalam bela diri segera berlari ke arah Friska dan mengambil alih pisau yang di pegang Friska dan dengan mudah. Friska berhasil dilumpuhkan warga.
Nathan yang terluka parah dengan keadaan bersimbah darah langsung di larikan ke rumah sakit di bantu dengan iringan motor warga agar dapat mendapatkan akses jalan dengan mudah.
Senja hanya menangis dan berharap Nathan bisa tertolong.
__ADS_1
*****
Senja bersandar lemah menunggu operasi Nathan selesai. Keadaan Nathan sangat kritis ketika tiba di rumah sakit karena banyaknya darah yang keluar. Beruntung stok darah yang dibutuhkan Nathan sedang banyak tersedia di rumah sakit tersebut. Tidak dipedulikan lagi oleh Senja bajunya penuh dengan darah Nathan. Wajahnya terlihat muram dan kacau.
" Gimana keadaan Nathan?" Tanya Randy yang baru saja tiba bersama Nabila.
Senja hanya menggeleng lemah tak berdaya. Air matanya kembali tumpah membasahi pipinya. Nabila duduk di samping Senja dan mengelus lembut bahu Senja.
" Kenapa bisa ada kejadian begini sih?!" Omel Randy sambil memukul pelan tembok rumah sakit menahan kemarahannya. " Gue udah nyuruh Nathan laporin aja tuh perempuan. Tapi dia gak mau. Sekarang kalo udah begini. Gimana coba?!" Omelnya lagi semakin membuat Senja bersedih.
Seharusnya dia sudah melaporkan Friska saat dia menculik Gio. Tetapi tidak dia lakukan karena dia masih kasihan dengan anak- anaknya Friska jika dia di tahan. Tetapi jika sudah begini. Mau tidak mau. Friska harus di proses hukum.
Nabila melotot ke arah Randy yang terus saja mengomel. Nabila segera menarik tangan Randy menjauh dari Senja.
" Bisa gak sih ngomelnya nanti!"
" Gue kesel. Kenapa mereka terlalu baik?!".
" Simpen dulu keselnya. Liat Senja. Dia jauh terpuruk. Kejadian itu persis di depan matanya. Mikir dong!" Maki Nabila lagi. " Kalo gak bisa diem. Lebih baik elo pulang. Biar gue yang nemenin Senja." Bentak Nabila tegas pada Randy.
Randy hanya terdiam dan membuat pikirannya lebih terbuka dan menyadari keadaan Senja saat ini. Yang merasa marah, kesal dan sedih bukan hanya dirinya. Ada yang lebih terpukul. Senja sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Nathan.
Perlahan Randy mendekati Senja dan ikut duduk di samping Nabila.
" Lebih baik, kamu ganti baju dulu Senja." Bujuk Nabila yang telah menyiapkan baju ganti untuk Senja.
" Aku masih mau nunggu kabar Nathan." Ucap Senja dengan suara parau. Air matanya kembali menetes.
" Keadaanmu sangat kacau Senja. Bersihkan dirimu dulu. Biar aku dan Randy yang menunggu Nathan." Bujuk Nabila lagi.
" Aku akan segera kembali." Ucap Senja akhirnya mengambil paper bag yang sejak tadi diletakkan di bawah kursi oleh Nabila.
Nabila tersenyum dan Senja berjalan dengan sedikit terhuyung. Entah kenapa dirinya tiba- tiba sangat merasa pusing sekali.
Senja mencoba menyeimbangkan tubuhnya agar berjalan normal. Namun perlahan penglihatannya gelap dan...
' BRUK'
__ADS_1
" Senja.." Seru Nabila dan Randy bersamaan saat melihat Senja ambruk tak jauh dari mereka menunggu.