Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
86


__ADS_3

Perlahan Senja membuka matanya dan melihat ada Nabila sedang berbicara dengan dokter tak jauh dari ranjang yang di tiduri Senja. Kepalanya masih berdenyut. Tetapi jauh lebih baik daripada tadi.


Nabila menoleh ke arah Senja dan mengulaskan senyum pada Senja ketika dia melihat Senja telah siuman.


" Kepalaku pusing sekali Nabila." Keluh Senja.


" Berbaringlah dulu." Nabila mencegah Senja untuk bangkit.


" Bagaimana dengan Nathan?"


" Randy masih menunggu. Operasinya belum selesai."


" Aku sakit apa, Nabila?"


Nabila tersenyum dan menarik nafas panjang. " Selamat Senja. Kamu hamil." Ucap Nabila lembut.


Air mata seketika itu juga menetes kembali membasahi pelupuk mata Senja.


" Apa kamu tidak bahagia?"


Senja menggeleng dan kembali menangis. " Aku sangat bahagia. Anak ini sangat dinantikan Nathan." Ucap Senja lirih.


Kenapa kabar baik ini harus ada di antara kesedihan ini. Ayahmu tengah berjuang melawan maut. Kuatkan ayahmu, Nak. Bantu dia melewati masa sulitnya.


Senja mengelus lembut perutnya yang masih rata. Karena kehamilannya baru terhitung ukuran minggu.


" Sebaiknya kamu istirahat di rumah. Biar Randy yang menjaga Nathan." Bujuk Nabila ketika keadaan Senja sudah jauh lebih baik dan kembali ke depan ruang operasi.


Dari kejauhan tampak Randy sedang berbicara dengan seorang dokter yang masih menggunakan baju operasinya. Dan terlihat Randy langsung melakukan sujud syukur dan air mata haru menetes dari pelupuk matanya.


" Apa sudah ada kabar?" Tanya Senja tak sabar.


" Nathan sudah melewati masa kritisnya." Ucap Randy bahagia.


" Alhamdulillah. Ya Allah." Senja langsung melakukan sujud syukur. Bersyukur karena suaminya lolos dari maut.


" Sebentar lagi Nathan akan di pindahkan ke ruang rawat inap." Sambung Randy.


" Kita juga punya kabar bahagia." Ujar Nabila tak mau kalah.


Randy hanya diam menunggu dengan wajah tak sabar.


" Senja hamil." Ucap Nabila riang.

__ADS_1


Randy langsung melihat Senja. Senja langsung mengangguk.


" Eits. Istri orang!" Cegah Nabila cepat ketika Randy tak sengaja ingin memeluk Senja.


" Maaf Senja. Aku sangat bahagia." Ujar Randy senang.


" Sebaiknya kamu pulang saja. Biar aku yang menjaga Nathan." Ujar Randy.


" Tapi aku harus merawat Nathan."


" Ingat, Senja. Anak dikandunganmu sangat membutuhkanmu." Ucap Randy tegas dan di dukung oleh Nabila.


Senja hanya tersenyum dan mengalah.


*****


Tiga hari berlalu sudah. Nathan belum membuka matanya. Randy menatap sendu wajah sahabatnya yang pucat pasi. Tak menyangka jika sahabatnya harus berhadapan kembali dengan perjuangannya melawan maut. Pribadinya yang sangat baik dan santun tak bisa membuatnya terhindar dari bahaya. Randy yang sudah berteman lama dengan Nathan hanya menarik nafas panjang karena dia tahu betul bagaimana lika liku kehidupan Nathan selama ini. Kebahagiaan yang seharusnya sudah dia genggam. Selalu saja dirusak oleh orang lain.


" Elo harus segera sadar. Kasihan istri lo, Nath. Bolak balik ke rumah sakit dalam kondisinya yang sedang hamil." Ujar Randy berharap Nathan mendengar ucapannya.


' Klek.'


Suara pintu terbuka. Dan terlihat ada Senja yang baru saja tiba dengan makanan yang biasa dia bawakan untuk Randy. Sahabat suaminya ini tidak mengizinkan Senja menjaga Nathan selama di rumah sakit. Dia takut Senja kelelahan dan berpengaruh pada janin yang dikandungnya.


" Hari ini menunya seperti yang kamu minta kemarin." Ujar Senja sambil mengeluarkan beberapa kotak makan dari dalam tas.


Senja mengangguk.


Dengan semangat. Randy segera menghampiri Senja dan melihat makanan yang dibawa Senja.


" Wahh. Setelah sekian lama gak ketemu ayam goreng." Ujar Randy dengan mata berbinar.


" Bagaimana keadaan Nathan? Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Senja sambil memandangi wajah suaminya.


Randy menarik nafas berat. Kegembiraannya tentang ayam goreng sirna berganti dengan kesedihan.


" Belum. Jika ada perkembangan. Aku pasti mengabarimu, Senja."


Senja menarik nafas dalam dan perlahan menghampiri Nathan. Segala perlengkapan medis masih terpasang ditubuhnya. Bahkan Nathan masih bernafas dengan bantuan oksigen. Senja mengecup lembut kening Nathan dan mengelus lembut pucuk rambut Nathan.


" Hari ini aku harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Sekalian menjenguk Friska. Aku masih tidak habis pikir. Kenapa dia melukai suamiku." Ucap Senja dengan suara parau karena menahan tangisnya.


" Iya. Kamu hati- hati. Jaga kesehatanmu, Senja. Selama Nathan tidak berdaya. Aku merasa bertanggung jawab atas keselamatanmu." Ucap Randy.

__ADS_1


" Terima kasih." Senja menyeka air matanya yang menetes begitu saja. " Aku pergi dulu."


" Iya."


******


Setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih lima jam. Senja selesai juga memberikan keterangan kepada polisi termasuk memberikan vidio terakhir yang dia ambil sebelum kejadian itu. Vidio dimana Friska memaksa mencumbu Nathan.


Kini Senja duduk di dalam sebuah ruangan menunggu kedatangan Friska yang tengah di jemput petugas untuk menemuinya.


Friska datang dengan wajah yang tidak menunjukkan penyesalannya sedikitpun. Seringai licik di wajahnya terlihat sangat jelas. Kebencian sangat terpancar dari sorot matanya.


" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Senja sedikit berbasa basi pada Friska yang terus saja menatapnya sinis.


Friska menyeringai. " Bagaimana keadaan suamimu? Apa kamu sudah jadi janda?" Tanya Friska dengan sorot mata tajam.


Senja menarik nafas dalam berusaha mengatur emosinya yang mulai naik karena melihat sikap Friska yang arogan. " Kenapa kamu melakukan hal itu?"


" Kenapa kamu tidak melepaskannya untukku? Ini semua salahmu, Senja." Ujar Friska kembali menyulut emosi Senja.


" Aku tidak pernah menahannya. Jika dia ingin memilihmu. Aku tidak akan mencegahnya." Ujar Senja dengan nada bicara yang tenang.


" Munafik!" Sergah Friska kesal.


" Kenapa kamu melukainya?"


Friska tersenyum menyeringai. Raut wajahnya sangat menakutkan dengan sorot mata tajam. seakan ingin menerkam Senja.


" Dia tidak bisa kumiliki. Maka tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya." Bisik Friska tegas.


Senja menelan kasar salivanya.


" Bertaubatlah Friska. Kasihan anak- anakmu."


" Jangan menceramahiku!" Bentak Friska sambil menggebrak meja yang ada di depannya.


" Kamu yang membuatku seperti ini! Kamu harusnya m*ti menyusul suamimu!" Friska kembali berteriak marah pada Senja.


Senja yang mulai memuncak emosinya langsung berdiri dan menatap Friska tajam. Dia sunggingkan senyum sinisnya. " Kamu pikir suamiku saat ini telah meninggal?" Ucap Senja sambil menatap tajam Friska. " Dia baik- baik saja." Ucap Senja tegas. " Kamu kalah Friska. Kamu akan membusuk lama di penjara sedangkan aku akan bahagia bersama suami dan anak- anakku."


Friska kembali terdiam mendengar ucapan Senja. " Tidak mungkin! Aku men*s*knya berkali- kali. Bagaimana dia bisa selamat?!" Racau Friska yang tiba- tiba saja terlihat sepertinya seseorang yang kehilangan akal.


" Selamat membusuk di sini Friska." Ucap Senja lagi dan meninggalkan Friska yang terus meracau tidak jelas.

__ADS_1


Senja kembali menarik nafas dalam untuk meredakan emosinya yang meluap. Ucapan Friska saat di dalam kembali terngiang di telinganya.


Bagaimana mungkin dia begitu menginginkan suaminya. Apakah tidak ada pria lain lagi yang bisa dia kejar. Ah, Nathan. Kenapa banyak sekali wanita yang menginginkan dirimu? Kenapa harus berakhir dengan kamu yang berada dalam bahaya.


__ADS_2