Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
26


__ADS_3

Nathan duduk terdiam di sofa yang ada di kamar mewah Sintia. Otaknya terus saja berusaha mencari jalan keluar dengan masalahnya. Masalah yang bersumber dari Randy tapi sahabatnya itu bagaikan hilang ditelan bumi.


Cklek!


Pintu kamar mandi terbuka terlihat Sintia keluar hanya mengenakan lingeri seksi berwarna maroon. Nathan hanya melihat sekilas dan kembali mengalihkan pandangannya.


Sintia tersenyum nakal melihat sikap Nathan yang masih berusaha cuek dengan dirinya. Padahal dia sudah berpakaian super seksi seperti ini. Tidak mungkin Nathan tidak melihat tubuh mulusnya yang terbalut kain tipis ini.


Perlahan Sintia menghampiri Nathan yang masih berpakaian lengkap malah pakaian itu sekarang sudah rapi kembali.


Nathan menahan gejolak yang ada di dalam dirinya sebagai lelaki yang normal. Di tundukkan pandangannya agar tidak melihat Sintia. Tetapi dia lupa jika Sintia sangat menginginkan dia melihatnya. Perlahan Sintia berdiri di hadapan Nathan yang tertunduk.


" Pandang aku sayang." Rayu Sintia sambil mendongakkan wajah Nathan.


Nathan tetap berusaha menundukkan pandangannya.


" Kamu sangat menarik, Nathan." Ucap Sintia tak sabar. Dengan rakus dia langsung melahap bibir Nathan dan terus memberikan sentuhan pada lelaki itu.


Berkali- kali Nathan pun berusaha untuk menolak semuanya. " Aku sudah habis sabar, Nathan. Aku akan membawa ibumu." Ancam Sintia kesal karena merasa di tolak Nathan.


Nathan terdiam dan akhirnya dengan terpaksa dia mengikuti apa mau Sintia.


Maafkan aku, Bu. Gumam Nathan dalam hatinya. Melanggar apa yang ibunya ucapkan. Berzinah. Ya itu yang sedang dia lakukan sekarang dengan Sintia. Menjadikan dirinya pemuas gairah liar Sintia.


" Kamu hebat sayang." Puji Sintia yang puas dengan permainan Nathan.


Dengan sikap dingin. Tak ada ucapan apapun dari mulut Nathan. Dia segera berjalan ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang basah karena keringat.


Selang lima belas menit kemudian Nathan keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan rapih. Terlihat Sintia berbaring di atas kasurnya dengan wajah menggoda. Hanya tertutup selimut yang membentang.


" Lakukan lagi sayang." Goda Sintia lagi.


Nathan tidak menjawab. Dia mengambil jasnya yang tergeletak di atas sofa.


" Aku makin suka denganmu saat kau berkeringat sayang." Rayu Sintia lagi kini di telinga Nathan. Dia biarkan tubuh polosnya terekspos begitu saja di depan Nathan.


" Ini terakhir. Aku tidak akan lagi mengikuti maumu." Sergah Nathan tegas.


" Aku akan dengan terpaksa menyentuh ibumu." Ancam Sintia lagi.


" Sentuhlah ibuku. Jika terjadi sesuatu pada ibuku. Kamu yang akan aku cari. Akan aku kuliti kamu hidup- hidup!" Ancam Nathan dengan wajah dan tatapan matanya yang tajam.


" Kamu mengancamku?!" Pekik Sintia tak percaya ada yang berani dengan dirinya.

__ADS_1


Nathan tidak menggubris ucapan Sintia. Dia berlalu keluar dari kamar mewah itu dan menutup pintu dengan kasar. Tinggallah Sintia yang berteriak seperti orang gila.


*****


Sejak pagi tadi, Senja terduduk merenung menatap halaman rumahnya. Kejadian semalam masih terus terbayang dalam ingatannya. Sentuhan dari Reza mengingatkan padanya dengan peristiwa pahit itu. Berkali- kali dia menyeka air matanya yang jatuh. Ingin dia bercerita. Tetapi dengan siapa. Jika dia bicara dengan Nathan. Akankah dia akan memaafkannya karena Senja memenuhi undangan dari Reza.


" Mama kok nangis terus." Tegur Gio yang baru saja pulang dari sekolah.


" Engga sayang." Ujar Senja dan mengajak putranya masuk.


" Aku telepon papa ya."


" Jangan sayang. Papa pasti sibuk."


" Mama jangan nangis lagi ya." ujar Gio dan memeluk Senja erat.


Hanya Gio alasan kenapa dia masih bertahan sampai sekarang. Dia tumbuh menjadi anak yang baik.


Nathan masuk ke rumahnya dan buru- buru menemui ibunya. " Ibu." Panggil Nathan yang tidak menemui ibunya dimanapun. " Bi. Ibu kemana ya?" Tanya Nathan melalui panggilan telepon kepada Bi Sumi.


" Tadi Ibu di kamar. Ini Bibi lagi di jalan mau pulang."


" Ibu gak ada."


Nathan langsung menutup panggilan teleponnya.


" Sial! Pasti Sintia!" Maki Nathan kesal dan segera mengambil kunci motor.


" Halo. Sintia! Kamu bawa kemana ibuku?" Maki Nathan marah.


" Kamu temani aku dulu baru aku jawab." Goda Sintia dengan seringai liciknya.


" Jangan harap!" Tolak Nathan kesal dan menutup sepihak.


" Arrgghhh!!!" Nathan mengacak rambutnya kesal.


Nathan merasakan tubuhnya seketika lemas. Wanita yang selalu ingin dilindunginya kini tidak tahu keberadaannya. Nathan berpikir sejenak dan menimbang semua kemungkinan.


" Ibu benar- benar gak ada Nak Nathan?" Tanya Bi Sumi ikut khawatir. Nathan hanya menggeleng.


Telepon Nathan kembali berdering memecah kesunyian. Di lihatnya nama Sintia di sana. Malas rasanya dia menjawab panggilan telepon itu.


" Kembalikan ibuku. Atau aku kuliti kamu hidup- hidup!" Bentak Nathan kesal sebelum Sintia berbicara.

__ADS_1


" Sabar sayang." Sintia masih dengan suara menggoda. " Aku akan mengembalikan ibumu jika kamu berjanji akan selalu menemaniku dan melanjutkan permainan kita sayang."


Ingin rasanya dia menolak ajakan Sintia. Tapi di sisi lain Nathan sangat ingin bertemu dengan ibunya. " Kembalikan ibuku!" Maki Nathan.


"Ikuti dulu mauku. Jika kamu berjanji. Maka ibumu aku lepas." Sintia memberi penawaran.


" Baiklah." Akhirnya Nathan mengalah.


" Pilihan bagus. Tunggulah setengah jam lagi ibumu akan sampai dengan selamat." Ujarnya lagi penuh kemenangan.


" Nathan nathan. Kamu kira akan menang melawanku." Gumam Sintia bangga penuh kemenangan.


Lima belas menit berlalu sudah. Nathan menatap keluar dengan gusar. Benarkah ucapan Sintia. Hingga lima menit kemudian Bu Fitri muncul di ambang pintu. Jalannya yang tertatih membuatnya di bantu seorang lelaki bersetelan hitam- hitam.


" Ibu." Panggil Nathan senang dan penuh haru. Di peluknya erat tubuh wanita ini. Berkali- kali di ciuminya pipi ibunya.


" Kami kenapa Nak?" Tanya ibunya heran.


Nathan mengangkat kepalanya dan melihat Sintia berdiri manis di belakang ibunya. Dia melambaikan tangannya dengan senyum manisnya.


" Ibu dari mana saja?" Tanya Nathan panik.


" Ibu tadi duduk di depan. Dia menanyakan jalan menuju taman. Karena dia tidak mengerti ibu jelaskan. Dia mengajak ibu menunjukkan jalannya. Sampai di taman. Gak berapa lama ketemu Sintia. Ternyata dia temannya Sintia." Bu Fitri menjelaskan dengan santai. Berbeda sekali dengan Nathan. Jantungnya berdegup kencang karena takut ibunya akan terluka.


" Duduk dulu, Sintia." Bu Fitri mempersilahkan masuk.


" Iya Bu." Sahut Sintia ramah dan duduk di sofa ruang tamu Nathan. Matanya terus saja menatap Nathan tanpa berkedip.


Nathan mengantar ibunya ke kamar. Ingin rasanya dia mencabik wajah wanita licik itu. Nathan menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di depan Sintia.


" Sebaiknya kamu pulang!" Ucap Nathan kesal.


" Kamu harus bilang terima kasih sayang karena aku sudah mengantar ibumu dengan selamat." Sintia masih bersikap santai seperti tidak ada yang terjadi.


" Jangan pernah kamu sentuh lagi ibuku!" Gertak Nathan kesal.


Sintia menyunggingkan senyum liciknya. Dia menatap Nathan dengan tatapan mata dinginnya. " Selama ada orang- orang lemah disekitarmu. Kamu tidak akan mampu melawanku, Nathan."


" Aku akan melindungi mereka." Nathan berusaha menggertak Sintia.


" Dengan cara apa? Kamu hanya sendiri. Jika tidak tunduk padaku. Mau melindungi Ibumu dengan apa belum juga wanitamu. Aku sudah tahu mereka semua." Sintia tampak geram karena Nathan masih keras kepala tidak mau patuh.


" Mereka tidak ada hubungannya dengan urusan kita!"

__ADS_1


" Tentu ada sayang. Mereka berarti di hidupmu. Apapun yang menjadi penghalang akan aku singkirkan."


__ADS_2