Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
81


__ADS_3

Nathan menghentikan mobilnya pada halaman rumah yang cukup tua dan terdapat banyak anak- anak bermain di depan rumahnya. Melihat sebuah mobil yang sudah sangat mereka kenal. Mereka bersorak gembira dan beberapa langsung berlari menghampiri mobil dan beberapa masuk ke dalam sambil berteriak memanggil sang ibu panti.


Nathan turun dari mobil dan dengan cepat dia dikerubungi oleh anak- anak yang berebutan untuk mencium punggung tangan Nathan. Nabila dan Randy juga Ryan hanya tersenyum melihat Nathan begitu dicintai oleh anak2 itu.


" Ini temen Om Nathan. Salim juga dong." Ujar Nathan memperkenalkan Randy dan Nabila.


" Maasya Allah.. Nathan." Seru seorang wanita paruh baya dengan kerudung panjang yang menutupi tubuhnya menghampiri Nathan dengan gembira. Mata berbinar seolah rindu yang tertahankan kini tercurahkan.


Nathan segera mencium punggung tangan wanita itu bergantian dengan Randy juga Nabila dan Ryan.


" Ibu rindu sekali sama kamu, Nak. Alhamdulillah doa ibu terkabul." Ujar ibu itu sambil merangkul pinggang Nathan sembari membimbingnya memasuki bangunan rumah.


" Oh iya. Sebentar, Bu. Aku punya oleh- oleh buat anak- anak." Nathan segera menghampiri mobilnya lagi dan membuka bagasi mobil. Ternyata bukan hanya mainan yang Nathan beli ada beberapa makanan juga pakaian yang sudah dibeli Nathan sebelum bertemu dengan Randy.


" Banyak sekali, Nak." Ujar Bu Ratih meraih menerima bingkisan dari Nathan dan mainan yang di beli Nathan langsung dibagikan pada anak- anak.


" Mainnya gantian ya. Jangan rebutan." Ujar Nathan ketika ada beberapa anak yang saling tarik menarik pada satu mainan.


Nathan duduk di kursi kayu yang ada di ruang depan rumah itu. Nathan tampak memperhatikan seluruh keadaan bangunan yang cat temboknya mulai mengelupas dan ada beberapa tembok yang sudah mulai retak karena termakan usia.


" Ibu senang sekali kamu berkunjung, Nath." Ujar Bu Ratih sambil menyuguhkan tiga cangkir teh hangat juga beberapa potong kue.


" Senja tidak ikut?" Tanya Bu Ratih lagi.


" Dia sedang istirahat, Bu. Tadi kami kedatangan banyak tamu."


" Ada acara di rumahmu?"


" Engga. Hanya teman- teman Gio beserta orang tuanya datang menjenguk Gio." Jawab Nathan datar.


" Gio sakit?" Tanya Bu Ratih dengan wajah cemas.


" Engga. Hanya saja beberapa hari lalu kami kena musibah. Gio diculik." Jawab Nathan masih dengan wajah yang tenang.


" Ya Allah.. Terus bagaimana?"

__ADS_1


" Alhamdulillah. Gio berhasil diselamatkan. Mereka yang membantu saya." Nathan menunjuk Nabila dan Randy dengan tangannya.


" Terima kasih, Nak sudah membantu." Ujar Bu Ratih dengan wajah tulus.


" Sudah seharusnya, Bu. Saya dan Nathan sudah lama bersahabat. Saya pasti akan membantu Nathan jika dalam kesulitan." Sahut Randy dengan nada bicara yang sopan.


Hari mulai gelap. Nathan mohon pamit pada Bu Ratih tak lupa dia menyerahkan sejumlah uang yang sudah dia siapkan terbungkus rapih dalam amplop coklat.


" Terima kasih." Ucap Bu Ratih dan melepas kepergian Nathan dan juga Randy serta Nabila.


Nabila tersenyum melihat Nathan yang selalu berbuat baik pada orang lain. Kekaguman pada sosok Nathan semakin bertambah. Dia bukan hanya memberikan sumbangan. Tetapi Nathan ikut memperhatikan perkembangan setiap anak panti itu. Bahkan sekolah mereka ditanggung Nathan.


" Udah senyumnya." Tegur Randy pada Nabila yang terus mengulas senyum diwajahnya.


" Oh tuhan.. kenapa harus suami orang sih!" Rutuk Nabila pada dirinya sendiri.


" Makanya jangan baper." Sindir Randy. Nabila segera memukul lengan Randy yang memegang perseneling.


" Sakit, Nab." Omel Randy.


" Waduh.."


*****


Friska menatap tajam ke arah foto Senja yang dengan sengaja dia tempel pada meja riasnya. Dengan penuh amarah dia mencoret- coret wajah Senja yang tersenyum dengan lipstik merahnya.


" Mama lagi apa?" Tanya seorang gadis kecil dengan wajah polos penuh ketakutan.


Friska yang mendengar suara putrinya yang bergetar segera menoleh ke arahnya dan melemparkan senyum manisnya pada putri keduanya.


" Ada apa Rumi?" Tanya Friska mencoba mengalihkan perhatian Rumi yang sejak tadi terpaku pada foto yang dia coret- coret tadi.


" Aku mau susu. Tapi Bibi gak ada di dapur. Kata kakak minta mama aja." Ujar Rumi dengan wajah polosnya.


Friska mengelus lembut pipi gembul anaknya dan segera mengajaknya keluar dari kamarnya.

__ADS_1


" Kak Anggi lagi apa?" Tanya Friska sambil menggandeng tangan Rumi menuju dapur.


" Lagi belajar."


Friska segera mengambil kotak susu Rumi dan membuatkan susu Rumi di gelas yang biasa digunakan Rumi. Setelah selesai. Friska memberikan susu itu pada putrinya. Dengan cepat Rumi menghabiskan susu itu hingga tak bersisa. Friska mengajak Rumi untuk duduk sebentar dengannya. Sudah lama dia tidak berbincang dengan anaknya seperti ini.


" Mama mau tanya pendapat Rumi tentang om ini." Ucap Friska sambil menunjukkan foto Nathan dari ponselnya.


Rumi memperhatikan foto itu. " Ini papa?" Tanya Rumi yang memang belum mengenal ayahnya sama sekali. Karena ketika Rumi masih dalam kandungan Friska tujuh bulan. Suaminya pergi meninggalkan Friska begitu saja.


" Bukan. Tapi menurut kamu kalau dia jadi Papa Rumi bagaimana?" Tanya Friska.


Rumi hanya terdiam sambil menatap foto itu. " Mama. Rumi ngantuk." Ujar Rumi sepertinya belum mengerti untuk menilai seseorang.


Friska menarik nafas dalam dan segera menggandeng Rumi menuju kamarnya dan Anggi yang memang sengaja Friska tempatkan dalam satu kamar.


" Anggi. Temani adikmu ya." Ujar Friska pada putri sulungnya yang telah berusia sepuluh tahun.


" Iya, Ma." Jawab Anggi dan menghentikan kegiatannya yang sejak tadi sedang membaca buku.


Anggi mengelus lembut rambut adiknya yang baru berusia empat tahun itu.


" Kakak. Muka Papa itu kaya gimana sih?" Tanya Rumi sambil menatap wajah kakaknya.


" Kenapa Rumi tanya Papa?" Anggi merasa aneh dengan adiknya karena selama ini tidak pernah sekalipun dia menanyakan prihal ayah mereka.


" Tadi mama kasih liat aku foto. Tampan sekali kak. Itu kira- kira papa atau bukan ya?" Rumi masih menerka- nerka.


" Ada kumisnya gak?"


Rumi menggeleng." Gak ada, Kak."


" Seingat kakak. Papa itu punya kumis." Ucap Anggi yang hanya masih mengingat wajah ayahnya walaupun sudah hampir empat tahun dia menghilang tanpa kabar.


" Jadi itu siapa ya, Kak?"

__ADS_1


Anggi mengangkat bahunya. " Gak tahu. Udah ah. Tidur dek. Nanti kalo mama denger kamu belum tidur. Kamu dimarahin." Ucap Anggi dan Rumi langsung saja memiringkan badannya. Anggi dengan telaten merapikan selimut yang menutupi tubuh mungil adiknya.


__ADS_2