Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
120


__ADS_3

Nathan menatap air danau yang beriak tertiup angin. Semilir angin menerpa wajahnya. Nathan memejamkan matanya berusaha menikmati suasana pinggir danau yang tenang. Duduk dibawah pohon rindang. Membuat suasana semakin sejuk.


Senja hanya diam menatap suaminya yang sudah jauh lebih tenang. Amarah yang mulai mereda dapat terlihat dari Nathan yang mulai mengembangkan kembali senyum diwajahnya.


" Apa kamu begitu mencintai Ayuna?" Tanya Senja pada Nathan yang sudah jauh lebih tenang.


Mendengar pertanyaan istrinya. Nathan menoleh Senja dan menatap wajahnya lekat.


" Apa kamu sangat mencintai Ayuna?" Senja mengulang pertanyaannya tadi.


" Iya. Sampai saat ini. Aku mencintai dua wanita sekaligus. Kamu dan Ayuna. Maafkan aku Senja. Aku tidak bermaksud mendua." Ujar Nathan lirih dengan kepala tertunduk.


Ada rasa sesak yang berdesir dalam dada Senja saat mendengar jawaban suaminya. Tetapi dia pendam sedalam mungkin rasa sakit itu. Senja kembali mengembangkan senyum. " Ayuna memang pantas kamu cintai. Dia wanita yang baik." Ujar Senja mengelus lembut rambut Nathan.


" Kamu tidak marah?" Nathan mengangkat kepalanya.


Senja kembali tersenyum. " Tidak. Ayuna sudah menjadi bagian dalam hidupku. Usahaku menjauhimu. Tidak sia- sia saat itu. Akhirnya kamu bisa mencintai Ayuna." Kenang Senja.


Nathan mengecup lembut kening Senja. " Tetapi rasa cintaku padamu selalu muncul kepermukaan ketika melihat wajahmu."


"Yusuf haus sayang." Ujar Senja melihat Yusuf mulai gelisah.


Nathan melihat putranya yang mulai gelisah dalam gendongan Senja. " Kita pulang. Susui Yusuf di mobil saja." Nathan membantu Senja berdiri.


" Apa perasaanmu sudah lebih baik?" Tanya Senja ketika mereka berada dalam mobil.


" Sudah. Maaf kamu melihat sifat kerasku." Ujar Nathan penuh penyesalan.


Senja tersenyum dan membelai pipi Nathan.


" Kamu hanyalah manusia biasa yang punya amarah. Terima kasih selalu melindungiku."


" Terima kasih." Nathan memasang seat belt untuk Senja dan dirinya.


*****


Nabila duduk termenung di tepi kolam renangnya. Air yang beriak karena semilir angin. Sesekali dia memainkan ujung jari tangannya di air. Peristiwa semalam masih terekam jelas pada memori ingatannya. Bagaimana dia menyerahkan tubuhnya pada Randy. Mengikuti saran Nathan.

__ADS_1


Entah apakah rasa yang berkecamuk dalam dadanya adalah penyesalan atau apakah itu. Yabg jelas rasa itu semakin menggelitik Nabila membuatnya tidak nyaman.


" Memikirkan apa?" Tanya Pak Danny yang baru saja menghampiri cucunya.


Nabila sedikit terkejut dan menoleh ke arah kakeknya berdiri. " Tidak ada."


Pak Danny duduk pada kursi kayu yang memang diletakkan untuk bersantai. " Duduklah." Pintanya pada Nabila agar duduk pada kursi disebelahnya.


Nabila menurut dan duduk di sebelah Pak Danny.


" Apakah pria itu masih mengusik hatimu?"


" Engga, Kek."


" Jangan bohong." Pak Danny merangkul Nabila. Nabila menyandarkan kepalanya pada bahu kakeknya. " Jika kamu mau menyerah pada pernikahan ini. Kakek tidak akan melarang. Kakek ingin melihat kamu bahagia bukan tertekan dan murung seperti tadi." Ujar Pak Danny.


" Nabila bahagia, Kek. Randy sangat baik pada Nabila. Dia tidak pernah membentak Nabila sekalipun." Ujar Nabila.


" Apa yang membuat kamu murung?"


" Perasaan Nabila sedang tidak enak aja. Gak tau ada apa." Jawab Nabila.


" Kakek jangan khawatir. Lambat laun Nabila akan bisa mencintai Randy. Dia suami yang baik, Kek. Nabila pasti bahagia dengan dia." Ujar Nabila seolah mengerti kegelisahan dalam hati Pak Danny.


" Iya. Dia anak yang baik. Sebaiknya kalian liburan. Ambil cuti seminggu. Biar kakek yang mengurus perusahaan."


" Liburan? Belum diperlukan kayanya kek. Tapi nanti siang. Aku dan Randy juga Ryan. Mau jalan- jalan. Apa kakek mau ikut?"


" Kakek sudah tua. Kalian saja yang pergi." Ujar Pak Danny.


" Okey." Nabila mengecup pipi kakeknya.


Seorang anak buah Pak Danny datang dengan tergopoh- gopoh menghampiri Nabila dan Pak Danny yang mulai asik bercengkrama tentang masa kecil Nabila. Dengan wajah tertunduk, anak buah itu memberitahukan bahwa ada wanita yang bertemu dengan Randy.


Nabila yang penasaran. Segera bangkit dan berjalan cepat menuju pintu utama. Ada Randy sedang berdebat pada wanita itu. Nabila sedikit terkejut karena ternyata wanita yang dimaksud adalah Rena. Mantan istri Randy.


" Ada apa ini?" Tanya Nabila dan menatap Rena tak suka.

__ADS_1


" Aku ingin membawa Ryan." Ujar Rena ketus pada Nabila. " Dia tidak aman kalau tinggal bersama ibu tiri!" Tudingnya tajam pada Nabila.


" Apa maksudmu tidak aman. Aku sayang pada Ryan." sanggah Nabila cepat.


" Sebaiknya kamu pergi saja. Jangan ganggu aki dan Ryan lagi!" Randy sedikit meninggikan suaranya.


" Kamu lebih memilih perempuan ini dari pada aku yang sudah menemani kamu bertahun- tahun?!" Kedua mata Rena melebar menatap Randy marah.


" Jika tidak ada dia. Aku dan Nathan pasti sudah selesai karena Sintia. Itupun adalah ulahmu yang dengan mudahnya menerima uang dari perempuan licik seperti itu!"


" Bukankah kamu selamat. Nathan juga sudah bahagia dengan Senja. Wanita pujaan hatinya. Jadi tidak ada yang harus dipermasalahkan lagi. Aku hanya ingin kamu dan Ryan juga kembali bersamaku!"


" Erghh.."


Nabila segera menghentikan Randy yang hendak menampar Rena.


" Sebaiknya kamu pergi. Aku tidak melarang kamu jika sesekali ingin bertemu dengan Ryan." Ucap Nabila tegas.


" Aku akan ambil anakku!" Ujar Rena marah dan ingin menerobos masuk. Namun segera dihalau Nabila dan mendorong Nabila hingga terjatuh.


" Randy dan Ryan adalah keluargaku sekarang. Aku akan melindungi mereka jika ada yang ingin merebut mereka. Termasuk dari kamu! Perempuan tidak tau diri. Apakah ada rasa penyesalanmu karena meninggalkan mereka begitu saja?!"


" Pergi dari sini atau aku akan pastikan kamu mendekam dibalik jeruji besi karena menerobos masuk tanpa izin!" Ancam Nabila kesal.


Rena kehilangan kata- katanya dan langsung beringsut keluar dari rumah Nabila. Anak buah Nabila yang sejak tadi sudah siaga terus memperhatikan Rena. Mereka sejak tadi sudah dicegah Randy untuk tidak ikut campur.


" Apa kamu sudah mencintaiku?" Ujar Randy pada Nabila ketika Rena sudah menghilang dibalik pagar.


Nabila menatap Randy lekat dengan wajah manyun.


" Jangan seperti itu sayang. Kamu membuat aku gemas." Goda Randy pada Nabila dan sejurus kemudian. Randy menggendong Nabila menuju kamar mereka. Tak dipedulikannya Nabila yang terus meronta meminta diturunkan. Randy semakin semangat menuju kamar mereka.


Randy meletakkan Nabila di atas kasur putihnya dan menatap wajah istrinya yang hanya berjarak lima senti meter dari wajahnya.


" Sikapmu semakin membuatku mencintaimu." Ungkap Randy dan mencium singkat bibir Nabila.


Nabila tertegun. Nafasnya sedikit memburu. Pikirannya kembali tertuju peristiwa semalam lagi. Apakah Randy akan melakukan hal itu lagi padanya.

__ADS_1


" Kita siap- siap sekarang." Ujar randy yang sudah berdiri.


Nabila yang tertegun sedikit tersentak kaget mendengar ucapan Randy. Pikirannya yang tadi berkeliaran terlalu jauh. Kembali pada dirinya lagi. Wajahnya memerah karena malu.


__ADS_2