Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
34


__ADS_3

Setelah beberapa hari Nathan dirawat. Akhirnya Nathan diperbolehkan pulang oleh dokter. Senang akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit. Nabila menjemput Nathan. Sejak pagi dia sudah berada di rumah sakit untuk mengurus kepulangan Nathan. Dia membereskan baju yang digunakan Nathan selama di rumah sakit.


" Kenapa kamu terlihat senang sekali?" Tanya Nathan yang heran melihat Nabila terus tersenyum.


Nabila merasa sedikit malu karena kedapatan Nathan terus tersenyum. dan entah kenapa dia juga tidak mengerti kenapa terus saja tersenyum.


" Biar aku saja yang merapikan semua ini." Nathan ingin menggeser posisi Nabila.


" Kamu duduk saja. Biar aku yang merapikannya." Nabila bersikeras.


" Keras kepala." Sungut Nathan dan kembali duduk di tepi ranjangnya.


" Sudah siap semuanya. Ayo kita pulang." Ujar Nabila riang dan menenteng tas besar itu.


" Biar aku saja." Nathan kembali ingin merebut tas besar itu dari tangan Nabila.


" Biar anak buahku yang membawanya." Ujarnya dan langsung memberikan tas besar itu pada anak buahnya.


" Entah harus dengan apa aku membalas semua kebaikanmu." Ujar Nathan ketika mereka masih dalam perjalanan menuju rumah Nabila.


" Berikan hatimu." Sahut Nabila asal membuat Nathan terdiam.


" Aku bercanda." Sahut Nabila lagi dengan tawa renyahnya. Walaupun dalam hati dia sangat mengharapkan itu.


" Nanti siang aku harus kekantor." Ujar Nathan lagi.


" Kamu masih sakit, Nath."


" Pekerjaanku pasti menumpuk. Lagi pula kantorku sudah kehilangan pemimpinnya sudah sangat lama dan tanpa kabar. Aku takut ini akan berpengaruh pada performa perusahaanku." Nathan mencoba menjelaskan.


" Lihat wajahmu masih lebam. Jalanmu pun masih sedikit membungkuk." Nabila masih mencoba melarang.


" Bukan masalah besar."


" Ya baiklah. Terserah padamu." Nabila akhirnya mengalah.


Nathan hanya beristirahat sebentar di rumah Nabila dan kemudian langsung bersiap menuju kantornya. Lagi- lagi dia dikagetkan dengan kehadiran Nabila yang menghalanginya memasuki mobilnya.


" Aku tidak mengizinkanmu pergi sendiri." Ujar Nabila dan mengisyaratkan Nathan untuk memasuki mobil mewahnya yang lain yang sudah ada dua anak buah yang akan mengawalnya.


" Baiklah."Nathan hanya mengalah dan berjalan menuju mobil Nabila.

__ADS_1


Nathan memasuki kantornya dan di sambut dengan para karyawan yang menatapnya bingung juga senang melihat bos mereka kembali.


" Alhamdulillah. Bapak akhirnya masuk kantor." Sambut Silvi yang tak sengaja berpapasan dengan Nathan.


Nathan tersenyum tipis. "Bagaimana dengan perusahaan?"


" Beberapa hari lalu. Wanita yang dulu pernah datang bersama bapak." Silvi sedikit melirik kiri kanan melihat situasi sekitarnya. " Dia datang dan menggantikan Bapak." Ujar Silvi sedikit berbisik.


" Apa?!" Nathan sedikit tidak percaya dengan yang didengarnya. Silvi mengangguk dan menunduk takut.


Dengan tangan yang masih saja memegang perutnya karena menahan sakit. Nathan melangkah cepat menuju ruangannya dan benar saja. Ketika dia masuk Sintia tengah duduk santai sambil mengotak- atik laptop miliknya.


" Apa yang kamu lakukan?!" Sergah Nathan marah dan menarik paksa tangan Sintia agar beranjak dari kursinya.


" Pergilah!" Usir Sintia dan menghempaskan tangan Nathan.


" Kamu yang harusnya pergi. Ini kantorku!" Maki Nathan kesal.


Sintia menyeringai licik. " Mulai sekarang. Ini kantorku!" Ucap Sintia sambil terus menyeringai menatap Nathan tajam.


Nathan mengusap kasar wajahnya. Bisa saja dia menyeret perempuan itu keluar paksa. Tapi itu pasti akan menjadi hal yang memalukan untuknya dan akan membuatnya semakin geram. Nathan hanya ingin menyelesaikan masalah tanpa ada masalah.


" Hiduplah bersamaku. Dan hidupmu akan tenang." Rayu Sintia berbisik di telinga Nathan .


" Aku akan tetap di sini." Sintia duduk di kursi depan meja Nathan.


" Terserahlah." Nathan sudah lelah dengan sikap Sintia.


Sintia dan Nabila mempunyai sifat dan karakter yang sama. Pantas saja jika dulu mereka bersahabat. Pasti karena itu mereka bisa saling memahami.


Nathan mulai memeriksa berkas yang diberikan Silvi. Berkas- berkas yang sangat menumpuk. Wajar saja karena seminggu lebih dia tidak ke kantor karena ditahan Sintia. Setelahnya dia harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Nathan tampak serius mengerjakan pekerjaannya. Kehadiran Sintia yang terus menatapnya tak mengganggu konsentrasinya sama sekali.


" Apa kamu tidak menganggapku ada?" Tanya Sintia mulai kesal melihat Nathan mengacuhkannya.


Nathan tidak menjawab malah dia tetap membaca proposal yang ada di tangannya.


Sintia kesal dan bangkit dari duduknya. Dengan marah dia merebut berkas yang sedang dibaca Nathan dan melemparnya ke sembarang arah. Nathan hanya diam dan menarik nafas panjang. Dengan santainya Nathan kembali memungut berkas yang jatuh dan kembali membacanya.


" Lihat aku Nathan!" Pekik Sintia kesal karena tetap diacuhkan Nathan.


" Jangan menggangguku." Nathan masih tetap tak mengalihkan pandangannya dari berkas itu.

__ADS_1


" Ergghh...!!" Sintia semakin meradang dan kini dia merebut kembali berkas ditangan Nathan dan merobeknya.


" Apa kamu sudah puas?" Tanya Nathan yang hanya diam memperhatikan.


" Aku tidak akan melepaskanmu, Nathan!" Ancam Sintia semakin geram dan mencengkram leher Nathan.


" Jika aku mau melawanmu. Kamu akan kalah." Nathan masih bersikap santai dan membiarkan Sintia terus mengencangkan cengkramannya.


" Astagfirullah!" Pekik Silvi melihat Sintia sedang mencekik bosnya. Seketika dia langsung menghampiri dan menarik paksa tangan Sintia hingga akhirnya terlepas.


" Bapak gak apa- apa?" Tanya Silvi cemas melihat Nathan terbatuk- batuk. Nathan hanya menggelengkan kepalanya.


" Perempuan iblis! Keluar kamu!"Usir Silvi kesal.


Sintia yang kalap di katakan perempuan iblis. Segera menyerang Silvi. Menjambak dan saling mencakar terjadi di hadapan Nathan. Mau tidak mau. Nathan memanggil pihak security dan melerai dua wanita yang bertengkar karena dirinya. Nathan pun tidak luput dari serangan membabi buta Silvi dan Sintia.


" Berhenti!" Bentak Nathan dan seolah membuat Sintia juga Silvi sadar dan berhenti melakukan serangan. Selang beberapa menit. Pihak security masuk keruangan Nathan.


" Bawa perempuan ini keluar dan jangan sampai dia masuk ke kantor lagi apapun alasannya!" Perintah Nathan dengan menekan intonasi bicaranya.


" Nathan! Apa kamu gila? Aku sedang mengandung anakmu!" Bisik Sintia kesal dan meronta ketika security itu membawa paksa Sintia keluar.


Nathan memijat pelipisnya. " Apa benar Sintia sedang hamil?" Gumam Nathan menjadi gusar dengan kalimat Sintia. Mengingat ketika dia dan Sintia melakukan itu tak ada pengaman sama sekali.


Nathan mengacak kasar rambutnya. " Aku bisa gila kalau begini!" Maki Nathan pada dirinya.


" Nabila." Sapa Nathan melalui sambungan telepon.


" Iya."


" Bisakah kamu membantuku satu hal lagi?"


" Tentu. Ada apa?"


" Selidiki Sintia. Apa dia benar- benar hamil?" Ujar Nathan membuat Nabila terkejut mendengarnya.


" Apa maksudmu?" Nabila tak mengerti.


" Saat aku ke kantor. Sintia sudah ada di ruanganku dan dia bilang jika dia sedang mengandung anakku." Ujar Nathan sedikit malu dengan perbuatannya yang menuruti kemauan Sintia.


Nabila sedikit terkejut mendengar kalimat Nathan yang sebenarnya Nathan dan Sintia telah melakukan hal yang sangat jauh. Tak heran bagi Nabila yang sudah tahu watak serta sifat agresif Sintia. Tetapi kalau sampai hamil. Rasanya itu tidak akan mungkin. Karena yang dia tahu, Sintia selalu menjalankan keluarga berencana.

__ADS_1


"Aku akan selidiki." Ujar Nabila akhirnya.


"Terima kasih."


__ADS_2