Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
144


__ADS_3

" Duduk sini Nath." Pak Somad menepuk kursi di sampingnya memberikan titah pada Nathan untuk duduk.


Nathan menurut dan mendudukkan dirinya pada kursi tersebut.


" Ini, Pak." Amel memberikan sebotol antiseptik, alkohol dan kapas pada bapaknya.


" Kamu yang ngobati." Perintah Pak Somad pada Amel membuat gadis itu sedikit tercengang.


" Biar saya sendiri aja, Pak." Nathan segera mengambil kapas serta alkohol.


" Sudah. Biar si Amel saja." Pak Somad kembali merebut alkohol dan kapas dari tangan Nathan.


Dengan wajah tertekuk. Amel menuruti perintah bapaknya. Membersihkan luka luka kecil pada tubuh Nathan secara perlahan. Luka terparahnya ada pada bagian telapak kaki. Bagaimana tidak parah jika Nathan menyusuri hutan tanpa alas kaki. Lari sekuat tenaganya untuk menjauh dari rumah tua itu.


" Aw..' Ringis Nathan ketika Amel membersihkan pada bagian luka yang cukup besar.


" Kenapa gak pake alas kaki. Jadi luka begini. Jangan banyak berjalan dulu ya. Takut kena kuman lagi takutnya infeksi." Nasihat Amel dengan tatapan mata yang tak lepas dari luka Nathan. Amel begitu telaten membersihkan luka- luka tersebut. Setelah bersih. Amel memberikan cairan antiseptik untuk luka.


" Tingga wajah." Ujar Amel dan kembali mengambil kapas dan meneteskan alkohol kembali. " Maaf ya.' Amel perlahan membersihkan luka Nathan hingga beberapa kali Nathan meringis kecil menahan perih.


Amel yang baru menyadari jarak wajahnya dan wajah Nathan begitu dekat. Tiba- tiba saja jantungnya berdegup tak karuan. Amel memandang wajah Nathan yang putih bersih tanpa bekas jerawat. Hidungnya yang mancung. Matanya yang tajam namun meneduhkan serta bibirnya yang kemerahan. Membuat Amel enggan berpaling dari wajah itu.


" Heh! Di suruh bersihin luka. Malah bengong!" Omel Pak Somad dan memukul pelan tangan Amel.


" Ah-- Iya pak." Amel tersentak dan terkejut. " Ini sebentar lagi selesai." Ujar Amel dan buru- buru memberikan cairan antiseptik pada luka di wajah Nathan.


Amel merasa tidak bisa mengendalikan perasaan yang baru pertama kali muncul dalam dirinya. Wajah Nathan seolah mampu menghipnotis dirinya untuk terus memandang wajah lelaki yang belum dia ketahui asal usulnya.


" Kamu istirahat dulu ya. Nanti setelah kamu istirahat. Baru bapak mau tanya asal usul kamu." Ucap Pak Somad.


" Sejujurnya saja. Sebelum saya di bawa ke tempat itu. Saya berada di rumah sakit. Dan saya menderita amnesia, Pak." Jawab Nathan membuat Pak Somad tercengang. Karena akan sulit menemukan keluarga Nathan.


" Amnesia?" Tanya Pak Somad. Nathan mengangguk. " Itu teh... lupa ingatan kan?" Nathan mengangguk lagi.


" Haduh.. gimana ya buat kasih kabar keluarga kamu."


" Setelah istirahat. Biar saya berjalan saja pak. Siapa tau saja bisa sampai rumah." Ujar Nathan dengan senyum manisnya.


" Ngaco saja kamu! Jakarta tuh jauh kalo jalan kaki. Sudahlah. Kamu tidur dulu saja. Lihat tuh wajah kamu lusuh kurang istirahat." Ucap Pak Somad dan merasa omongan Nathan sangat ngaco dan dia masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Sementara itu....


" BOD*H KALIAN!" Hardik Wulan kesal pada Deki dan Bimo yang tidak berhasil menangkap Nathan.


" Larinya cepat banget. Kaya kijang." Keluh Deki merasa kelelahan karena sepanjang hari menyusuri hutan namun tidak membuahkan hasil.


" AHHH!!!" Wulan menggebrak meja yang ada di hadapannya dengan sangat keras.


" Sekarang bagaimana?"


" Besok pagi-pagi. Kita cari di rumah penduduk sekitar. Segera tangkap dia jika ketemu. Aku akan memberikan lelaki itu pelajaran!" Wulan tampak sangat geram dan meninggalkan kedua anak buahnya begitu saja.


*****


Bu Somad berjalan sangat cepat menuju rumahnya ketika melihat dua orang berbadan besar tampak mencari keberadaan Nathan dengan menanyakan pada warga sekitar. Bu Somad segera menutup pintu rumahnya rapat- rapat dan membangunkan suaminya yang masih terlelap.


" Ada apa, Bu?" Tanya Pak Somad dengan suara parau khas bangun tidur.


" Tadi ibu lagi belanja di warung teh Rini. Terus dateng dua orang badannya gede, Pak. Nanyain Nathan." Bu Somad menjelaskan dengan dada yang berdebar cepat karena takut.


" Yasudah. Kita sembunyikan Nathan dulu. Jangan sampe dia ketangkep, Bu. Kasihan dia." Ujar Pak Somad yang langsung bangun.


Pak Somad menepuk pelan wajah Nathan untuk membangunkannya. " Emmhh.." Nathan yang terlihat sangat lelah hanya menghela nafas dan kembali nyenyak.


Pak Somad dan Bu Somad bertukar pandang karena tegang. " Ibu bangunkan Nathan dan kalo bisa umpetin dia. Biar bapak yang menemui mereka." Usul pak Somad dan segera memasang wajah bangun tidurnya.


" Ada apa?" Tanya Pak Somad sambil berpura- pura menguap lebar.


" Kami sedang cari orang ini. Apa Bapak melihatnya?" Bimo menunjukkan foto Nathan pada layar ponselnya.


Pak Somad sedikit melebarkan matanya untuk melihat foto yang terpampang di sana. " Ganteng ya." Puji Pak Somad membuat dua orang itu jengkel.


" Bapak lihat tidak?!" Tanyanya kesal.


" Engga. Emangnya kenapa dia di cari?" Pak Somad kepo.


" Boleh kami periksa rumah Bapak? Dia ini orang yang berbahaya." Ucap Bimo meyakinkan.


" Ada anak gadis saya masih tidur. Tidak baik jika kalian masuk ke kamarnya."

__ADS_1


" Kami hanya memeriksa. Siapa tau saja dia masuk ke rumah bapak diam- diam. Dan bagaimana kalo dia menyekap anak gadis bapak?" Bimo kembali membujuk agar diizinkan.


" Silahkan atuh ya kalo begitu." Pak Somad tidak ingin dicurigai. Walaupun dia terlihat menelan salivanya kasar.


Pak Somad dan Bu Somad saling beradu pandang. Deki dan Bimo tampak menyusuri tiap ruangan di rumah tersebut. Dan mereka terpaku pada pintu kamar mandi yang terkunci.


" Siapa di dalam?" Tanya Deki dengan suara garangnya.


" Bentar. Masih kebelet." Jawab Amel dari dalam.


' Prroott Proott Proott.'


Terdengar suara orang yang sedang buang air besar dari dalam membuat Deki terlihat jijik dan segera menjauh dari kamar mandi.


" Ada?" Tanya Bimo yang selesai mencari sampai halaman belakang.


" Nihil." Sahut Deki.


.


" Kacau. Bisa ngamuk lagi tuh cewek!" Keluh Bimo dan beriringan berjalan menuju pintu dimana Pak Somad dan Bu Somad masih berdiri mematung.


" Di rumah ini tidak ada. Jika kalian lihat. Segera hubungi kami!" Perintah Bimo dan tanpa permisi keluar dari rumah Pak Somad.


Pak Somad menghela nafas lega. Sementara di dalam kamar mandi yang cukup sempit terlihat Amel menahan gejolak yang ada di dadanya karena berdua saja dengan Nathan di ruangan yang cukup sempit ini. Mau keluar tanpa aba- aba. Takut jika mereka masih ada di rumah. Tetap di dalam. Jantung Amel makin tak bersahabat karena berdekatan dengan Nathan.


" Keluar neng. Udah aman." Ucap Bu Somad berbisik.


" Ya Allah. Ibu. Ngumpetinnya bareng anak gadis kita?!" Omel Pak Somad merasa tidak percaya.


" Terpaksa, Pak."


" Gimana kalo dia macam- macam sama anak kita!" Omel Pak Somad lagi.


" Tidak mungkin saya macam- macam, Pak Saya sudah punya anak dan istri." Nathan yang sejak tadi hanya diam langsung menyahut.


" Apa?!" Seru mereka bertiga bersamaan sambil menatap Nathan tak percaya.


Tidak terlihat sama sekali dari wajahnya jika Nathan sudah menikah bahkan sudah menjadi seorang ayah. Amel menunduk kecewa karena ternyata hatinya jatuh pada orang yang salah.

__ADS_1


" Bukannya kamu bilang kamu amnesia? Kenapa ingat punya anak istri?" Tanya Pak Somad menyelidik.


" Istri saya yang menjaga saya saat di rumah sakit. Dan saat kejadian saya diculik. Istri saya sedang mengurus anak kami yang masih bayi." Nathan menjelaskan. Barulah mereka mengerti situasinya dan mengangguk mengerti.


__ADS_2