Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
68


__ADS_3

Senja menatap lekat pria yang sekarang sangat mencintainya. Pria yang saat ini sangat serius memeriksa laporan yang ada di mejanya.


" Apa kamu akan terus menatapku seperti itu?" Tanya Nathan tanpa menoleh ke arah Senja.


Senja tersenyum dan terus menatap suaminya sambil tersenyum. " Apa kamu selalu terlihat tampan seperti ini?" Tanya Senja dengan nada menggoda.


Nathan beralih menatap istrinya dan menghentikan kegiatannya. " Apa kamu akan terus menggodaku?" Nathan menatap lekat wajah istrinya.


" Jika itu menyenangkan hatimu. Akan kulakukan." Goda Senja.


" Jangan disini sayang. Aku takut tidak bisa menahan godaanmu." Gurau Senja menarik gemas hidung Senja.


Senja tersenyum manja. " Jangan terlalu tampan. Aku tidak mau semakin banyak yang menginginkanmu."


Nathan tersenyum menanggapi ucapan Senja. " Apa yang kamu ingin bicarakan sayang?" Tanya Nathan kini menatap istrinya serius.


" Bisakah kamu membatalkan kontrak dengan perusahaan Friska?" Tanya Senja dengan sedikit ragu. Dia takut jika Nathan akan marah.


" Alasannya?"


" Hemm.. Aku tidak ingin peristiwa semalam terjadi lagi padamu." Ucap Senja dengan wajah sedih.


Nathan menarik nafas dalam dan menatap lekat istrinya. " Jika itu membuat hatimu lega. Akan aku lakukan." Ucap Nathan.


Mendengar jawaban Nathan, Senja malah termenung seperti ada yang dia pikirkan lagi. Senja menarik nafas berat.


" Tapi.. Friska seorang single parents. Apa aku tidak terlalu jahat jika harus memutuskan kontrak sepihak?" Senja menjadi terlihat ragu.


Nathan tersenyum dan mendekati istrinya. Didekapnya erat tubuh mungil Senja. " Apapun keputusanmu. Aku akan lakukan." Ucap Nathan lembut.


Senja menarik nafas berat. " Bagaimana jika bukan kamu yang harus bertemu dengan Friska untuk mengurus kerjasama kalian. Apa itu bisa?" Tanya Senja yang tidak mengerti bisnis apa saja yang dijalankan suaminya. Karena terakhir dia dengar jika Nathan mulai berkecimpung di dunia pertambangan juga.


" Aku usahakan sayang. Tapi aku akan mengajakmu jika dia mau bertemu langsung denganku. Bagaimana?" Ujar Nathan seperti mengerti kebimbangan yang dirasakan istrinya.


" Ide bagus sayang." Senja mengecup lembut pipi Nathan.


" Aku mencintaimu." Bisik Senja mesra di telinga Nathan.


Nathan mengecup kening Senja.


" Aku harus pulang. Sekalian menjemput Gio." Ujarnya Senja.


Nathan mengantar istrinya sampai lobby depan. Tanpa mereka sadari. Entah berapa pasang mata memandang Senja dengan tatapan iri. Karena entah berapa wanita yang begitu mengidolakan Nathan dan berharap bisa memilikinya.

__ADS_1


" Biar aku naik taksi saja."


" Biar di antar Pak Tarno saja sayang. Hari ini aku tidak keluar kantor." Nathan tetap memaksa istrinya untuk diantar Pak Tarno.


" Yaudah. Aku pulang dulu. Bye." Ucap Senja ketika sebuah mobil sedan hitam sudah berhenti di depan lobby.


" Bye."


*****


" Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Pak Danny pada Nabila yang baru saja mengutarakan keinginannya untuk pindah keluar negeri.


" Gak tau, Kek. Aku udah terlanjur betah disini." Nabila masih terlihat bimbang.


" Lantas apa yang membuatmu ingin pindah?" Pak Danny menatap lekat cucunya yang kini hanya bertopang dagu. " Nathan?" Tebak Pak Danny.


" Engga juga."


Pak Danny tersenyum. Dia yang membesarkan dan merawat Nabila dari kecil sudah sangat hafal dengan sikap Nabila. Dia tahu apa Nabila berbohong atau tidak.


" Jangan lari dari masalah. Hadapi. Jika Nathan yang menjadi masalahmu. Selesaikan." Ucap Pak Danny yang tidak ingin cucu semata wayangnya menjadi pengecut.


" Tapi, Kek."


" Dia sudah menikah. Maka dari itu kamu harus bisa berdamai. Bukan menghindarinya." Pak Danny mendekat ke arah Nabila. " Jangan jadi pengecut. Kakek tidak suka itu." Ucapnya tegas.


Nabila menarik nafas panjang. " Baiklah. Besok Nabila akan bertemu dengannya." Nabila menyerah.


" Itu baru cucu Kakek." Ujar Pak Danny bangga sambil menepuk pelan bahu Nabila.


Walaupun Nabila adalah seorang wanita. Tetapi Pak Danny tidak pernah memperlakukan dia layaknya seorang putri raja yang manja. Ketegasannya sangat dia tularkan pada cucunya. Tetapi entah kenapa dia menjadi lembek menghadapi pria yang satu ini. Sebelumnya tak pernah Nabila bersikap seperti ini. Apa yang lelaki itu lakukan sampai Nabila bertekuk lutut tak berdaya hingga dia ingin menghindar.


*****


" Assalammu'alaikum." Sapa Senja dan Gio bersamaan ketika baru saja masuk ke rumah.


" Wa'alaikumsalam." Sahut Bu Fitri dan menyambut kedatangan mereka dengan wajah gembira.


" Kalian lama sekali pulangnya. Nenek udah kangen." Ujarnya pada Gio yang sedang mencium punggung tangannya.


" Maaf ya, Bu. Tadi aku sekalian mampir ke kantor Nathan." Ujar Senja dan membimbing mertuanya untuk duduk di sofa ruang keluarga.


" Urusan kamu udah selesai?"

__ADS_1


" Belum sepenuhnya. Tapi semoga aja bisa cepat selesai." Harap Senja yang tidak ingin mertuanya tahu tentang masalah yang sedang dia hadapi dan bahaya yang mengintai Nathan.


" Syukurlah kalo begitu."


" Ting Tong"


Suara bel berbunyi. Senja segera bangun dan membukakan pintu untuk orang yang baru saja menekan bel. Entah siapa. Hari ini Pak Mamat sedang izin karena sakit. Jadi tidak ada yang melaporkan siapa tamu yang datang.


" Riza?!" Seru Senja sedikit terperangah mendapati Riza berdiri di depan rumahnya.


" Hai, Senja." Ujarnya dan segera masuk tanpa dipersilahkan. Dengan segera Riza memeluk erat Senja.


Senja meronta dan berhasil melepaskan pelukan Riza yang tiba- tiba. Beruntung mertuanya tidak melihat adegan tadi.


" Kamu gila ya?!" Maki Senja dengan suara pelan tidak ingin Bu Fitri mendengar. " Mau apa kamu?"


" Aku kangen sama kamu." Jawab Riza dengan nada menggoda.


" Siapa, Senja?" Tanya Bu Fitri kini terlihat menghampiri Senja yang sejak tadi berdiri diambang pintu.


" Teman sekolahku." Jawab Senja.


" Suruh dia masuk. Tidak baik membiarkan tamu di luar lama- lama." Ujar Bu Fitri.


Riza memberikan senyumnya pada Bu Fitri dan mencium punggung tangan Bu Fitri. Riza duduk di sofa ruang tamu. Senja duduk di seberang Riza yang ditemani Bu Fitri.


" Kalian mengobrol saja. Ibu hanya menemani Senja. Tidak baik kalian hanya berdua." Ujar Bu Fitri santai.


Riza hanya tersenyum kecut dan menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal.


" Apa kamu sudah menikah, Za?" Tanya Senja memecah keheningan.


" Ah.. Ya.. Aku belum menikah. Karena aku masih mencintai wanita yang sama." Jawab Reza kini tatapan matanya menatap lekat ke arah Senja.


" Oh ya?" Senja hanya tersenyum sinis. Dia tidak akan membiarkan lelaki ini menghancurkan rumah tangganya.


" Iya Senja. Aku masih mencintai dia. Mungkin itu dulu cinta monyet. tapi nyatanya aku masih merindukannya. Dan aku senang sekarang aku bisa bertemu lagi dengannya." Ujar Riza.


Mata Bu Fitri seketika melirik tajam ke arah Riza. Apakah yang dia maksud adalah Senja.


" Jika yang kamu maksud itu Senja. Lebih baik lupakan. Senja sudah bahagia." Sahut Bu Fitri ketus.


Riza yang mendapatkan sikap dingin Bu Fitri sedikit terkejut. Karena sangat berbanding terbalik dengan keramahan yang tadi dia tunjukkan.

__ADS_1


" Bu.. Bukan, Bu." Bantah Riza dengan suara terbata.


Senja hanya menahan senyumnya melihat adegan itu. Ternyata mertuanya itu bisa bicara ketus seperti itu. Karena selama ini dia hanya mendengar suara lembut dari Bu Fitri.


__ADS_2