
Nathan menandatangani surat pembebasan dirinya didampingi Brama dan juga Wulan. Brama terus mencuri pandang ke arah Wulan yang sejak tadi menyembunyikan senyum penuh kemenangannya. Setelah semua proses pembebasan Nathan telah selesai. Wulan dengan cepat menggandeng tangan Nathan dan membimbingnya menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh dari mobil Brama.
" Apa kamu yakin?" Tanya Brama pada Nathan yang akan masuk ke dalam mobil Wulan.
" Tolong jaga keluargaku." Ujar Nathan dengan wajah tertunduk.
" Aku akan membantumu sebisaku." Ucap Brama sambil melirik tajam ke arah Wulan yang sejak tadi menatapnya tak suka.
" Terima kasih." Nathan memasuki mobil Wulan.
Ada perasaan sakit mengikuti kemauan Wulan di hati Nathan. Nathan hanya diam tak bicara ketika Wulan dengan mesranya terus menggenggam tangan Nathan dan menyandarkan kepalanya pada bahu Nathan.
" Sebaiknya pernikahan kita dilaksanakan hari Minggu saja ya." Ujar Wulan penuh semangat.
" Secepat itu?!" Nathan terkejut mendengarnya.
" Ya sayang. Lebih cepat, lebih baik." Ujar Wulan lagi. " Kita masih punya waktu tiga hari untuk melaksanakan pernikahan tersebut. Setelah itu baru kita urus perusahaanmu."
" Terserah kamu saja." Ujar Nathan pasrah.
Wulan terus merangkul lengan Nathan begitu mereka sampai di rumah Wulan. Dengan penuh semangat, Wulan menjelaskan setiap sudut ruangan pada Nathan. Nathan hanya diam tak berkomentar.
" Nah.. itu Zizi. Sepupuku." Wulan memperkenalkan mereka ketika bertemu di lantai atas.
" Nathan."
Zizi sedikit terpaku melihat Nathan hingga Wulan menyenggol bahu Zizi. " Zizi."
" Nah. Itu kamar kamu. Atau kita satu kamar saja?"
" Jangan." Tolak Nathan cepat.
Wulan langsung menatapnya tajam.
" Aku tidak menyentuh wanita yang bukan istriku. Maaf." Ujar Nathan datar. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun.
" Aku ingin beristirahat." Ujar Nathan dan tanpa permisi dia masuk ke kamarnya begitu saja.
Nathan menghembuskan nafasnya dan duduk di tepi kasur. " Ya Allah.. Bantulah aku." Harap Nathan dengan putus asa.
' Drrrrttt'
Nathan terlihat bingung karena ada getar ponsel di saku jaketnya. Seingatnya. Semua barang yang di tahan polisi sudah diambil Brama siang tadi. Kedua Netra Nathan membesar ketika dia mengingat jika dengan sengaja ada petugas kebersihan menabrak dirinya.
Nathan merogoh saku jaketnya dan benar saja. Ada ponsel dalam saku jaketnya. Tertera nama Brama pada layar ponsel tersebut.
Nathan mengintip sedikit keadaan diluar untuk memastikan keadaan aman. " Halo."
" Akhirnya kamu menjawab teleponku." Ujar Brama terdengar lega.
" Aku, Nabila dan Randy merencanakan suatu kejutan untukmu." Ujar Brama.
" Kejutan apa?"
__ADS_1
" Nanti kau akan tau."
" Hari Minggu aku dan Wulan akan menikah." Ucap Nathan datar.
" Apa?!"
" Jika kamu mau memberikan aku kejutan. Sebaiknya sebelum hari itu." Ujar Nathan dengan nada yang datar.
" Tapi itu tiga hari lagi." Brama langsung kehabisan akal. " Yasudah. Sembunyikan ponsel ini. Hubungi aku jika butuh sesuatu." Ujar Brama.
" Kamu memberikanku ponsel. Tapi tidak memberiku chargernya?"
" Ahhh ya.. Itu aku simpan di kantong jaketmu yang satunya." Ucap Brama. Nathan langsung meraba saku jaketnya yang satu dan benar saja. Ada charger kecil tersimpan di sana.
" Jika aku bisa bebas. Aku akan memberikan bonus besar untukmu." Ucap Nathan dengan wajah senang. Senyum pertama yang muncul semenjak kepergian ibunya.
" Aku tunggu bonusmu." Gurau Brama senang mendengar suara Nathan seperti dulu lagi.
*****
Tanpa terasa, air mata jatuh begitu saja di pipi Senja begitu mendengar suara Nathan. Suami yang sudah sangat dia rindukan. Brama menarik nafasnya dalam melihat reaksi Senja yang teramat bahagia mendengar suara Nathan.
" Apa kamu yakin ini akan berhasil?" Tanya Senja cemas.
" Ya. Aku yakin. Semua yang aku kumpulkan tidak sia- sia. Walaupun ini menentang perintah Nathan. Tapi aku melakukan ini demi menyelamatkan keluarga kalian. Wanita Psikopat itu harus mendekam di balik jeruji besi."
" Aku yakin itu tidak akan menahannya lama." Sahut Randy.
" Memang. Karena kasus yang menjeratnya tidak berat. Hanya ancaman dan pencemaran nama baik." Brama menjelaskan. " Andai saja Nathan mengizinkan untuk mengautopsi ibunya."
" Ya. Nathan bilang. Wulan yang telah melakukan itu."
" Nathan pasti tidak akan membuat ibunya menderita lagi." Ujar Randy mengerti bagaimana sifat Nathan.
" Ya. Itulah sebabnya aku tidak memaksanya."
*****
' Cklek.'
Nathan yang baru saja berbaring di kasurnya terkejut karena pintu kamarnya tiba- tiba saja ada yang membuka. Nathan segera menoleh ke arah pintu. Kamar yang temaram membuatnya hanya melihat samar- samar sosok wanita yang masuk ke kamarnya.
" Mau apa kamu?" Nathan langsung terduduk.
" Jangan tegang begitu sayang. Aku hanya ingin melihatmu." Ujar Wulan dengan suara menggoda dan duduk di samping Nathan.
" Aku lelah. Biarkan aku istirahat." Nathan langsung memunggungi Wulan.
" Aku tidak suka penolakan." Wulan menarik paksa tubuh Nathan agar kembali menghadap ke arahnya.
" Arrghh." Nathan langsung menghempaskan tangan Wulan dan berdiri menatapnya marah.
" Kamu mau melihat istri atau anakmu yang akan dimakamkan?!"
__ADS_1
" Teruslah mengancamku, Wulan!" Bentak Nathan kesal. " Terima kasih sudah membebaskanku." Ujarnya kesal dan langsung keluar dari kamarnya.
" Kamu mau kemana?"
" Pulang!" Jawab Nathan kesal dan dengan cuek berjalan menyusuri anak tangga.
" Berhenti Nathan! Kamu tidak bisa pergi!" Pekik Wulan dan mengejar Nathan yang sudah berada di tengah tangga.
Wulan semakin kesal karena panggilannya tidak dihiraukan Nathan. Dengan cepat Wulan berlari menghampiri Nathan yang sudah mendekati pintu dengan membawa sebuah vas bunga di tangannya.
' Buk'
Hantaman keras dilayangkan Wulan pada kepala Nathan. Nathan langsung terhuyung dan langsung kembali menghindar ketika Wulan kembali melayangkan pukulannya lagi.
" Aarrgghh!!" Teriak Wulan kesal dan kembali pukulannya tepat mengenai kepala Nathan kembali dan membuat Nathan tidak berdaya.
Darah mengalir deras dari kepalanya.
" Kenapa kamu tidak mengikuti perintahku!" Ucap Wulan dengan tatapan mata dingin memandang marah ke arah Nathan yang tidak berdaya.
Zizi yang sejak tadi ada di dapur karena merasa haus. Sedikit penasaran dengan keributan yang ditimbulkan Wulan. Zizi bersembunyi dan diam- diam memperhatikan kejadian itu. Betapa terkejutnya Zizi ketika Wulan pada akhirnya menyerang Nathan.
Zizi menghubungi polisi terkait dengan kejadian itu.
Beruntung, Polisi datang dengan cepat dan dapat dengan mudah menangkap Wulan yang masih diam berdiri memandangi Nathan yang tak sadarkan diri.
******
Randy memandangi putri kecilnya yang baru saja terlahir ke dunia. Wajah malaikat kecilnya terlihat sangat damai. Randy juga mengelus lembut rambut Nabila.
" Kamu bahagia?" Tanya Nabila yang melihat suaminya terus saja tersenyum.
" Ya." Randy kembali mengecup kening Nabila.
' Ddrrrttt'
" Brama." Gumam Randy melihat nama Brama pada layar ponselnya.
" Jawab saja."
" Ya." Randy menekan tombol hijau. " Ada apa, Bram?"
" Nathan masuk ke rumah sakit." Ucap Brama panik.
" Apa?!"
" Wulan menyerangnya."
" Apa?!" Randy kembali terkejut. Tidak percaya jika Wulan melakukan hal itu.
" Aku masih di rumah sakit. Biar aku melihatnya." Ujar Randy.
Nabila yang sejak tadi hanya mendengarkan Randy bicara. Memandangnya penuh tanya.
__ADS_1
" Nathan masuk rumah sakit. Aku mau menjenguknya dulu." Ujar Randy tidak menjelaskan secara rinci.