Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
109


__ADS_3

Gio menatap Senja yang sedang mengelus lembut perutnya yang membuncit. Sesekali dilemparkan senyumnya ke arah Gio yang sejak tadi memandangnya dengan wajah polosnya.


" Ada apa sayang?" Senja meraih Gio ke dalam pelukannya.


" Kalo adek udah lahir. Mama sama Papa sayang ama Gio juga gak?" Tanyanya polos.


Senja mencium kening Gio dan menatap wajah anaknya yang mulai besar. " Tentu sayang. Gio tetap anak Mama dan Papa yang tampan. Nanti kalo adek sudah lahir. Gio harus sayang juga sama adek ya." Ujar Senja dan meraih tangan Gio meletakkannya di atas perutnya yang bergerak.


Kedua netra Gio membesar ketika tangan kecilnya merasakan pergerakan dari adiknya yang masih di perut ibunya. Gio menatap Senja dengan takjub.


" Udah gak sabar ya ketemu adek?" Tanya Senja melihat reaksi Gio.


Gio mengangguk. " Adek pasti lucu ya ma."


" Iya sayang."


" Dulu Gio ada di perut mama juga ya?" Tanya Gio. Senja mengangguk. " Papa pasti sering elus- elus Gio dari luar gini ya?" Ujar Gio antusias. Membayangkan Nathan mengajaknya bermain dengan mengelus perut Senja sama ketika dia melihat Nathan mengajak adiknya bermain.


Senyum Senja meredup sejenak karena keadaannya sangat berbeda ketika hamil Gio. Entah apa yang akan Gio katakan jika suatu saat dia tahu bahwa Nathan bukanlah ayah kandungnya. Senja mengelus lembut pucuk kepala Gio dan menyunggingkan senyum getirnya.


" Assalammu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam." Sahut Gio dan Senja berbarengan.


Nathan menghampiri mereka dan mencium kening mereka. " Anak Papa lagi apa?" Tanya Nathan pada Gio.


" Main sama adik." Jawab Gio. Dulu Papa juga main sama Gio kan waktu Gio diperut Mama?" Tanya Gio dengan wajah cerianya.


Nathan mengacak lembut pucuk rambut Gio. " Iya sayang."


******


Nabila menyangga kepalanya dengan tangan di dagunya menatap Randy yang sejak tadi banyak diam. Makan malam yang membosankan. Nabila membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


Randy terlihat sangat canggung dihadapan Nabila. Randy melihat ke kiri dan kanan mengalihkan tatapannya agar tidak menatap wajah Nabila. Sesekali Randy tampak mengaduk minumannya.


" Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Nabila tak sabar karena kebosanan sudah merajai dirinya.


Randy melihat Nabila sekilas. Namun rasa gugup itu tak kunjung menghilang. Randy kembali mengaduk minumannya dan menyeruputnya sedikit kemudian dia menundukkan kepalanya. Mencoba merangkai kata- kata.


" Jika kamu masih diam. Aku akan pulang." Ancam Nabila dan segera bangkit.


" Maukah kamu menikah denganku?" Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Randy yang panik ketika Nabila akan pergi.


Nabila menyunggingkan senyumnya dan kembali duduk menatap Randy yang terus saja menunduk seolah yang dia tatap saat ini sangat menarik.


" Apa kamu serius?" Tanya Nabila menyelidik.


" Iya." Randy masih tidak berani menatap Nabila.


" Ayolah. Kamu mengajakku menikah tetapi kamu masih saja menatap lantai." Omel Nabila yang gemas melihat sikap Randy yang sangat terlihat gugup.


Perlahan Randy mengangkat kepalanya dan mencoba menatap wajah Nabila yang menyunggingkan senyum kearahnya.


" Aku akan pikirkan." Sahut Nabila. " Aku senang kamu berkata jujur."


" Oh ya?"


" Ya. Berikan aku waktu tiga hari. Aku juga harus mendiskusikan hal ini dengan kakek." Ujar Nabila.


" Aku sudah memintamu pada Pak Danny. Dia bilang coba tanyakan saja padamu." Sahut Randy cepat.


Kedua netra Nabila membesar tak menyangka jika Randy sudah lebih dulu bicara dengan kakeknya. " Baiklah. Lusa akan aku berikan jawabannya." Ujar Nabila.


Randy tersenyum walaupun dia tahu jika hari ini dan esok. Tidurnya tidak akan bisa nyenyak karena memikirkan jawaban yang akan diberikan Nabila. Perasaan yang dialami Randy saat ini sangat berbeda ketika dirinya melamar Rena dulu. Tak segugup ini rasanya.


" Bagaimana dengan pembangunan kita?" Tanya Nabila mengalihkan pembicaraan agar suasana tak menjadi canggung.

__ADS_1


" Lancar. Semua surat- surat sudah siap. Sudah diatur oleh orang-orangnya Nathan sudah masuk dalam pembangunan tahap pertama." Randy menjelaskan.


Proyek kerja sama yang kedua dengan perusahaan Nathan jauh lebih lancar daripada yang pertama dulu. Tak ada oknum nakal lagi yang bermain.


Nabila menyunggingkan senyum puas mendengar jawaban Randy.


*****


Nathan hanya diam melihat Rena yang menangis sesenggukan di hadapannya. Rena yang pagi- pagi sekali sudah tiba di kantornya bahkan sebelum Nathan datang ke kantor. Rena sudah ada di sana menunggunya di ruang tunggu dekat pintu masuk. Ketika melihat Nathan masuk Rena segera menghampirinya dan duduk bersimpuh meminta maaf di hadapan Nathan hingga membuat Nathan berhenti dan tampak bingung melihat kedatangan Rena yang tiba- tiba. Nathan yang tidak ingin menjadi tontonan karyawan yang lain. Mengajak Rena masuk ke ruangannya.


" Apa sudah selesai?" Tanya Nathan datar bosan melihat tangisan wanita itu. Entah itu air mata penyesalan yang tulus atau hanya sebuah sandiwara.


Rena yang sejak tadi menunduk. Mengangkat wajahnya dengan hidung merah dan mata yang sembab melihat Nathan.


" Apa kamu benar- benar memaafkan ku?" Tanya Rena disela tangisnya.


Nathan mengangguk.


" Syukurlah."


" Aku hanya menyesalkan dengan sikapmu yang meninggalkan Randy dan Ryan begitu saja hanya karena masalah ekonomi." Keluh Nathan yang kecewa dengan sikap Rena.


" Aku benar- benar bingung saat itu, Nath." Ujar Rena dan kembali menangis.


Nathan menarik nafasnya dan melirik jam tangannya. Hampir satu jam Rena menangis di ruangannya. Dan Hampir satu jam pula waktunya terbuang percuma.


" Aku mau bertemu dengan Randy dan meminta maaf padanya." Ujar Rena. " Apa kamu tahu dimana Randy dan Ryan sekarang?"


" Randy sudah memaafkanmu. Tidak perlu lagi kami mencarinya. Biarkan dia menata kehidupannya lagi membesarkan anak kalian."


" Tapi, Nath.."


" Waktuku sudah terbuang percuma, Rena. Urusanmu denganku sudah selesai. Silahkan kamu keluar. Aku tidak mau mencampuri urusanmu dengan Randy." Ujar Nathan tegas dan duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


Rena yang tak mampu berkata apa- apa lagi karena melihat Nathan yang sudah marah. Nathan memang orang yang sabar. Tetapi ketika dia marah. Tak akan ada lagi yang dipedulikannya. Kata yang keluar dari mulutnya adalah perintah bagi siapa saja yang dia tujukan kemarahannya.


Nathan segera menghela nafasnya kasar. Entah kenapa masalah yang sudah lama berlalu terkadang selalu muncul kembali kepermukaan. Masalahnya dengan Sintia adalah masalah paling besar yang dialami Nathan. Keadaan memaksanya mengikuti kemauan perempuan itu. Bahkan hingga sekarang Nathan selalu merasa teramat bersalah karena melakukan hal yang sangat dilarang dalam agamanya.


__ADS_2