
" Apa kamu yakin ini rumahnya?" Tanya Fumiko kepada anak buahnya sambil menatap tajam rumah Nathan.
" Iya, Nyonya." Jawabnya.
Fumiko tersenyum licik dan membayangkan bagaimana Nathan akan menyerah ketika orang- orang yang dicintainya dalam bahaya. Fumiko menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
" Apa kita jalankan sekarang, Nyonya?"
" Nanti. Ketika sudah sepi." Ujarnya lagi.
Fumiko dan empat anak buahnya yang tersisa menunggu dengan sabar untuk menjalankan aksi mereka. Belum terlihat Senja keluar dari rumah tersebut hingga membuat Fumiko sedikit merasa geram.
" Jalankan rencana B!" Ujar Fumiko yang mulai kesal karena tidak terlihat orang yang keluar masuk ke rumah Nathan.
Anak buah Fumiko langsung membuka kemeja hitamnya dan menggantinya dengan jaket kurir. Dengan berbekal sebuah kotak yang dibungkus rapih. Anak buah Fumiko menghampiri rumah Nathan.
Terlihat dari kejauhan anak buah Fumiko berbincang dengan Pak Mamat. Dan setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya Senja terlihat sedang berbicara dengan anak buah Fumiko yang menyamar. Setelah mendapat kode untuk menjalankan aksi mereka. Anak buah Fumiko langsung menancap gas dan berhenti tepat di depan rumah Nathan. Dengan sigap. Anak buah Fumiko yang menyamar langsung membekap mulut Senja dengan tangannya dan menyeret Senja menuju mobil yang telah siap untuk tancap gas.
" Neng Senja " Pak Mamat yang baru selesai meneguk segelas air putih langsung berteriak ketika melihat Senja diseret paksa oleh kurir dan langsung mengejar mobil yang membawa Senja.
Pak Mamat yang tidak lagi muda terlihat ngos-ngosan. Nafasnya tersengal- sengal karena berusaha mengejar mobil itu. Usaha Pak Mamat sia- sia. Suasana komplek perumahan yang sepi juga tidak menguntungkan Pak Mamat.
Dengan tangan yang gemetar, Pak Mamat menelepon Nathan dan memberikan kabar buruk tentang Senja. Nathan yang mendengar hal itu langsung memutuskan untuk pulang dan mengecek rekaman cctv untuk mengetahui ciri- ciri orang yang membawa Senja.
Nathan yang menyempatkan diri mampir ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian itu. Langsung membawa polisi ke rumahnya untuk melihat rekaman cctv yang memang terpasang di rumahnya.
" Maaf, Den. Tadi saya hanya tinggal minum di pos sebentar." Ujar Pak Mamat dengan wajah bersalah ketika Nathan baru saja tiba.
Nathan hanya menepuk bahu Pak Mamat pelan dan menghela nafas panjang. Menyalahkan tak akan ada gunanya. Nathan segera ke ruangan cctv dan mengecek rekaman cctv tersebut.
Setelah beberapa jam tak ada kabar tentang Senja. Nathan mulai kebingungan. Dan mau tidak mau. Nathan kembali meminta bantuan Nabila dan anak buahnya untuk menemukan Senja.
Saat itu, Nabila terkejut karena selama ini Nabila sudah menugaskan anak buahnya untuk melindungi keluarga Nathan. " Apa yang kalian lakukan?" Maki Nabila melalui sambungan telepon.
" Maaf, Non. Tadi saya ke toilet." Jawab Anak buah itu takut.
__ADS_1
" Temukan Senja. Jika terjadi apa- apa. Kamu yang bertanggung jawab!" Sergah Nabila kesal.
" Bagaimana ini, Nath. Apa belum ada yang menelepon juga?" Tanya Bu Fitri cemas. Air matanya sudah mengering karena sejak tadi dia menangisi nasib Senja sekarang.
Nathan menggeleng lesu. Tangannya terus menggenggam erat ponselnya berharap ada kabar dari penculik Senja.
" Semoga Senja baik- baik saja." Ujar Virni dan menyuguhkan teh hangat pada Nathan juga Bu Fitri.
" Bagaimana dengan Gio, Bu?" Tanya Nathan mencemaskan Gio.
" Dia baru saja tidur. Tadi aku menemaninya." Jawab Virni mendahului Bu Fitri.
" Terima kasih."
Nathan memijit pelipisnya dan berkali- kali menarik nafas dalam. Anggota kepolisian juga sudah kembali ke kantornya dan melakukan pencarian pada Senja.
' Dddrrttt'
Nathan tersentak karena ponselnya tiba- tiba saja bergetar. Nathan melihat layar ponselnya dan terlihat nomor tak dikenal. Tanpa komando. Bu Fitri dan Virni langsung terdiam dan menyimak pembicaraan Nathan.
Nathan menautkan kedua alisnya. " Siapa kamu?"
" Jangan ketus begitu. Senja bersamaku." Ujarnya lagi dengan nada menggoda.
" Apa maumu?" Tanya Nathan dingin yang sebenarnya masih belum bisa menebak siapa orang ini.
" Aku hanya ingin kamu datang sendirian. Aku akan mengirimkan alamatnya. Jangan macam- macam. Atau istri dan calon anakmu tidak selamat!" Ancam wanita itu dan langsung menutup sambungan teleponnya.
" Halo! Halo!" Nathan berteriak marah. " Si*l!" Makinya kesal karena teleponnya telah terputus. Dan setelah alamat terkirim. Nomor tersebut sudah tidak bisa dihubungi kembali.
" Bagaimana, Nath?" Tanya Bu Fitri yang sejak tadi menanti kabar Senja dengan jantung yang berdebar.
Nathan memperlihatkan layar ponselnya dan tertera sebuah alamat.
" Dia memintaku untuk datang sendiri, Bu." Ujar Nathan.
__ADS_1
" Apa ada kaitannya dengan kasusmu diculik beberapa waktu lalu?" Tanya Bu Fitri.
Barulah Nathan menyadari pemilik suara itu. Fumiko. " Aku harus menyelamatkan istriku, Bu. Maaf jika nantinya aku salah melangkah." Ujar Nathan dan mencium punggung tangan ibunya dan berjalan cepat menuju mobilnya.
" Minta bantuan Nabila, Nath." Usul Bu Fitri.
" Sudah, Bu. Tapi aku harus segera menyelamatkan istriku." Nathan segera berlalu.
Di tempat yang berbeda...
Senja yang terikat kencang pada sebuah kursi kayu terus berusaha meronta. Mulutnya tersumpal kain hingga dia tidak dapat mengeluarkan suara.
Fumiko hanya tersenyum picik melihat wajah Senja yang telah basah oleh peluhnya dan dipenuhi ketakutan. " Suamimu akan menebus mu, Sayang." Ujar Fumiko sambil menatap Senja tajam.
" Kamu beruntung. Karena kamu akan melihat kemesraan suamimu denganku." Bisiknya lagi pada telinga Senja.
Senja langsung menggeleng cepat dan tanpa terasa. Air mata langsung mengalir deras membasahi pipinya ketika membayangkan Nathan bercumbu dengan wanita lain.
Fumiko semakin mengembangkan senyum liciknya penuh kemenangan melihat reaksi Senja yang begitu tidak rela. " Dia akan melakukannya. Dia tidak punya pilihan lain." Ucap Fumiko meyakinkan.
Senja kembali menangis. Mungkin jika mulutnya tidak tersumpal. Kata- kata sumpah serapah pasti akan meluncur dari mulutnya untuk wanita paruh baya itu.
" Ada apa Nabila?" Tanya Nathan sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
" Apa kamu gila benar- benar kesana sendiri?"
" Istriku dalam bahaya. Aku tidak punya waktu lagi." Jawab Nathan. " Ikuti saja GPS ku. Maaf merepotkanmu lagi." Ujar Nathan dan langsung menutup sambungan teleponnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama. Nathan telah sampai pada alamat yang tertera. Hanya ada sebuah rumah kosong yang gelap gulita. Nathan segera turun dari mobilnya mengintip ke dalam melalui kaca jendela. Namun tidak terlihat apapun. Suasananya terlalu gelap.
" Ikuti kami!" Ucap seseorang dari belakang Nathan sambil menodongkan sebuah senjata api.
Nathan tak berani menoleh dan menuruti keinginan orang tersebut yang menggiringnya ke dalam mobil mereka.
Salah seorang itu langsung memeriksa sekujur tubuh Nathan. Dan mengeluarkan ponsel Nathan dari sakunya dan melemparkan begitu saja ponsel Nathan ke sembarang arah.
__ADS_1
Nathan tetap berusaha tenang. Karena dia sudah memiliki rencana B. Dan sudah pasti Nabila akan segera mengetahuinya ketika dia sampai di tempat ini.