
Hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Seakan langit ikut merasakan duka yang mendalam atas kepergian Bu Fitri. Nathan membantu menggotong keranda yang membawa ibunya ke tempat peristirahatan terakhirnya dengan keadaan basah kuyup. Hujan yang membasahi tubuhnya menyamarkan air mata yang berjatuhan mengiringi langkah kakinya menyusuri pemakaman menuju tempat ibunya untuk dimakamkan. Hujan yang deras tidak menghalangi niat pelayat untuk mengantarkan Bu Fitri dikebumikan.
Nathan masih ikut serta menguburkan ibunya dan mengumandangkan adzan. Kembali terngiang di ingatannya ketika kepergian ayahnya. Dua orang yang paling dicintainya kini telah pergi. Menghadap kepada sang khalik.
Satu persatu pelayat telah pergi meninggalkan makam Bu Fitri. Tersisa hanyalah Nathan yang masih duduk bersimpuh memegang nisan Bu Fitri. Senja, Randy dan Nabila hanya memandangi Nathan yang amat berduka dengan deraian air mata. Pemandangan yang sangat memilukan hati melihat Nathan tertunduk lesu.
" Kita kembali ke sel." Ujar polisi yang tadi mengawal Nathan menarik lengan Nathan agar bangkit dan kembali ke lapas.
" Biarkan dia berduka dulu, Pak." Ujar Brama yang tidak tega melihat teman sekaligus kliennya terlihat lemah.
" Waktu kita sudah selesai sejak tadi, Pak Brama. Jika kita tidak kembali ke lapas. Akan menyulitkan Pak Nathan juga." Ujar polisi tersebut memberikan pengertian.
Brama berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Nathan. " Kembalilah. Aku akan mengurus semuanya untuk ibumu." Ujar Brama.
" Aku titip istri dan anakku, Bram. Aku yakin. Kematian ibuku bukan hanya sekadar penyakit." Ujar Nathan sambil menepuk bahu Brama.
Dengan mata yang sembab. Hati dan pikiran yang kacau. Nathan berjalan kembali menuju mobil tanpa berpamitan dengan Senja. Dia terlihat sangat kacau.
******
Dua hari berlalu sudah setelah kepergian Bu Fitri. Wulan duduk menatap lelaki yang dia jebloskan ke balik jeruji besi dengan tatapan seolah menghina. Nathan hanya diam tak bergeming. Tak mempedulikan wanita yang terus saja menatapnya.
" Kamu terlihat kurus." Ujar Wulan namun tidak di indahkan oleh Nathan. " Seharusnya kamu tidak membatalkan perjanjian kita. Ibumu pasti masih hidup."
Ucapan Wulan membuat Nathan langsung menatapnya tajam. "Kematian adalah takdir, Wulan. Jika ibuku meninggal karenamu. Kamu semakin jauh dari apa yang kamu inginkan."
" Takdir? Bagaimana kira- kira apakah ucapanmu masih sama jika Senja, Gio dan si kecil Yusuf ikut menyusul neneknya?"
' Brak!' Nathan menggebrak kencang meja yang menghalangi mereka.
" Aku pintar Nathan. Mereka tidak akan menemukan bukti keterlibatan." Ucap Wulan semakin tajam menatap Nathan. " Dua orang yang selalu menjaga keluargamu juga tidak cukup pintar. Jadi mau ambil resiko itu. Atau meneruskan perjanjian kita?"
" Jangan kamu sentuh keluargaku!" Bentak Nathan kesal.
Wulan menatap Nathan santai. " Iya. Jika kamu mau ikuti keinginanku. Sejak dulu sampai sekarang. Aku ingin kamu."
" Si*l!" Umpat Nathan kesal. Keadaannya yang berada di dalam sel membuatnya tidak berkutik. .
" Bagaimana?" Ucap Wulan.
Nathan tetap diam tak bergeming. Pikirannya masih menimbang. " Baiklah."
Wulan kembali menyeringai penuh kemenangan dan langsung menghampiri Nathan dan mendaratkan bibirnya pada bibir Nathan.
" Itu sebagai tanda kita sudah deal. Jika kamu kembali membatalkan perjanjian itu. Bersiaplah dengan pemakaman anak atau istrimu duluan ya." Ucap Wulan setelah mengakhiri kecupannya pada Nathan yang hanya diam mematung tidak membalas kecupannya.
Nathan kembali diam. Dia hanya berharap keselamatan keluarganya terjamin.
" Psikopat g*la!" umpat Nathan pada Wulan yang begitu terobsesi dengan dirinya.
__ADS_1
" Oh ya. Satu lagi. Ketika kamu keluar dari sini. Kamu akan langsung pulang ke rumahku. Terima kasih sudah membuatku senang." Ujar Wulan dengan wajah bahagianya dan kembali mendaratkan kecupan singkat pada pipi Nathan.
Nathan menundukkan wajahnya. Dia benar- benar kehilangan keluarganya.
' Cklek.'
" Aku melihat Wulan baru keluar dari sini. Dia menemuimu?" Tanya Brama pada Nathan yang tertunduk lesu.
" Ya. Dia kembali mengajukan perjanjian."
" Kamu menerimanya?" Tebak Brama.
Nathan menunduk. " Anak dan istriku dalam bahaya jika terus melawannya, Bram. Aku tidak berkutik. Aku tidak bisa melindungi mereka." Racau Nathan kesal.
Brama tampak menarik nafas dalam. " Jika itu keputusanmu. Aku bisa apa, Nath. Tapi satu hal yang pasti. Kamu bisa memenangkan kasus ini. Namamu akan bersih."
Nathan menggeleng cepat. " Keselamatan keluargaku jauh lebih penting dari nama baikku."
" Tapi, Nath...
" Wanita itu psikopat, Bram!" Bentak Nathan memotong ucapan Brama. " Dia psikopat yang gak akan berhenti jika keinginannya belum terwujud."
" Dia hanya seorang wanita."
" Ya. Dia hanya wanita. Tapi bagaimana bisa dia melakukan hal itu pada ibuku padahal pengawal selalu ada di depan ruangan ibuku?!"
Nathan terdiam. " Tidak ada bukti dan saksi."
" Kita bisa autopsi ibumu."
" Gila! Tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh ibuku!" Nathan kembali menolak. Tidak akan mungkin dia tega membiarkan para dokter itu memotong-motong tubuh ibunya untuk di teliti hanya karena kasusnya.
" Tapi, Nath..
" Aku tidak akan pernah setuju." Tolak Nathan lagi. Lebih baik aku menyerah daripada harus menghancurkan tubuh ibuku."
" Oke. Aku akan menemui Wulan dan menyerahkan semuanya padanya."
" Silahkan." Ucap Nathan dingin dan berjalan meninggalkan Brama terlebih dahulu.
******
Nabila tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari Brama. Randy tak kalah terkejutnya.
" Nathan benar- benar hancur." Ucap Brama.
" Ya. Tapi aku tidak menyangka jika dia akan menyerah." Ucap Nabila tampak kesal.
" Jadi bagaimana langkah kita selanjutnya?"
__ADS_1
" Jangan sampai Wulan mencabut laporannya dan membawa Nathan." Usul Nabila cepat.
" Kamu seharusnya lihat bagaimana keadaannya yang sekarang." Ucap Brama. " Dia benar- benar merasa hidupnya sudah selesai."
" Aku harus bertemu Nathan." Ucap Nabila.
" Semoga kamu bisa menyadarkan Nathan kembali, Sayang."
Nabila dan Brama langsung menuju kantor polisi tempat Nathan di tahan. Brama selalu mendapatkan akses bebas untuk menjenguk Nathan karena berkaitan dengan kasusnya. Nabila dan Brama duduk berdampingan menunggu Nathan.
Tak butuh waktu lama. Nathan masuk ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat lesu.
" Ini penampilan orang yang dulu aku kagumi?!" Sergah Nabila dengan nada mengejek.
" Kamu hanya perlu berjuang di sini, Nath. Keluargamu kita yang urus."
Nathan masih diam tak bergeming.
" Jadilah suamiku maka keluargamu akan aman selamanya." Ucap Nabila dengan menatap tajam Nathan.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Nabila. Tak ada sorot mata yang tajam. Yang terlihat disana hanyalah kesedihan.
" Bagaimana? Aku bisa singkirkan wanita itu."
" Terserah. Aku sudah selesai." Ucap Nathan pasrah.
' Plak!'
Sebuah tamparan mendarat di pipi Nathan dari Nabila yang kesal dengan sikapnya yang sangat kekanak- kanakan. Nabila menatap Nathan tajam.
" Mana Nathan yang aku kenal? Nathan yang selalu berpikiran positif?"
" Dia sudah mati terkubur bersama ibunya." Jawab Nathan.
Dengan kesal. Nabila langsung mencengkeram kerah baju Nathan. " Di dunia ini kamu bukan hanya punya ibumu. Ada istri dan anakmu yang selalu menantikan kehadiranmu." Ucap Nabila.
" Tenangkan dirimu, Nabila." Brama mencoba melerai Nabila.
" Aw.." Nabila meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
" Kamu kenapa?" Tanya Brama panik.
" Perutku." Nabila tampak meringis kesakitan.
" Bawa ke rumah sakit, Bram." Ucap Nathan dengan kedua netra yang membesar.
" Ya. Aku harus pergi dan tolong pikirkan lagi keputusanmu."
Nathan hanya berdiri mematung melihat Brama memapah Nabila keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1