
Senja bersandar lemah pada headboard tempat tidurnya. Nabila terus menemani Senja sambil mengelus lembut bahu Senja sambil sesekali menyeka air mata Senja yang terus mengalir. Randy hanya diam memperhatikan Nabila dan Senja. Dua wanita yang sebenarnya sama- sama sedih karena Nathan menghilang. Sialnya lagi keadaan Nathan sekarang belum pulih. Luka ditubuhnya masih basah. Dia pasti tidak bisa berbuat banyak untuk lolos dari jeratan orang tak dikenal itu.
" Kami akan berusaha secepat mungkin menemukan Nathan, Senja." Hibur Nabila.
" Kamu harus makan. Jaga kesehatanmu. Ada anak yang butuh asupan gizi darimu." Ujar Randy membujuk Senja untuk makan. Karena sejak tadi. Senja selalu menolak untuk makan.
" Mana mungkin aku bisa makan. Sementara aku tidak tau bagaimana keadaan suamiku sekarang!" Senja menolak diiringi isak tangisnya.
" Ayolah Senja. Jangan membuat keadaan lebih sulit!" Omel Randy.
" Hiks hiks hiks."
" Tenangkan dirimu, Senja. Mohonlah petunjuk pada Allah. Mintalah perlindungan pada Nya. Ingat, kamu masih punya Tuhan yang selalu membantu kesulitanmu." Ujar Nabila lembut terdengar sangat bijak.
" Kami harus pergi ke suatu tempat. Berdoalah. Agar kami bisa menemukan Nathan secepatnya. Dan makanlah. Jangan kau siksa anak yang ada di rahimmu." Ujar Nabila dan segera mengajak Randy pergi ketika dia mendapat pesan dari anak buahnya.
" Udah malam, Nab. Kita lanjut besok aja." Ujar Randy mencegah Nabila pergi ke tempat yang lumayan jauh.
" Gimana kalo Nathan dalam bahaya?"
" Insyaa Allah Nathan selalu dalam lindungan Allah." Ujar Randy meyakinkan.
Randy hanya tidak ingin Nabila ikut dalam bahaya. Disamping itu juga tubuh mereka mulai lelah. Tenaga cukup terkuras membujuk Sena untuk tenang. Perasaan wanita hamil memang jauh lebih sensitif.
" Baiklah. Pagi- pagi sekali kita ke tempat itu." Ujar Nabila.
" Iya."
******
' Byur'
Nathan terbangun setelah wajahnya disiram air oleh Fumiko yang menatapnya marah. Nathan langsung merubah posisinya menjadi duduk.
" Ada apa?"
" Kamu pikir akan hidup nyaman disini?" Ujar Fumiko ketus.
__ADS_1
Nathan menarik nafas panjang. Berusaha tetap tenang.
" Ikat dia. Aku ingin mendengar jawabanmu akankah masih sama jika kamu secara perlahan hidup dalam siksaan." Ujarnya dengan nada mengancam.
Selang infus yang masih terpasang dilepaskan oleh orang yang kemarin membawa Nathan dari rumah sakit. Kedua tangan Nathan di ikat pada tali yang menggantung pada besi yang ada di langit- langit.
" Erghh." Nathan mengerang menahan sakit pada lukanya karena perutnya seakan tertarik jika tangannya terjulur ke atas. Fumiko tersenyum licik melihat ekspresi Nathan yang kesakitan.
" Bagaimana?"
" Baiklah. Aku akan mengikuti keinginanmu." Ujar Nathan. Saat itu. Darah mulai merembes keluar dari salah satu jahitan diperutnya. Perih sekali rasanya.
Fumiko tersenyum penuh kemenangan. " Lepaskan. Panggilkan dokter." Perintah Fumiko.
" aarghh.."
" Kamu akan menjadi menantuku." Ucapnya licik sambil menepuk- nepuk wajah Nathan yang kini sudah kembali dibaringkan pada ranjang kecilnya.
Nathan tidak menanggapi ucapan Fumiko. Dia telah memiliki sebuah rencana di kepalanya. Pertama yang harus dia lakukan adalah menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu.
" Ikuti mauku. Maka hidupmu akan terjamin dan keluargamu aman." Ucapnya lagi.
" Terima kasih." Ucap Nathan. Dokter tersebut hanya mengangguk tak berani mengucapkan sepatah kata pun.
" Jika rahasia ini bocor. Hidupmu dan keluargamu akan berada diujung tanduk!" Bisik Fumiko tajam pada telinga dokter itu. Dia hanya mengangguk penuh ketakutan.
" Minumlah obatmu." Ucap Fumiko tegas.
Tanpa membantah. Nathan segera meminum obat yang diberikan padanya. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini.
Setelah tiga hari Nathan di sekap dalam kamar yang kecil dan gelap. Hanya ada lampu kecil yang membuat suasana ruangan temaram. Keadaan lukanya juga sudah jauh lebih baik. Walaupun dia di sekap, tetapi Fumiko selalu menyediakan obat yang selalu dia konsumsi saat di rumah sakit untuk mempercepat penyembuhan lukanya. Rasa nyeri pada perutnya mulai menghilang jika dia berjalan.
' Cklek'
Fumiko terlihat tersenyum senang melihat Nathan yang sedang berjalan mondar mandir. Keadaannya jauh lebih sehar daripada beberapa hari lalu.
" Lukamu sudah membaik?"
__ADS_1
" Ya. Terima kasih." Ucap Nathan dengan senyum yang mengembang.
" Ikut aku." Ucap Fumiko.
" Kemana?"
" Ikuti saja."
Nathan mengikuti Fumiko berjalan menyusuri lorong panjang dan gelap. Lalu naik ke atas dan ketika pintu terbuka. Sinar matahari cerah menyambut kehadirannya pada dunia luar. Ternyata selama ini, Nathan disekap dalam ruangan bawah tanah.
Fumiko terus berjalan menuju sebuah ruangan di dalam sebuah rumah yang terlihat cukup mewah. Suasananya sangat sejuk dan menenangkan. Nathan seakan menikmati pemandangan luar yang sudah beberapa hari ini tidak dia lihat.
" Mulai sekarang. Kamu tinggal di kamar ini. Ingat. Tidak boleh keluar kamar!" Ucap Fumiko tegas.
Nathan memperhatikan sekitarnya. Sebuah kamar yang besar bernuansa putih dengan pemandangan kolam renang di belakangnya juga terhampar pegunungan serta.
" Terima kasih." Ucap Nathan datar.
" Bersihkan tubuhmu dan pakaianmu ada dalam lemari besar itu." Ucap Fumiko.
Nathan hanya menurut dan langsung menuju kamar mandi. Dia lepas pakaian rumah sakit yang sudah entah bagaimana baunya karena tidak diganti selama beberapa hari. Perlahan, Nathan menyeka tubuhnya dengan air agar luka yang belum mengering tidak terkena air.
Dia pun membersihkan rambutnya pada wastafel yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Setelah beberapa menit berlalu. Nathan selesai membersihkan tubuhnya. Dia keluar. Dan betapa terkejutnya dia melihat Fumiko masih berada di sana. Menunggunya sambil duduk di tepi kasur. Dengan sigap Nathan kembali masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil satu handuk lagi untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
Fumiko terus menatap lekat tubuh Nathan yang hany terlilit dua handuk kecil hingga masih menampakkan sebagian tubuhnya. Dengan cepat, Nathan mengambil pakaian dan membawanya kembali dalam kamar mandi.
" Ganti saja disini." Ucap Fumiko.
" Tidak akan." Jawab Nathan tegas dan menutup kembali pintu kamar mandinya.
" Mau apa dia masih di dalam kamar?" Nathan bergumam pada dirinya. Dia bercermin dan memandang wajahnya lekat.
Ada apa dengan wajah ini? Kenapa kau selalu membuatku dalam masalah.
Nathan menggerutu dalam hatinya.
Namun beberapa saat kemudian dia langsung menepis pikirannya yang mulai kacau. Segera dia mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat agar hati dan pikirannya kembali tenang.
__ADS_1
Selesai berwudhu. Nathan kembali melihat Fumiko masih tidak bergeming dari tempatnya. Nathan mencari sajadah di dalam lemari. Tetapi tidak ada. Jadilah Nathan mengambil sebuah baju polos dan diletakkan di tempat dia akan sujud. Dan dengan mengacuhkan Fumiko yang memandangnya kagum. Nathan melaksanakan shalat.