Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
57


__ADS_3

Nathan menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk. Istrinya belum juga pulang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


" Kamu dimana?" Tanya Nathan ketika teleponnya akhirnya di jawab juga.


" Lagi makan di warung seafood pinggir jalan. Sebentar lagi aku pulang." Jawab Senja yang sedikit takut jika Nathan marah.


" Share loc. Biar aku jemput." Ucap Nathan tegas.


" Gak usah. Nanti aku bareng teman aku aja." Senja menolak.


" Share loc sekarang juga." Perintah Nathan kini dengan nada yang semakin dipertegas.


" Iya." Senja akhirnya menurut. " Gue balik duluan ya." Ujar Senja merasa tidak enak dengan teman- temannya karena makanan yang mereka pesan baru saja terhidang.


" Yah Senja. Makan dulu lah." Cegah teman- temannya.


" Engga ah. Gue duluan ya. Bye.." Ujar Senja dan langsung meninggalkan teman- temannya.


Senja yang takut akan kemarahan Nathan mengambil inisiatif untuk pulang dengan taksi. Tidak lupa dia mengirimkan pesan pada Nathan jika dia sudah perjalanan pulang.


Namun di saat yang sama. Nathan sudah meluncur menembus malam menuju tempat Senja makan. Dia hanya perlu melihat lokasinya dan Natha. yang sudah sangat hafal jalan. Langsung melesat begitu saja tanpa menyadari jika ponselnya tertinggal di kamar.


.


Tak butuh waktu lama, Nathan telah sampai di warung tenda yang Senja bagikan. Di edarkannya pandangannya mencari Senja. Namun tidak terlihat.


" Fris. Nathan." Bisik Donna yang melihat Nathan sedang berdiri.


Friska langsung saja berdiri dan menghampiri Nathan yang terlihat agak bingung.


" Ehem.. Cari siapa, Pak?" Tanya Friska lebih terdengar seperti sedang menggoda.


Nathan langsung menoleh dan melihat ke arah Friska.


" Bukan siapa-siapa." Jawab Nathan datar. Enggan berbicara banyak dengan Friska.


" Gabung kita makan, Pak." Ajak Friska berbasa-basi agar Nathan tidak cepat pergi.


" Terima kasih." Tolak Nathan dan langsung keluar menuju mobilnya lagi.


Mendapat penolakan seperti itu membuat Friska sedikit kecewa.


" Kok gak di ajak gabung." Protes Prilly.


" Di tolak." Jawab Friska sebal. Dan di sambut gelak tawa mereka.

__ADS_1


Nathan terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam mobilnya dan juga sakunya. Berusaha mengingat dimana dia meletakkan ponselnya.


" Pake ketinggalan." Umpat Nathan yang baru sadar jika ponselnya masih tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya.


Dengan segera, Nathan kembali melajukan kendaraannya menuju rumahnya. Berharap Senja sudah pulang.


Nathan memasuki kamarnya dan terlihat Senja tengah duduk bercermin di depan meja riasnya.


" Ponsel kamu ketinggalan." Ujar Senja ketika melihat Nathan masuk ke kamar mereka.


" Iya." Sahut Nathan datar.


" Maaf. Aku terlalu lama." Ujar Senja dengan nada menyesal dan wajah tertunduk.


Nathan mendekati istrinya dan memeluknya erat. " Aku gak marah. aku hanya cemas sayang." Ucap Nathan lembut.


" Aku belikan kamu, Ibu dan Gio baju." Ujar Senja riang karena dia tahu jika Nathan tidak marah padanya.


Nathan melihat baju yang di berikan Senja.


" Terima kasih ya." Ujar Nathan.


" Kamu mau lihat teman- teman sekolahku gak. Ya siapa tau nanti kalian ketemu di jalan." Senja antusias dan langsung mengotak atik ponselnya mencari foto.


" Ini dia." Senja menunjukkan fotonya.


Senja agak terkejut dan mengangguk. Saat itu juga Senja mulai menyadari sesuatu. " Kamu kenal dimana?" Tanya Senja penasaran dan berharap jika lelaki yang ditaksir Friska bukanlah Nathan.


" Dia klien aku." Jawab Nathan. " Tapi sebelum itu kita gak sengaja ketemu waktu di restoran tempat aku makan sama Pak Tarno dan Rio." Ujar Nathan menjelaskan.


" Lalu?" Senja semakin penasaran.


" Aku cuma nolong dia aja waktu tersedak daging sampai susah nafas." Lanjut Nathan.


Bagaikan disambar petir Senja mendengar cerita Nathan. Tebakannya benar. Nathan adalah lelaki yang dia sukai.


" Ada apa sayang?" Tanya Nathan merasa aneh melihat Senja terdiam.


" Ah.. Tidak ada." Senja sedikit gelagapan.


.


*****


Friska memasuki ruangan Nathan dengan penuh percaya diri. Di sebelahnya selalu Donna mengikuti karena dia menjadikan Donna sebagai sekretarisnya sekaligus jadi orang kepercayaannya. Setelah dipersilahkan masuk ke ruangan Nathan. Friska melihat Nathan bertambah gagah terlihat ketika dia hanya duduk di depan laptopnya.

__ADS_1


" Selamat pagi Bapak Nathan." Sapa Friska dengan senyumnya ketika Nathan menoleh ke arahnya.


" Selamat pagi." Nathan berdiri menyambut tamunya. " Silahkan duduk." Nathan mempersilakan duduk di sofa yang ada di ruangannya.


" Silvi, tolong bawakan kontraknya." Perintah Nathan pada Silvi.


Dengan cekatan Silvi segera mengambil map yang berisi kontrak kerja untuk mereka.


Friska terus mengulas senyum terindahnya, berharap Nathan bisa terpikat. " Apa hari ini anda ada waktu luang?" Tanya Friska.


" Saya masih banyak pekerjaan." Jawab Nathan dingin. " Silahkan dibaca dan tanda tangani di sini jika anda setuju." Ujar Nathan memberikan map itu.


Tanpa membaca terlebih dahulu, Friska langsung saja membubuhkan tanda tangannya di atas materai.


" Anda belum membacanya." Nathan mencoba mengingatkan.


" Kerjasama yang baik berlandaskan kepercayaan. Saya percaya dengan anda." Friska semakin menggoda Nathan secara tidak langsung.


" Baiklah." Nathan juga membubuhkan tanda tangannya. Kesepakatan kedua perusahaan itu telah terjalin.


Tanpa sepengetahuan Nathan. Friska dan Donna saling melemparkan pandang dan senyum. Terlihat jelas jika kedua wanita itu sangat menikmati pemandangan indah yang menyegarkan mata.


Silvi hanya mampu menggerutu dalam hatinya. Tidak suka melihat wanita itu menikmati memandangi wajah bosnya.


" Ehem..!" Silvi berdeham cukup keras hingga Nathan menoleh padanya.


" Ada apa, Silvi?"


" Tidak ada, Pak." Jawab Silvi sambil mendelikkan matanya ke arah Friska dan Donna.


" Mulai hari ini kita resmi bekerja sama " Ujar Nathan dan menjabat tangan Friska.


" Semoga kerja sama kita lancar ya." Sahut Friska masih dengan senyum yang sama.


" Oh iya. Ini ada sedikit hadiah untuk anda. Sebagai tanda terjalinnya kerjasama kita." Friska menyerahkan sebuah paperbag kecil pada Nathan.


" Terima kasih." Nathan menerimanya. " Oh iya. Saya juga tidak menyangka jika ternyata anda teman dari istri saya." Ujar Nathan santai membuat Friska dan Donna melongo mendengarnya.


" Istri?" Friska berusaha menutupi terkejutnya.


" Iya. Senja adalah istri saya." Ujar Nathan lagi dengan senyum ramahnya.


" Oh begitu." Sahut Friska. Ada nada kecewa yang terdengar di sana. Silvi berusaha menahan tawanya karena melihat reaksi pada wajah dua wanita genit itu.


" Dunia sempit sekali ya ternyata." Sahut Donna berusaha mencairkan suasana dan agar Friska dapat kembali mengendalikan dirinya yang sangat kecewa dan terkejut.

__ADS_1


" Emmm. Kalau begitu saya harus undur diri. Salam untuk Senja." Ujar Friska pamit.


Donna dan Friska masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka ketahui. Bagaimana mungkin jika ternyata Nathan adalah suami Senja. Kenapa dia seberuntung itu memiliki suami seperti Nathan.


__ADS_2