
Reza menatap ruangan kantor yang sudah lama tidak dikunjunginya. Kantor salah seorang kliennya yang sangat berkaitan erat dengan kisah asmaranya. Berkali- kali dia menarik nafas panjang menunggu kliennya yang masih meeting dengan karyawannya.
" Maaf sudah membuat anda menunggu." Ujar Nathan ketika baru saja memasuki ruangannya.
Reza segera berdiri melihat Nathan berjalan ke arahnya dan menjabat tangannya.
" Maaf saya memanggil anda secara mendadak." Nathan membuka pembicaraan.
Bagi Reza tampak sangat aneh melihat Nathan bersikap sangat formal kepadanya. Namun, Reza tidak mengambil pusing. Dia datang ke sini hanya untuk memenuhi panggilan kliennya.
" Saya tidak masalah. Apakah akan ada perubahan rencana?"
" Tidak ada. Saya hanya ingin melanjutkan proyek kita yang tertunda. Maaf karena urusan saya membuat proyek kita jadi mangkrak." Nathan beralasan.
" Urusan apa?" Reza menjadi penasaran. Karena sejujurnya dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi antara Senja dan Nathan belakangan ini. Kedatangan Senja yang tiba- tiba sangat membuatnya merasa aneh.
Nathan menarik nafas panjang dan berat namun kemudian dia tersenyum tidak menjawab. " Ini cek untuk biaya operasional dan ini cek untuk pembayaran untuk anda pribadi." Nathan menyodorkan dua lembar cek yang tadi dia tulis dan sudah di tanda tangani.
" Terima kasih. Apa biaya pertama operasional ini tidak terlalu besar?"
" Saya rasa tidak. Karena saya ingin proyek ini segera rampung." Jawab Nathan masih dengan tatapan dingin.
" Baiklah. Kalau begitu minggu depan akan saya mulai." Ucap Reza dan berdiri segera pamit pada Nathan.
" Semoga proyek kita berjalan lancar."
" Iya. Emm. Saya akan segera menikah. Saya harap anda bisa datang ke pernikahan saya." Ucap Reza yang sebenarnya hanya ingin tahu reaksi Nathan.
" Oh ya. Selamat. Jika ada waktu akan saya usahakan datang." Nathan menanggapinya santai.
" Saya akan menikah dengan Senja." Lanjut Reza dan membuat Nathan sedikit terdiam mendengar nama calon istri Reza.
" Bagus. Dia pantas mendapatkan lelaki yang baik." Nathan masih tetap bersikap setenang mungkin walaupun dalam hatinya tidak karuan.
" Apa anda tidak bertanya kenapa bisa saya menikah dengan Senja?" Reza semakin penasaran karena tampak dari keduanya sama- sama tidak mau membahas tentang masalah mereka.
Nathan menarik nafas panjangnya dan menatap dingin Reza. " Sepertinya urusan kita sudah selesai." Ucap Nathan dengan nada dingin dan mengalihkan pandangannya pada berkas yang tadi dia bawa saat selesai meeting.
" Ya. Terima kasih." Ujar Reza sedikit terkejut karena Nathan secara tidak langsung telah mengusirnya.
__ADS_1
Reza melajukan kendaraannya bukan menuju bank melainkan menuju toko baju milik Senja. Rasa penasarannya sangat tidak terbendung. Dia tidak ingin melakukan kesalahan. Mungkin ini bodoh. Tetapi dia sangat mencintai Senja sampai dia lebih memikirkan kebahagiaan Senja dari pada kebahagiaannya sendiri.
Reza menarik nafas panjangnya dan turun dari mobil. Terlihat beberapa konsumen sedang asik memilih baju dan terlihat Senja sedang duduk di depan meja kasir. Sorot matanya nampak memandang jauh entah apa yang sedang dia renungkan.
" Hai. Bisa bicara sebentar?" Sapa Reza tampak tak ingin berbasa basi.
Senja sedikit tersentak dengan kedatangan Reza yang mendadak dan mengikuti kemana Reza melangkah.
Mereka duduk di salah satu sudut kafe. Senja menatap Reza bingung. Sejak tadi Reza tidak menjelaskan apapun hanya keheningan yang tercipta di antara mereka.
" Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Senja mulai tak sabar dengan sikap Reza yang masih saja mengaduk minumannya.
" Aku baru saja bertemu Nathan." Ucap Reza dan membuat Senja segera mengalihkan pandangannya.
" Sikapnya sama seperti sikapmu ini ketika ku sebut nama kamu." Sindir Reza membuat Senja berpura- pura bersikap santai.
" Sikapku yang seperti apa? Aku biasa saja." Elak Senja dengan sikapnya yang di buat santai walaupun terlihat kaku.
" Jujur saja. Aku penasaran dengan alasanmu yang mendasari akhirnya menerimaku. Bukankah dulu kamu bilang agar aku tidak berharap?" Reza memberikan pertanyaan yang bertubi- tubi untuk Senja membuat Senja kembali terlihat gelagapan.
" Aku dan Nathan sudah selesai." Jawab Senja singkat.
" Apa itu penting untuk hubungan kita nantinya?" Senja masih enggan menceritakan alasan yang sebenarnya.
" Sangat penting." Desak Reza.
" Kalau begitu. Aku mundur dari hubungan kita." Ancam Senja.
" Silahkan Senja. Karena aku bukan tempat pelampiasanmu." Ucap Reza tegas dan menatap Senja dingin.
" Apa maksudmu?"
" Aku bukanlah tempat kau jadikan pelarian, Senja. Aku punya hati." Bentak Reza pelan.
Seketika Senja terdiam dan tertunduk lemah. Pertahanan yang dia buat seketika runtuh. Isak tangis terdengar. " Hanya kamu yang bisa membantuku melupakan Nathan." Ujar Senja di sela isak tangisnya.
" Kalian saling mencintai. Kenapa kalian berpisah?"
" Kesalahan Nathan sangat membuat hatiku sakit. Dia sudah mengkhianati aku." Ucap Senja dengan tangis yang menjadi seolah rasa sakit itu kembali lagi menghujam hatinya.
__ADS_1
Reza terdiam melihat Senja yang begitu sedih karena mengingat kesalahan Nathan. Entah apa yang telah diperbuat Nathan hingga membuat Senja terluka seperti ini.
" Maafkan aku Senja. Aku tidak akan membahas tentang Nathan lagi." Ucap Reza penuh penyesalan.
Sementara itu...
Nathan bersandar santai di kursi kerjanya. Kalimat Reza sangat mengusik hati dan pikirannya hingga dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
" Bos melamun aja nih." Ejek Nabila yang tiba- tiba saja menerobos masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu.
Nathan hanya tersenyum. " Ada perlu apa?" Tanya Nathan datar.
" Bukankah kita sudah ada jadwal untuk meeting?" Nabila menunjukkan berkas yang di bawanya.
" Oh iya." Nathan baru mengingatnya dan segera membetulkan posisi duduknya. " Dimana kakekmu?" Tanya Nathan karena dia memulai proyek dengan perusahaan Keluarga Nabila dengan kakeknya. Pak Danny.
" Apakah harus kakek yang menemuimu?" Nabila malah balik bertanya.
" Kamu sendiri?"
" Ada sekretaris kakek. Aku suruh dia tunggu di luar." Jawab Nabila santai.
Nathan mengerutkan keningnya tidak mengerti. Nabila terlalu santai dalam menangani proyek yang terbilang besar. Karena nilainya sudah menyangkut milyaran rupiah.
" Kamu tidak yakin dengan kemampuanku?" Sindir Nabila karena merasa di remehkan.
" Ini proyek besar, Nabila." Nathan mengingatkan.
" lantas?"
" Kesalahan sedikit saja. Proyek ini bisa hancur."
" Tidak masalah." Nabila masih bersikap santai.
Nathan menarik nafas panjang. Harus banyak bersabar jika berurusan dengan Nabila. Wanita ini memang sudah terlahir dalam keluarga kaya raya. Kehilangan kedua orang tuanya sama sekali tidak membuatnya merindukan kasih sayang. Dia sudah mendapatkan segalanya dari kakeknya. Kebutuhan hidupnya sampai kebutuhannya untuk perhatian dipenuhi semua oleh kakeknya.
" Aku tidak mau mengambil resiko itu, Nabila. Tolong panggil sekretarismu." Ucap Nathan tidak ingin memulai meetingnya dengan Nabila saja.
" Ayolah. Percayalah padaku kali ini." Nabila masih berkeras pada pendiriannya.
__ADS_1
Nathan hanya diam dan menghubungi Silvi untuk menyuruh sekretaris Nabila masuk. Mendengar hal itu membuat Nabila sedikit manyun. Nathan hanya bisa menahan senyumnya melihat mimik wajah Nabila yang lucu.