Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
137


__ADS_3

Senja bersandar lemah pada dinding rumah sakit begitu mendapat kabar dari dokter bahwa Bu Fitri koma karena pembuluh darah yang pecah pada otaknya. Kenapa musibah kali ini sangat beruntun menimpa keluarga kecilnya.


Senja segera menelepon Randy untuk memberikan kabar jika Nathan di tangkap polisi serta Bu Fitri yang terbaring lemah di rumah sakit. Tak sampai satu jam. Nabila dan Randy sudah berada di rumah sakit untuk menemani Senja.


" Aku akan membantu kasus yang menimpa Nathan." Ujar Nabila sambil menepuk-nepuk lembut punggung Senja.


" Terima kasih."


" Kenapa dia terobsesi dengan Nathan!" Randy memukul tembok rumah sakit.


" Bagaimana jika Nathan tidak bisa dibebaskan?! Bagaiman jika ibu tidak sadar juga?! Bagaimana aku harus menghadapi semua ini?!" Senja kembali terisak. Semua hal yang menimpanya seakan membuatnya sesak. Nathan tidak lagi bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


******


Nathan hanya diam melihat Wulan yang pagi- pagi sekali sudah berada di kantor polisi untuk menjenguknya. Mereka berada di sebuah ruangan yang memang disediakan untuk bertemu dengan para tahanan.


" Bagaimana dinginnya lantai itu, Nath?"


" Jauh lebih baik. Daripada harus satu ranjang denganmu." Sahut Nathan dingin.


" Aku dengar ibumu koma. Semoga dia lekas sadar ya agar dia bisa melihat calon menantunya yang ini." Ujar Wulan.


" Apa?!" Bak tersambar petir Nathan mendengar ibunya masuk ke rumah sakit lagi. Ibunya pasti merasa tertekan oleh permasalahannya. Nathan mencengkeram kuat rambutnya. " Kenapa tidak kau bunuh saja aku!" Maki Nathan marah pada Wulan.


" Aku tidak mau kamu mati. Aku mau kamu jadi suamiku. Itu saja." Ujar Wulan masih bisa bersikap tenang.


" Jangan ganggu keluargaku!"


" Aku tidak akan mengganggu mereka jika kamu setuju untuk menikahiku! Ingat. Ketika kamu berada di sini. Kamu tidak bisa melindungi mereka." Ucap Wulan santai.


Nathan menarik nafasnya dalam. Pikirannya langsung kacau begitu mendengar kabar ibunya. Otaknya tak mampu lagi memikirkan hal yang lain lagi.


" Bagaimana?"


" Ya. Aku setuju." Ucap Nathan. Walaupun sebenarnya dia tidak benar- benar mengetahui apa ucapannya ini. Pikirannya benar- benar kacau. Dia sangat takut kehilangan ibunya.

__ADS_1


" Baiklah. Aku akan mengurus semua berkas pencabutan laporan. Masalah perusahaanmu. Aku akan membantu menyelesaikan dengan para investor mu." Wulan menjabat tangan Nathan yang masih terlihat enggan menyentuhnya.


******


" Bagaimana mungkin kamu mengambil keputusan sebelum bicara denganku, Nath!" Omel Brama ketika bertemu dengan Nathan untuk membahas kasusnya dan Nathan malah menjawab kasusnya telah selesai. Dan akan menikahi Wulan.


" Pikiranku kalut, Bram." Ucap Nathan.


" Aku tau ini berat. Tapi tolonglah berpikir jernih, Nath."


" Bagaimana aku bisa berpikir jika ibuku koma! Keluargaku berada dalam ancaman sementara aku tidak bisa melindungi mereka!" Sanggah Nathan tak kalah berteriak pada Brama.


Brama menarik nafasnya dalam. Dan kembali duduk pada kursi yang ada di ruangan itu.


" Tapi kamu bisa memenangkan kasus ini. Namamu akan bersih." Brama kembali meyakinkan.


" Bagaimana dengan keselamatan keluargaku?"


" Randy dan istrinya sudah bicarakan hal ini. Mereka akan melindungi keluargamu selama kamu berada disini." Ujar Brama. " Ingat, Nath. Kamu tidak sendirian."


Nathan menarik nafasnya dalam. Dia baru menyadari kehadiran teman- temannya saat ini. Ya.. Brama benar. Dia selalu tidak sendiri menghadapi masalahnya.


" Ya." Ucap Nathan dengan suara berat. Dia merasakan firasat buruk.


*****


Wulan menatap dingin Brama yang datang menemuinya. Sorot matanya tidak terlihat bersahabat.


" Siapa kamu?" Tanya Wulan tanpa mempersilahkan Brama masuk.


" Saya Brama, pengacara Tuan Nathan."


" ahh.. Ya.. Siang nanti saya akan mengurus pencabutan laporan terkait kasus penganiayaan." Ucap Wulan.


" Tidak perlu repot. Saya sudah bicarakan hal ini dengan Tuan Nathan. Dan beliau bersedia melawan anda hingga kasus ini selesai." Ucap Brama santai.

__ADS_1


" Apa?!" Pekik Wulan dengan mata melotot tajam. " Dia sudah berjanji akan menikah dengan saya!"


" Dengan ancaman. Ya. dia akan menyetujuinya. Tetapi saya sudah memberikan keamanan untuk keluarganya. Silahkan anda bermimpi saja. Saya permisi."


" Arrgghh!" Wulan membanting pintunya dengan penuh amarah. Rencananya akan gagal.


Wulan sadar betul jika posisinya tidak cukup kuat jika harus berhadapan dengan Nathan dipersidangan. Semua yang terjadi karena dia yang menghampiri. Nathan dengan mudah akan mendapatkan pembelaan.


" Sebaiknya kamu menyerah saja. Sebelum kamu merasa ditelanjangi karena kasus ini, Lan." Ujar Zizi.


" Tidak akan. Aku akan membuatnya menderita karena keputusannya." Ucap Wulan kesal.


******


Matahari menyilaukan mata Senja yang terlelap di sofa ruang tamu. Matanya terlihat sembab karena hampir semalaman dia menangis. Senja menarik nafas dalam karena ternyata kejadian yang menimpanya bukanlah mimpi. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.


" Ya." Senja menjawab panggilan teleponnya.


" Apa? Saya akan segera ke sana." Ujar Senja dan langsung bergegas menuju rumah sakit karena Bu Fitri tengah kritis. Padahal semalam dia bisa meninggalkan karena kondisinya sudah stabil.


Senja kembali berurai air mata melihat ibu mertuanya tengah berjuang melawan maut dari balik kaca yang ada di pintu ruangan Bu Fitri dirawat.


Setelah beberapa menit dokter berjuang untuk menolong Bu Fitri. Semua pertahanan Senja runtuh ketika tim dokter melepas alat medisnya dan menutupi tubuh Bu Fitri yang pasi hingga kepala.


" Ibu...." Isak Senja tak kuasa. Entah bagaimana dia harus menyampaikan kabar duka ini pada Nathan. Entah akan bagaimana hancurnya suaminya. Senja menangis meratapi kepergian ibu mertuanya.


Silih berganti orang- orang memasuki rumah Nathan guna memberikan ucapan bela sungkawa pada keluarga Bu Fitri. Air mata Senja terus mengalir seolah enggan berhenti sejak masalah Nathan menimpa keluarganya.


Orang- orang yang sejak tadi menggumamkan lantunan ayat suci sejenak terdiam melihat Nathan yang datang dengan wajah lesu di kawal dua orang polisi. Nathan berjalan mendekati ibunya terbaring. Dia buka kain yang menutup wajah ibunya dan dia ciumi pipi ibunya dengan penuh cinta.


" Maafkan Nathan, Bu." Isak tangis Nathan pecah ketika kalimat itu keluar dari mulutnya.


Brama menepuk- nepuk bahu Nathan seolah menguatkan. " Sabar, Nath."


Nathan pergi ke kamar mandi mengambil wudhu dan duduk bersila di samping jenazah ibunya. Dengan suara bergetar. Nathan membacakan ayat suci untuk ibunya. Berkali- kali dia mengusap matanya yang basah karena air mata.

__ADS_1


Nabila dan Randy hanya mampu melihat dari kejauhan. Tak ada kalimat yang mampu menguatkan Nathan untuk kali ini. Kepergian ibunya menjadi suatu pukulan terberat dalam hidupnya. Beberapa kali Nathan terhenti karena tak bisa menahan isak tangisnya.


Senja memeluk erat suaminya yang semakin berguncang tubuhnya. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Nathan. Hanya isak tangis yang terdengar dari lelaki yang selalu terlihat tegar.


__ADS_2