
Nathan terdiam tak menanggapi kalimat terakhir Thalia. Dia pura- pura sibuk dengan ponselnya mengecek email masuk. Thalia yang melihat hal itu hanya menarik nafas panjang dan hanya tersenyum kecut.
" Aku dengar dari ibumu, Istrimu meninggal?" Tanya Thalia mencari bahan pembicaraan.
" Iya." Nathan tetap fokus membaca email yang masuk.
" Aku turut berduka."
" Terima kasih."
" Sepertinya aku akan sering kesini. Suasana rumah kamu sangat nyaman. Membuat hati tenang." Ujar Thalia.
" Beberapa hari lagi kamu tidak bisa bertemu aku lagi di sini." Thalia mengerutkan keningnya. " Aku dan ibu akan pindah."
" Oke. Berikan saja alamatnya."
" Untuk apa? Hubungan kita hanya sebatas teman dan rekan kerja. Tidak perlu kamu sering ke rumahku." Tolak Nathan.
" Apa kamu sudah punya calon istri lagi?"
" Iya." Jawab Nathan dan membuat Thalia diam.
" Kapan kamu akan menikah?"
" Dua minggu lagi." Jawab Nathan singkat. Dia sudah tidak terlalu mempedulikan keberadaan Thalia. Dia tidak ingin pernikahannya dengan Senja kali ini akan gagal lagi. Secepat dan sebisa mungkin dia harus menyingkirkan yang akan mengganggu.
" Semoga hubungan kamu dan calon istrimu langgeng dan lancar sampai hari H." Ucap Thalia dengan hati yang luka.
" Terima kasih."
Thalia melihat jam tangannya. " Aku harus pulang. Mungkin besok atau lusa aku akan ke kantor kamu." Thalia menjabat tangan Nathan.
" Oke. Hati- hati di jalan."
Nathan bersandar melepas lelahnya pada sofa yang ada di depan televisi. Bu Fitri menghampiri Nathan dan ikut duduk di sampingnya.
" Cantik ya temen kamu." Ledek Bu Fitri.
" Iya." Nathan menjawab singkat.
" Kayanya dia naksir kamu." Ledek Bu Fitri lagi.
" Bu. Jangan mulai." Ujar Nathan yang sudah tahu akan kemana arah pembicaraan mereka.
" Ibu cuma berharap kamu punya pendamping, Nath. Banyak wanita yang menyukai kamu. Tapi ibu aneh. Kenapa tidak ada satupun yang kamu sambut. Dari dulu sampe sekarang. Cuma Senja aja yang ada di pikiran kamu."
" Aku akan menikah, Bu." Bisik Nathan tak menghiraukan keluhan ibunya.
__ADS_1
" Menikah sama siapa. Ngaco aja kamu."
" Senja."
Bu Fitri menatap putranya tidak percaya. " Gak mungkin. Kemarin kamu bilang Senja sudah sangat benci sama kamu. Kamu juga kemarin cuekin dia parahnya lagi. Gio juga ikut kena imbas pertengkaran kalian. Kasian dia." Bu Fitri mencubit pelan pinggang Nathan.
" Ibu setuju kan?"
" Iya. Apapun itu asal kamu bahagia. Ibu setuju." Ujar Bu Fitri dan seketika Nathan mengecup pipi ibunya.
" Aku sedang menyiapkan berkas untuk di urus ke KUA. Dua minggu lagi kita akan menikah."
" Gak terlalu buru- buru Nath?"
" Takut gagal lagi, Bu." Sahut Nathan cepat.
Bu Fitri menggelengkan kepalanya. Tetapi dia sangat bersyukur akhirnya putranya bisa kembali tersenyum. Senyum yang telah lama hilang kini muncul kembali.
*****
Dua hari kemudian...
" Hai Nath." Sapa Thalia yang masuk begitu saja ke dalam ruangannya.
" Maaf Pak. Tadi sudah saya cegah. Tapi ibu ini masuk begitu aja." Ujar Silvi dengan wajah tertunduk.
" Tidak masalah." Ujar Nathan pada Silvi dan beralih pada dua orang yang ada di depannya. " Kalian mengerti kan apa yang saya katakan tadi?" Tanya Nathan pada mereka.
" Yasudah kalian boleh pergi." Ujarnya lagi dan kemudian kedua orang itu berpamitan.
" Hemmm. Sibuk banget kayanya." Ujar Thalia dan Nathan hanya tersenyum. " Tapi kamu bisa seperti sekarang ini aku gak kaget. Kamu itu salah satu murid pinter di sekolah." Thalia duduk santai di kursi yang tadi di duduki Dua orang itu dengan menyilangkan kedua kakinya hingga menampakkan paha mulusnya.
" Ada perlu apa?" Tanya Nathan matanya tetap fokus menatap berkas yang ada di meja.
" Ini surat- surat yang mungkin kamu butuhkan. Masalah biaya. Berapapun aku bayar." Ujar Thalia lagi dengan gerakan yang membuat dadanya terekspos.
" Oke. Secepatnya saya akan buat designnya." Ujar Nathan cuek dan menerima berkas itu.
" Nathan."
" Iya."
" Apa kamu tidak mau melihatku?" Thalia mulai geram karena pancingannya tidak berhasil.
" Kita bicara bisnis. Bukan hal lain." Nathan menatapnya tajam.
" Baiklah. Tapi kapanpun kamu mau aku temani. Aku siap." Ujar Thalia lagi dan kali ini menyentuh pipi Nathan.
__ADS_1
" Hentikan Thalia. Atau aku batalkan kerjasama kita." Ancam Nathan tidak suka dengan tingkah Thalia.
" Ayolah. Semua pria pasti tergoda denganku."
Nathan membanting berkas yang di bawa Nabila yang sebenarnya sedang dia cek. " Bawa semua berkasmu. Cari yang lain saja!" Bentak Nathan.
Thalia terdiam dan air matanya mulai menggenang. Dia mulai merobek bajunya bagian bawah hingga menampakkan paha mulusnya sangat terlihat.
" Mau apa kamu?!" Tanya Nathan marah.
" Aku akan laporkan kamu!" Ancam Thalia dan berlari keluar dengan air matanya.
Nathan hanya menatap tidak mengerti. Dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
" Pak. Tamu bapak yang tadi berteriak- teriak diluar." Ujar Silvi memberitahukan kegaduhan yang terjadi.
" Apa?!" Nathan segera bergegas keluar dari ruangannya.
Benar saja dia mendapati Thalia sedang video call dengan seorang pria dan masih dalam keadaan menangis. Keadaannya terlihat berantakan.
" Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Nathan kesal.
" Jangan lakukan itu lagi Nath. Aku takut!" Sandiwara Thalia dan bersikap seolah Nathan telah melecehkannya.
" Apa maksudmu?" Nathan masih tidak mengerti.
" Lihat bos kalian. Melecehkan aku. Aku datang kesini sebagai klien. Tapi apa. Begini perlakuannya padaku. Dia bilang dia rela membayarku berapapun ketika aku menolak. Dia memaksaku membuka pakaianku. Lihat. Bajuku robek." Racau Thalia mengarang cerita palsunya.
" Ngaco!" Maki Nathan dan enggan menanggapi semua racauan gila Thalia.
Karyawan yang lain juga ikut cuek dengan tingkah Thalia. Bagi mereka sudah sangat terbiasa melihat perempuan yang mengamuk ketika mendapat penolakan dari bos nya.
Nabila yang baru saja tiba di kantor Nathan melihat aneh ke arah Thalia yang duduk menangis tersedu- sedu di sofa yang ada di depan ruangan Nathan. Nabila bertanya pada Silvi hanya dengan isyarat wajahnya. Silvi pun menjawab dengan isyarat juga.
Nabila masuk ke ruangan Nathan di ikuti dengan sekretarisnya. Kedatangannya kali ini untuk urusan bisnis. Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi.
" Perempuan mana lagi yang dibuat gila?" Tanya Nabila lebih terdengar seperti sedang mengejek.
" Biarkan saja." Jawab Nathan cuek. " Duduklah dulu. " Nathan mempersilahkan.
" Cepatlah menikah. Atau akan semakin banyak perempuan yang putus asa."
Nathan hanya tertawa kecil menanggapi gurauan Nabila.
Nathan mengambil berkas yang sudah dia siapkan dan menghampiri Nabila. Mereka memulai meeting mereka. Kali ini Nabila tampak serius memperhatikan semua penjelasan Nathan. Dan sesekali menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Apakah ada pertanyaan lagi?" Tanya Nathan yang selesai memberikan penjelasannya.
__ADS_1
" Hemm.. Kalau kita segera mulai saja proyeknya bagaimana?" Tanya Nabila tak sabar mengurus proyek pertamanya.
' BRAK!'. Tiba- tiba saja pintu ruangan Nathan terbuka keras oleh seorang pria bertubuh kekar berkepala plontos dengan badan dipenuhi tattoo.