
" Sekarang rencana kita gimana?" Tanya Donna menunggu Friska bicara.
" Gue pusing." Friska tampak putus asa. Padahal dia baru saja kembali merasakan indahnya jatuh cinta.
" Kita pura- pura gak tau aja." Donna mengusulkan.
Disambut dengan delik licik mata Friska. " Ide bagus." Friska menjentikkan jarinya. " Kita lihat gimana reaksi Senja. Dia akan menutupi atau malah kasih tau kalo suaminya orang yang gue taksir." Gumam Friska di sambut dengan senyum licik Donna.
Senja menunggu kedatangan suaminya di ruang tamu. Tidak ada kabar dari Nathan jika dia pulang terlambat. Senja beberapa kali melirik jam antik yang ada di ruang tamu telah menunjukkan pukul tujuh. Biasanya Nathan selalu pulang satu jam yang lalu.
" Papa belum pulang juga, Ma?" Tanya Gio yang mulai bosan menunggu Nathan.
Senja mengelus lembut kepala Gio. " Belum sayang. Mungin papa banyak kerjaan." Ujar Senja yang menyembunyikan rasa cemasnya.
" Gio lapar." Gio memegang perutnya yang mulai minta di isi.
" Ayo kita makan. Papa biar nanti saja makan sendiri." Ajak Senja dan menggandeng tangan mungil Gio.
" Kamu udah coba telepon, Nak?" Tanya Bi Fitri.
" Sudah, Bu. Tapi gak diangkat. Mungkin dia masih ada rapat."
" Yasudah. Kita makan lebih dulu saja. Bi Sumi sudah menyiapkan semua." Ajak Bu Fitri pada menantunya.
" Assalammu'alaikum." Sapa seseorang yang sejak tadi mereka tunggu.
" Wa'alaikumsalam." Sahut mereka bersamaan.
Senja segera menghampiri Nathan untuk menyambutnya. " Makan dulu sayang." Ajak Senja agar Nathan ikut bergabung dengan mereka.
" Nanti saja." Tolak Nathan halus dan segera menuju kamarnya.
Senja menatap suaminya heran karena tak biasanya Nathan langsung masuk ke kamar tanpa menyalami Ibu dan Gio. Senja mengikuti langkah suaminya menuju kamar. Tampak Nathan tengah berbaring padahal kemeja dan celana yang dia kenakan masih melekat di tubuhnya. Bahkan jasnya pun masih ia kenakan. Perlahan Senja menghampiri Nathan yang sudah berbaring dengan mata terpejam. Di silangkan kedua tangannya di depan dada.
" Kamu kenapa?" Tanya Senja dan memegang kening Nathan dengan telapak tangannya. Senja terkejut karena ternyata suhu badan suaminya tinggi sekali. " Kamu demam." Senja segera berlari menuju dapur.
Dia membawa air hangat serta handuk kecil untuk mengompres Nathan.
__ADS_1
" Nathan kenapa, Senja?" Tanya Bu Fitri heran karena Senja tampak terburu- buru menyiapkan itu semua.
" Demam, Bu." Jawab Senja singkat dan langsung menuju kamarnya lagi.
Bu Fitri segera menyusul Senja untuk melihat keadaan Nathan.
" Kita panggil Dokter Ridwan saja." Saran Bu Fitri.
Senja segera menelepon Dokter Ridwan.
" Nathan." Panggil Bu Fitri lembut.
Nathan hanya menyahut dengan gumaman.
" Makan dulu ya." Bujuk Bu Fitri merasa cemas. Karena Nathan memiliki masalah lambung yang cukup buruk. Jika pola makannya tidak teratur. Sangat berpengaruh dengan kesehatannya. Kepalanya bisa tiba- tiba pusing, lemas atau bisa panas seperti sekarang ini.
" Aku masih mual, Bu." Tolak Nathan dengan mata yang masih tertutup.
Senja menyelimuti tubuh Nathan hingga menutupi dadanya. Tetapi tetap saja tubuh Nathan menggigil kedinginan. Berbanding terbalik dengan suhu tubuhnya.
Setengah jam berlalu pintu kamar terbuka dan terlihat dokter Ridwan baru saja tiba dengan tas hitam di tangannya. Dia mengedarkan senyum pada Bu Fitri dan Senja. Dengan segera dia memeriksa Nathan.
" Bagaimana Dokter?" Tanya Senja tak sabar ketika Dokter Ridwan baru saja selesai memeriksa keadaan Nathan.
Dokter Ridwan tak langsung menjawab melainkan dia langsung menuliskan resep obat. " Sepertinya Nathan terkena gejala typus. Usahakan jangan makan yang asam dan pedas. Serta makan yang lunak dulu. Obat ini langsung di tebus saja. Setelah itu langsung diberikan saja pada Nathan." Ujar Dokter Ridwan.
" Terima kasih Dokter." Ujar Senja.
*****
Matahari telah menunjukkan sinarnya menandakan hari baru telah dimulai. Nathan masih terlelap dibawah selimut tebalnya. Beberapa kali Senja memeriksa suhu tubuh Nathan. Dia takut jika suhu tubuh suaminya akan kembali naik. Berkali- kali Senja mengucapkan syukur karena suhu tubuh Nathan berangsur normal.
" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Senja ketika melihat Nathan mulai membuka matanya.
" Jauh lebih baik." Nathan mengulaskan senyum tipis di wajahnya.
" Jangan terlalu lelah." Senja tampak sangat mengkhawatirkan suaminya. " Aku mau kamu istirahat yang cukup dan makan yang teratur." Ucap Senja dengan nada memohon.
__ADS_1
Nathan tersenyum senang melihat istrinya begitu perhatian pada dirinya. " Iya sayang. Maaf jika belakangan ini aku jarang sekali makan jika di kantor." Nathan mengakui kesalahannya yang lalai pada kesehatannya.
" Aku akan membawakanmu sarapan. Istirahatlah." Ujar Senja dan mengecup kening Nathan.
Nathan bersandar pada tempat tidurnya. Senja yang datang dengan semangkuk bubur putih setia menyuapi Nathan.
" Nanti siang aku ke kantor ya." Ujar Nathan membuka obrolan antara mereka.
" Besok saja. Aku melarang kamu bekerja hari ini. Apapun alasannya." Larang Senja tegas.
Nathan menahan tawanya melihat Senja yang marah- marah seperti itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. " Apa kamu selalu menggemaskan jika marah?" Tanya Nathan dan disambut dengan cubitan Senja pada lengan Nathan.
" Sakit sayang." Nathan meringis dan mengusap lengannya yang memerah.
" Mau lagi?" Ucap Senja geram dengan suaminya yang malah meledeknya.
" Jangan sayang. Cubitanmu itu melebihi kepiting." Ledek Nathan lagi.
Senja kembali menyerang Nathan dengan banyak cubitan kecil pada lengan, pinggang dan dada Nathan. Nathan berusaha menghindar sampai terjatuh di kasurnya.
Canda mereka terhenti ketika ponsel Senja berdering keras. Senja segera menghampiri ponselnya yang berada di atas meja rias dan menjawab panggilan telepon itu.
" Maaf. Hari ini aku tidak bisa pergi. Suamiku sedang sakit." Jawab Senja pada Donna yang mengajaknya bertemu siang nanti.
Setelah mengucapkan salam. Senja menutup panggilan telepon itu dan meletakkan kembali ponselnya. Senja kembali menghampiri Nathan dan memberikan obatnya.
" Jika kamu mau bertemu dengan temanmu. Pergilah. Aku mengizinkan." Ujar Nathan sambil memegang pipi mulus Senja.
" Engga sayang. Kamu membutuhkan aku disini." Senja enggan meninggalkan suaminya.
Nathan hanya tersenyum. Betapa beruntungnya dia mempunyai istri seperti Senja. Bukan hanya cantik, pribadinya yang lembut juga sangat perhatian pada orang- orang disekitarnya.
" Terima kasih sudah menjadi istriku." Nathan mengecup lembut kedua belah pipi Senja dan juga keningnya.
" Cepatlah sembuh. Jika kamu libur. Aku mau ke makam Ayuna. Rencana kita yang sempat tertunda." Rajuk Senja dan segera meninggalkan Nathan. Dia tidak mau hanyut pada kelembutan Nathan sepagi ini. Karena sebentar lagi Gio pasti akan mencarinya.
Nathan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang terkadang masih malu jika dirinya menatapnya lekat. Nathan mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah email pada Silvi. Pekerjaan hari ini terpaksa dia tangguhkan karena istrinya melarang keras.
__ADS_1