Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
131


__ADS_3

" Turunlah!" Ucap Nathan tegas.


" Ayolah. Ini sudah malam. Aku ke sini naik taksi." Ucap Wulan lagi memaksa ikut.


" Kamu pulang kemana?" Tanya Randy pada Wulan.


' Ck!' Nathan berdecak sebal dan segera turun dari mobil Randy.


Melihat Nathan turun dari mobil. Wulan kembali mengikuti Nathan yang berjalan menuju pinggir jalan raya menunggu taksi yang lewat.


Randy yang tidak mengerti situasinya mengejar Nathan dan Wulan.


" Menjauhlah! Aku sudah menikah!" ucap Nathan tegas pada Wulan yang terus saja menempel.


" Sejak sekolah aku sudah menyukaimu. Tapi kamu tidak pernah melihatku. Aku hanya ingin kali ini kamu melihatku, Nathan." Ujar Wulan.


" Aku sudah menikah. Apa kau paham?!" Nathan terlihat kesal.


Randy yang penasaran. Hanya memerhatikan mereka dari kejauhan.


" Ayolah Nathan! Banyak yang menginginkanku." Goda Wulan.


" Erghh!" Nathan menepis tangan Wulan yang berusaha memegang tangannya.


" Pergilah!"


' Tin.'


" Masuklah kawan!" Ujar Randy yang memarkirkan mobilnya di tepi jalan tepat di hadapan Nathan.


" Maaf Wulan. Aku tidak bisa mengantarmu. Istri kami sudah menunggu di rumah." Ujar Randy santai sambil menekankan kalimatnya.


Nathan tersenyum penuh kemenangan karena sahabatnya akhirnya memahami situasinya.


" Cantik sudah pasti. Tapi murahan!" Ujar Randy ketika mereka dalam perjalanan.


" Ya. Hampir saja aku terjebak." Nathan menarik nafas dalam mengingat kejadian yang baru saja dia alami.


" Sikapmu bikin banyak wanita penasaran, Nath. Jujur saja. saat sekolah bahkan saat kuliah. Kamu itu selalu saja jadi incaran ciwi- ciwi. Bahkan beberapa di antara mereka sengaja mendekati aku agar bisa kenal denganmu."


" Oh ya?"


" Ya. Tapii yaa itulah Nathan. Selalu tidak bisa menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya." Ujar Randy setengah meledek.


" Bukan hal yang penting, Ran."


" Gak penting buat kamu. Buat mereka hal itu sangat penting."


Nathan terlihat menarik nafas. " Gimana biar mereka gak penasaran lagi?"


" Kasih lihat yang bikin mereka penasaran." Jawab Randy asal.

__ADS_1


" Gila!" Omel Nathan dan langsung memalingkan pandangannya menatap jalanan yang gelap.


Randy tertawa melihat reaksi sahabatnya.


*****


" Bagaimana reuni kamu semalam?" Tanya Senja. Karena semalam dia tertidur menunggu Nathan yang tak kunjung pulang.


" Lumayan." Jawab Nathan singkat.


Senja yang sudah hafal dengan sifat suaminya yang tidak bisa terlalu lama di keramaian hanya melemparkan senyum dan bergelayut manja pada bahu Nathan.


" Pasti Randy yang memaksamu tidak pulang cepat." Tebak Senja.


" Ya. Dia mengajakku bareng. Hanya untuk menahan ku agar tidak cepat pulang." Jawab Nathan masih terlihat lelah.


" Kamu masih ngantuk. Tidurlah lagi. Nikmati hari liburmu sayang." Senja mengecup pipi Nathan dan meninggalkan Nathan yang masih berbaring.


Nathan melirik jam yang ada di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat. Nathan sedikit menarik nafas dalam memaksakan tubuhnya untuk bangun. Kewajiban pada Tuhannya tidak dapat dia tinggalkan dalam alasan apapun.


Setelah selesai menunaikan ibadah shalat shubuh. Nathan melanjutkan aktifitasnya merebahkan kembali tubuhnya. Biasanya saat ini dia langsung memanfaatkan waktunya untuk lari pagi. Tapi entah kenapa rasanya tubuhnya saat ini terasa sangat lelah.


' Ting.'


Nathan mengambil ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk.


' Bisa kita bertemu?'


' Siapa ini?'


' Maaf. Aku tidak bisa!'


Nathan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas dan kembali merebahkan kembali tubuhnya.


' Ting'


' Hai Nath.'


Nathan mengernyitkan kembali keningnya. Secara tiba- tiba banyak nomor tidak dikenal masuk kedalam ponselnya mengirimkan pesan.


' Ini grup SMA kita ya.'


" Anton pasti yang menyebarkan nomorku." Ujar Nathan pada dirinya sendiri.


Dan dalam sekejap. Ponsel Nathan mendadak ramai. Entah percakapan dari grup atau percakapan yang dikirim secara pribadi dengannya. Nathan yang merasa terganggu. Langsung menonaktifkan ponselnya dan meletakkan kembali ponselnya kasar ke atas nakas.


Senja menyiapkan roti bakar buatannya untuk Nathan yang masih terlihat lelah. Tanpa banyak bicara. Nathan melahap sepotong roti bakar itu ke dalam mulutnya.


" Tadi Randy menelepon." Ujar Senja ketika melihat Nathan telah selesai menyantap sarapannya.


" Ada perlu apa denganmu?"

__ADS_1


Senja hanya tersenyum melihat kecemburuan suaminya.


" Dia minta kamu untuk mengaktifkan ponselmu. Itu saja." Jawab Senja dengan senyumnya.


" Oh. Ya. Nanti akan aku aktifkan." Sahut Nathan cuek dan berjalan menuju kolam renang.


" Papa mau renang?" Teriak Gio yang antusias melihat Nathan menuju kolam.


" Ya. Kamu habiskan dulu sarapannya." Sahut Nathan.


Setelah melakukan pemanasan. Nathan menceburkan dirinya kedalam kolam dan membenamkan sebentar tubuhnya beberapa menit. Rasanya pikirannya. Tubuhnya sudah sangat lelah. Ingin rasanya dia beristirahat dengan tenang walau hanya sekejap.


" Mama! Papa tenggelam!" Teriak Gio panik yang melihat Nathan berada di dasar kolam.


Mendengar teriakan Gio. Sontak saja Senja dan Bu Fitri berhambur menuju kolam renang. Bi Sumi juga tak kalah panik. Baru saja mereka tiba. Nathan perlahan naik ke permukaan.


" Ada apa?" Tanya Nathan dengan wajah polosnya melihat tiga wanita itu panik.


" Kamu tenggelam?"


" Tidak. Aku hanya berlatih menahan nafas." Jawab Nathan polos dan tatapannya beralih pada Gio.


" Papa nahan nafasnya nakutin. Gak gerak di dasar kolam." Ujar Gio.


Nathan tersenyum dan mengacak lembut pucuk kepala Gio. " Papa gak akan tenggelam sayang. Dalamnya kan cuma 120cm." Ujar Nathan. " Nih Papa aja berdiri. Kamu juga udah bisa berdiri."


" Iya tapi kalo aku yang berdiri yang kelihatan cuma sampe hidung." Seloroh Gio dan disambut gelak tawa yang lain.


" Yaudah. Pemanasan dulu. Baru nyemplung ya." Ujar Nathan dan melanjutkan renang kembali.


Nathan duduk di pinggir kolam sambil memperhatikan Gio yang mulai mahir berenang. Nathan tersenyum bangga melihat Gio tumbuh menjadi anak yang cerdas. Hanya beberapa kali dia mengajarkan Gio renang. Anak itu dengan mudahnya menangkap semua yang diajarkan padanya.


" Sayang. Randy telepon." Senja memberikan ponselnya pada Nathan sambil menggendong Yusuf di tangannya.


Nathan mengambil ponsel Senja setelah terlebih dahulu mengeringkan tangan serta wajahnya.


" Ada apa?" Tanya Nathan santai.


" Aktifkan ponselmu." Ujar Randy terdengar gemas.


" Malas. Terlalu ramai di grup. Kenapa aku harus di masukkan juga di grup." Keluh Nathan.


" Itukan grup teman- teman SMA kita."


" Iya. Tapi karena grup itu juga. Banyak chat yang masuk dari orang yang tidak aku kenal."


" Ayolah. Kita lagi bahas program Anton. Kamu diangkat menjadi ketuanya, Nath." Ujar Randy.


" Itu program Anton. Bukan program ku. Kenapa aku?"


" Mereka ingin kamu yang jadi ketua. Jika tidak. Mereka mengancam akan membatalkan dana yang akan digelontorkan." Ujar Randy.

__ADS_1


" Ck." Nathan berdecak kesal. " Aku akan pikirkan nanti. Aku mau bersantai sejenak." Ujar Nathan cuek dan segera menutup panggilan teleponnya.


Nathan kembali menarik nafas dalam. Entah kenapa dia selalu saja menjadi terlibat apapun. Tidak bisakah hidupnya sedikit tenang. Nathan mengusap kasar wajahnya dan kembali menceburkan dirinya ke kolam renang.


__ADS_2