Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
33


__ADS_3

Nathan menatap bosan keluar jendela kamarnya. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Ingin menghubungi ibunya dan Senja namun ponselnya tertinggal di rumah Sintia. Tak mungkin juga dia mengambil ponsel itu.


" Masuk!" Ucap Nathan ketika pintu ruangannya di ketuk.


" Hai, Nath." Sapa Randy dengan wajah tertunduk malu.


Nathan sedikit terperangah melihat sosok Randy yang selama ini dia cari.


Randy menghampiri Nathan yang terduduk di atas ranjangnya. Tak berani dia menatap wajah sahabatnya. Apakah dia masih pantas di sebut sahabat setelah dia menjebloskan Nathan ke dalam jurang.


" Duduklah." Ujar Nathan dengan suara yang sangat tenang. Tak terlihat sedikitpun kemarahan di wajahnya.


Randy duduk di kursi samping ranjang Nathan.


" Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Ran."


Randy sedikit mengangkat wajahnya dan menatap sekilas wajah Nathan yang tenang dan kembali menundukkan wajahnya. " Ini semua kemauan Rena." Dengan ragu Randy memulai kalimatnya.


Nathan masih menunggu Randy untuk bercerita semuanya sampai dia menjadi korban obsesi Sintia.


Akhirnya Randy menceritakan semuanya mulai dari pertemuan istrinya dengan Sintia hingga usahanya yang di ambang kebangkrutan hingga rencana Rena untuk membawa Nathan kepada Sintia.


" Maafin gue, Nath. Terserah deh lo mau apain gue." Ujar Randy penuh penyesalan.


Nathan hanya tersenyum melihat penyesalan yang mendalam pada sahabatnya. " Ini udah ada di takdir gue. Jadi ya apa yang harus gue lakuin buat balas semuanya."


Randy menatap Nathan tak percaya. Nathan masih berbicara santai pada dirinya. " Lo gak marah?"


Nathan menarik nafas panjang. " Awalnya iya gue marah. Tapi apa dengan kemarahan itu keadaan akan kembali lagi? enggak kan?"


Randy kembali menunduk dan semakin menyesal akan perbuatannya. " Harusnya gue gak ikutin kata istri gue."


" Gue udah maafin kalian. Biar bagaimanapun. Lo sahabat gue. Saudara gue." Nathan menepuk lembut bahu Randy. " Kalo ada masalah. Cerita ke gue." Nathan merebahkan tubuhnya. Lelah karena sejak tadi hanya duduk tanpa melakukan apapun.


" Hai." Sapa Nabila riang. " Ini ponsel baru untukmu." Nabila menyerahkan paperbag yang dibawanya pada Nathan.


" Aku bisa membelinya sendiri, Nabila." Tolak Nathan enggan menerimanya.


" Ayolah. Terima saja." Nabila tetap memaksa dan meletakkan paperbag itu di atas perut Nathan.


Dengan wajah terpaksa Nathan mengambil hadiah itu dan membukanya. Ponsel keluaran terbaru.


" Ini terlalu mahal." Nathan kembali menolaknya.

__ADS_1


" Barang yang sudah di terima tidak boleh dikembalikan lagi." Tolak Nabila dan duduk santai di sofa.


" Kamu tidak bertanya siapa dia?" Tanya Nathan merasa heran melihat sikap acuhnya pada Randy.


" Hanya kamu yang baru aku kenal." Ujar Nabila santai dan melipat tangannya juga menyilangkan kakinya.


Nathan menatap tak mengerti.


" Dari dia aku tahu jika Sintia terobsesi padamu. Apa kamu tahu jika Randy dan keluarganya. Aku yang sembunyikan." Ujar Nabila lagi menjelaskan semuanya.


Nathan barulah mengerti akan semua situasi ini. Dan kenapa tiba- tiba sosok Nabila hadir untuk membantunya.


" Aku mengerti sekarang." Ujar Nathan. " Dimana Rena?"


" Dia sudah di rumah orang tuanya." Jawab Randy dengan wajah tertunduk sedih.


" Kalian berpisah?" Randy mengangguk lemah. " Kenapa?"


" Udah gak ada alasan lagi buat dia bertahan sama gue yang diambang kemiskinan." Randy menjelaskan dengan suara berat.


" Ryan?"


" Dia ikut gue. Rena berubah drastis saat kenal Sintia. Sikapnya udah gak selembut dulu. Bahkan dia sering kasar sama Ryan. Makanya dengan gampangnya dia serahin hak asuh Ryan ke gue."


" Ya. Gue cuma bingung kemana harus pulang. Gak mungkin terus numpang hidup ama Nabila."


" Pulang ke rumah gue. Ibu gue pasti seneng." Ujar Nathan menyarankan.


Randy tersenyum mendengar ucapan Nathan. Sahabatnya masih saja bersikap baik padahal dulu dia yang membuatnya di situasi seperti ini.


" Sementara waktu. Kalian tinggal di rumahku saja. Aku juga akan menjemput ibumu. Sampai keadaan benar- benar aman." Saran Nabila.


" Aku harus pulang." Tolak Nathan.


Nabila kembali menghela nafas panjangnya dan sedikit sebal mendengar penolakan Nathan. " Apa kamu suka sekali menolak?"


" Aku hanya tidak ingin merepotkan. Itu saja."


" Aku senang bisa membantu masalah kalian. Jadi terimalah bantuanku sampai masalah ini benar- benar selesai." Nabila sedikit memaksa.


" Bagaimana dengan Senja?"


" Senja sudah aman. Ada anak buahku yang bergantian menjaganya. Lagipula. Maaf aku harus mengatakan ini. Ada Reza yang selalu menemaninya."

__ADS_1


Nathan menghela nafas panjangnya.


" Apa kamu baik- baik saja?" Nabila merasa sedikit cemas melihat Nathan tiba- tiba terdiam dengan tatapan kosong.


" Nathan." Panggil Nabila menyadarkan.


" Iya. Aku baik- baik saja."


*****


Senja menatap langit jingga kemerah- merahan di teras rumahnya. Cahaya matahari sore yang hangat menerpa wajahnya. Dulu sering sekali dia menghabiskan waktu senja bersama Nathan. Lelaki yang sejak dulu menempati hatinya. Dia merindukan lelaki itu. Bagaimana kabarnya. Pertemuan terakhir mereka berada pada situasi yang tidak menyenangkan. Dimana dia berkorban untuk kebebasannya.


Perlahan. Senja menitikkan air matanya. Nathan yang sangat dicintainya mencium wanita lain di hadapannya. Hal yang menyakitkan walaupun dia tahu jika Nathan melakukannya dengan terpaksa.


' Ddrrrttt' Ponselnya tiba-tiba berdering dan mendapati nomor asing yang menghubunginya.


Dengan ragu Senja menjawab panggilan telepon itu.


" Halo."


" Apa kamu baik- baik saja?" Tanya seseorang di sebrang sana yang membuat Senja kelu. Tak mampu menjawab karena rasa senang yang tak karuan mendengar suara itu.


" Nathan." Ujar Senja kembali dengan air mata haru menetes.


" Iya."


" Aku baik- baik saja. Bagaimana denganmu?"


" Aku juga."


" Kamu masih bersama wanita itu?" Tanya Senja takut mendengar jawabannya.


" Tidak. Ada orang baik yang menolongku."


Jawaban Nathan membuat Senja mengucap syukur dan bernafas lega. " Apa kita bisa bertemu?" Tanya Senja.


" Jangan sekarang. Aku masih dirawat. Aku tidak ingin kamu melihat keadaanku." Tolak Nathan. Senja pasti akan sangat sedih dan merasa bersalah jika melihat tubuhnya yang penuh dengan luka memar.


" Biar aku merawatmu." Pinta Senja.


" Ada suster dan dokter yang merawatku. Dokter yang memeriksaku sudah berkunjung. Aku tutup dulu. Assalammu' alaikum." Ujar Nathan mengakhiri obrolan mereka.


Senja terus menitikkan air mata harunya. Terus bersyukur karena Nathan terlepas dari jeratan wanita iblis itu.

__ADS_1


__ADS_2