
Nabila dan Pak Danny disertai beberapa anak buah kakeknya menerobos masuk halaman rumah Sintia. Dengan tenang Pak Danny berjalan memimpin.
Anak buah Sintia tidak berani menghalangi Pak Danny. Mereka bukan tandingan anak buah Pak Danny. Kalau bukan karena perintah langsung mereka tidak akan mau menyerang Pak Danny. Berurusan dengan mereka sama saja mengantarkan nyawa.
Ringgo menyambut hangat kedatangan mendadak Pak Danny walaupun hatinya tampak gusar.
" Selamat Pagi Pak Danny." Sambut Ringgo hangat dan menjabat tangan Danny.
" Dimana putrimu?" Tanya Danny tanpa berbasa basi.
Ringgo mengernyitkan keningnya tak mengerti kenapa dia mencari Sintia. " Sepertinya dia masih tidur." Jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
" Bangunkan!" Perintah Danny.
" Jika boleh tahu. Ada perlu apa dengan putriku? Bukankah masalahnya dengan cucu anda sudah selesai?"
" Haruskah aku perintahkan anak buahku menerobos paksa rumahmu?" Ujar Danny dengan kalimat yang ditekankan.
Ringgo sedikit bergidik ngeri dan membisikkan pada anak buahnya agar memanggil Sintia.
" Silahkan duduk dulu." Ujarnya ramah.
" Kami tidak punya banyak waktu!" Tolak Sintia. Matanya masih berkeliling memperhatikan rumah mantan sahabatnya itu. Matanya mengekor anak buah Ringgo yang sedikit berlari menuju salah satu lorong di rumah itu.
Tak selang beberapa lama. Sintia menghampiri Danny dan Nabila dengan wajah sebal.
" Ada apa mencariku?" Tanya Sintia kesal.
"Dimana Nathan?" Tanya Nabila mendahului kakeknya.
Sintia menyeringai. " Aku tidak kenal dengan Nathan!" Jawab Sintia berbohong.
" Geledah rumahnya!" Perintah Nabila.
Ringgo seketika terlihat panik melihat anak buah Danny berhambur masuk ke rumahnya dan membuka satu persatu pintu kamar yang tertutup rapat.
" Tolong perintahkan anak buah anda berhenti." Pinta Ringgo pada Danny dengan wajah cemas.
Danny hanya tersenyum menanggapi dan membiarkan anak buahnya merangsek masuk.
Nabila memasuki lorong yang tadi dia lihat anak buah Sintia lewati. Ada beberapa pintu kamar yang tertutup. Satu persatu dia buka pintunya dengan menendang tetapi lagi- lagi ruangan kosong.
Hingga terakhir ruangan yang tampaknya jauh lebih besar dari ruangan lainnya karena jelas terlihat dari bentuk pintunya yang mempunyai pintu ganda. Nabila mengulas senyum dan menebak. Itu pasti kamar Sintia. Dengan cepat dia mendobrak pintu itu. Namun, lagi- lagi ruangan kosong. Perlahan, Nabila menyusuri ruangan itu dan melihat ada tali yang masih berjuntai di jendela.
__ADS_1
" Geledah kamar ini!" Perintah Nabila.
Dengan sigap kedua anak buah Nabila yang sejak tadi mengikutinya menggeledah kamar Sintia. Mengecek kamar mandi hingga terakhir membuka sebuah lemari besar.
' Bruk!'
" Nona!" Panggil salah seorang anak buahnya yang kaget ketika tubuh Nathan terjatuh ketika dia membuka lemari besar itu.
Tangannya masih terikat mulutnya tersumpal. Padahal saat ini Nathan tidak sadarkan diri.
" Nathan." Dengan sigap Nabila memangku kepala Nathan dan melepaskan kain yang menyumpal mulut Nathan. Begitupun tali yang mengikat tangan dan kaki Nathan. Dilepaskan oleh anak buah Nabila.
" Bawa dia!" Perintah Nabila cepat dan seketika anak buahnya menggotong tubuh Nathan.
Nabila terlihat sangat marah. Sintia masih tampak duduk dengan santai sampai dia melihat anak buah Nabila menemukan Nathan. Matanya terperangah kaget.
" Jangan bawa dia!" Cegah Sintia cepat. " Cegah mereka!" Teriak Sintia memerintahkan anak buahnya untuk mencegah anak buah Nabila yang tengah membawa Nathan keluar.
Namun, Tak ada satupun anak buahnya yang bergeming. Karena Ringgo menggelengkan kepalanya mengisyaratkan untuk tidak mematuhi Sintia.
" Papi! Mereka membawa Nathan!" Rengek Sintia marah.
" Biarkanlah!" Ujar Ringgo cemas.
" Terima kasih atas kerjasamamu!" Ujar Danny ketika melihat cucunya tengah berjalan menghampiri mereka.
Cetakan tangan Nabila terlihat jelas memerah di pipi Sintia. " Kenapa kamu menamparku?"
" Apa kamu mau membunuh Nathan?!" Tanya Nabila geram ketika mengingat keadaan Nathan yang mengenaskan.
" Aku mencintainya tidak mungkin aku membunuhnya." Sanggah Sintia cepat.
" Aku sangat tahu bagaimana sifatmu. Jika kamu berani menyentuhnya lagi. Kamu berurusan denganku!" Ancam Nabila dan meninggalkan Sintia yang berdecak kesal.
****
Nabila menatap nanar Nathan yang terkulai lemah. Beruntungnya tidak ada luka serius pada tubuhnya. Dia pingsan karena mengalami dehidrasi.
" Apakah kamu mencintainya juga?" Tanya Danny yang tiba- tiba saja ada di belakang Nabila.
Nabila menoleh ke arah kakeknya dan tersenyum tipis. Dia kembali menopang dagu menatap pria yang baru saja di kenalnya namun mampu mengusik setiap malamnya melalui mimpi.
" Bukankah kamu bilang dia sudah punya calon istri?" Tanya Danny menyelidik.
__ADS_1
Nabila hanya mengangguk dan masih diam.
Danny menghela nafas panjang dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. " Apa pekerjaannya?"
" Dia pengusaha property dan juga kontraktor."
" Apa dia tidak punya keluarga?"
" Dia masih punya ibu. Tetapi saat ini ibunya sedang sakit. Aku tidak mungkin memberinya kabar buruk tentang putranya."
" Apa calon istrinya sudah kamu kabari?"
Nabila menggeleng. Tak ingin rasanya jika dia harus tersingkir jika Senja sudah berada di sampingnya.
" Hubungi wanita itu. Dia pasti mencemaskan calon suaminya."
" Aku masih mau menemaninya, Kek." Tolak Nabila halus.
Danny hanya menatap iba pada cucunya yang kini jatuh cinta pada pria yang sudah akan menikah. " Jangan terlalu larut dengan cinta sendiri." Nasihat Danny tak ingin cucunya terlena.
Nabila hanya mengangguk lemah mengerti maksud kakeknya. Dia kembali menatap Nathan dengan nanar. Entah apa yang harus dilakukannya. Tak rela rasanya jika Nathan harus kembali pada wanita itu.
" ehmmhhh..." Erang Nathan yang mulai mengumpulkan kesadarannya.
Nabila tersenyum melihat hal itu. Perlahan mata Nathan terbuka dan mengulas senyum tipis pada Nabila. Rasa sakit di sekujur tubuhnya masih terasa.
" Syukurlah kamu sudah sadar."
" Terima kasih sudah menolongku." Ujar Nathan lemah.
" Aku sudah bilang akan membantumu bukan." Ujar Nabila dengan terus mengulas senyum manisnya hingga terlihat lesung pipi di kedua belah pipisnya.
" Besok aku akan membawa seseorang untuk bertemu denganmu." Ujar Nabila.
" Siapa?"
"Istirahatlah dulu. Ini sudah larut. Besok kamu akan tahu."
" Iya." Nathan kembali memejamkan matanya. Tubuhnya masih sangat terasa lemah.
Nabila kembali menatap wajah Nathan yang teduh. Wajah yang tampan. Juga meneduhkan. Membuat siapa saja betah berlama- lama menatapnya walaupun sekarang wajahnya di penuhi lebam. Namun tidak menutupi ketampanannya.
Tanpa sadar Nabila perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Nathan dan ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa centimeter. Mata Nathan terbuka dan kaget melihat wajah Nabila yang mendekat.
__ADS_1
" Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nathan sedikit menjauhkan wajahnya.
Nabila tampak gelagapan dan tak kalah terkejutnya dengan Nathan. " Tidak ada." Jawab Nabila gelagapan. Dia terus saja memaki dirinya sendiri. Kenapa juga dia terpesona dengan orang yang tertidur. Betapa bodoh dan malunya dia sekarang.