Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
108


__ADS_3

Randy memainkan kalender yang ada di meja kerja Nathan. Sesekali Nathan hanya melirik ke arah sahabatnya yang berwajah suntuk.


" Gue gak ditanya?" Ujar Randy dengan wajah bete karena sejak tadi diacuhkan Nathan.


Nathan hanya melirik sekilas sahabatnya dan melemparkan senyum tipis. Pandangannya kembali pada layar laptopnya. " Cerita aja. Udah kaya ABG aja pake ngambek."


" Ishh.. Dari tadi elu asik kerja. Gimana mau cerita." Omel Randy dan melemparkan permen yang memang selalu ada di meja Nathan.


Nathan tertawa melihat tingkah sahabatnya yang seperti anak kecil sedang merajuk.


" Ketawa aja terus." Omel Randy lagi.


Nathan menghentikan kegiatannya dan menutup laptopnya. Memusatkan perhatiannya pada sahabatnya yang sejak tadi duduk dengan wajah suntuk.


" Sadar umur, Ran. Anak udah gede masih ngambek aja." Ledek Nathan melihat Randy manyun.


" Rese Lo!" Randy kembali melemparkan permen kepada Nathan.


" Jadi cerita gak?" Desak Nathan.


" Jadi."


'Tok Tok Tok'


Belum sempat Randy bercerita. Pintu ruangan Nathan diketuk. Randy kembali berdecak sebal.


" Ganggu aja!" Gumam Randy menggerutu.


" Masuk." Sahut Nathan.


Silvi masuk ." Maaf, Pak. Ada klien dari PT Firma Group." Ujar Silvi.


" Suruh mereka masuk saja."


" Baik, Pak."


" Gue kemana?" Randy tampak bingung karena Nathan tiba- tiba kedatangan tamu.


" Duduk aja yang anteng ya. Sambil makan permen." Ujar Nathan asal.


" Selamat siang, Pak Nathan." Sapa wanita yang baru saja masuk.


" Selamat siang." Nathan menjabat tangan wanita tersebut.

__ADS_1


" Saya Jessica." Wanita itu memperkenalkan diri.


" Oh. Saya pikir yang akan datang Ibu Vera. Ternyata pimpinannya langsung." Nathan mempersilahkan duduk pada sofa yang ada di ruangannya.


" Vera sedang ada tugas lain." Ujarnya lagi dengan mata tak lepas dari memandang Nathan kagum.


" Apa Proposal yang kemarin sudah direvisi?" Tanya Nathan tampak cuek saja terus dipandangi seperti itu.


" Oh iya. Sudah. Dan saya setuju dengan hal itu. Saya salut pada kepemimpinan anda. Selalu mengutamakan karyawan." Ujar Jessica dan memberikan proposal serta surat kontrak kerja mereka.


Nathan membaca kembali isi kontrak kerja yang diajukan. Setelah membacanya Nathan membubuhkan tanda tangannya dan memberikan kembali berkas yang diserahkan padanya.


Jessica melakukan hal yang sama dan memberikan satu lembar surat kontrak untuk dipegang Nathan. " Senang bisa bekerja sama dengan anda." Jessica menjabat tangan Nathan.


" Firma Group adalah perusahaan besar. Kenapa melirik perusahaan kecil seperti saya?"


" Daya tarik. Lagi pula Nath Group mulai berkembang. Mempunyai banyak cabang serta industri yang kalian geluti sudah bukan hanya properti dan kontraktor saja bukan." Jessica menjelaskan.


Nathan hanya tersenyum mendengarkan. Nathan memang melebarkan sayap perusahaannya ke dalam bidang pertambangan serta pertanian juga. Dia tidak ingin berkutat pada bidang yang sama. Walaupun semua itu banyak menyita pikirannya.


" Baiklah. Saya harus pamit. Senang bertemu dengan anda Pak Nathan. Sejujurnya. Anda sangat tampan." Puji Jessica pada Nathan.


" Terima kasih. Anda juga cantik ibu Jessica." Ujar Nathan memaksakan lidahnya memuji wanita lain. Karena selama ini yang cantik dimatanya hanyalah istrinya dan ibunya saja.


" Minum."


" Setelah sekian purnama. Akhirnya ada juga yang dibilang cantik selain istrinya." Ledek Randy yang sejak tadi hanya mendengarkan dan sesekali memperhatikan mereka.


" Cowok rumpi."


" Awas kejadian yang sama terulang lagi. Tuh cewek kayanya naksir sama elo." Randy kembali meledek namun disertai dengan peringatan.


" Iya." Nathan hanya mengiyakan. " Katanya mau cerita."


" Ahh iya. Hampir lupa. Gue pengen curhat." Randy membetulkan posisi duduknya. " Gue mau lamar Nabila. Gimana, Nath?"


" Lanjutkan." Sahut Nathan cepat.


" Secepat itu lu jawabnya?!" Randy tidak percaya.


" Terus?"


" Nabila kayanya masih suka sama lu." Randy tampak ragu.

__ADS_1


" Yaudah. Mundur."


" Dih."


" Maunya apa sih nih bocah. Kalo mau sama Nabila. Sikat.. Kalo ragu. Jangan." Ujar Nathan gemas sendiri dengan tingkah sahabatnya. " Gue tanya. Elu sayang ga sama Nabila?"


Randy mengangguk.


" Yaudah. Lanjutkan. Toh juga Nabila gak nolak."


" Tapi masalahnya Nabila..


" Suka sama gue?" Sahut Nathan cepat. Randy mengangguk. " Biarkan Nabila yang mengatasi itu. Tugas lu cukup jadi pasangan yang baik." Nasihat Nathan. " Gue pernah ada di posisi Nabila saat sama Ayuna. Dan pada akhirnya. Gue berhasil mencintai Ayuna." Ujar Nathan meyakinkan.


" Tapi pada akhirnya. Senja selalu untuk Nathan." Sambung Randy.


Nathan menghela nafasnya. Apa yang dikatakan Randy memang benar. Takdir selalu mengembalikannya pada Senja sejauh apapun dia pergi. Hingga berakhir dititik ini. Cinta yang terlalu dalam pada Senja. Selalu berhasil muncul ke permukaan ketika berhadapan dengan Senja secara langsung. Walaupun banyak lika liku yang terjadi pada drama percintaan mereka. Akhirnya mereka bisa benar- benar bersama.


" Sekarang elu masih mencintai Senja kan?" Randy mulai menyelidiki.


" Iya. Cinta untuk Senja gak pernah pudar. Ayuna mempunyai tempatnya tersendiri di hati gue." Ujar Nathan dan segera mengalihkan pandangannya. Matanya mulai basah mengingat Ayuna. Betapa banyak dosanya pada Ayuna.


" Sekarang cukup elu mencintai Senja seorang. Ayuna sudah bahagia, Nath." Hibur Randy.


Nathan hanya mengangguk.


" Gue balik ke kantor lagi ya. Nanti gue kabarin perkembangan hubungan gue sama Nabila."


" Oke. Good luck." Nathan mengacungkan kedua ibu jarinya mendukung hubungan Randy dengan Nabila.


Nathan kembali menarik nafasnya. Entah kenapa belakangan ini, bayangan Ayuna selalu muncul di dalam pikirannya. Nathan menyandarkan kepalanya pada kursi.


Nathan keluar dari ruangannya. Mengedarkan pandangannya pada karyawannya yang tampak sibuk dan beberapa mencuri pandang melihat ke arahnya. Nathan menghampiri meja yang kosong dan duduk di sana. Di tariknya nafas dalam- dalam. Memorinya seolah berputar kembali ketika dia yang baru lulus kuliah bekerja sebagai staff di kantor sebuah perusahaan. Nathan menyunggingkan senyum tipisnya.


Monika. Salah satu karyawan senior terus menatap lekat bosnya yang jika terlihat seperti tersenyum ke arah Monika dengan senyum- senyum malu dan tampak salah tingkah.


Nathan menarik nafasnya panjang mengakhiri putaran memorinya. Kini dia tidak menyangka jika hasil kerja kerasnya menghasilkan banyak lapangan pekerjaan.


" Kamu kenapa?" Tanya Nathan pada Monika yang terus memandangnya sambil tersenyum.


" Engga, Pak." Monika langsung menunduk malu.


Nathan berlalu dan kembali memasuki ruangannya. Meninggalkan para karyawatinya seketika bergosip. Nathan memang selalu menjadi idola dikalangan karyawatinya. Badannya yang tegap. Wajahnya yang tampan. Serta sikapnya yang santun menjadikan Nathan banyak diidolakan. Bahkan karyawatinya yang sudah bersuami sekalipun.

__ADS_1


Silvi hanya menggelengkan kepala ketika melihat teman- temannya bergosip tentang bosnya. Suatu hal yang biasa terjadi ketika mereka melihat sosok tampan itu berlalu di hadapan mereka. Apalagi ini. Sebuah pemandangan indah ketika melihat wajah tampan itu duduk termenung sambil menyunggingkan senyum.


__ADS_2