
Sejak hari itu, aku sangat menikmati waktu luang ku di rumah. Laila Yang sejak dulu pandai memasak, mulai banyak membantuku di dapur untuk menyiapkan hidangan sarapan dan makan malam untuk mas Lesmana.
Kami juga sering melakukan aktivitas bersama, seperti membersihkan rumah bersama dan menonton film di rumah bersama. Tapi, seringnya aku ketiduran saat menonton. Maklumlah, aktivitas ku di Rumah Sakit sangat padat, sehingga saat pulang ke rumah tubuhku sudah merasa lelah.
Suatu hari, Laila pulang dalam keadaan menangis. Ia mengalami PHK dari Kantor Properti tempatnya bekerja. Aku berusaha menguatkannya. Aku tau bahwa ia telah yatim piatu sejak ia masih duduk dibangku kuliah. Sedangkan kini, ia masih harus membiayai adiknya yang masih sekolah di sebuah pondok pesantren.
Atas kesepakatan dengan mas Lesmana, aku bersedia menanggung hidup Laila dan mengirimi adiknya biaya sekolah dan biaya hidup sampai Laila mendapatkan pekerjaan kembali.
Aku berusaha membantu Laila untuk menemukan pekerjaan baru sesuai kualifikasinya. Laila memiliki kualifikasi dibidang administrasi perkantoran. Namun lamaran Laila banyak mendapat penolakan, dengan alasan sedang tidak ada lowongan pekerjaan.
Tiga bulan berlalu sejak Laila menganggur. Aku mulai kewalahan membagi uang gaji ku. Laila dan aku tidak memiliki kesamaan dalam pengelolaan keuangan. Aku yang terbiasa hidup hemat dan mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan, mulai berat untuk memenuhi permintaan Laila ketika ia meminta uang untuk membeli skincare dengan harga jutaan, dan perawatan rambut yang terlalu sering dilakukan.
"La...wajahmu itu sudah sangat glowing, sebaiknya gak usah terlalu sering pakai skincare".
Ucapku mencoba menasehati ketika Laila membujukku untuk menyerahkan uang untuk membeli skincare. Namun, Laila malah marah dan menuduhku ingkar janji.
Aku yang merasa mulai terbebani dengan banyaknya kebutuhan laila dan sikap Laila yang merasa seperti tuan rumah di rumahku sendiri. Tetangga sebelah rumah mulai risih melihatku yang malah seolah menjadi orang yang menumpang tinggal sedangkan Laila tuan rumahnya. Laila tak pernah lagi membantuku memasak, apalagi bersih-bersih rumah. Ia membeli makanan diluar dari uang yang ku beri. Bahkan tak jarang ia makan semeja dengan kami, namun tak membantu memasak ataupun membereskan bekas makannya sendiri.
Aku mulai gerah dengan sikap Laila, dan memberanikan diri untuk meminta suamiku memasukkan Laila ke kantornya, dengan harapan, setelah mendapatkan gaji, aku akan meminta Laila untuk keluar dari rumahku.
"Laila bisa apa?!"
Tanya suamiku padaku.
"Ya dia kan mantan marketing mas dan sarjana administrasi perkantoran, mungkin dia bisa membantu administrasi kantor mas".
Ucapku disambut dingin oleh Lesmana. Namun, tak berselang lama semenjak aku mengutarakan permintaanku. Laila telah masuk dan bekerja di kantor Lesmana.
Antara bahagia, namun juga cemburu. Lesmana menjadikan Laila sebagai sekretaris pribadinya. Lesmana beralasan bahwa ia sangat membutuhkan beberapa asisten pribadi.
"Sekretaris lama kamu bagaimana mas?"
Tanyaku yang mulai merasa cemburu dengan kedekatan antara suamiku dengan Laila.
"Dia aku pindahkan ke bagian administrasi umum.Dia kurang cekatan. Kerjanya lambat".
Aku masih berpikir positif dengan alasan itu. Semakin hari, Laila semakin terlihat dekat dengan Lesmana.
Suamiku itu sekarang lebih betah di rumah daripada di kantornya. Biasanya, sat aku pulang, ia masih sibuk di kantor. Namun belakangan ia lebih sering pulang duluan bersama Laila. Saat aku pulang, mereka sudah berada di rumah. Namun, satu hal yang harus aku akui, meskipun mereka semakin dekat, namun Lesmana juga menunjukkan sikap semakin sayang terhadapku. Kadang, Lesmana mencumbu ku didepan Laila, yang membuat Laila tersenyum kecut.
****
__ADS_1
Aku benar-benar merasa risih dengan sikap Laila. Aku ingat bahwa Andra adalah pria beristri, dan Laila tetap berani melanjutkan hubungannya. Sikapku semakin dingin terhadap Laia. Hingga Laila berpamitan untuk pindah rumah ke lokasi yang dekat dengan kantornya.
Aku merasa lega. Setidaknya, aku tak perlu perang dingin lagi dengannya. Bagaimanapun dia sahabatku sejak kecil!
Aku menyambut niat baiknya untuk pindah. Laila juga tak lagi meminta uang padaku. Aku berharap hubungan kami kembali seperti dulu lagi.
Suatu hari, aku ingin memberikan surprise di hari ulang tahun Lesmana. Aku sengaja mengambil cuti kerja, hanya untuk membuat sebuah kue dan hidangan untuk acara ulang tahun Lesmana yang akan ku rayakan di kantornya.
Tepat satu jam sebelum jam istirahat kantor, aku telah sampai di kantor Lesmana. Biasanya Eva, sekretaris Lesmana, akan menyambut ku dengan ramah, begitu juga staf lainnya. Namun, kedatangannya kali ini disambut dengan sikap dingin dan terlihat raut seperti tegang saat aku menanyakan keberadaan Lesmana.
Aku memberanikan diri masuk ke ruangan Lesmana, namun kosong. Tak ada orang. Sehingga ku putuskan untuk menunggu sembari membereskan ruangannya.
Aku terkejut saat mendapati ****** ***** wanita yang tercecer dikolong meja kerja Lesmana. Ada ****** di laci meja dan pelumas ******. Dadaku terasa sesak, hingga aku meminta bantuan pada salah staf disana. Mereka bahu membahu membopong tubuhku ke sofa.
Aku menangis sejadi-jadinya dengan pikiran yang tak karuan. Aku meminta mereka bercerita tentang apa yang terjadi di ruang kerja Lesmana.
Lesmana adalah pimpinan, atau seorang Kepala kantor di sebuah Kantor Dinas Pemerintahan. Semua segan kepadanya. Mereka khawatir akan dipecat atau dimutasi jika bermasalah dengannya. Namun tidak dengan Eva, yang merasa terdholimi oleh sikap Lesmana.
Benar dugaan ku. Lesmana berselingkuh dengan Laila, sahabatku. Orang yang selama ini aku bantu. Disekolahkan oleh orang tuaku dan aku percaya menjaga rahasiaku.
Eva mengatakan hubungan mereka telah sangat intim. Bahkan Laila tak segan untuk menunjukkan sikap mesranya di depan staf lainnya.
"Pak Lesmana menyingkirkan saya demi Laila, supaya merek bisa sering bersama. Tak jarang kami harus menutupi aib mereka tat kala ada pemeriksaan dari pusat. Pak Lesmana menahan laporan ku, sehingga terkesan terlambat, dan membuatku begitu mudah dilengserkan dari jabatan asisten". Ucap Eva sambil menyeka wajahnya yang telah penuh dengan air mata.
Aku memutuskan untuk menemui keluargaku dan mengadukan kejahatan yang Laila lakukan. Hampir saja orang tuaku tidak mempercayaiku. Sebab mereka mengenal Laila sebagai sahabat yang baik sejak dulu. Namun ketika aku menunjukkan bukti-bukti perselingkuhan yang berhasil aku temukan di akun sosial media Laila, barulah mereka mempercayaiku.
"Makan siang baru Mr X..."
Sebuah caption yang diunggah Laila di akun Instagram miliknya. Foto wajah pria disebelahnya ditutup sebuah stiker. Namun, Aku sangat mengenali pakaian yang dikenakan Mr X itu sebagai pakaian Lesmana.
Di unggahan lainnya aku lihat, Laila mengunggah foto sepasang tangan yang saling menggenggam, jemari Laila mengenakan sebuah cincin. Ada caption di foto itu.
"Terimakasih hadiahnya, sayang..."
Sekali lagi, Aku mengenali arloji yang dikenakan pria yang wajahnya kembali ditutup Laila dengan stiker. Itu adalah Jan milik Lesmana.
***
Aku merasa sudah tidak kuat. Bersama keluargaku, aku mendatangi rumah orang tua Lesmana untuk mengadukan kelakukan anaknya.
Sayangnya, kami disambut dengan kebencian disana. Kehadiran kami ditertawakan oleh keluarga Lesmana.
__ADS_1
Ibu mertuaku, menunjukkan sebuah foto pernikahan yang terlihat masih baru diambil belum lama ini.
"Maaf ya nak Tari. Lesmana telah menikah dengan asisten pribadinya, Laila namanya secara siri sebulan yang lalu!"
Ucap ibu mertuaku dengan nada yang tak ramah. seperti ingin menyombongkan diri.
"Bagaimana bisa bu. Mas Lesmana masih sah menjadi suamiku?!"
Ucapku dengan suara gemetar.
"Lah kan sudah saya bilang. Nikahnya itu siri!
Ucap mertuaku ketus dengan nada yang semakin tinggi.
"Salahmu gak punya anak. Mandul!"
Imbuh ayah Lesmana.
"Anak saya tidak mandul. Bukti kesehatan menunjukkan bahwa anak saya sehat, jangan asal bicara!!!"
Ayahku tiba-tiba ikut berbicara. Untuk pertama kalinya ku lihat ayahku marah dengan begitu kerasnya. Mungkin hatinya sakit mendengar anak perempuannya dihina.
"Loh. Buktinya kamu sudah nikah 3 tahun tapi gak hamil-hamil artinya apa to? mandul to?!"
Ucap Ibu Lesmana sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
Aku berusaha untuk bersabar. Tetap pulang ke rumah kami dan menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Meskipun Lesmana semakin jarang pulang ke rumah. Setelah ku telusuri, rupanya ia pulang ke rumah Laila. Sikapnya kembali dingin dan lebih sering marah saat aku melakukan kesalahan sedikit saja.
Aku terus berusaha merebut hati Lesmana. Pria yang telah hidup denganku selama tiga tahun. Bahkan jika ditambah dengan masa pacaran maka hubungan kami sudah 12 tahun lamanya. Aku mengenalnya sangat baik sebelumnya. Perjuangan kami dari nol. Aku yakin ia hanya khilaf saja. Karena pengaruh keluarganya sangat kuat. Aku yakin ia masih sangat mencintaiku. Tuhan pasti bisa mengabulkan do'aku untuk memiliki momongan dari benih Lesmana, dan suamiku itu akan segera menceraikan Laila jika aku hamil nanti.
Seluruh keluarga besar ku menyarankan aku untuk berpisah dengannya. Aku masih sangat muda, masih banyak kesempatan untuk hidup bahagia bersama orang yang tepat. Keluargaku juga beranggapan bahwa aku tidak mandul. Justru mereka beranggapan bahwa Lesmana lah yang mandul. Ia yang tidak memiliki benih yang bagus, sehingga tidak bisa menghasilkan benih yang baik.
Hingga tiga bulan setelah terungkapnya pernikahan Lesmana dan Laila. Berita yang menyakitkan bagiku namun membahagiakan bagi Lesmana itu terdengar. Laila berhasil hamil. Janinnya telah berusia dua bulan. Lesmana mendengar kabar itu saat ia tengah berada di rumahku. Ya, kami menjalani poligami. Aku menerima Laila sebagai maduku. Meskipun kami menjadi tidak akur dan cenderung saling membenci satu sama lain.
Ku lihat Lesmana sangat bahagia. Tanpa memikirkan perasaanku ia langsung berlalu pergi meniggalkan aku. Sejak hari itu, Lesmana tak pernah kembali ke rumahku.
Aku sangat terpukul. Kebahagiaan mereka adalah petaka yang nyata bagi rumah tanggaku.
Dua bulan berlalu. Aku masih mencoba bertahan, meskipun tak pernah ada keputusan apapun dari Lesmana. Ia tidak mempertahankan aku, namun juga tidak menafkahi aku lagi baik lagi maupun batin.
Hingga, Secarik surat dari Pengadilan Agama sampai ke tanganku. Surat panggilan sidang perceraian .
__ADS_1
Bersambung ....