
Pagi ini, Rania bangun pagi sedikit terlambat. Ia merasakan pusing yang begitu berat.
"Jean, selesai sholat aku ingin istirahat kembali. Kepalaku sangat pusing".
Ucap Rania setelah melipat sajadah. Jam masih menunjukkan pukul 04.45.
"Kamu mau minum obat, sayang?"
Tanya Jean. Meskipun ia tau istrinya itu tak suka mengkonsumsi obat.
Rania menggeleng.
"Aku buatkan teh hangat ya..."
Ucap Jean yang kemudian menuju dapur. Tak butuh waktu lama, secangkir teh hangat tersaji dihadapan Rania.
Dua teguk teh berhasil membuat Rania merasa lebih baik.
Jean melihat Rania yang mulai bisa beristirahat tanpa meringis kesakitan, kemudian beranjak ke dapur. Dengan cekatan ia membuatkan Rania dan anak-anaknya sarapan. Dapur bukanlah hal asing bagi Jean. Sebab ia telah dilatih oleh ibunya untuk bisa menguasai dapur, baik itu memasak ataupun membuat aneka kue dan roti.
Jean memprioritaskan anak-anak agar sarapan terlebih dahulu dan mengantarkan mereka ke sekolah. Tugas mengantarkan sayur ke pasar sementara di handle Pak Cipto. Jean akan kembali ke rumah untuk mengantarkan sarapan untuk Rania.
***
Rania terlihat sangat pucat. Jean sangat mengkhawatirkan kondisi Rania. Ia kemudian membawakan bubur ayam yang ia buat sendiri.
"Sayang, aku suapi ya?"
Ucap Jean yang duduk disamping ranjang.
"Aku tak napsu makan, Jean"
Jawab Rania lesu.
"Makanlah meskipun sedikit".
Jean mencoba membujuk istrinya itu . Rania pun menurut. Namun, baru beberapa suap, ia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah.
Jean membopong Rania menuju ranjang. Jean mengecek Suhu tubuh Rania, denyut nadi dan tenggorokan. Namun semua normal.
"Rania..."
__ADS_1
Jean mencoba memanggil istrinya dengan lembut. Rania masih saja menutup matanya. Rasanya mual jika ia membuka mata.
"hemmm"
Rania hanya mampu bergumam untuk menjawab panggilan Jean.
"Apakah kamu masih menyimpan testpack yang pernah saya beri saat di Semarang?"
Tanya Jean sambil mengingat-ingat, bahwa ia pernah membelikan Rania testpack.
Rania menunjuk sebuah tas travel. Tanpa kata Jean mengerti. Ia kemudian membuka tas travel itu. Ada dua testpack yang belum terpakai disana.
"Kita coba ya sayang..."
Bujuk Jean. Tanpa menunggu persetujuan, Jean kembali membopong tubuh Rania ke kamar mandi. Menadah sedikit air seni Rania kedalam sebuah wadah mirip cangkir, kemudian mencelupkan satu testpack kedalam wadah air seni. Rania dibaringkan kembali ke ranjangnya, sementara Jean dengan sabar menunggu testpack itu bereaksi.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah sayang....!!!"
Jean bersorak seperti mendapatkan sebuah lotre.
Rania terhenyak dan berusaha mencari tau mengapa Jean begitu heboh.
"Jean...!"
"Rania lihat, garis merah dua...!"
Rania tersenyum. Jean tak henti-hentinya mencium istri nya itu. Sebentar lagi, Rania-Jean junior akan segera hadir.
***
Semenjak hamil, Jean mencurahkan segala perhatian untuk Rania. Mulai dari urusan resto yang terpaksa menambah tenaga kerja, hingga urusan dapur.
Kehamilan Rania kali ini sedikit lebih rumit dibandingkan dengan kehamilan-kehamilan anak sebelumnya. Rania tak bisa mencium bumbu dapur, karena merasa mual, dan tubuhnya sering merasa lebih cepat letih.
Jean dengan sigap mengambil alih peran Rania sebagai istri dan seorang ibu. Setiap selepas subuh, Jean akan memasak dan menyiapkan sarapan untuk keluarga, setelah mengantar anak-anak sekolah, Jean akan menyuapi dan memandikan istrinya, sebab Rania memiliki kebiasaan baru, yaitu malah mandi, sehingga Jean berinisiatif memandikan Rania.
Rania merasakan bahagia yang utuh. Secara penampilan, Jean tentu kalah dari Dani. Secara materi, mungkin Dani lebih sukses, namun secara kesejahteraan, Jean memenangkannya. Sebab berapapun uang Jean, akan ia serahkan pada Rania. Bahkan Jean mengijinkan Rania membeli apapun yang ia suka.
Seperti saat masa kehamilan ini, Rania sering merasakan ngidam. Sea food, bakmi, donat dan banyak hal lain yang ia inginkan. Jean selalu berusaha memenuhi semua keinginan Rania. Ia ingin anak yang dikandung Rania sehat dan bahagia. Jika ibunya bahagia, anak yang dikandungnya pun tentu akan bahagia.
***
__ADS_1
"Sayang, aku ingin anak kita nanti menjadi penghafal Al-Qur'an"
Ucap Jean di suatu malam sambil mengelus halus perut Rania.
"Insyaallah. Aku membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an setiap habis sholat fardhu, supaya ia terlatih mendengar lantunan ayat-ayat Allah".
Jean merasa terharu mendengarnya. Sejak saat itu, Jean membacakan Al-Qur'an diperut Rania sebelum beranjak tidur.
***
Kandungan memasuki usia delapan Minggu, ketika Rania harus kembali menghadapi persidangan kasus Dani. Kecemasan mulai menguasai Rania. Ia mulai sulit tidur dan intensitas mual yang lebih tinggi dari biasanya. Jean menyadari hal ini. Namun, tidak mungkin bagi mereka menunda proses pengadilan tersebut.
Jean hanya berusaha untuk lebih banyak perhatian pada Rania. Hingga waktu persidangan akan berjalan.
Rania, Azka ditemani Jean menuju polres Surabaya, sedangkan Zidan tak ikut karena tidak masuk dalam saksi. Rania terlihat gelisah. Keringat dingin bercucuran, terutama saat memasuki ruang persidangan.
Rania menatap punggung itu. Punggung yang sangat ia kenali, namun kini terlihat lebih ringkih.
Dani, laki-laki itu, kini duduk dan menghadap padanya.
Ia terlihat jauh lebih kurus dan matanya sayu. Terlihat wajah yang begitu sedih. Disana Rania melihat Bimo yang dengan setia mengikuti jalannya persidangan. Hakim memberikan banyak pertanyaan kepada Dani. Namun pengacaranya yang lebih banyak menjawab pertanyaan.
Persidangan selesai. Dani dituntut dengan tindak pidana penculikan anak. pidananya diatur dalam Pasal 83 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pada Pasal tersebut dikatakan“Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76F dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Sehingga sanksi bagi Dani terhadap anak yaitu Azka, yaitu pidana berupa pidana dan denda paling sedikit Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).
Dani tidak melakukan perlawanan apapun ketika hakim menjatuhkan vonis. Matanya tertuju pada Azka yang sejak awal persidangan berlindung pada tubuh Jean. Sama halnya dengan Azka, Rania pun duduk disamping tubuh Jean.
Persidangan ditutup. Dani membuka suara. Meminta ijin kepada hakim untuk sejenak meminta maaf langsung pad Azka, putranya.
"Bapak hakim yang terhormat. Saya mengakui bahwa diri saya salah telah melakukan tindak penculikan terhadap nak kandung saya sendiri. Saya juga mengetahui bahwa anak kandung saya saat ini mengalami trauma atas penculika. yang telah saya lakukan. Maka dari itu, saya memohon untuk di berikan waktu supaya saya bisa berbicara dengan anak saya. Saya yakin, dibalik trauma yang ia rasakan, masih ada kerinduan terhadap saya, ayahnya"
Ucap Dani dengan suara yang terdengar berat. Rania tak kuasa membendung tangisnya. Sebagai ibu, ia juga bisa merasakan berada di posisi Dani.
"Ingatkah kamu, Dani, saat aku berdiri dibalik pagar untuk bisa menemui anak-anak, lalu kamu dan ibumu membuat anakku takut kepada ibunya sendiri?. Seperti itulah rasanya".
Gumam Rania dalam hati....
Bersambung..
Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!
__ADS_1
See you at the next part 😍🙏
jangan lupa like dan fav nya