
Pina tak juga mengangkat panggilan ponsel Rania. Rania akhirnya memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Pina.
"Assalamualaikum Pina"
Tak disangka pesan langsung dibalas Pina.
"Bu, tolong jangan ganggu kehidupan saya lagi. Bukankah antara ibu dan Mas Dani telah selesai?!"
"Apakah menurutmu ketika hubunganku dengan Mas Dani selesai, maka kau dengan bebas mendapatkannya?!"
Rania seperti tak percaya gadis berpendidikan dan memiliki karir cemerlang seperti Pina mau menjadi istri seorang duda.
"Mas Dani telah memenuhi janjinya pada saya.!"
Balas Pina yang membuat hati Rania sakit. Dani tega menyingkirkannya hanya untuk bisa bersama dengan perempuan lain.
"Kamu perempuan murahan, Pina!"
"Salahmu, Bu tak bisa membahagiakan suami!, aku telah bertemu Bu Nani, calon mertuaku, dia yang menceritakan betapa kamu tak bisa membahagiakan suami. Bahkan tak bisa menghormati ibunya!"
"Oh...baiklah suatu hari kamu akan menjadi menantunya, dan menggantikan posisiku sebagai babu di rumah itu!"
Ucap Rania berapi-api
"Kamu memang pantas menjadi babu, Rania, kamu tak bisa bekerja, bodoh dan hanya membawa sial!".
"Suatu saat nanti kamu akan merasakan menjadi seorang istri, tepatnya menjadi istri Dani. Semoga kamu bisa merubahnya"
"Mas Dani memilih yang terbaik untuk dia dana anak-anaknya. Saya yakin dengan mas Dani!"
Rania tak mampu membalas pesan lagi. Hatinya remuk. Usia Pina masih sangat muda. Berbeda sepuluh tahun lebih muda dari Rania. Namun, memiliki mulut yang tajam. Pina tak pernah merasakan hidup rumah tangga, tapi seolah telah menguasainya.
***
Perdebatan Rania dan Pina, sedikit membuat perasaan Rania bimbang. Ia mulai mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah benar yang dikatakan Dani, bahwa semenjak menjadi istri, Rania tak mampu membahagiakan Dani dan ibunya? Bukankah seluruh waktu telah ia curahkan kepada Dani dan keluarganya?
Hanya karena Rania memutuskan untuk tidak berkarir, mereka membuat alibi bahwa ia tak berguna. Bukankah Rania masih bisa menghasilkan uang dan menutupi kebutuhan rumah tangga.
***
Rania terduduk lesu dimeja kerjanya. Meski telah berlalu, tapi ia masih saja memikirkan percakapannya dengan Pina. Ia kembali memiliki citra diri negatif.
Dalam kondisi seperti ini, Ia mencoba untuk melakukan healing. Ia menuliskan apa saja yang telah ia lakukan saat berumah tangga dahulu.
Dear diary...
Aku tak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Aku merasa menjadi seorang istri yang tak berguna dan menantu yang jahat. Benarkah?
Bukankah aku tak pernah membantah suami?
Bukankah aku juga bersedia menggantikan tugas seorang pembantu di rumah itu?
Aku merasa, ada percobaan pembunuhan karakter seorang Rania, dan menumbuhkan bahwa Rania adalah sosok yang jahat yang meninggalkan anak dan suaminya hanya untuk mengejar karir.
Diary, Allah benar-benar menguji titik sabar ku. Semoga aku mampu bangkit dan membentuk jati diriku kembali.
***
Petang itu Rania telah bersiap pulang ketika ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.
"Rania, Azka masuk rumah sakit"
Dani pengirim pesan tersebut.
Rania terhenyak. Ia bergegas menuju Rumah Sakit. Seakan Rania sudah tak perlu bertanya di Rumah Sakit mana, ia sudah mengetahuinya.
Setelah bertanya di receptionist Rania segera memasuki ruang rawat inap.
"Mama...." suara Azka lirih terdengar.
"Mama disini nak"
Rania menyesali diri sendiri karena tak mampu menjaga anak-anaknya, tak mampu mengendalikan keadaan sehingga ia bisa mengambil alih hak asuh anak.
"Mama, Azka mau cerita"
Ucap Azka setelah ku suapi semangkuk bubur. Rania bernafas lega, ternyata Azka tak pernah lupa kebiasaan mereka sebelum tidur. Azka selalu minta diceritakan sebuah cerita. Kali ini Rania bercerita tentang bawang putih dan bawang merah.
"Mama...ibu tiri itu jahat ya...?"
Rania terkejut dengan pertanyaan Azka. Ia lupa bahwa sebentar lagi, Azka akan merasakan memiliki seorang ibu tiri. Rania, terdiam sejenak, mencari kalimat yang tepat agar tidak menimbulkan persepsi negatif tentang ibu tiri. Untung saja cerita belum mengalir sampai pada konflik ini tiri dengan bawang putih, baru bawang putih dan bang merah saja.
"Ibu tiri sama dengan ibu kita di rumah Azka, kalau kita jadi anak yang penurut, tentu ibu tiri akan sayang pada kita, sebaliknya, kalau kita suka membantah, maka dengan ibu tiri ataupun ibu kandung maka kita tetap akan ditegur".
Azka kembali menutup matanya. Rania memutuskan menghentikan ceritanya. Sepertinya Azka sudah sangat mengantuk.
***
Pagi menjelang...seorang suster masuk kedalam ruangan. Hari ini Azka akan di cek darah. Selagi suster dan dokter melakukan pemeriksaan, Rania diminta keluar ruangan.
Diluar ruang, Rania melihat Dani, Ibu Nani dan seorang perempuan. Ia tau betul siapa yang datang bersama Dani. Pina. Wajahnya sesuai dengan yang ia lihat di sosial media dan profil WhatsApp nya.
Rania berusaha memalingkan wajahnya. Ia tak mau ada drama pertengkaran lagi. Bagaimanapun ini Rumah Sakit.
__ADS_1
Tanpa ada sapaan. Mereka masuk kedalam ruang. Namun diingatkan oleh suster untuk menunggu diluar ruang.
Duduk berhadapan tanpa ada percakapan. Itu mungkin lebih baik daripada terjebak dalam sebuah drama pertengkaran.
"Rania, mana selingkuhan kamu itu?, oh ya kemarin bagaimana rasanya di penjara?, makanya Rania, jangan seperti orang gila!
Sungguh berhadapan dengan Bu Nani merupakan hal tersulit untuk menghindar dari perdebatan. Ingin rasanya ia menyanggah tapi, semakin lama perkataan Bu Nani seperti memancing emosi.
"Maaf Bu Nani, yang seperti orang gila itu, ketika seseorang merasa sudah melihat orang lain bahagia"
Ucap Rania sembari masuk kedalam ruang kamar inap, mengabaikan Bu Nani yang mulai bersuara sumbang, memprovokasi Mas Dani dan perempuan itu.
Azka telah selesai periksaan. Alhamdulillah ia tak mengalami penyakit yang parah. Azka hanya mengalami dehidrasi dan kelelahan sehingga suhu tubuhnya panas. Namun, Azka masih harus menunggu pulih baru diijinkan pulang.
"Pina, coba lihat Azka menjadi korban karena ibunya tak mengurus".
Perempuan yang ia hormati sebagai mertua ternyata tak bisa membiarkan Rania duduk dengan tenang.
Rania melihat usaha Dani untuk menenangkan ibunya. Namun, tak begitu berhasil. Sepertinya ibu Nani lebih senang melihat Rania gila.
"Jika kehadiran kalian hanya untuk mengomentari saya. Sebaiknya kalian pulang. Karena anak saya butuh istirahat".
Ucap Rania mencoba menahan emosi.
"Jadi kamu mengusir kami Rania. Saya itu yang merawat Azka dan Zidan, tidak kamu hargai"!.
Ucapan Bu Nani yang meninggi membuat Rania meradang. Ia bangkit dari kursinya dan menarik paksa Bu Nani, menyeretnya keluar ruangan, Dani dan Pina seperti tak mampu berbuat apapun, hanya saling bertatapan, dan ....
"Saya tidak pernah meminta bantuan anda untuk mengurus kedua anak saya. Jika anda keberatan, anda kembalikan anak-anak pada saya. Saya tau anda Bu, menjadi anak-anak saya sebagai sumber uang, agar Mas Dani tak menafkahi saya lagi. Dan sekarang silahkan ambil anak anda seutuhnya, biar saya mengurus anak-anak saya!"
Rania telah hilang kesabarannya. Namun, masih mampu mengontrol ucapannya. Bu Nani terjatuh dari cengkraman tangan Rania.
"Kasar sekali kamu!" Ucap Pina sambil membantu Bu Nani bangkit.
"Jika tak ingin orang lain berbuat kasar. Maka jangan mengganggu" ucap Rania. Kali ini ia bersikap dingin.
Rania kembali masuk kedalam ruangan. Dani menghampiri Rania. Namun, Rania diam tak menggubris.
"Maafkan ibuku..."
Ucapan Dani lembut, namun terasa seperti belati menusuk dada. Kemudian, Dani keluar meninggalkan ruangan.
***Senyap suasana ruangan, menyadarkan Rania tentang apa yang baru saja terjadi. Sikap lembut Dani, kontras dengan apa yang ia lihat. Dia bersama Pina, perempuan yang telah menggantikan posisi Rania.
Bersambung....
Jangan lupa like dan comment ya para pembaca yang setia 🤗😍 biar authornya cemingudddd
__ADS_1