
Angin bertiup lirih. Dingin menyentuh kulit. Kebisuan antara Pras dan Dinda belum juga usai.
"Pras, maaf aku harus segera masuk!"
Ucap Dinda mempertegas bahwa dirinya hanya ingin sebuah kepastian.
"Din...tunggu!"
Pras turun dari sepeda motornya. Masuk kedalam gerbang rumah mengikuti Dinda yang mulai memarkir kendaraannya.
Dinda membalikkan badannya. Mencoba menghargai Pras untuk mendengarkannya. Harapan dalam hati mencoba ia buang jauh. Sebaliknya ia menyiapkan mental untuk kembali menerima kata-kata pahit.
"Aku akan menerima masa lalu mu".
Ucap Pras dengan penuh kepastian. Ia memegang bahu Dinda dan menatap bola mata Dinda yang telah berkaca-kaca.
"Kamu yakin, Pras?!"
Dinda menegaskan.
"Ya. aku yakin. Namun satu yang ku minta darimu, Dinda..."
Diam sejenak. Menghela nafas.
"Apa?" Tanya Dinda.
"Aku ingin kamu merahasiakan statusmu pada ibuku. Toh kamu masih berstatus perawan di KTP. Cukuplah aku yang tau status keperawanan mu, statusmu di masa lalu".
Ucap Pras dengan penuh keyakinan.
"Kamu sudah mempertimbangkan konsekuensinya jika suatu hari orang tuamu tau, Pras?"
"Kita pikirkan nanti, Dinda".
Pras memeluk tubuh Dinda. Sebuah kecupan mendarat di keningnya. Dinda merasakan hangat menguasai. Kerinduan yang selama ini ia coba tepis, terbayarkan sudah.
"Aku merindukanmu, Dinda..."
***
Semenjak malam itu. Hubungan Dinda dan Pras kembali menghangat. Pras, segera memberitahu keluarganya agar segera menyiapkan lamaran pada Dinda.
Sebuah tanggal lamaran telah ditentukan. Dinda segera pulang ke Lumajang untuk menyiapkan penyambutan pada calon besannya.
__ADS_1
***
"Rania, aku segera lamaran dengan Pras..."
sebuah pesan singkat Dinda kirimkan pada Rania.
"Masyaallah, serius?"
Tanya Rania seakan takjub dengan apa yang terjadi. Sungguh beruntung kliennya ini. Ia cepat mendapatkan jodoh lagi.
"Serius. Lusa keluarga Pras akan datang ke rumah untuk lamaran. Kamu hadir ya, Ran...!"
"Siap
Insyaallah aku hadir".
Begitulah Rania, selalu akrab dengan klien-klien nya.
***
Persiapan telah 100 persen. Hidangan untuk menyambut tamu juga telah dipersiapkan.
Pras datang bersama kedua orang tuanya. Mereka datang langsung dari Bandung, dan menginap disalah satu hotel yang ada di Lumajang.
Pras adalah anak tunggal. Ia lahir dari ibu bernama Dewi Pertiwi. Ayahnya seorang pensiunan pegawai BUMN dan pernah menjabat sebagai kepala cabang. Meskipun demikian, mereka sangat tegas dalam memberi pendidikan pada Pras. Tidak mudah bagi Pras untuk menghamburkan uang. Sejak SMA, Pras sudah mencari uang sendiri dari hobi fotografi nya. Bahkan ia memilih kuliah di swasta dengan biaya sendiri, ketika ia tidak dinyatakan lulus di kampus negeri. Kalau harus melalui jalur mandiri, akan mengeluarkan biaya yang begitu besar. Ia tak mau.
Bu Dewi melihat ke sekeliling saat turun dari mobil. Ia setuju dengan lamaran ini karena melihat sosok Niken sebagai seorang pengusaha sukses di kota Bandung. Niken yang memberi pekerjaan pada anaknya. Sehingga, Bu Dewi percaya bahwa Dinda juga memiliki reputasi yang sama dengan Niken.
***
Acara lamaran berlangsung. Semua berjalan lancar hingga proses penyematan cincin di jari manis Dinda. Acara hampir usai, ketika Bu Dewi ijin ke toilet karena hendak buang air kecil.
Sayup-sayup ia mendengar pembicaraan orang di dapur mengenai keberuntungan Dinda, janda mendapatkan seorang bujang tanpa. dan anak orang kaya. Spontan Bu Dewi terkejut mendengarnya.
Ia kemudian bertanya ulang pada orang-orang yang berada di dapur.
"Apa saya tidak salah dengar dengan status Dinda, Bu?!"
Tanya Bu Dewi dengan nada menginterogasi.
Semua orang yang ada disana diam kebingungan. Mereka tak mengetahui Bu Dewi ada di diantara mereka. Mereka juga tak mengetahui bahwa Bu Dewi tidak tau masa lalu Dinda.
Karena tak mendapatkan jawaban. Bu Dewi pun bergegas menuju ruang depan. Semua sedang asyik berbincang-bincang soal persiapan pernikahan.
__ADS_1
"Tunggu dulu!"
Tiba-tiba Bu Dewi menyela pembicaraan antara ayah Pras dan Ayah Dinda.
Semua kaget dan bingung dengan suara Bu Dewi yang terkesan lantang.
"Saya ingin mengenal Dinda terlebih dahulu. Sebelum semuanya jauh. Tolong jelaskan pada saya, siapa Dinda sebenarnya, jangan ada yang ditutup-tutupi!"
Ucap Bu Dewi dengan nada tinggi. Semua terdiam. Ayah Dinda mengerti apa yang dimaksud oleh Bu Dewi. Secara Gentle, ia membuka suaranya.
"Bu Dewi yang terhormat. Ada baiknya kita membicarakan ini secara kekeluargaan. Kita duduk dengan kepala dingin. Saya akan menerangkan secara utuh mengenai anak saya, Dinda".
Dinda yang sedari tadi tengah asyik berbincang dengan Rania terperanjat. Ia merasa tersudutkan. Ia akan dikuliti habis-habisan dimuka umum. Saat semua keluarga besar hadir, dan para tetangga berkumpul di dapur guna untuk membantu konsumsi.
Bu Dewi menyetujuinya, meskipun ia terlihat sangat kesal. Namun ia akhirnya setuju untuk duduk dengan tenang.
"Anak sulung saya bernama Dinda. Ia adalah anak yang sangat kami sayangi sejak kecil. Sayang karena keterbatasan ekonomi, ia putus sekolah. Di usia yang masih sangat kecil, yaitu kurang dari 16 tahun, ia saya nikahkan dengan seorang pria secara siri. Statusnya tidak lagi perawan. Di sah menurut agama,, namun tidak sah menurut negara".
Suara ayah Dinda terdengar berat. Sebagai seorang ayah, tentu ini bukanlah hal yang membanggakan. Membongkar aib keluarga didepan umum. Aib yang berawal dari kecerobohan dirinya sendiri.
Dinda mulai menangis di pelukan Rania. Pras, tertunduk lesu. Ia sudah berusaha sedemikian rupa untuk menutupi aib ini. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Pada akhirnya, mereka tau kenyataannya.
"Kemudian, ank saya ini dikhianati dan dicerai secara agama oleh suaminya. Ia anak yang hebat untuk saya. Ia berusaha bangkit dan menemukan kehidupan barunya. Tuhan memberinya kesempatan untuk merubah nasib. Dan hari ini say sangat berharap menjadi hari bahagia anak saya. Saya pikir kedua belah pihak telah sama-sama mengetahui masa lalu masing-masing?!". Ucap Ayah Dinda.
"Jadi intinya, Dinda bukan perawan lagi?!"
Sindir Bu Dewi. raut wajahnya berubah menjadi sinis. Ia bahkan tak Sudi menatap ayah Dinda yang berada tepat didepannya.
"Ya, anda betul Bu Dewi. Anak saya sudah tidak perawan lagi. Dia telah menunaikan kewajibannya sebagai istri sah secara agama".
Ayah Dinda berusaha menjelaskan kebenaran bahwa sah yang tertinggi adalah secara agama, negara hanya saja untuk dua buah kertas saja.
"Pras adalah anak kamu satu-satunya. Dia adalah harapan kami. Semenjak kecil kami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Hari tua kami sangat bergantung kepadanya. Jika Pras harus menikah, setidaknya dia memilih perempuan yang terbaik, seorang gadis untuk seorang perjaka".
Suasana hening sesaat. Namun, Dinda mampu menangkap apa yang akan dikatakan oleh Bu Dewi selanjutnya.
"Maaf... Lamaran ini saya batalkan!".
Ucap Bu Dewi sambil menarik tangan suaminya.
Sebelum menaiki mobil, Bu Dewi mendapati Pras masih terdiam ditempatnya.
"Pras...ayo kita pulang. Mama akan menyiapkan perempuan terbaik untukmu!".
__ADS_1
Pras pun menitikkan air matanya. Mengusap kasar wajahnya.
Bersambung ...